{"id":6974,"date":"2023-04-13T00:33:00","date_gmt":"2023-04-12T17:33:00","guid":{"rendered":"http:\/\/blog-backup.lindungihutan.com\/?p=6974"},"modified":"2024-05-14T09:24:34","modified_gmt":"2024-05-14T02:24:34","slug":"dampak-emisi-karbon-yang-kita-rasakan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lindungihutan.com\/blog\/dampak-emisi-karbon-yang-kita-rasakan\/","title":{"rendered":"5 Dampak Emisi Karbon yang Berbahaya bagi Kita"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>Artikel di-review oleh&nbsp;<a href=\"https:\/\/www.linkedin.com\/in\/fahriza-dwi-indahyati-400aa8195\/?originalSubdomain=id\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\">Fahriza Dwi Indahyati<\/a>, Research and Development Officer at LindungiHutan<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Emisi karbon atau <em>carbon emission<\/em> merupakan proses pengeluaran gas dari hasil pembakaran segala senyawa yang mengandung karbon seperti CO<sup>2<\/sup>, solar, bensin, dan bahan lainnya.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Namun, tahukah kamu kalau hal ini ternyata berdampak buruk bagi lingkungan dan manusia?<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Dampak-dampak Emisi Karbon dan Gas Rumah Kaca yang Berbahaya bagi Kehidupan Kita<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dampak emisi karbon yang dimaksud mulai dari polusi udara, perubahan iklim, hujan asam, peningkatan permukaan air laut, hingga penurunan produktivitas laut.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">1. Polusi Udara<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sebagaimana kita ketahui, salah satu penyumbang emisi karbon adalah kendaraan bermotor. Sebab, penggunaan bahan bakar minyak pada sektor transportasi khususnya bensin akan mengeluarkan senyawa-senyawa seperti CO atau karbon monoksida, THC (total hidrokarbon), TSP (debu), Nox (oksida-oksida nitrogen) dan Sox (oksida-oksida sulfur), dan juga karbon dioksida (CO<sup>2<\/sup>).<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Menurut Susilo et al., dalam Kurnia (2021), sekitar 50% pencemaran di perkotaan disebabkan karena pabrik serta sektor transportasi yang masih menggunakan bahan bakar yang kurang ramah terhadap lingkungan.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Berdasarkan laporan statistik penggunaan energi dunia pada tahun 2022 yang dilaporkan oleh <a href=\"https:\/\/blog-backup.lindungihutan.com\/\/unduh-booklet-pemanasan-global\/\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\">tempo.co<\/a>, Indonesia termasuk dalam lima besar negara dengan penggunaan bahan bakar fossil tertinggi. Sekitar 90% dari total konsumsi energi di Indonesia berasal dari bahan bakar fosil, terdiri dari 45% batu bara, 31% minyak bumi, dan 15%&nbsp; gas alam. Sementara itu, sebagian kecil sisanya berasal dari energi air dan sumber energi terbarukan lainnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dari hasil rekapitulasi, polusi udara menjadi emisi gas buang yang seiring berjalannya waktu populasinya meningkat secara signifikan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Padahal, emisi karbon dari gas buang kendaraan bermotor juga berimbas terhadap kesehatan yaitu dapat menyebabkan iritasi dan pengotoran saluran pernapasan di paru-paru.&nbsp;<br>Sementara dari sisi lingkungan, emisi karbon jelas menjadi salah satu pemicu pemanasan global. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Terjadinya <em>global warming<\/em> akan meningkatkan suhu di permukaan bumi yang memicu adanya perubahan iklim. Secara langsung akan memengaruhi kenaikan permukaan air laut dan kondisi lingkungan lainnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Baca juga: <a href=\"https:\/\/blog-backup.lindungihutan.com\/\/pengungkapan-emisi-karbon\/\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\">Pengungkapan Emisi Karbon dan Manfaatnya bagi Perusahaan<\/a> <\/strong><\/p>\n\n\n\n<div data-wp-interactive=\"core\/file\" class=\"wp-block-file\"><object data-wp-bind--hidden=\"!state.hasPdfPreview\" hidden class=\"wp-block-file__embed\" data=\"https:\/\/blog-backup.lindungihutan.com\/\/wp-content\/uploads\/2024\/04\/Unduh-Booklet-Pemanasan-Global-1.pdf\" type=\"application\/pdf\" style=\"width:100%;height:600px\" aria-label=\"Embed of Embed of Unduh-Booklet-Pemanasan-Global-1..