Powered by ProofFactor - Social Proof Notifications

5 Hal Tentang Tanaman Karet yang Perlu Kamu Tahu

Sudahkah kamu tahu apa itu tanaman karet? Bagaimana cara menanam dan membudidayakan? Apa saja manfaatnya? Yuk simak artikel berikut untuk cari tau jawabannya!
Tanaman karet: Klasifikasi, Ciri-ciri, Habitat, Cara Menanam, Budidaya, dan Manfaatnya

Tanaman karet (Hevea brasiliensis) adalah pohon yang berasal dari Brazil. Jauh sebelum tanaman karet dibudidayakan, penduduk asli di berbagai tempat seperti Amerika Serikat, Asia, dan Afrika Selatan menggunakan tanaman jenis lain yang juga menghasilkan getah. Contohnya, getah juga dapat diperoleh dari pohon Castilla elastica (famili Moraceae). Sekarang tanaman tersebut kurang dimanfaatkan lagi getahnya karena tanaman karet telah dikenal secara luas dan banyak dibudidayakan.

Sebagai penghasil lateks, tanaman karet menjadi salah satu tanaman yang dikebunkan secara besar-besaran (Budiman, 2012). Tanaman karet pertama kali diperkenalkan di Indonesia pada tahun 1864 yaitu saat masa penjajahan Belanda. Tepatnya, tanaman karet dikenalkan di Kebun Raya Bogor sebagai tanaman koleksi. Kemudian, dilakukan pengembangan tanaman karet ke beberapa daerah sebagai tanaman perkebunan komersial.

Daerah yang pertama kali digunakan sebagai tempat uji coba penanaman karet adalah Pamanukan dan Ciasem, Jawa Barat. Jenis yang pertama kali diujicobakan di kedua daerah tersebut adalah spesies Ficus elastica atau karet rembung. Untuk jenis karet Hevea brasiliensis baru ditanam di Sumatera bagian timur pada tahun 1902 dan di Jawa pada tahun 1906 (Tim Penebar Swadaya, 2008). 

Baca juga: Fotosintesis: Pengertian, Faktor, Proses, dan Manfaatnya

Mengenal lebih dekat tanaman karet
Penjelasan singkat mengenai pohon karet.
Oleh: Muhamad Iqbal/LindungiHutan

1. Klasifikasi Pohon Karet

Tanaman karet memiliki klasifikasi sebagai berikut:

KingdomPlantea
DivisiSpermatophyta
Sub Divisi Angiospermae
Kelas Dicotyledoneae
Ordo Euphorbiales
Famili Euphorbiaceae
Genus Hevea
Spesies Hevea brasiliensis 

2. Ciri-Ciri Pohon Karet

Karet adalah tanaman dengan habitus pohon yang tumbuh tinggi dan memiliki batang cukup besar. Batangnya mengandung getah yang dinamakan lateks. Tanaman karet biasanya memiliki percabangan yang tinggi di bagian atas. Sementara itu, akarnya tergolong ke dalam akar tunggang sehingga mampu menopang batang untuk tumbuh besar dan tinggi. Akar tunggang dapat menunjang tanah pada kedalaman 1-2 m, sedangkan akar lateralnya dapat menyebar sejauh 10 m. Bagian akar yang paling aktif menyerap air dan unsur hara adalah bulu akar yang berada pada kedalaman 0-60 cm dan jarak 2,5 m dari pangkal pohon (Setiawan dan Andoko, 2005).

Daun karet memiliki warna hijau. Panjang tangkai daun utamanya sekitar 3-20 cm, sedangkan panjang tangkai anak daun sekitar 3-10 cm dan ujungnya bergetah. Dalam satu helai daun, biasanya terdapat 3 anak daun dengan bentuk elips, memanjang, dengan ujung daun meruncing. Daun tanaman karet akan berubah warna menjadi kuning atau merah pada saat musim kemarau (Setiawan dan Andoko, 2005).

