{"id":5206,"date":"2023-01-03T11:33:35","date_gmt":"2023-01-03T04:33:35","guid":{"rendered":"http:\/\/blog-backup.lindungihutan.com\/?p=5206"},"modified":"2023-01-03T11:33:36","modified_gmt":"2023-01-03T04:33:36","slug":"pengertian-agroekosistem-dan-contohnya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lindungihutan.com\/blog\/pengertian-agroekosistem-dan-contohnya\/","title":{"rendered":"AGROEKOSISTEM: Pengertian, Komponen, Contoh, hingga Pengaplikasiannya! (2022)"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Agroekosistem adalah sistem yang diterapkan untuk memajukan dunia pertanian. Sistem yang melibatkan faktor alam dan sosial serta menciptakan sebuah harmoni dalam kehidupan. Lantas, apa saja komponen, prinsip, dan manfaat dari pengaplikasiannya? Bisakah kita turut andil dalam gerakan perubahan ini? Yuk, kita bahas bareng-bareng!<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Apa yang Dimaksud dengan Agroekosistem?<\/h2>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"800\" height=\"600\" src=\"https:\/\/blog-backup.lindungihutan.com\/\/wp-content\/uploads\/2023\/01\/Pengertian-agroekosistem.jpg\" alt=\"Apa yang dimaksud dengan agroekosistem?\" class=\"wp-image-5201\" title=\"\"><figcaption>Agroekosistem adalah sistem lingkungan yang telah dimodifikasi  dan dikelola oleh manusia untuk kepentingan tertentu.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Agroekosistem dapat diartikan sebagai bentuk komunitas tumbuhan dan hewan yang berinteraksi dengan lingkungannya, dan telah dimodifikasi oleh manusia untuk menghasilkan makanan, serat, bahan bakar, dan produk lain untuk konsumsi dan pengolahan manusia (Maes, 2018).&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sederhanannya, agroekosistem merupakan sebuah sistem lingkungan&nbsp;yang telah dimodifikasi dan dikelola oleh manusia untuk kepentingan hidupnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Berbeda dengan ekosistem alam, agroekosistem tidak membatasi sumber energi pada&nbsp; materi organik, tapi juga melibatkan sumber lain yang sudah dikonsolidasikan oleh manusia, seperti pupuk, pestisida, dan berbagai teknologi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&nbsp;Hasil modifikasi tersebut yang kemudian memunculkan perbedaan tampak pada ekosistemnya. Agroekosistem cenderung didominasi oleh varietas tertentu saja, sedangkan ekosistem alam yang masih asri tentu memiliki keanekaragaman yang lebih bervariasi.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Komponen dalam Agroekosistem<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Rambo (1983) menganalisa bahwa terdapat 2 sistem yang menjadi komponen utama dalam agroekosistem, yaitu:<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">1. <em>Social system<\/em><\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Adalah komponen sosial seperti demografi, organisasi sosial, ekonomi, institusi politik dan sistem kepercayaan. Semua komponen tersebut tentu akan memengaruhi karakter, daya tahan, stabilitas dan tingkat kemajuan dari ekosistem yang terbentuk.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">2. <em>Natural ecosystem<\/em><\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Meliputi faktor biofisik, seperti tanah, air, iklim, cahaya, tumbuhan, hewan, dsb. Faktor alam dalam hal ini juga meliputi keberadaan hama, parasit, konsumen tingkat 1 (herbivora), serta berbagai interaksi yang terjadi seperti kompetisi dan simbiosis antar komponennya (Jarvis et al., 2016).<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Baca juga: <a href=\"https:\/\/blog-backup.lindungihutan.com\/\/serba-serbi-tumpang-sari\/\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\">Tumpang Sari, Solusi Keterbatasan Lahan Saat Ini (2022)<\/a><\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Agroekosistem vs. Agroekologi<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Demi mewujudkan sebuah ekosistem yang dapat menunjang kehidupan, tentu kita harus memberi perhatian lebih terhadap aspek ekologis. Secara harfiah, agroekologi adalah penerapan dari sistem pertanian berkelanjutan yang prinsipnya \u2018bekerja dengan alam\u2019. Praktiknya banyak mengadaptasikan konsep dan prinsip ekologi dalam bercocok tanam, contohnya agroforestri.