\"><\/object><a href=\"https:\/\/blog-backup.lindungihutan.com\/\/wp-content\/uploads\/2024\/04\/Unduh-Booklet-Pemanasan-Global-1.pdf\">Unduh-Booklet-Pemanasan-Global-1<\/a><a href=\"https:\/\/blog-backup.lindungihutan.com\/\/wp-content\/uploads\/2024\/04\/Unduh-Booklet-Pemanasan-Global-1.pdf\" class=\"wp-block-file__button\" download>Download<\/a><\/div>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">2. Perubahan Iklim: Dampak Emisi Karbon yang Kerap Kita Rasakan Saat Ini<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Perubahan iklim adalah kondisi di mana terjadi perubahan jangka panjang dalam suhu dan pola cuaca. Fakta menunjukkan bahwa tahun 2016 menjadi tahun terpanas secara global dengan nilai anomali suhu tercatat sebesar 0,99 derajat Celcius dari periode pengamatan tahun 1980 hingga 2020. Hal tersebut merupakan bukti perubahan iklim benar terjadi.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Terhitung semenjak tahun 1800-an, aktivitas manusia telah menjadi penyebab utama perubahan iklim, terutama akibat pembakaran bahan bakar fosil seperti batu bara, minyak, dan gas.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sebab, pembakaran bahan bakar fosil menghasilkan emisi gas rumah kaca yang bekerja seperti selimut yang menyelimuti bumi, menghasilkan panas matahari dan menaikkan suhu. Atau biasa disebut sebagai efek rumah kaca.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Efek rumah kaca adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan situasi di mana panas matahari terperangkap oleh gas-gas di atmosfer seperti karbon dioksida (CO2), yang berfungsi menahan panas di permukaan bumi.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Akibatnya, suhu bumi cenderung meningkat dari tahun ke tahun karena gas-gas rumah kaca tersebut menangkap sebagian panas yang seharusnya dipantulkan kembali ke luar angkasa, menyebabkan akumulasi panas di atmosfer.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Jadi, dampak emisi karbon salah satunya yaitu menyebabkan pemanasan global dan perubahan iklim.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Perubahan iklim yang terjadi kemudian juga menuntun kepada krisis iklim yang lagi-lagi dampaknya bersifat domino. Maksudnya, bukan hanya buruk bagi lingkungan, tetapi seluruh makhluk hidup di bumi.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"800\" height=\"2000\" src=\"https:\/\/blog-backup.lindungihutan.com\/\/wp-content\/uploads\/2024\/04\/Dampak-emisi-karbon.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-12490\" title=\"\" srcset=\"https:\/\/blog-backup.lindungihutan.com\/wp-content\/uploads\/2024\/04\/Dampak-emisi-karbon.jpg 800w, https:\/\/blog-backup.lindungihutan.com\/wp-content\/uploads\/2024\/04\/Dampak-emisi-karbon-120x300.jpg 120w, https:\/\/blog-backup.lindungihutan.com\/wp-content\/uploads\/2024\/04\/Dampak-emisi-karbon-410x1024.jpg 410w, https:\/\/blog-backup.lindungihutan.com\/wp-content\/uploads\/2024\/04\/Dampak-emisi-karbon-768x1920.jpg 768w, https:\/\/blog-backup.lindungihutan.com\/wp-content\/uploads\/2024\/04\/Dampak-emisi-karbon-614x1536.jpg 614w\" sizes=\"auto, (max-width: 800px) 100vw, 800px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Baca juga: <a href=\"https:\/\/blog-backup.lindungihutan.com\/\/climate-crisis-dan-pengelolaan-hutannya\/\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\">Climate Crisis, Potensi Besar Penyeimbangan Karbon, dan Bagaimana Mengelola Hutan Secara Berkelanjutan<\/a><\/strong><\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">3. Hujan Asam<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Istilah hujan asam mengacu pada deposisi atmosfer yang mengandung senyawa asam yang turun ke bumi dalam bentuk hujan, salju, partikulat, gas, dan uap yang kemudian berdampak