Bunga karet terdiri dari bunga jantan dan betina dengan tipe perbungaan malai. Bagian pangkal tenda bunganya berbentuk lonceng dengan panjang 4-8 mm. Bunga betina memiliki ukuran yang sedikit lebih besar dibandingkan bunga jantan dan mengandung bakal buah dengan 3 ruang. Kepala putik yang akan dibuahi dalam posisi duduk dengan jumlah 3 buah. Pada bunga jantan memiliki 10 benang sari yang tersusun menjadi suatu tiang. Kepala sari terbagi dalam 2 karangan, tersusun satu lebih tinggi dari yang lain. Paling ujung adalah suatu bakal buah yang tidak tumbuh sempurna (Tim Penulis PS, 2008).

Budiman (2012) mengatakan bahwa karet memiliki tipe buah polong (diselaputi kulit yang keras). Buah karet dilapisi oleh kulit tipis berwarna hijau dan di dalamnya terdapat kulit yang keras dan berkotak. Tiap kotak berisi sebuah biji berlapis tempurung yang setelah tua warna kulit buahnya berubah menjadi keabu-abuan dan kemudian mengering. Saat matang, buah akan pecah dan jatuh, dan di tiap ruasnya terdapat 2-4 kotak biji. Pada umumnya terdapat 3 kotak biji di mana pada setiap kotak terdapat 1 biji. Biji karet terdapat dalam setiap ruang buah. Dalam setiap ruang buah karet, terdapat biji di dalamnya dengan jumlah 3-6 sesuai dengan jumlah ruangnya (Anwar, 2006).

3. Habitat Pohon Karet

Tanaman karet dapat tumbuh baik pada kondisi suhu rata-rata harian 28°C (dengan kisaran 25-35°C) dan curah hujan tahunan rata-rata antara 2.500-4.000 mm dengan hari hujan mencapai 150 hari/tahun. Daerah yang cocok untuk tanaman karet adalah daerah-daerah di Indonesia di bagian barat seperti Sumatera, Jawa, dan Kalimantan karena memiliki iklim yang lebih basah (Budiman, 2012).

Untuk curah hujannya, akan lebih baik lagi apabila hujannya dapat merata sepanjang tahun, dengan hari hujan berkisar 100-150HH/tahun. Namun, terjadinya hujan juga dapat berpengaruh terhadap proses penyadapan. Jika sering terjadi hujan di pagi hari, maka produksinya akan berkurang. Apabila penyadapan dipaksa saat terjadi hujan, maka kualitas lateksnya menjadi encer (Tim Penulis PS, 2008).

Maryani (2007) juga menyatakan bahwa daerah yang baik bagi pertumbuhan dan pengusahaan tanaman karet terletak di sekitar ekuator (khatulistiwa) antara 100 LS dan 100 LU. Karet juga masih bisa tumbuh dengan baik sampai batas 200 garis lintang. Untuk topografinya, karet dapat tumbuh dengan baik pada ketinggian maksimal 500 mdpl. Pada ketinggian lebih dari 500 mdpl, pertumbuhannya akan terhambat dan produksi getahnya akan kurang memuaskan (Woelan, 2005). 

Untuk kondisi faktor edafik, menurut Budiman (2012) karet sangat toleran terhadap berbagai kondisi tanah dan tidak memandang jenis-jenis tanah. Karet dapat tumbuh dengan baik pada rentang pH 3,5-7,0. Untuk pH optimum harus disesuaikan dengan jenis tanahnya, misal pada red basaltic soil pH 4-6 sangat baik bagi pertumbuhan karet. Terdapat pula beberapa sifat-sifat tanah yang cocok untuk tanaman karet antara lain:

  • Solum cukup dalam (100 cm atau lebih) dan tidak terdapat batu-batuan
  • Aerasi dan drainase baik
  • Remah, porus, dan dapat menahan air
  • Tekstur terdiri atas 35% liat dan 30% pasir
  • Tidak bergambut dan jika bergambut tidak lebih tebal dari 20 cm
  • Kandungan unsur hara N, P dan K cukup dan tidak kekurangan unsur mikro
  • Kemiringan tanah tidak lebih dari 16%
  • Permukaan air tanah tidak kurang dari 100 cm. 