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Mengapa hal ini penting? <em>Well, <\/em>sebagaimana yang kita ketahui, agroekosistem adalah sistem yang dimodifikasi dan melibatkan komponen alam. Artinya, ekosistem yang tercipta merupakan arena di mana evolusi tanaman terjadi, menghadirkan tekanan dan peluang yang harus diadaptasi oleh tanaman dan petani agar dapat berkembang.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Para petani yang memodifikasi berbagai faktor di atas melalui irigasi, input nutrisi, pengendalian hama, persiapan lahan, penanaman campuran\/selai, dan praktik lainnya juga merupakan \u2018komponen biotik\u2019 dari agroekosistem (Devra et al., 2016).<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kalau masih bingung dengan pembahasan di atas, intinya <em>sih <\/em>begini! Prinsip penciptaan agroekosistem boleh saja mengedepankan produktivitas, tapi juga tidak mengesampingkan faktor ekologis yang terlibat di dalamnya. Berbagai modifikasi yang dilakukan manusia seringnya mengarah kepada eksploitasi, yang tentu saja (cepat atau lambat) mengarahkan kita pada bencana.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Alhasil, target pun tidak tercapai dan lingkungan menjadi rusak. Maka dari itu, tidak ada salahnya bila kita sejak awal sedikit lebih memahami dan menjadi perhatian dengan alam.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dilansir dari FAO (2022), agroekologi&nbsp;dikatakan dapat membantu melindungi, memulihkan, dan meningkatkan sistem pertanian dan pangan dalam menghadapi guncangan dan tekanan iklim. Sistem agroekologi yang beragam dan terintegrasi dengan baik dapat mendorong penyerapan karbon yang lebih besar, meningkatkan ketahanan mata pencaharian dan memberikan solusi mitigasi dan adaptasi perubahan iklim.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Bagaimana dengan Contoh Praktiknya?<\/h2>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"800\" height=\"600\" src=\"https:\/\/blog-backup.lindungihutan.com\/\/wp-content\/uploads\/2023\/01\/Contoh-agroekosistem.jpg\" alt=\"Sawah adalah salah satu contoh agroekosistem.\" class=\"wp-image-5198\" title=\"\"><figcaption>Salah satu contoh praktik agroekosistem adalah sistem sawah tadah hujan.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dilansir dari nationalzoo.si.edu, praktik agroekosistem secara tradisional pun relatif beragam. Contohnya yaitu meliputi&nbsp;sistem ladangan berpindah, sistem sawah tadah hujan tradisional, pekarangan rumah, serta sistem kopi dan kakao naungan tradisional.&nbsp;Berikut contoh di Indonesia menurut Geerzt, 1963:<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">1. Agroekosistem intensif (Jawa)<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Agroekosistem yang didominasi oleh tanaman tunggal yang terbuka, sangat tergantung pada mineral yang dibawa air sebagai bahan makanannya (oleh karenanya pada tahap tertentu juga memerlukan intervensi bangunan air), memiliki keseimbangan yang relatif stabil, dan cenderung mengatasi tekanan penduduk secara terpusat.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">2. Agroekosistem ekstensif (luar Jawa)<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Agroekosistem memiliki tingkat keragaman tanaman cukup tinggi, bersifat tertutup, peredaran zat-zat makanan yang menopang sistem terjadi melalui mekanisme kehidupan (biotis), memiliki tingkat keseimbangan ringkih dan cenderung mengatasi tekanan jumlah penduduk dengan cara menyebarkan.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Contoh dari model agroekosistem seperti ini adalah ladang-ladang tebas bakar yang banyak terdapat di luar Jawa.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Prinsip dan Pengaplikasian<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Conway (1987) menjelaskan tentang system properti yang berlaku dalam agroforestri, adalah sebagai berikut:&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\"><li><em>Productivity, <\/em>didefinisikan sebagai <em>output <\/em>dari produk yang dihasilkan.&nbsp;<\/li><li><em>Stability, <\/em>mencerminkan keteguhan ekosistem dalam menghadapi gangguan akibat fluktuasi atau faktor lain, dinilai dari produktivitasnya.