{"id":2152,"date":"2022-06-21T17:00:00","date_gmt":"2022-06-21T10:00:00","guid":{"rendered":"http:\/\/blog-backup.lindungihutan.com\/?p=2152"},"modified":"2022-06-27T11:09:19","modified_gmt":"2022-06-27T04:09:19","slug":"pohon-cendana","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lindungihutan.com\/blog\/pohon-cendana\/","title":{"rendered":"Pohon Cendana: Ciri-ciri, Cara Menanam dan Manfaatnya (2022)"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Salah satu jenis tanaman asli Indonesia yang berasal dari Nusa Tenggara Timur adalah pohon cendana. Pohon ini sering dijumpai di Pulau Timor, Sumba, Alor, Solor, Flores, Roti, Pantar, dan pulau-pulau lainnya.  Sayangnya, pohon cendana mulai sulit ditemukan di pulau-pulau yang telah disebutkan di atas. Pulau NTT yang dahulu dikenal sebagai \u201cPulau dengan Tikar Permadani Cendana\u201d saja, dalam kurun waktu 10 tahun (1987-1997) mengalami penurunan jumlah pohon cendana hingga 53,95%. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Memiliki nama ilmiah Santalum album, pohon cendana adalah  satu-satunya tanaman di antara 22 jenis dari genus Santalum yang ada di dunia dan tumbuh secara alami di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Di dunia perdagangan, cendana lebih dikenal dengan nama sandalwood. Sedangkan, di Indonesia sendiri, terdapat beberapa sebutan untuk cendana di masing-masing daerah. Beberapa nama lokal pohon cendana antara lain candana (Minangkabau), tindana, sindana (Dayak), candana (Sunda), candani (Jawa), candhana, candhana lakek (Madura), candana (Belitung), ai nitu, dana (Sumbawa), kayu ata (FIores), sundana (Sangir), sondana (Sulawesi Utara), ayu luhi (Gorontalo), candana (Makassar), ai nituk (Roti), hau meni ai kamelin (Timor), kamenir (Wetar), dan maoni (Kisar). <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sedangkan di luar negeri, cendana juga memiliki beberapa nama seperti East Indian sandalwood, white sandalwood, yellow sandalwood (Inggris, Amerika Serikat), bois santal (Spanyol, Italia), echte sandal (Belanda), echtes sandelholz (Jerman), chendana (Malaysia), santaku (Burma), chantana (Thailand), bach (Vietnam), sandal, chandal, chandam, gundala, dan suket (India).<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>Klasifikasi<\/strong> Pohon Cendana<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Holmes (1983) menyebutkan bahwa dalam taksonomi tumbuhan, pohon cendana memiliki klasifikasi sebagai berikut:<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-table\"><table class=\"has-fixed-layout\"><tbody><tr><td> Divisi<\/td><td>Spermatophyta <\/td><\/tr><tr><td> Sub Divisi<\/td><td> Angiospermae <\/td><\/tr><tr><td> Kelas<\/td><td> Dicotyledoneae <\/td><\/tr><tr><td> Sub Kelas<\/td><td> Rosidae <\/td><\/tr><tr><td> Ordo<\/td><td> Santalales <\/td><\/tr><tr><td> Famili<\/td><td> Santalaceae <\/td><\/tr><tr><td> Genus<\/td><td>Santalum <\/td><\/tr><tr><td> Spesies<\/td><td><em>Santalum album<\/em> Linn.\u00a0 <\/td><\/tr><\/tbody><\/table><figcaption>Tabel klasifikasi pohon cendana.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Baca juga: <a href=\"https:\/\/blog-backup.lindungihutan.com\/\/pemuliaan-tanaman\/\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\">Pemuliaan Tanaman: Teknik, Tujuan, Manfaat, dan Contohnya<\/a><\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Ciri-ciri Pohon Cendana<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Secara morfologis pohon Cendana memiliki ukuran batang yang lumayan kecil apabila dibandingkan dengan ukuran batang pohon pada umumnya. Sedangkan tingginya dapat mencapai 20 meter dan diameternya mencapai 40 cm. Tajuknya tergolong ramping juga tumbuh melebar. Bagian akarnya tidak berbanir.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Untuk daunnya tergolong ke dalam daun tunggal dengan pertulangan daun menyirip. Daunnya berwarna hijau dengan ukuran yang tergolong kecil sekitar 4-8 cm x 2-4 cm. Bentuk daun Cendana yaitu jorong-oblong dengan ujung daun dan pangkal daunnya runcing. Pinggiran daunnya bergelombang. Untuk duduk daunnya yaitu berhadapan.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pohon Cendana memiliki bentuk batang monopodial, mengarah ke atas, dan memiliki pertumbuhan yang kontinyu. Bunganya tumbuh dari bagian ujung tetapi ada pula yang tumbuh dari ketiak daun. Cendana termasuk ke dalam model arsitektur roux.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Cendana memiliki kayu gubal berwarna putih dan tidak berbau. Kemudian, kayu terasnya ada yang berwarna gelap ada pula yang berwarna terang. Kayu teras yang berwarna terang artinya memiliki kandungan minyak yang lebih banyak dibandingkan kayu teras berwarna gelap.