{"id":2145,"date":"2022-06-20T17:00:00","date_gmt":"2022-06-20T10:00:00","guid":{"rendered":"http:\/\/blog-backup.lindungihutan.com\/?p=2145"},"modified":"2022-06-27T12:03:10","modified_gmt":"2022-06-27T05:03:10","slug":"penjelasan-lengkap-hutan-pantai","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lindungihutan.com\/blog\/penjelasan-lengkap-hutan-pantai\/","title":{"rendered":"Hutan Pantai: Ciri-ciri, Manfaat, Kerusakan dan Dampaknya"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Hutan pantai dapat disebut sebagai vegetasi litoral dengan perkembangan pada wilayah pesisir berperairan dangkal dekat dengan karang. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Indonesia adalah sebuah negara kepulauan, dengan jumlah pulau yang tercatat menurut Badan Informasi Geospasial (BIG) yaitu sejumlah 16.771 pulau dengan garis pantai hingga 54.716 km yang menjadikan Indonesia dengan garis pantai terpanjang di dunia. Pada setiap pulau tersebut memiliki formasi atau bagian hutan yang berbeda antara satu dengan yang lain.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Pengertian Hutan Pantai<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Hutan pantai adalah hutan yang mengalami perkembangan pada muara sungai, tepi laut ataupun pada wilayah yang terdapat pasang surut.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Istilah hutan pantai sendiri pertama kali dibuat oleh Whitford (1991). Selain itu, hutan pantai dapat dipahami sebagai vegetasi dari pantai berpasir yang berkembang di sekitar wilayah pantai pasir dan terletak pada daerah beriklim tropis.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kawasan ini terbentuk oleh gelombang dan hembusan angin sehingga tercipta gundukan. Hutan pantai di Indonesia memiliki peranan penting untuk melindungi stabilitas pada pesisir.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Namun, berbeda dengan <a href=\"https:\/\/blog-backup.lindungihutan.com\/\/9-jenis-hutan-dan-ciri-hutan-di-indonesia\/\" target=\"_blank\" data-type=\"post\" data-id=\"670\" rel=\"noreferrer noopener\">jenis hutan lainnya<\/a>, hutan pantai mempunyai tumbuhan khas dengan dua jenis vegetasi, pes-caprae dan baringtonia.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>Ciri-ciri Hutan Pantai<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Hutan pantai memiliki vegetasi pantai yang berada pada tanah berpasir dan berbatu di bagian atas garis pasang. Keberadaannya  tersebar di sepanjang pantai dengan luas sekitar 3,3 juta hektar tanpa tergenang oleh pasang surutnya air laut. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ciri-ciri hutan pantai secara spesifik diantaranya sebagai berikut:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\"><li>Tidak dipengaruhi oleh kondisi iklim.<\/li><li>Terdapat pada tanah rendah di kawasan pantai.<\/li><li>Berkembang pada tanah yang kering (tanah pasir, berbatu karang, dan lempung)<\/li><li>Pepohonan di kawasan hutan ditumbuhi oleh <em>epyphi<\/em>.<\/li><li>Biasa ditemui di wilayah selatan pantai Pulau Jawa, barat daya pantai Sumatera, pantai Sulawesi dan pantai Bali.<\/li><li>Terdapat beragam tanaman yang berkumpul dan berkelompok pada habitat tertentu.\u00a0<\/li><\/ul>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Baca juga:  <a href=\"https:\/\/blog-backup.lindungihutan.com\/\/manfaat-menanam-pohon\/\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\">10 Manfaat Menanam Pohon untuk Lingkungan dan Manusia.<\/a><\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>Manfaat Hutan Pantai<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Masyarakat kerap menganggap remeh manfaat dari hutan pantai, bahkan banyak pula yang tidak mengetahuinya. Faktanya,  hutan pantai dapat melindungi dan menahan terjadinya tsunami atau pun bencana yang berada di sekitar pantai. Bukan hanya itu, hutan pantai memiliki manfaat lain yaitu:<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Manfaat Secara Fisiologi\u00a0<\/h3>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">1. Meredam datangnya gelombang Tsunami<\/h4>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Hutan pantai berperan untuk meredam tsunami dengan cara menjadi pemecah gelombang air yang datang sekaligus memperlambat arus pada air laut, kemudian hutan pantai menjadi kanal alami sehingga volume air yang menuju ke daratan menjadi lebih kecil dan sedikit.