negatif pada bumi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Hujan asam pertama kali dikenalkan oleh Ducros (1845) dan kemudian dijelaskan oleh ahli kimia Inggris Robert Angus Smith (1852) yang studi penelitianya menghubungkan sumber-sumber terjadinya hujan asam dengan emisi industri termasuk efek lingkungan yang terjadi akibatnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Nah, lantas apa hubungannya dengan emisi karbon? Jadi, dampak emisi karbon salah satunya yaitu menyebabkan polusi atau polutan seperti Sulfur Dioksida dan Nitrogen Oksida yang tinggal dalam atmosfer dan akhirnya bereaksi dengan kelembapan dalam udara.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ketika polusi ini jatuh sebagai embun di tanah, inilah yang disebut dengan hujan asam. Sumbernya antara lain dari pembakaran bahan bakar motor dan limbah pabrik kimia.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Hujan asam dapat menyebabkan iritasi pada saluran pernapasan manusia dan hewan. Tanaman, terutama pada pohon pinus dan tanaman pertanian dapat rusak karena paparan asam sulfat dan asam nitrat. Ekosistem air tawar juga ikut terancam karena logam berat seperti aluminium dan merkuri larut dalam hujan asam, mencemari sumber air.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-stackable-pricing-box is-style-compact stk-block-pricing-box stk-block stk-b028f37\" data-block-id=\"b028f37\"><div class=\"stk-block-pricing-box__content stk-content-align stk-b028f37-column stk-container stk-b028f37-container stk-hover-parent\"><div class=\"stk-block-content stk-inner-blocks has-text-align-center\">\n<div class=\"wp-block-stackable-columns stk-block-columns stk-block stk-fe23dff\" data-block-id=\"fe23dff\"><div class=\"stk-row stk-inner-blocks stk-block-content stk-content-align stk-fe23dff-column\">\n<div class=\"wp-block-stackable-column stk-block-column stk-column stk-block stk-bd2480d\" data-block-id=\"bd2480d\"><div class=\"stk-column-wrapper stk-block-column__content stk-container stk-bd2480d-container stk--no-background stk--no-padding\"><div class=\"stk-block-content stk-inner-blocks\">\n<div class=\"wp-block-stackable-image stk-block-image stk-block stk-4d59dac\" data-block-id=\"4d59dac\"><figure class=\"stk-img-wrapper stk-image--shape-stretch\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"stk-img wp-image-7104\" src=\"https:\/\/blog-backup.lindungihutan.com\/\/wp-content\/uploads\/2023\/04\/Gambar-kalkulator-jejak-karbon.jpg\" width=\"800\" height=\"600\" alt=\"Gambar kalkulator jejak karbon.\" title=\"\"><\/figure><\/div>\n<\/div><\/div><\/div>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-stackable-column stk-block-column stk-column stk-block stk-86f6d98\" data-block-id=\"86f6d98\"><style>.stk-86f6d98{align-self:center !important}<\/style><div class=\"stk-column-wrapper stk-block-column__content stk-container stk-86f6d98-container stk--no-background stk--no-padding\"><div class=\"has-text-align-left stk-block-content stk-inner-blocks\">\n<div class=\"wp-block-stackable-heading stk-block-heading stk-block stk-5cb10d4\" id=\"span-style-color-005-e-4-e-class-stk-highlight-tekan-emisi-karbon-dengan-menghitung-jejak-karbon-span\" data-block-id=\"5cb10d4\"><style>.stk-5cb10d4 .stk-block-heading__text{margin:0 !important}<\/style><h3 class=\"stk-block-heading__text\"><span style=\"color: #005e4e;\" class=\"stk-highlight\">Tekan Emisi Karbon dengan Menghitung Jejak Karbon! <\/span><\/h3><\/div>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-stackable-subtitle stk-block-subtitle stk-block stk-70617ac\" data-block-id=\"70617ac\"><p class=\"stk-block-subtitle__text stk-subtitle\"><span style=\"color: #005e4e;\" class=\"stk-highlight\">Melalui kalkulator jejak karbon Imbangi, kamu bisa menghitung jejak karbon yang dihasilkan dari bahan bakar industri, pendingin ruangan (AC), kendaraan, hingga listrik. <\/span><\/p><\/div>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-stackable-button-group stk-block-button-group stk-block stk-4ac47d8\" data-block-id=\"4ac47d8\"><div class=\"stk-row