&nbsp;<\/li><li><em>Sustainability <\/em>berarti sejauh mana produktivitas yang sudah berjalan dapat dipertahankan.<\/li><li><em>Equitability, <\/em>didefinisikan sebagai pemerataan distribusi produktivitas agroekosistem di antara manusia yang diuntungkan.<\/li><\/ul>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Berkiblat pada nilai-nilai di atas, terdapat beberapa hal inti yang dapat menentukan keberhasilan agroekosistem.<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\"><li>Faktor produksi. Meliputi unsur-unsur penopang dalam sistem produksi, contoh: modal, tenaga kerja, sumber daya fisik, dll.<\/li><li>Model interaksi. Model yang tercipta dari unsur-unsur penopang sistem dapat menciptakan harmoni, disharmoni atau gabungan antara keduanya.<\/li><li>Arah dan kecenderungan dari sistem, dapat dilihat dari 4 poin dalam sistem properti (Conway, 1987) yang dinilai secara berkala.<\/li><\/ul>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Lalu, bagaimana contoh prinsip <em>farming <\/em>yang ramah dan dapat kita tiru? Sebenarnya ini merupakan proses yang kompleks, dan tentunya memerlukan waktu serta adaptasi panjang sampai menemukan sistem yang sesuai.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Akan tetapi, bisa dimulai secara sederhana dengan lebih memperhatikan beberapa hal berikut dalam proses perjalanannya!<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\"><li>Mitigasi perubahan iklim\u00a0&#8211;\u00a0mengurangi emisi, daur ulang sumber daya, dan prioritaskan rantai pasokan lokal.<\/li><li>Bekerja dengan satwa liar &#8211; mengelola dampak pertanian terhadap satwa liar dan memanfaatkan alam untuk melakukan kerja keras bagi kita, seperti penyerbukan tanaman dan pengendalian hama.<\/li><li>Menempatkan petani dan masyarakat sebagai penggerak\u00a0&#8211;\u00a0mereka memberi kekuatan pada pendekatan yang dipimpin oleh masyarakat setempat dan mengadaptasi teknik pertanian agar sesuai dengan wilayah setempat\u00a0&#8211;\u00a0dan kondisi sosial, lingkungan, dan ekonomi spesifiknya.<\/li><\/ul>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Agroekosistem &amp; Cadangan karbon<\/h2>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"800\" height=\"600\" src=\"https:\/\/blog-backup.lindungihutan.com\/\/wp-content\/uploads\/2023\/01\/Agroekosistem-dan-cadangan-karbon.jpg\" alt=\"Gambar lahan gambut dan perannya dalam lingkungan.\" class=\"wp-image-5202\" title=\"\"><figcaption>Penerapan agroekosistem nyatanya berdampak dalam memerangi masalah karbon,  Bagaimana bisa?<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Penerapan agroekosistem dapat bermanfaat untuk melindungi, memulihkan, dan meningkatkan sistem pertanian maupun pangan, dalam menghadapi berbagai guncangan dan tekanan iklim.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Lebih dari itu, penerapan agroekosistem juga ikut andil dalam memerangi masalah karbon. Contohnya pada lahan gambut dari agroekosistem kelapa sawit, yang ternyata memegang peranan penting dalam menjaga keseimbangan iklim global.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Hakikatnya, cadangan karbon di atas permukaan tanah berasal dari vegetasi yang terbentuk pada ekosistem darat. Yup, kita dapat mengetahuinya berdasarkan nilai biomassa dari vegetasi tersebut.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Lantas apakah agroekosistem dapat menjawab isu global yang terkait dengan karbon? Hal ini merupakan potensi sekaligus tantangan yang besar untuk mengembangkan agroekosistem yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Baca juga: <a href=\"https:\/\/blog-backup.lindungihutan.com\/\/mengenal-sistem-terasering\/\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\">Sistem Terasering: Pengertian, Tujuan, dan Manfaatnya (2022)<\/a><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kalau kita sedikit ulas kembali, agroekosistem memodifikasi ekosistem untuk memenuhi kebutuhan hidup. Berbagai perubahan pada sistem natural tentu akan akan berpengaruh dan memberikan dampak pada sistem sosial.