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Selain itu, hutan pantai juga dapaat menahan material dari laut apabila ikut terbawa arus tsunami seperti batang kayu, perahu, kapal kargo maupun puing lainnya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Menurut Forbes and Broadhead (2007), terdapat struktur penting pada hutan pantai guna mengurangi derasnya ombak tsunami, yaitu ketebalan dari hutan, diameter pohon, kekerapan pada pohon, tinggi pohon, hingga komposisi pohon.<\/p>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">2. Mengurangi dampak abrasi di pesisir pantai<\/h4>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Energi arus ataupun gelombang laut, penutupan lahan, dan kondisi tanah menjadi beberapa faktor penentu terjadinya abrasi di pantai.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tingkat penutupan yang terjadi melalui vegetasi pantai menjadi faktor penyebab abrasi pada pantai. Apabila abrasi tersebut tidak dapat dicegah atau dikendalikan, maka akan mendorong terjadinya penyusutan laut ke darat dan bahkan meningkatkan kemungkinan sedimentasi pada daerah pesisir.<\/p>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">3. Pelindung ekosistem darat dari angin atau badai<\/h4>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Keberadaan vegetasi pada pantai turut melindungi bangunan serta pembudidayaan tanaman pertanian dari angin dan badai yang dapat merusak. Karena adanya penghambatan pada kecepatan sekaligus pemecahan tekanan angin yang mengarah ke tempat tinggal penduduk.<\/p>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">4. Mengurangi laju erosi tanah di tepian pantai<\/h4>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Selain berperan melindungi dari terpaan angin, beberapa tanaman seperti cemara laut, ketela pohon, jagung, bakung, teki laut, widuri, maupun tanaman bergetah lain memiliki banyak fungsi. Fungsi tersebut antara lain untuk menstabilkan tanah, memperbaiki tanah, hingga mengendalikan erosi yang terjadi pada pantai.<\/p>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">5. Mengontrol siklus air sekaligus instrusi air laut<\/h4>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Terdapat dua cara untuk mewujudkan mekanisme ini, yaitu dengan mempertahankan air tawar dan pencegahan air yang memasuki wilayah sungai. Vegetasi di sekitaran pantai menjaga cadangan air yang dapat membentuk hambatan instrusi air laut menuju daratan.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Manfaat Hutan Pantai Secara Ekologi<\/h3>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">1. Habitat bagi flora dan fauna<\/h4>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Hutan pantai biasanya digunakan flora dan fauna sebagai habitat, baik yang dilindungi maupun liar. Contohnya,  beberapa hewan yang hidup di sekitaran hutan pantai yaitu harimau sumatera, siamang, tapir, kucing mas, babi hutan, banteng, badak jawa, penyu, ular sanca, burung pantai, dan sebagainya.<\/p>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">2. Tempat bertelur dan berkembang biak hewan air<\/h4>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Hutan pantai memiliki tekstur pasir kwarsa dengan dominasi vegetasi pantai menjadi salah satu faktor hewan menjadikannya tempat bertelur.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Di Indonesia, kebanyakan penyu adalah hewan yang paling sering bertelur di hutan pantai. Selain itu, burung maleo juga kerap bertelur di hutan pantai.