Powered by ProofFactor - Social Proof Notifications

Mangrove vs Lumpur di Kampung Laut Cilacap (2022)

Kawasan mangrove di Kampung Laut mulai rusak akibat faktor alam maupun manusia dengan segala aktivitasnya. Seperti apa kondisinya?
Mangrove vs Lumpur di Kampung Laut Cilacap.

Kampung Laut adalah sebuah daerah yang berada di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah. Terkenal dengan sebutan Kampung Laut karena dekat dengan laut dan merupakan sebuah gugusan pulau-pulau kecil di Laguna Segara Anakan yang membentuk beberapa desa. Permukiman di Kampung Laut tergolong unik sebab posisinya yang diapit oleh Pulau Jawa dan Pulau Nuskambangan. Akses jalan menuju kesana pun masih menggunakan kapal perahu dengan waktu tempuh 1,5–2 jam. 

Kawasan ini mempunyai tiga ekosistem yang sangat harmonis yaitu daratan, estuaria dan marine. Jika dilihat menggunakan drone, kawasan ini terlihat hijau dan asri dengan banyaknya aliran sungai-sungai kecil menuju Laguna Segara Anakan dan pulau-pulau kecil yang terbentuk oleh lumpur sedimentasi. Permukiman penduduk di Kampung Laut sangat diuntungkan dengan adanya 3 ekosistem itu, seperti adanya ekowisata mangrove, budidaya ikan dan manfaat lainnya.

Sejarah Kampung Laut di Segara Anakan. 

Berbicara sejarah,kita kembali ke zaman Kerajaan Mataram sekitar tahun 1600-an. Seorang prajurit dari Kerajaan Mataram mengemban tugas untuk menjaga pelabuhan Cilacap dari penjajah Eropa yang sedang berekspedisi dagang. Dalam rangka menaga pelabuhan tersebut, prajurit tersebut membangun benteng “Pademangan”. 

Ketika Kerajaan Mataram digulingkan oleh pemerintah Hindia-Belanda, Nusakambangan menjadi tempat penjara. Tentara Kerajaan Mataram akhirnya diusir dan memutuskan untuk pindah dan mendirikan pemukiman baru di perairan Segara Anakan. Daerah-daerah tersebut kemudian disebut “Kampung Laut”.

Ekosistem Estuaria di Segara Anakan

Adapun, ekosistem estuaria di Segara Anakan meliputi hutan mangrove dan semua keragaman jenis flora dan fauna di dalamnya. Ekosistem mangrove di sini merupakan ekosistem mangrove terbesar di Pulau Jawa. 

Di Kampung Laut sendiri terdapat kawasan wisata Arboretum mangrove “Kolak Sekancil” yang memiliki berbagai koleksi tanaman mangrove, flora dan fauna langka yang dilindungi. Ekowisata ini tepatnya terletak di Dusun Lempong Pucung, Desa Ujung Alang. Jenis tanaman mangrove yang mendominasi adalah type Avicennia marina dengan total biomassa sebanyak 43.06 kg/ha dengan kapasitas penyerapan karbon sebesar 49.10 ton ha. 

Baca juga: Muaragembong: Ekosistem Mangrove, Persoalan Lingkungan, dan Asa Menyelamatkan Bumi (2022)

Selain keragaman floranya, Kampung Laut juga menyimpan keragaman fauna. Terdapat 3 jenis mamalia yaitu lutung (Presbytis cristata), monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) dan linsang (Lutra perspicillata). Adapun satwa lainnya yang ditemukan adalah 32 jenis ikan, 41 jenis burung air, biawak (Veranus salvatori) dan ular bakau (Homalopsis buccata). 

Mangrove Crisis di Kampung Laut 

Kawasan mangrove di Kampung Laut mulai rusak akibat faktor alam maupun manusia dengan segala aktivitasnya. Perubahan lingkungan yang terjadi di kawasan tersebut secara fisik di antaranya pendangkalan kawasan perairan, kualitas perairan yang menurun, serta penyempitan area hutan mangrove. 