stk-inner-blocks stk-block-content stk-button-group\">\n<div class=\"wp-block-stackable-button stk-block-button stk-block stk-4f1f1be\" data-block-id=\"4f1f1be\"><style>.stk-4f1f1be .stk-button{background:#005e4e !important}.stk-4f1f1be .stk-button{border-radius:13px !important}<\/style><a class=\"stk-link stk-button stk--hover-effect-darken\" href=\"https:\/\/m.lindungihutan.com\/imbangi\/jejak-karbon\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\"><span class=\"stk-button__inner-text\"><strong>Coba GRATIS Imbangi di Sini! <\/strong><\/span><\/a><\/div>\n<\/div><\/div>\n<\/div><\/div><\/div>\n<\/div><\/div>\n<\/div><\/div><\/div>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">4. Peningkatan Air Laut<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Naiknya suhu permukaan global menyebabkan mencairnya es di kutub utara dan selatan bumi sehingga terjadilah kenaikan muka air laut yang ditandai dengan meluasnya wilayah yang tergenang pada daerah pesisir.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Berdasarkan laporan IPCC (2013) akan terjadi kenaikan muka air laut dengan peningkatan 2,8-3,6 mm\/tahun. Perubahan muka air laut ini merupakan dampak emisi karbon yang menyebabkan perubahan iklim.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Menurut sejumlah kajian Andreas dan Abidin (2016) dikutip dari laman kkp.go.id, Jakarta mengalami penurunan tanah mencapai 25 cm per tahun dengan rata-rata 15 cm per tahun. Pengukuran juga dilakukan oleh LAPAN menggunakan data radar menemukan penurunan daratan di kisaran 10-15 cm per tahun dari 2015-2020.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Selain Jakarta, Semarang dan Demak juga terancam mengalami banjir rob di wilayah pesisir akibat dari perubahan iklim. Di Demak tepatnya dusun Rejosari Senik, Desa Bedono, Kecamatan Sayung, terdapat satu kampung yang kini ditinggalkan masyarakatnya karena tenggelam akibat abrasi. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kurang lebih 200 keluarga memilih angkat kaki meninggalkan rumah yang kini terendam air laut. Apa yang terjadi? Simak cerita selengkapnya dalam<a href=\"https:\/\/blog-backup.lindungihutan.com\/\/cerita-mak-jah-dari-bedono-demak\/\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\"> \u201cSehari Bersama Mak Jah, Menanam Mangrove dan Rasanya Tinggal Sendiri di Tengah Lautan\u201d.<\/a><\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">5. &nbsp;Dampak Emisi Karbon, Perubahan Iklim dan Fenomena El Nino Memengaruhi Produktivitas Laut<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">El Nino atau bisa disebut juga ENSO mengakibatkan suhu permukaan laut meningkat dan lapisan termoklin menipis. Kondisi ini jika disertai dengan kenaikan paras laut.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kemudian, terganggunya siklus karbon berdampak pada menurunnya fungsi laut sebagai salah satu komponen penyerap karbon. Diperkirakan daya serap karbon dioksida atau CO<sup>2<\/sup> akan berkurang 4-28% selama abad 21.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Produktivitas laut yang menurun menyebabkan ikut terganggunya kondisi perekonomian masyarakat sekitar pantai. Seperti yang dirasakan oleh Edi nelayan tangkap dari Pulau Pari Kepulauan Seribu, Jakarta. Dirinya mengaku bahwa saat ini mencari ikan jadi makin sulit. Menurutnya ada beberapa faktor yang melatarbelakangi, salah satunya dampak dari perubahan iklim.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cSemenjak tahun 2000-an agak sulit, bahkan nelayan kawakan saja yang sepuh banyak yang bilang kalau cuaca sekarang susah diprediksi, mungkin faktor itu ya (perubahan iklim) yang memengaruhi menurunnya pencarian ikan, selain karena kontaminasi laut akibat sunga-sungai dari Kota Jakarta,\u201d Ungkap Edi. Cerita Edi selengkapnya bisa disimak dalam<a href=\"https:\/\/blog-backup.lindungihutan.com\/\/kisah-edi-mulyono-menuntut-keadilan-iklim-di-eropa\/\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\"> \u201cPerubahan Iklim Menuntut Keadilan Iklim, Edi dari Pulau Pari Menyampaikan Tuntutannya di Eropa\u201d.