<\/p>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">3. Membantu melindungi kelestarian lingkungan<\/h4>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Keberadaan hutan pantai juga dapat menjadi kendali dalam perubahan iklim dan pemenasan global, dengan cara menyerap karbon serta menjaga iklim mikro. Karena <a href=\"https:\/\/blog-backup.lindungihutan.com\/\/fotosintesis\/\" data-type=\"post\" data-id=\"1464\">proses fotosintesis<\/a> yang terjadi dapat menyerap <a href=\"https:\/\/blog-backup.lindungihutan.com\/\/emisi-karbon\/\" data-type=\"post\" data-id=\"1157\">emisi karbondioksida<\/a> serta melepaskan oksigen. Oksigen sendiri berperan penting untuk kesehatan seluruh makhluk hidup.<\/p>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">4. Meningkatkan estetika di daerah pesisir<\/h4>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dengan dilakukannya penanaman tanaman pantai di wilayah pesisir akan menambah keindahan sekaligus menyerap karbondioksida keluaran kendaraan bermotor maupun kegiatan lain yang menimbulkan polusi udara.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Manfaat Sosial dan Ekonomi<\/h3>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">1. Tempat wisata dan berkemah<\/h4>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Wisata pantai akan memberikan daya tarik dengan potensi luas lautnya dan daratan pantai. Mulai dari memancing, snorkeling, berenang, berselancar, dll. Begitu pula di darat, kegiatan yang dapat dilakukan adalah bersepeda, voly, panjat tebing , menelusuri gua, berkuda, hingga berjemur.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">2. Menghasilkan bahan baku untuk kosmetik dan biodisel<\/h4>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Beberapa jenis tumbuhan di hutan pantai dijadikan untuk kandungan bahan baku kosmetik seperti <a href=\"https:\/\/blog-backup.lindungihutan.com\/\/pohon-ketapang-klasifikasi-ciri-dan-manfaat\/\" target=\"_blank\" data-type=\"post\" data-id=\"1044\" rel=\"noreferrer noopener\">pohon ketapang<\/a>, keben, dll. Sama halnya dengan sektor biodisel, beberapa tanaman seperti nyamplung dan kranji dapat dijadikan komposisi dalam biodisel.<\/p>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">3. Bahan obat-obatan<\/h4>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Hutan pantai memiliki ekosistem vegetasi yang baik sehingga memiliki banyak kandungan zat bioaktif yang tinggi di bidang kesehatan. Terdapat beberapa jenis vegetasi yang dijadikan bahan obat-obatan seperti <em>Calophyllum lanigerum, Calophyllum cannum<\/em><\/p>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">4. Lahan pertanian alternatif<\/h4>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Petani di Desa Bugel, Kulon Progo  berhasil memanfaatkan lahan pasir untuk menjadi tempat budidaya beberapa tanaman seperti cabai, semangka, bawang, sayur-sayuran, kentang, dan ubi. Kegiatan ini dilakukan petani sekitar melalui sistem yang ramah lingkungan. Caranya dengan mencampur kegiatan pertanian dan peternakan sehingga tanah serta bahan organik tercampur jadi satu.<\/p>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">5. Kawasan penunjang pendidikan dan penelitian<\/h4>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kawasan pantai menjadi wilayah yang tepat untuk pembelajaran mengenai lingkungan, geografi dan berbagai bidang lainnya karena ekosistemnya yang kompleks.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Baca juga: <a href=\"https:\/\/blog-backup.lindungihutan.com\/\/9-dampak-kerusakan-hutan-bagi-manusia\/\" target=\"_blank\" data-type=\"post\" data-id=\"359\" rel=\"noreferrer noopener\">9 Dampak Kerusakan Hutan bagi Manusia dan Kehidupan<\/a><\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Penyebab Kerusakan Hutan Pantai<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Terdapat beberapa penyebab yang memberikan dampak kerusakan pada hutan pantai seperti aktivitas manusia, hingga faktor alam yang berdampak pada iklim yang berubah.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Selain itu, manusia cenderung abai dan tidak mau memperbaiki kondisi lingkungan serta selalu mengutamakan kepentingan komersil ketimbang memperhatikan ekosistem.