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Laporan dari Jacobson dan Adams (1953) menunjukkan bahwa terdapat kemunduran dari budaya Mesopotamia akibat meningkatnya kadar garam pada kanal-kanal irigasi mereka; serta Drew (1983) juga melaporkan tentang peningkatan kerusakan ekosistem pegunungan di Eropa sejak&nbsp;dipergunakannya alat-alat pertanian dari logam di sana.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Saat ini pun mungkin lebih banyak laporan serupa yang dapat kita temukan dari segala penjuru dunia. Lantas apa yang bisa kita lakukan? <em>Hentikan eksploitasi dan kembali pada bumi!&nbsp;<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Semua tentu harus diawali dengan proses pemulihan yang tidak mudah. Toh, proses yang baik juga akan berbuah kebaikan. Satu hal yang pasti, bumi selalu memberikan lebih dari apa yang kita butuhkan. Lantas, apa yang bisa kita berikan pada bumi?<\/p>\n\n\n\n<blockquote class=\"instagram-media\" data-instgrm-captioned data-instgrm-permalink=\"https:\/\/www.instagram.com\/p\/ClDq_1zBTwX\/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading\" data-instgrm-version=\"14\" style=\" background:#FFF; border:0; border-radius:3px; box-shadow:0 0 1px 0 rgba(0,0,0,0.5),0 1px 10px 0 rgba(0,0,0,0.15); margin: 1px; max-width:540px; min-width:326px; padding:0; width:99.375%; width:-webkit-calc(100% - 2px); width:calc(100% - 2px);\"><div style=\"padding:16px;\"> <a href=\"https:\/\/www.instagram.com\/p\/ClDq_1zBTwX\/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading\" style=\" background:#FFFFFF; line-height:0; padding:0 0; text-align:center; text-decoration:none; width:100%;\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"> <div style=\" display: flex; flex-direction: row; align-items: center;\"> <div style=\"background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; flex-grow: 0; height: 40px; margin-right: 14px; width: 40px;\"><\/div> <div style=\"display: flex; flex-direction: column; flex-grow: 1; justify-content: center;\"> <div style=\" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; margin-bottom: 6px; width: 100px;\"><\/div> <div style=\" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; width: 60px;\"><\/div><\/div><\/div><div style=\"padding: 19% 0;\"><\/div> <div style=\"display:block; height:50px; margin:0 auto 12px; width:50px;\"><svg width=\"50px\" height=\"50px\" viewBox=\"0 0 60 60\" version=\"1.1\" xmlns=\"https:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" xmlns:xlink=\"https:\/\/www.w3.org\/1999\/xlink\"><g stroke=\"none\" stroke-width=\"1\" fill=\"none\" fill-rule=\"evenodd\"><g transform=\"translate(-511.000000, -20.000000)\" fill=\"#000000\"><g><path d=\"M556.869,30.41 C554.814,30.41 553.148,32.076 553.148,34.131 C553.148,36.186 554.814,37.852 556.869,37.852 C558.924,37.852 560.59,36.186 560.59,34.131 C560.59,32.076 558.924,30.41 556.869,30.41 M541,60.657 C535.114,60.657 530.342,55.887 530.342,50 C530.342,44.114 535.114,39.342 541,39.342 C546.887,39.342 551.658,44.114 551.658,50 C551.658,55.887 546.887,60.657 541,60.657 M541,33.886 C532.1,33.886 524.886,41.1 524.886,50 C524.886,58.899 532.1,66.113 541,66.113 C549.9,66.113 557.115,58.899 557.115,50 C557.115,41.1 549.9,33.886 541,33.886 M565.378,62.101 C565.244,65.022 564.756,66.606 564.346,67.663 C563.803,69.06 563.154,70.057 562.106,71.106 C561.058,72.155 560.06,72.803 558.662,73.347 C557.607,73.757 556.021,74.244 553.102,74.378 C549.944,74.521 548.997,74.552 541,74.552 C533.003,74.552 532.056,74.521 528.898,74.378 C525.979,74.244 524.393,73.757 523.338,73.347 C521.94,72.803 520.942,72.155 519.894,71.106 C518.846,70.057 518.197,69.06 517.654,67.663 C517.244,66.606 516.755,65.022 516.623,62.101 C516.479,58.943 516.448,57.996 516.448,50 C516.448,42.003 516.479,41.056 516.623,37.899 C516.755,34.978 517.244,33.391 517.654,32.338 C518.197,30.938 518.846,29.942 519.894,28.894 C520.942,27.846 521.94,27.196 523.338,26.654 C524.393,26.244 525.979,25.756 528.898,25.623 C532.057,25.479 533.004,25.448 541,25.448 C548.997,25.448 549.943,25.479 553.102,25.623 C556.021,25.756 557.607,26.244 558.662,26.654 C560.06,27.196 561.058,27.846 562.106,28.894 C563.154,29.942 563.803,30.938 564.346,32.338 C564.756,33.391 565.244,34.978 565.378,37.899 C565.522,41.056 565.552,42.003 565.552,50 C565.552,57.996 565.522,58.943 565.378,62.101 M570.82,37.631 