\u00a0<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Bergeser ke bagian bunga, pohon Cendana memiliki tipe bunga majemuk. Bentuk bunganya seperti payung menggarpu atau malai, dengan hiasan bunga seperti tabung dan menyerupai lonceng dengan panjang \u00b1 1 mm. Bunga Cendana awalnya berwarna kuning, tetapi akan berubah menjadi merah gelap kecoklat-coklatan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pohon Cendana memiliki tipe buah batu (drupe), berbentuk jorong, berukuran kecil, dan berwarna merah kehitam-hitaman dengan diameter \u00b1 0,75 cm.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Apabila buah telah matang, daging kulit buahnya akan berwarna hitam. Tipe buah batu memiliki 3 jenis lapisan yaitu lapisan eksokarp, mesokarp berdaging, dan endokarp yang keras. Buah Cendana biasanya terletak di bagian ujung ranting dengan jumlah 4 \u2013 10 buah. Cendana mulai berbunga dan berbuah pada umur 5 tahun dan dalam 1 tahun dapat berbuah sebanyak 2 kali.\u00a0<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Cara Penanaman dan Budidaya Pohon Cendana<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Berikut adalah cara budidaya atau menanam pohon Cendana:<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">1. Syarat Tumbuh<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Secara umum, pohon Cendana dapat tumbuh di ketinggian 0-12.000 mdpl dengan curah hujan sekitar 600-2000 mm\/tahun. Untuk suhunya, Cendana dapat tumbuh dengan suhu 10\u00b0C-35\u00b0C. Tanah yang baik untuk menanam Cendana antara lain tanah humus, tanah vulkanis gembur berbatu, atau juga tanah lempung, dangkal, berbatu dan tanah dengan kadar nitrogen yang tinggi. Kemudian, tingkat pH yang baik untuk menanam cendana yaitu antara netral sampai alkali.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">2. Pemilihan Bibit Pohon Cendana<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Untuk mendapatkan biji pohon Cendana yang baik, dapat dilakukan dengan cara merendam biji ke dalam air selama \u00b1 48 jam. Apabila terdapat biji yang tenggelam, maka biji tersebut bisa  ditanam karena memiliki kualitas yang baik. Namun sebaliknya, biji yang mengapung berarti memiliki kualitas kurang baik.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">3. Penyemaian<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tahapan penyemaian, dapat diawali dengan penyiapan media tanam menggunakan tanah. Jika sudah siap, maka biji pohon cendana dapat ditabur di atasnya untuk ditanam kemudian ditutup kembali bagian atas biji dengan tanah. Namun, usahakan tanah tersebut tidak menutupi semua bagian biji.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Calon semai juga perlu disiram secara rutin pagi dan sore hari. Setelah biji nampak mulai berkecambah, dapat segera dipindahkan ke polybag. Setelah bibit mencapai tinggi 15 cm, dapat ditanam langsung di lapangan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">4. Penanaman<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tahapan awal penanaman yang mesti dilakukan yaitu memilih lahan cukup air, telah dibersihkan dari gulma dan tanaman pengganggu, serta bebas dari naungan pohon yang lebih besar. Penanaman dilakukan seperti tanaman pada umumnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pupuk dimasukkan lebih dahulu ke dalam lubang tanam, lalu bibit dimasukkan, dan ditimbun kembali dengan tanah. Kemudian diberi penanda berupa ajir yang menancap di samping bibit. Proses penanaman, sebaiknya dilakukan pada sore hari.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Terdapat satu hal yang membedakan pohon cendana dengan tanaman lainnya yaitu membutuhkan tanaman inang untuk tumbuh.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Maka dari itu, saat bibit Cendana ditanam, terdapat pula tanaman lain yang ikut ditanam. Hal ini dikarenakan Cendana termasuk ke dalam tanaman yang semi parasit dan membutuhkan inang selama pertumbuhannya hingga mencapai pertumbuhan pohon.\u00a0<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Baca juga:  <a href=\"https:\/\/blog-backup.lindungihutan.com\/\/pohon-nyatoh-nagasari\/\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\">Pohon Nyatoh (Nagasari): Klasifikasi, Ciri-Ciri &amp; Manfaat (Update 2022)<\/a><\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">5. Perawatan Tanaman<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Beberapa perawatan tanaman Cendana yang dapat dilakukan yaitu:<\/p>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\"><li>Penyiraman<br>Dilakukan secara rutin 2 kali sehari pada pagi dan sore hari. Jangan terlalu banyak memberi air karena pohon cendana tidak membutuhkan banyak air, cukup siram sebanyak 3-4 gelas atau 800 cc air.