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Berikut beberapa penyebab kerusakan dari hutan pantai di Indonesia yaitu:<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">1. Kerusakan dan pencemaran di kawasan pantai<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pada dasarnya pencemaran yang terjadi di pantai disebabkan oleh beberap hal seperti limbah industri, limbah domestik masyarakat, kegiatan pertanian, perikanan, dan pelayaran dengan bahan pencemar utama yaitu sedimen, logam, dan unsur hara.\u00a0<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Selain itu, tumpahan dari kapal tanker berupa minyak mentah, erosi permukaan tanah, hingga pencemaran energi nuklir menjadi beberapa bentuk lain dari pencemaran yang berakibat pada kerusakan ekosistem.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">2. Pemanasan global<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Hal ini disebabkan oleh aktivitas yang mengakibatkan peningkatan suhu di bumi, sehingga tinggi air laut meningkat. Akibatnya terjadi abrasi pantai, perubahan vegetasi, dan akhirnya menggerus hutan pantai secara perlahan.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">3. Perubahan bentang alam<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sederhanannya, lahan hutan tersebut dialih fungsikan untuk keperluan lain, seperti dijadikan lapangan golf, pembangunan mineral, tempat rekreasi, eksplorasi minyak, menghilangkan penanggul banjir, pembangunan, seawalls, groins, sedimen baru, perubahan vegetasi, restorasi lahan dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">4. Pengelolaan area wisata sembarangan<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dengan adanya kegiatan wisata, otomatis akan diikuti pembangunan sarana  seperti hotel, dermaga, hingga resor. Hal tersebut tentu akan memengaruhi stabilitas pantai dan meningkatkan mobilitas pasir. Kegiatan lain seperti reproduksi, dan migrasi burung serta penyu juga akan terganggu perkembangbiakan sekaligus kehidupannya.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">5. Penambangan mineral<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pada beberapa tempat di Indonesia dalam kegiatan tambang pasir kerap melakukan eksploitasi tanpa memperhatikan lingkungan. Sehingga menyebabkan gumuk pasir mengalami kerusakan berlebih akibat aktivitas yang terlalu berlebihan, kondisi ini dapat mengakibatkan turunnya kualitas dari ekosistem pantai.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">6. Bencana alam<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Beberapa bencana seperti angin topan, tsunami, banjir, hingga El Nino yang dapat mengakibatkan kerusakan hutan pantai.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Baca juga: <a href=\"https:\/\/blog-backup.lindungihutan.com\/\/10-hewan-yang-tinggal-di-hutan-mangrove\/\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\">10 Hewan-Hewan di Hutan Bakau dan Mangrove (Update 2022)<\/a><\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Dampak\u00a0Kerusakan Hutan Pantai<\/h2>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">1. Erosi tanah dan abrasi pantai<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Terjadinya erosi disebabkan oleh beberapa kondisi seperti:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\"><li>Pembangunan reklamasi yang menjorok ke wilayah laut menyebabkan angkutan sedimen yang sejajar karena bangunan tersebut,<\/li><li>Arus pusaran yang muncul karena pembangunan <em>seawall <\/em>yang menyebabkan gelombang arus yang datang sebagian akan dipantulkan mengarah ke laut sehingga memunculkan efek <em>standing wave <\/em>yang dapat merusak pantai dengan daya hisap dengan kekuatan hisap besar untuk menghisap tanah pada <em>seawall<\/em>,<\/li><li>Suplai sedimen yang berkurang karena pembangunan dam di hulu sungai serta muara sungai yang dipindahkan,<\/li><li>Penambangan karang yang mengakibatkan lereng pantai menjadi terjal.<\/li><\/ul>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">2. Erosi pasir<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Terdapat beberapa akibat yang terjadi seperti pengendapan yang mengakibatkan wilayah budidaya dan pemukiman tertutup, merusak budidaya dan korosi barang logam, serta penurunan pada produktivitas lahan.