C570.674,34.438 570.167,32.258 569.425,30.349 C568.659,28.377 567.633,26.702 565.965,25.035 C564.297,23.368 562.623,22.342 560.652,21.575 C558.743,20.834 556.562,20.326 553.369,20.18 C550.169,20.033 549.148,20 541,20 C532.853,20 531.831,20.033 528.631,20.18 C525.438,20.326 523.257,20.834 521.349,21.575 C519.376,22.342 517.703,23.368 516.035,25.035 C514.368,26.702 513.342,28.377 512.574,30.349 C511.834,32.258 511.326,34.438 511.181,37.631 C511.035,40.831 511,41.851 511,50 C511,58.147 511.035,59.17 511.181,62.369 C511.326,65.562 511.834,67.743 512.574,69.651 C513.342,71.625 514.368,73.296 516.035,74.965 C517.703,76.634 519.376,77.658 521.349,78.425 C523.257,79.167 525.438,79.673 528.631,79.82 C531.831,79.965 532.853,80.001 541,80.001 C549.148,80.001 550.169,79.965 553.369,79.82 C556.562,79.673 558.743,79.167 560.652,78.425 C562.623,77.658 564.297,76.634 565.965,74.965 C567.633,73.296 568.659,71.625 569.425,69.651 C570.167,67.743 570.674,65.562 570.82,62.369 C570.966,59.17 571,58.147 571,50 C571,41.851 570.966,40.831 570.82,37.631\"><\/path><\/g><\/g><\/g><\/svg><\/div><div style=\"padding-top: 8px;\"> <div style=\" color:#3897f0; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:550; line-height:18px;\">View this post on Instagram<\/div><\/div><div style=\"padding: 12.5% 0;\"><\/div> <div style=\"display: flex; flex-direction: row; margin-bottom: 14px; align-items: center;\"><div> <div style=\"background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; height: 12.5px; width: 12.5px; transform: translateX(0px) translateY(7px);\"><\/div> <div style=\"background-color: #F4F4F4; height: 12.5px; transform: rotate(-45deg) translateX(3px) translateY(1px); width: 12.5px; flex-grow: 0; margin-right: 14px; margin-left: 2px;\"><\/div> <div style=\"background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; height: 12.5px; width: 12.5px; transform: translateX(9px) translateY(-18px);\"><\/div><\/div><div style=\"margin-left: 8px;\"> <div style=\" background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; flex-grow: 0; height: 20px; width: 20px;\"><\/div> <div style=\" width: 0; height: 0; border-top: 2px solid transparent; border-left: 6px solid #f4f4f4; border-bottom: 2px solid transparent; transform: translateX(16px) translateY(-4px) rotate(30deg)\"><\/div><\/div><div style=\"margin-left: auto;\"> <div style=\" width: 0px; border-top: 8px solid #F4F4F4; border-right: 8px solid transparent; transform: translateY(16px);\"><\/div> <div style=\" background-color: #F4F4F4; flex-grow: 0; height: 12px; width: 16px; transform: translateY(-4px);\"><\/div> <div style=\" width: 0; height: 0; border-top: 8px solid #F4F4F4; border-left: 8px solid transparent; transform: translateY(-4px) translateX(8px);\"><\/div><\/div><\/div> <div style=\"display: flex; flex-direction: column; flex-grow: 1; justify-content: center; margin-bottom: 24px;\"> <div style=\" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; margin-bottom: 6px; width: 224px;\"><\/div> <div style=\" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; width: 144px;\"><\/div><\/div><\/a><p style=\" color:#c9c8cd; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; line-height:17px; margin-bottom:0; margin-top:8px; overflow:hidden; padding:8px 0 7px; text-align:center; text-overflow:ellipsis; white-space:nowrap;\"><a href=\"https:\/\/www.instagram.com\/p\/ClDq_1zBTwX\/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading\" style=\" color:#c9c8cd; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:normal; line-height:17px; text-decoration:none;\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">A post shared by lindungihutan.com (@lindungihutan)<\/a><\/p><\/div><\/blockquote> <script async src=\"\/\/www.instagram.com\/embed.js\"><\/script>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">FAQ<\/h2>\n\n\n<div id=\"rank-math-faq\" class=\"rank-math-block\">\n<div class=\"rank-math-list \">\n<div id=\"faq-question-1672716117727\" class=\"rank-math-list-item\">\n<h3 class=\"rank-math-question \">Apa itu agroekosistem?<\/h3>\n<div class=\"rank-math-answer \">\n\n<p>Merupakan sebuah sistem yang diciptakan dengan memodifikasi ekosistem guna meningkatkan kesejahteraan pertanian.