<\/li><li>Penyiangan<br>Tujuan dilakukannya penyiangan yaitu membebaskan tanaman dari gulma ataupun tanaman pengganggu lainnya. Penyiangan dilakukan sebanyak 2 kali dalam setahun atau bergantung pada kondisi gulma di lapangan.\u00a0<\/li><li>Pemupukan<br>Di awal masa penanaman, tanaman dipupuk dengan pupuk kandang dicampur pupuk urea dengan perbandingan 100:1 per tanaman. Pemupukan dilakukan 2 kali, di awal musim penghujan dan di akhir musim hujan.\u00a0<\/li><li>Pemangkasan<br>Pemangkasan dilakukan pada cabang yang tumbuh berlebih dengan tujuan pohon cendana memiliki kualitas batang yang meningkat dan tanaman inangnya tidak menaungi atau bahkan mengganggu pertumbuhannya. Selain itu juga untuk memacu munculnya tunas baru.<\/li><\/ol>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>Manfaat<\/strong> Pohon Cendana<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pohon cendana memiliki nilai ekonomi yang sangat tinggi karena dapat menghasilkan minyak atsiri bernilai jual tinggi dan memiliki produksi kayu teras yang khas (Waluyo, 2006). Minyak cendana memiliki aroma yang sangat harum sehingga biasa digunakan sebagai pengikat bahan pewangi lain (fiksasi) dalam industri parfum di mana sebagian besar hasilnya diekspor. Untuk pembuatan minyak cendana, dapat memanfaatkan bagian batang kayu, ranting, cabang ranting, dan akar pohon.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Rahayu et al. (2002) menyatakan bahwa minyak cendana dapat digunakan untuk menyembuhkan sakit perut, asma, sakit kulit, infeksi ginjal, berbagai peradangan, obat penenang, obat mengurangi rasa nyeri, anti kanker, anti bakteri, dan aroma terapi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sedangkan ampas serbuk sisa hasil penyulingan kayunya dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku wangi-wangian, campuran dupa, makmul, dan hio yang digunakan untuk acara-acara kegiatan ritual atau keagamaan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Santalol adalah komponen utama minyak Cendana yang ada pada kayu dan memiliki aroma wangi yang khas. Aroma wangi tersebut muncul dari bagian kayu, khususnya kayu teras. Santalol digunakan sebagai indikator dalam menentukan kualitas minyak Cendana.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Minyak Cendana biasanya memiliki kandungan senyawa santalol 80-90%. Menurut Hermawan (1993), kayu teras pada bagian batang mengandung minyak sebesar 4,50-4,75%, sedangkan pada bagian akarnya memiliki kandungan sekitar 5,50-5,70%.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Namun, kandungan santalol pada teras batang lebih tinggi daripada teras akar. Dan untuk standar perdagangan internasional, minyak cendana dengan kualitas utama harus memiliki kandungan santalol minimal 90%.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">FAQ<\/h2>\n\n\n<div id=\"rank-math-faq\" class=\"rank-math-block\">\n<div class=\"rank-math-list \">\n<div id=\"faq-question-1656057694450\" class=\"rank-math-list-item\">\n<h3 class=\"rank-math-question \">Apa itu Pohon Cendana? <\/h3>\n<div class=\"rank-math-answer \">\n\n<p>Pohon cendana memiliki nama ilmiah Santalum album. Cendana merupakan satu-satunya tanaman di antara 22 jenis dari genus Santalum yang hidup di dunia yang tumbuh secara alami di Indonesia.   <\/p>\n\n<\/div>\n<\/div>\n<div id=\"faq-question-1656057709221\" class=\"rank-math-list-item\">\n<h3 class=\"rank-math-question \">Apa Ciri-ciri Pohon Cendana? <\/h3>\n<div class=\"rank-math-answer \">\n\n<p>Bentuk batang pohon pada umumnya. Sedangkan untuk tingginya dapat mencapai 20 meter dan diameternya mencapai 40 cm. Tajuknya tergolong ramping dan tumbuh melebar. Bagian akarnya tidak berbanir.  <\/p>\n\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n\n\n<div class=\"wp-block-stackable-expand stk-block-expand stk-block stk-80cac32\" aria-expanded=\"false\" data-block-id=\"80cac32\"><div class=\"stk-inner-blocks stk-block-content\">\n<div class=\"wp-block-stackable-text stk-block-expand__short-text stk-block-text stk-block stk-bd285d1\" aria-hidden=\"false\" data-block-id=\"bd285d1\"><p class=\"stk-block-text__text\">Referensi yang digunakan dalam tulisan ini<\/p><\/div>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-stackable-button stk-block-button is-style-link stk-block-expand__show-button stk-block stk-3d3c701\" data-block-id=\"3d3c701\"><a aria-hidden=\"false\" role=\"button\" class=\"stk-link stk-button stk--hover-effect-darken\" href=\"#\"><span class=\"stk-button__inner-text\">Buka<\/span><\/a><\/div>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-stackable-text stk-block-expand__more-text stk-block-text stk-block stk-84140f5\" aria-hidden=\"true\" data-block-id=\"84140f5\"><p class=\"stk-block-text__text\">Ariyanti, M. dan Y. Asbur. 