<\/a><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Itulah 5 dampak emisi karbon yang mungkin beberapa ada yang kita lihat dan terjadi saat ini. Semoga, kita bisa berupaya untuk menekan jejak karbon seminim mungkin dan beralih ke gaya hidup yang lebih ramah lingkungan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Baca juga: <a href=\"https:\/\/blog-backup.lindungihutan.com\/\/ekosistem-karbon-biru-potensinya\/\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\">Ekosistem Karbon Biru, Potensi, Simpanan, dan Tantangan 2024<\/a><\/strong><\/p>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-stackable-call-to-action is-style-default stk-block-call-to-action stk-block stk-2cd7ce0\" data-block-id=\"2cd7ce0\"><div class=\"stk-block-call-to-action__content stk-content-align stk-2cd7ce0-column stk-container stk-2cd7ce0-container stk-hover-parent\"><div class=\"has-text-align-center stk-block-content stk-inner-blocks\">\n<p class=\"has-large-font-size wp-block-paragraph\"><span style=\"color: #005e4e;\" class=\"stk-highlight\">LindungiHutan Menanam Lebih Dari 800 RIBU Pohon di 50 Lokasi Penanaman yang Tersebar di Indonesia Bersama 500 Perusahaan dan Brand yang Terlibat<\/span><\/p>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-stackable-button-group stk-block-button-group stk-block stk-0c81bbd\" data-block-id=\"0c81bbd\"><div class=\"stk-row stk-inner-blocks stk-block-content stk-button-group\">\n<div class=\"wp-block-stackable-button stk-block-button stk-block stk-15bdc47\" data-block-id=\"15bdc47\"><style>.stk-15bdc47 .stk-button{background:#005e4e !important}.stk-15bdc47 .stk-button{border-radius:13px !important}<\/style><a class=\"stk-link stk-button stk--hover-effect-darken\" href=\"https:\/\/lindungihutan.com\/dampak\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\"><span class=\"stk-button__inner-text\"><strong>Apa yang Kami Lakukan?<\/strong><\/span><\/a><\/div>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-stackable-button stk-block-button stk-block stk-0afec63\" data-block-id=\"0afec63\"><style>.stk-0afec63 .stk-button{background:#005e4e !important}.stk-0afec63 .stk-button{border-radius:13px !important}<\/style><a class=\"stk-link stk-button stk--hover-effect-darken\" href=\"https:\/\/lindungihutan.com\/kontakkami\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\"><span class=\"stk-button__inner-text\"><strong>Hubungi Kami<\/strong><\/span><\/a><\/div>\n<\/div><\/div>\n<\/div><\/div><\/div>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-stackable-expand stk-block-expand stk-block stk-6538e32\" aria-expanded=\"false\" data-block-id=\"6538e32\"><div class=\"stk-inner-blocks stk-block-content\">\n<div class=\"wp-block-stackable-text stk-block-expand__short-text stk-block-text stk-block stk-0566200\" aria-hidden=\"false\" data-block-id=\"0566200\"><p class=\"stk-block-text__text\">Referensi dan rujukan yang digunakan dalam tulisan ini.<\/p><\/div>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-stackable-button stk-block-button is-style-link stk-block-expand__show-button stk-block stk-204a8b4\" data-block-id=\"204a8b4\"><a aria-hidden=\"false\" role=\"button\" class=\"stk-link stk-button stk--hover-effect-darken\" href=\"#\"><span class=\"stk-button__inner-text\">Buka<\/span><\/a><\/div>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-stackable-text stk-block-expand__more-text stk-block-text stk-block stk-f3cf554\" aria-hidden=\"true\" data-block-id=\"f3cf554\"><p class=\"stk-block-text__text\"><a href=\"https:\/\/impactful.ninja\/why-is-a-carbon-footprint-bad-for-the-environment\/#:~:text=Our%20carbon%20footprint%20has%20a,of%20glaciers%20and%20polar%20ice\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener nofollow\">https:\/\/impactful.ninja\/why-is-a-carbon-footprint-bad-for-the-environment\/#:~:text=Our%20carbon%20footprint%20has%20a,of%20glaciers%20and%20polar%20ice<\/a>.<br><br>Kurnia Alfi dan Sudarti. 2021. \u201cEfek Rumah Kaca oleh Kendaraan Bermotor\u201d. <em>Dalam Jurnal Pendidikan Fisika dan Sains Vol.4, No. 2<\/em>. Universitas Jember. .