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">3. Instrusi pada air laut<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Terjadinya intrusi pada hal ini akan berakibat pada kualitas air tanah yang menurun, air laut masuk ke wilayah budidaya, dan pipa logam bawah tanah pada bangunan yang dapat mengalami korosi.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">4. Musnahnya keanekaragaman hayati, habitat dan satwa dilindungi<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sederhananya eksploitasi tersebut akan berdampak pada habitat penyu yang rusak bahkan hilang karena kondisi pantai tidak memungkinkan dengan suhu, kelembaban yang tidak stabil.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Beberapa kondisi tersebut juga menyebabkan vegetasi mati karena tidak dapat beradaptasi dengan instrusi air laut.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">5. Nilai pariwisata yang turun<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Adanya aktivitas tersebut memberi dampak pada struktur dan formasi penyusun hutan pantai sebagai daya tarik masyarakat pada sektor wisata dan hal tersebut hilang yang menjadikan keindahan pantai berkurang<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Adanya eksploitasi yang berlebih mengakibatkan ekosistem hutan pantai menjadi berkurang efektivitasnya. Penurunan pada kualitas sumber daya serta kualitas mahluk hidup yang bergantung pada hutan, perlindungan masyarakat dari ombak berkurang, toksisitas logam berat yang dapat berdampak negatif pada manusia, dan vegetasi pantai\u00a0<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Cara Melindungi Hutan Pantai<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pada tahun 2020, sekitar 600 ribu hektar kawasan pantai di Indonesia mengalami kerusakan, sehingga perlu dilakukan upaya penanggulangan masalah pelestarian hutan pantai.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Berikut beberapa langkah yang dapat dilakukan dalam upaya melindungi kawasan hutan pantai diantaranya yaitu:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\"><li>Upaya pembibitan kembali atau rehabilitasi hutan pantai dengan pembukaan lahan guna vegetasi tumbuhan untuk ekosistem pantai,<\/li><li>Upaya konservasi flora dan fauna di sekitar pantai,<\/li><li>Pembudidayaan vegetasi serta tumbuhan hutan pantai,<\/li><li>Pemberian edukasi dan kegiatan sosialisasi untuk memelihara hutan pantai kepada masyarakat luas,<\/li><li>Konservasi lahan pasir dalam bentuk dukungan atas ekosistem pantai.<\/li><\/ul>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>FAQ<\/strong><\/h2>\n\n\n<div id=\"rank-math-faq\" class=\"rank-math-block\">\n<div class=\"rank-math-list \">\n<div id=\"faq-question-1656060199971\" class=\"rank-math-list-item\">\n<h3 class=\"rank-math-question \">Apa itu Hutan Pantai ? <\/h3>\n<div class=\"rank-math-answer \">\n\n<p>Hutan pantai dapat dipahami sebagai vegetasi dari pantai berpasir yang berkembang di sekitar wilayah pantai pasari dan terletak pada daerah beriklim tropis. <\/p>\n\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n\n\n<div class=\"wp-block-stackable-expand stk-block-expand stk-block stk-b36c677\" aria-expanded=\"false\" data-block-id=\"b36c677\"><div class=\"stk-inner-blocks stk-block-content\">\n<div class=\"wp-block-stackable-text stk-block-expand__short-text stk-block-text stk-block stk-952d093\" aria-hidden=\"false\" data-block-id=\"952d093\"><p class=\"stk-block-text__text\">Referensi yang digunakan dalam tulisan ini:<\/p><\/div>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-stackable-button stk-block-button is-style-link stk-block-expand__show-button stk-block stk-472faf5\" data-block-id=\"472faf5\"><a aria-hidden=\"false\" role=\"button\" class=\"stk-link stk-button stk--hover-effect-darken\" href=\"#\"><span class=\"stk-button__inner-text\">Buka<\/span><\/a><\/div>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-stackable-text stk-block-expand__more-text stk-block-text stk-block stk-64e3ac9\" aria-hidden=\"true\" data-block-id=\"64e3ac9\"><p class=\"stk-block-text__text\">Fajri, D. L., 2022. <em>Mengenal Jumlah Pulau di Indonesia tahun 2021. <\/em>[Online]<br>Available at: https:\/\/katadata.co.id\/safrezi\/berita\/621315ffe0ff0\/mengenal-jumlah-pulau-di-indonesia-tahun-2021[Accessed 20 April 2022].