2018. Cendana <em>(Santalum album L.)<\/em> Sebagai Tanaman Penghasil Minyak Atsiri. <em>Jurnal Kultivasi<\/em> 17 (1): 558-567.<br><br>Holmes, S. 1983. <em>Outline of Plant Classification<\/em>. Longman, New York.<br>Mas Ad. 2021. Cara Menanam dan Budidaya Pohon Cendana yang Berkualitas Tinggi. <a href=\"https:\/\/www.faunadanflora.com\/cara-menanam-dan-budidaya-pohon-cendana-yang-berkualitas-tinggi\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">https:\/\/www.faunadanflora.com\/cara-menanam-dan-budidaya-pohon-cendana-yang-berkualitas-tinggi\/<\/a> Diakses pada 10 Juni 2022 Pukul 07.56.<br><br>Rahayu S, Wawo A.H., van Noordwijk M., Hairiah K. 2002. <em>Cendana; Deregulasi dan Strategi Pengembangannya<\/em>. World Agroforestry Center (ICRAF). Bogor.<br><br>Rudjiman, 1987. <em>Santalum album Linn. Taksonomi dan Model Arsitekturnya<\/em>. Prosiding Diskusi Nasional Cendana. Fakultas Kehutanan UGM. Yogyakarta.Waluyo, T.H.T. 2006. Penggunaan Pestisida Nabati di Kehutanan. <em>Informasi Teknis<\/em> 4 (1). Pusat Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan. Yogyakarta.<\/p><\/div>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-stackable-button stk-block-button is-style-link stk-block-expand__hide-button stk-block stk-f28be70\" data-block-id=\"f28be70\"><a aria-hidden=\"true\" role=\"button\" class=\"stk-link stk-button stk--hover-effect-darken\" href=\"#\"><span class=\"stk-button__inner-text\">Tutup<\/span><\/a><\/div>\n<\/div><\/div>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Penulis : <a href=\"https:\/\/www.linkedin.com\/in\/septi-purwaningsih-0a44ab1ba\/\" target=\"_blank\" data-type=\"URL\" data-id=\"https:\/\/www.linkedin.com\/in\/septi-purwaningsih-0a44ab1ba\/\" rel=\"noreferrer noopener\">Septi Purwaningsih <\/a><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Editor : <a href=\"https:\/\/www.linkedin.com\/in\/tasqiya-ratnasari\/\" target=\"_blank\" data-type=\"URL\" data-id=\"https:\/\/www.linkedin.com\/in\/tasqiya-ratnasari\/\" rel=\"noreferrer noopener\">Tasqiya Ratnasari<\/a><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Publisher: <a href=\"https:\/\/blog-backup.lindungihutan.com\/\/author\/muhamad_iqbal\/\">Muhamad Iqbal<\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Salah satu jenis tanaman asli Indonesia yang berasal dari Nusa Tenggara Timur adalah pohon cendana. Pohon ini sering dijumpai di Pulau Timor, Sumba, Alor, Solor, Flores, Roti, Pantar, dan pulau-pulau lainnya. Sayangnya, pohon cendana mulai sulit ditemukan di pulau-pulau yang telah disebutkan di atas. Pulau NTT yang dahulu dikenal sebagai \u201cPulau dengan Tikar Permadani Cendana\u201d [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":2214,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[11],"tags":[247,252,253,327,41],"class_list":["post-2152","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-hutanpedia","tag-alam","tag-edukasi","tag-hutan","tag-mangrove","tag-perubahan-iklim"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lindungihutan.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2152","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lindungihutan.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lindungihutan.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lindungihutan.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lindungihutan.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2152"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/lindungihutan.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2152\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lindungihutan.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2214"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lindungihutan.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2152"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lindungihutan.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2152"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lindungihutan.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2152"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}