Penyempitan terjadi di Laguna Segara Anakan yang disebabkan oleh proses sedimentasi atau pengendapan. Sebanyak 3.000.000 m3 endapan setiap tahun. Endapan tersebut berasal dari 9 sungai-sungai kecil yaitu Citanduy, Kayumati, Cikujung, Cibeureum, Cikonde, Muaradua, Ujung Alang, dan Donan. Jika dulu pada tahun 90-an masyarakat mendapati laut sebagai pemandangan, tetapi sekarang telah berubah menjadi tanah-tanah yang timbul. 

Penurunan kualitas air diakibatkan oleh proses pendangkalan yang ditandai oleh meledaknya jumlah phytoplankton karena adanya peningkatan PO4 di perairan (Djohan,2010). Bahkan, penurunan kualitas air ini berdampak pada jumlah populasi ikan yang biasa ditangkap nelayan.

Sementara itu, Kampung Laut juga mengalami penyempitan luas mangrove yang tidak bisa disepelekan. Bagaimana tidak? Tahun 1978 luasnya mencapai 17.090 ha dan pada tahun 2004 menjadi 9.271,6 ha. Dengan kata lain mangrove telah menyusut 50 %. 

Penyusutan ini disebabkan oleh beberapa aktivitas d iantaranya penebangan pohon ilegal (14,23 m3/ hari), pemanfaatan dan konversi lahan hutan ke pertanian (5,4%), tambak (2,5%), permukiman (1,1%), industri (0,4%), dan pemanfaatan lahan lainnya (1,7%). Tentu, pengurangan luas mangrove ini pastinya berpengaruh pada keragaman hayati di dalamnya. 

Kolaborasi dan Dukungan 

Segara Natural melakukan penanaman di Kampung Laut Cilacap.
Segara Natural melakukan penanaman di Kampung Laut Cilacap. (Dok: Business Development/LindungiHutan).

Seperti kita ketahui, Kampung Laut di segara Anakan ini telah ada sejak abad ke-16. Masyarakat Kampung Laut juga yang berperan penting dalam menjaga mangrove laguna Segara Anakan selama ini. 

Mengingat, kawasan mangrove di Kampung Laut adalah ekosistem yang berperan penting bagi berkembang biak, bertelur, proses pengasuhan ikan. Tingginya populasi ikan adalah tolak ukur kesejahteraan masyarakat Kampung Laut. Namun, dengan adanya pendangkalan perairan dan berkurangnya area mangrove di Kampung Laut, hasil tangkapan ikan pun turun dan profesi nelayan ikut terancam. 

Selain itu, penurunan kualitas tanah di kawasan Kampung Laut karena banyaknya intrusi air laut yang menyebabkan kegiatan pertanian terhambat karena tanah tidak bisa ditanami berbagai jenis pohon untuk dikembangbiakan. Artinya, hanya pohon-pohon tertentu yang bisa hidup di kawasan tersebut. 

Tahun 2019, Lindungi Hutan hadir untuk turut mendukung kegiatan penanaman pohon oleh warga sekitar. Pohon mangrove memiliki manfaat untuk mencegah intrusi air laut ke daratan. Masyarakat sekitar juga mengembangkan potensi mangrove melalui kegiatan wisata dan usaha olahan hasil mangrove. 

Terhitung, hingga Juni 2022 Lindungi Hutan masih dan terus melakukan 4 kampanye alam sebanyak 1.937 pohon tertanam dengan 0,2 ha luasan tertanam dan 229,48 CO2 ekv terserap. Di tambah lagi penanaman pohon mangrove oleh CDK Banyumas bersama Lindungi Hutan sebanyak 50.000 bibit. 

Baca juga: PIK: Pantai Indah Kapuk Jakarta Utara dari Kacamata Lingkungan (2022)

Penanaman pohon mangrove dilakukan untuk mencegah perluasan abrasi, mencegah degradasi lahan akibat abrasi, mengurangi dampak banjir di pemukiman warga, meningkatkan area tutupan hijau, membantu pengurangan emisi karbon, serta meningkatkan perekonomian petani dan warga sekitar.

Yuk kita ikut berkontribusi menghijaukan Kampung Laut!

Penulis: Zahidah Mahroini

Muhamad Iqbal
Muhamad Iqbal adalah SEO content writer di LindungiHutan dengan fokus pada tulisan-tulisan lingkungan, kehutanan dan sosial.