<br><br>rimbakita.com, n.d. <em>Hutan Pantai \u2013 Pengertian, Ciri, Formasi &amp; Manfaat. <\/em>[Online]<br>Available at: https:\/\/rimbakita.com\/hutan-pantai\/[Accessed 23 April 2022].<br><br>Rohmah, A. et al., 2018. <em>Analisis Vegetasi Hutan Pantai di Titik barat Pulau Peucang Taman Nasional Ujung Kulon, <\/em>Bogor: Universitas Pakuan.<br><br>Suripto, I., 2020. <em>600 Ribu Hektare kawasan Pantai Rusak, Paling parah Papua-Maluku. <\/em>[Online]<br>Available at:  23 April 2022].<br><br>Tuheteru, F. D. &amp; M., 2012. <em>Ekologi, Manfaat &amp; Rehabilitasi Hutan Pantai Indonesia. <\/em>1 ed. Manado: Balai Penelitian Kehutanan Manado.<br><br>Whitford, P. D., 1911. <em>The Forests of the Philippines, <\/em>Manila: Bureau of Printing.<\/p><\/div>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-stackable-button stk-block-button is-style-link stk-block-expand__hide-button stk-block stk-1cc6fb8\" data-block-id=\"1cc6fb8\"><a aria-hidden=\"true\" role=\"button\" class=\"stk-link stk-button stk--hover-effect-darken\" href=\"#\"><span class=\"stk-button__inner-text\">Tutup<\/span><\/a><\/div>\n<\/div><\/div>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Penulis: <a href=\"https:\/\/www.linkedin.com\/in\/rionaldo-andira-lesmono-556907226\/\" target=\"_blank\" data-type=\"URL\" data-id=\"https:\/\/www.linkedin.com\/in\/rionaldo-andira-lesmono-556907226\/\" rel=\"noreferrer noopener\">Rionaldo Andira Lesmono<\/a><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Editor: <a href=\"https:\/\/www.linkedin.com\/in\/tasqiya-ratnasari\/\" target=\"_blank\" data-type=\"URL\" data-id=\"https:\/\/www.linkedin.com\/in\/tasqiya-ratnasari\/\" rel=\"noreferrer noopener\">Tasqiya Ratnasari<\/a><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Publisher: <a href=\"https:\/\/blog-backup.lindungihutan.com\/\/author\/muhamad_iqbal\/\">Muhamad Iqbal<\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Hutan pantai dapat disebut sebagai vegetasi litoral dengan perkembangan pada wilayah pesisir berperairan dangkal dekat dengan karang. Indonesia adalah sebuah negara kepulauan, dengan jumlah pulau yang tercatat menurut Badan Informasi Geospasial (BIG) yaitu sejumlah 16.771 pulau dengan garis pantai hingga 54.716 km yang menjadikan Indonesia dengan garis pantai terpanjang di dunia. Pada setiap pulau tersebut [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":2215,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[11],"tags":[247,252,253,326,325],"class_list":["post-2145","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-hutanpedia","tag-alam","tag-edukasi","tag-hutan","tag-konservasi","tag-pengertian"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lindungihutan.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2145","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lindungihutan.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lindungihutan.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lindungihutan.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lindungihutan.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2145"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/lindungihutan.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2145\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lindungihutan.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2215"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lindungihutan.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2145"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lindungihutan.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2145"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lindungihutan.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2145"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}