<\/p>\n\n<\/div>\n<\/div>\n<div id=\"faq-question-1672716130207\" class=\"rank-math-list-item\">\n<h3 class=\"rank-math-question \">Apa saja komponen dari agroekosistem?<\/h3>\n<div class=\"rank-math-answer \">\n\n<p>Pada dasarnya meliputi sistem sosial (demografi, organisasi sosial, ekonomi, institusi politik, sistem kepercayaan) dan ekosistem alam (faktor biotik maupun abiotik lingkungan).<\/p>\n\n<\/div>\n<\/div>\n<div id=\"faq-question-1672716145100\" class=\"rank-math-list-item\">\n<h3 class=\"rank-math-question \">Bagaimana praktiknya di Indonesia?<\/h3>\n<div class=\"rank-math-answer \">\n\n<p>Di Indonesia contoh praktik agroekosistem dikategorikan menjadi 2 jenis, yaitu secara terpusat atau intensif (di Pulau Jawa) dan menyebar atau ekstensif (di luar Jawa).<\/p>\n\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n\n\n<div class=\"wp-block-stackable-expand stk-block-expand stk-block stk-1e491ba\" aria-expanded=\"false\" data-block-id=\"1e491ba\"><div class=\"stk-inner-blocks stk-block-content\">\n<div class=\"wp-block-stackable-text stk-block-expand__short-text stk-block-text stk-block stk-a326496\" aria-hidden=\"false\" data-block-id=\"a326496\"><p class=\"stk-block-text__text\">Referensi dan rujukan yang digunakan dalam tulisan ini adalah:<\/p><\/div>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-stackable-button stk-block-button is-style-link stk-block-expand__show-button stk-block stk-cc69a81\" data-block-id=\"cc69a81\"><a aria-hidden=\"false\" role=\"button\" class=\"stk-link stk-button stk--hover-effect-darken\" href=\"#\"><span class=\"stk-button__inner-text\">Buka<\/span><\/a><\/div>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-stackable-text stk-block-expand__more-text stk-block-text stk-block stk-61b6580\" aria-hidden=\"true\" data-block-id=\"61b6580\"><p class=\"stk-block-text__text\">Altieri, M. A. (1999). The ecological role of biodiversity in agroecosystems. In\u00a0Invertebrate biodiversity as bioindicators of sustainable landscapes\u00a0(pp. 19-31). Elsevier.<br><br>Conway, G. R. (1987). The properties of agroecosystems.\u00a0Agricultural systems,\u00a024(2), 95-117.<br>Diane, R., Francis, C., &amp; Gliessman, S. R. (2004).\u00a0Agroecology and Agroecosystems. Agronomy Monograph.<br><br>Iskandar, J., &amp; Iskandar, B. S. (2016). Etnoekologi dan pengelolaan agroekosistem oleh penduduk desa karangwangi kecamatan Cidaun, Cianjur Selatan Jawa Barat.\u00a0Jurnal Biodjati,\u00a01(1), 1-12.<br><br>Jarvis, D., Hodgkin, T. &amp; Brown, A. (2016). Chapter 6. Abiotic and Biotic Components of Agricultural Ecosystems. In\u00a0Crop Genetic Diversity in the Field and on the Farm: Principles and Applications in Research Practices\u00a0(pp. 126-153). New Haven: Yale University Press.<br><br>Musyafak A. 2015. Mapping Agroekosistem dan Sosial Ekonomi untuk Pembangunan Pertanian Perbatasan Bengkayang-Serawak Kalimantan Barat. Yogyakarta: Deepublish.<br><br>Yulianti, N. (2009). Cadangan karbon lahan gambut dari agroekosistem kelapa sawit PTPN IV Ajamu Kabupaten Labuhan Batu Sumatera Utara.<br><br><br><br><br><br><a href=\"https:\/\/www.fao.org\/agroecology\/overview\/en\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">https:\/\/www.fao.org\/agroecology\/overview\/en\/<\/a><br><br><a href=\"https:\/\/javlec.org\/agroekosistem-cepat-sebuah-catatan-untuk-proses-produksi-di-datarantinggi\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">https:\/\/javlec.org\/agroekosistem-cepat-sebuah-catatan-untuk-proses-produksi-di-datarantinggi\/<\/a><br><br><br><br><a href=\"https:\/\/www.soilassociation.org\/causes-campaigns\/a-ten-year-transition-to-agroecology\/what-is-agroecology\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">https:\/\/www.soilassociation.org\/causes-campaigns\/a-ten-year-transition-to-agroecology\/what-is-agroecology\/<\/a><br><br><a href=\"https:\/\/www.unpad.ac.id\/2022\/02\/agroekosistem-kunci-ketahanan-pangan-di-indonesia\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">https:\/\/www.unpad.ac.id\/2022\/02\/agroekosistem-kunci-ketahanan-pangan-di-indonesia\/<\/a><br><\/p><\/div>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-stackable-button stk-block-button is-style-link stk-block-expand__hide-button