4. Cara Menanam dan Budidaya Pohon Karet

Beberapa tahapan untuk menanam dan memelihara tanaman karet yaitu:

  1. Bibit karet dalam polybag yang siap ditanam di lapangan ditandai dengan payung daun terakhir yang sudah tua. Penanaman dilakukan dengan cara kantong polybag dibuka, bibit diletakkan di tengah-tengah lubang tanam, kemudian ditimbun dengan tanah. Penanaman sebaiknya dilakukan saat musim hujan. Apabila ditanam pada musim panas sebaiknya lubang tanam disiram dahulu.
  2. Untuk penyulaman, bibit yang baru ditanam harus diperiksa setiap 1-2 minggu. Bibit yang mati segera disulam agar populasi tanaman dapat dipertahankan.
  3. Pembuangan tunas palsu dan tunas cabang, dilakukan agar tanaman menghasilkan batang utama yang lurus. Tunas palsu adalah tunas yang tumbuh bukan dari mata okulasi. Tunas palsu ini harus dibuang sebelum berkayu. Tunas cabang adalah tunas yang tumbuh pada batang utama pada ketinggian sampai dengan 2.75-3 m. Pemotongan tunas cabang dilakukan sebelum tunas berkayu.
  4. Pembentukan percabangan, dapat dilakukan dengan berbagai cara seperti pengikatan batang, penyanggulan, pengguguran daun, pembuangan ujung tunas, pemenggalan ujung batang, dan pengeratan batang. Cara yang dianjurkan untuk dilakukan adalah penyanggulan.
  5. Penanaman tumpang  sari, tujuannya yaitu untuk meningkatkan produktivitas lahan, mengurangi resiko rendahnya harga pada suatu komoditas, dan memberikan pendapatan pada masa sebelum produksi.
  6. Pemupukan, tujuannya untuk mempercepat pertumbuhan dan matang sadap. Pemberian pupuk sebaiknya dilakukan pada saat pergantian musim dari musim penghujan ke musim kemarau.

5. Manfaat Pohon Karet

Karet merupakan salah satu tanaman perkebunan yang sangat menguntungkan. Tanaman karet dapat dijadikan sebagai sumber pendapatan, kesempatan kerja, menambah devisa negara, pendorong pertumbuhan ekonomi sentra-sentra baru di wilayah sekitar perkebunan karet, maupun meningkatkan pelestarian lingkungan dan sumber daya hayati.

Pada dasarnya, industri karet terbagi atas dua jenis, yaitu karet alam dan karet sintetis. Beberapa jenis karet alam yang dikenal luas antara lain bahan olah karet, karet konvensional, lateks pekat, karet bongkah (block rubber), karet spesifikasi teknis (crumb rubber), karet siap olah (tyre rubber) dan karet reklim (reclaimed rubber). Selain dimanfaatkan getahnya, sebenarnya kayu karet juga berpotensi untuk dimanfaatkan sebagai bahan pembuatan furniture. Namun sayangnya pemanfaatan yang dilakukan belum optimal sehingga diperlukan upaya pemanfaatan lebih lanjut.

Baca juga: Pengertian Blue Carbon dan Manfaat Karbon Biru

FAQ

Apa itu pohon karet?

Tanaman karet (Hevea brasiliensis) merupakan tanaman yang berasal dari Brazil. Tanaman ini merupakan sumber utama bahan tanaman karet alam dunia. Jauh sebelum tanaman karet dibudidayakan, penduduk asli di berbagai tempat seperti Amerika Serikat, Asia, dan Afrika Selatan menggunakan pohon jenis lain yang juga menghasilkan getah.

Apa ciri-ciri pohon karet?

Karet merupakan tanaman dengan habitus pohon yang tumbuh tinggi dan memiliki batang cukup besar. Batangnya mengandung getah yang dinamakan lateks. Tanaman karet biasanya memiliki percabangan yang tinggi di bagian atas. Sementara itu, akarnya tergolong ke dalam akar tunggang sehingga mampu menopang batang untuk tumbuh besar dan tinggi.

Penulis : Septi Purwaningsih

Editor : Tasqiya Ratnasari