<br><br>Gumirat Mochamad Imam Indra Gumirat, dkk. 2021. \u201cDampak Hujan Asam pada Lingkungan\u201d. <em>Dalam Jurnal Pengendalian Pencemaran Lingkungan Vol.3, No.2<\/em>. Politeknik Negeri Cilacap dan AKPRIND Yogyakarta. .<br><br>Wakhid Muhammad Umar. 2018. \u201cAnalisis Dampak Emisi Gas Buang Kendaraan Bermotor CO di UIN Raden Intan Lampung\u201d <em>dalam Skripsi<\/em>. UIN Raden Intan Lampung.<a href=\"http:\/\/repository.radenintan.ac.id\/4780\/1\/MUHAMMAD%20UMAR.pdf\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\"> http:\/\/repository.radenintan.ac.id\/4780\/1\/MUHAMMAD%20UMAR.pdf<\/a>.<br><br>Nurdjanah Nunuj. 2015. \u201cEmisi CO<sup>2<\/sup> Akibat Kendaraan Bermotor di Kota Denpasar\u201d. Puslitbang Perhubungan Darat dan Perkeretaapian.<a href=\"https:\/\/ojs.balitbanghub.dephub.go.id\/index.php\/jurnaldarat\/article\/view\/135\/75\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\"> https:\/\/ojs.balitbanghub.dephub.go.id\/index.php\/jurnaldarat\/article\/view\/135\/75<\/a>.<br><br><a href=\"https:\/\/jurnal.lapan.go.id\/index.php\/berita_dirgantara\/article\/download\/718\/636\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\">https:\/\/jurnal.lapan.go.id\/index.php\/berita_dirgantara\/article\/download\/718\/636<\/a><br><br><br><br><a href=\"http:\/\/oseanografi.lipi.go.id\/dokumen\/oseana_xxxiii(2)25-32.pdf\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\">http:\/\/oseanografi.lipi.go.id\/dokumen\/oseana_xxxiii(2)25-32.pdf<\/a><br><br><a href=\"https:\/\/repository.its.ac.id\/71257\/1\/3314201025-master-theses.pdf\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\">https:\/\/repository.its.ac.id\/71257\/1\/3314201025-master-theses.pdf<\/a>.<\/p><\/div>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-stackable-button stk-block-button is-style-link stk-block-expand__hide-button stk-block stk-d90d433\" data-block-id=\"d90d433\"><a aria-hidden=\"true\" role=\"button\" class=\"stk-link stk-button stk--hover-effect-darken\" href=\"#\"><span class=\"stk-button__inner-text\">Tutup<\/span><\/a><\/div>\n<\/div><\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Artikel di-review oleh&nbsp;Fahriza Dwi Indahyati, Research and Development Officer at LindungiHutan Emisi karbon atau carbon emission merupakan proses pengeluaran gas dari hasil pembakaran segala senyawa yang mengandung karbon seperti CO2, solar, bensin, dan bahan lainnya.&nbsp; Namun, tahukah kamu kalau hal ini ternyata berdampak buruk bagi lingkungan dan manusia? Dampak-dampak Emisi Karbon dan Gas Rumah Kaca [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":4,"featured_media":12491,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[880],"tags":[761,498,41],"class_list":["post-6974","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-emisi-karbon","tag-emisi-karbon","tag-pemanasan-global","tag-perubahan-iklim"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lindungihutan.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6974","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lindungihutan.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lindungihutan.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lindungihutan.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lindungihutan.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=6974"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/lindungihutan.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6974\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lindungihutan.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media\/12491"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lindungihutan.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=6974"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lindungihutan.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=6974"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lindungihutan.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=6974"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}