stk-block stk-8991bf8\" data-block-id=\"8991bf8\"><a aria-hidden=\"true\" role=\"button\" class=\"stk-link stk-button stk--hover-effect-darken\" href=\"#\"><span class=\"stk-button__inner-text\">Tutup<\/span><\/a><\/div>\n<\/div><\/div>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Penulis: <a href=\"https:\/\/www.linkedin.com\/in\/rahma-nabila-irsiananda-sutaqro-5b6a4522a\/\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\">Rahma Nabila<\/a><\/p>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-stackable-call-to-action is-style-default stk-block-call-to-action stk-block stk-6cf4fa3\" data-block-id=\"6cf4fa3\"><div class=\"stk-block-call-to-action__content stk-content-align stk-6cf4fa3-column stk-container stk-6cf4fa3-container stk-hover-parent\"><div class=\"has-text-align-center stk-block-content stk-inner-blocks\">\n<div class=\"wp-block-stackable-heading stk-block-heading stk-block stk-87b07d3\" id=\"ambil-langkah-nyata-dengan-menanam-pohon-bersama-lindungi-hutan-hanya-10-ribu-rupiah\" data-block-id=\"87b07d3\"><h3 class=\"stk-block-heading__text\">Ambil Langkah Nyata dengan Menanam Pohon Bersama LindungiHutan HANYA 10 RIBU RUPIAH<\/h3><\/div>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-stackable-text stk-block-text stk-block stk-90c30b6\" data-block-id=\"90c30b6\"><p class=\"stk-block-text__text\">LindungiHutan telah dipercata 40 RIBU sahabat alam untuk menanam pohon dengan mudah, transparan, dan berkelanjutan. Kami menjalin kerja sama dengan puluhan petani bibit dan masyarakat sekitar hutan untuk memberi dampak sosial, ekonomi, dan lingkungan.<\/p><\/div>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-stackable-button-group stk-block-button-group stk-block stk-a24203d\" data-block-id=\"a24203d\"><div class=\"stk-row stk-inner-blocks stk-block-content stk-button-group\">\n<div class=\"wp-block-stackable-button stk-block-button stk-block stk-576248b\" data-block-id=\"576248b\"><style>.stk-576248b .stk-button{background:#0c5339 !important}<\/style><a class=\"stk-link stk-button stk--hover-effect-darken\" href=\"https:\/\/lindungihutan.com\/mulai\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\"><span class=\"stk-button__inner-text\">Tanam Pohonmu di Sini!<\/span><\/a><\/div>\n<\/div><\/div>\n<\/div><\/div><\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Agroekosistem adalah sistem yang diterapkan untuk memajukan dunia pertanian. Sistem yang melibatkan faktor alam dan sosial serta menciptakan sebuah harmoni dalam kehidupan. Lantas, apa saja komponen, prinsip, dan manfaat dari pengaplikasiannya? Bisakah kita turut andil dalam gerakan perubahan ini? Yuk, kita bahas bareng-bareng! Apa yang Dimaksud dengan Agroekosistem? Agroekosistem dapat diartikan sebagai bentuk komunitas tumbuhan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":3,"featured_media":5203,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[30],"tags":[504,247,252],"class_list":["post-5206","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-lingkungan","tag-agroekosistem","tag-alam","tag-edukasi"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lindungihutan.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5206","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lindungihutan.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lindungihutan.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lindungihutan.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lindungihutan.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=5206"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/lindungihutan.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5206\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lindungihutan.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media\/5203"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lindungihutan.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=5206"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lindungihutan.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=5206"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lindungihutan.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=5206"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}