{"id":7332,"date":"2023-05-08T11:03:41","date_gmt":"2023-05-08T04:03:41","guid":{"rendered":"http:\/\/blog-backup.lindungihutan.com\/?p=7332"},"modified":"2024-01-05T03:53:16","modified_gmt":"2024-01-04T20:53:16","slug":"tanaman-sorgum-dan-banyak-manfaatnya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lindungihutan.com\/blog\/tanaman-sorgum-dan-banyak-manfaatnya\/","title":{"rendered":"Sorgum, Bisakah Tanamannya Menjadi Sumber Pangan untuk Masyarakat?"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tanaman sorgum berasal dari daerah timur Afrika, yang kemudian berkembang di berbagai negara seperti India, Nigeria, Argentina, Meksiko dan Sudan. Di Indonesia, tanaman tersebut diperkirakan dibawa oleh kolonial Belanda pada 1925, tetapi perkembangannya sebagai bahan pangan baru terlihat pada 1940-an.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sorgum termasuk<a href=\"https:\/\/blog-backup.lindungihutan.com\/\/perbedaan-tanaman-dan-tumbuhan\/\" target=\"_blank\" data-type=\"post\" data-id=\"2484\" rel=\"noreferrer noopener\"> tanaman<\/a> yang masih berkerabat dekat dengan sumber pangan lainnya, seperti padi, jagung, dan gandum. Kendati demikian, tanaman tersebut tetap memiliki morfologi tubuh yang berbeda dengan flora lainnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Akarnya berjenis serabut yang berfungsi untuk menyerap air, unsur hara, dan memperkokoh tegakan batangnya. Sistem perakaran tanaman tersebut juga dikenal toleran terhadap kekeringan maupun cuaca panas (Putri, 2022)<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Batangnya berbentuk silinder dengan ketinggian bervariasi tergantung varietas, tetapi umumnya dapat mencapai lebih dari 2,5 meter. Batangnya diketahui juga mengandung air dan kadar gula yang cukup tinggi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Daun sorgum bentuknya mirip seperti daun jagung, tetapi bedanya ada sejenis lapisan lilin yang agak tebal dan berawan putih di helaiannya. Lapisan tersebut berfungsi untuk menahan penguapan air dari dalam tubuh tanamannya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sewaktu masih muda, daunnya cenderung kaku. Ketika dewasa helaiannya melengkung. Adapun, jumlah daunnya berkisar antara 6-12 helai dengan lebar 5-13 cm.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sementara bijinya mengandung karbohidrat 73%, lemak 3,5%, dan protein 10%, bergantung pada varietas dan lokasi penanaman. Biji dari tanaman inilah yang akan diolah menjadi bahan pangan bagi masyarakat.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Adapun, klasifikasi ilmiah dari tanaman sorgum dapat dikelompokkan sebagai berikut:<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-table\"><table class=\"has-fixed-layout\"><tbody><tr><td>Kingdom<\/td><td><em>Plantae<\/em><\/td><\/tr><tr><td>Divisi<\/td><td><em>Magnoliophyta<\/em><\/td><\/tr><tr><td>Kelas<\/td><td><em>Liliopsida<\/em><\/td><\/tr><tr><td>Ordo<\/td><td><em>Cyperales<\/em><\/td><\/tr><tr><td>Famili<\/td><td><em>Poaceae<\/em><\/td><\/tr><tr><td>Sub famili<\/td><td><em>Panicoideae<\/em><\/td><\/tr><tr><td>Genus<\/td><td><em>Sorghum<\/em><\/td><\/tr><tr><td>Spesies<\/td><td><em>Sorghum bicolor L. Moench<\/em><\/td><\/tr><\/tbody><\/table><figcaption>Tabel klasifikasi tanaman sorgum.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Baca juga: <a href=\"https:\/\/blog-backup.lindungihutan.com\/\/sekam-padi-pengertian-cara-membuat-manfaat\/\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\">Sekam Padi Adalah: Pengertian, Kandungan, Cara Membuat, dan Manfaatnya untuk Tanaman<\/a><\/strong><\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Sorgum Itu Buat Apa?<\/h2>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"800\" height=\"600\" src=\"https:\/\/blog-backup.lindungihutan.com\/\/wp-content\/uploads\/2023\/05\/Olahan-sorgum.jpg\" alt=\"Manfaat sorgum.\" class=\"wp-image-7335\" title=\"\"><figcaption>Beberapa manfaat sorgum.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Manfaat sorgum dalam perkembangannya bukan hanya sebagai <a href=\"https:\/\/blog-backup.lindungihutan.com\/\/jenis-umbi-umbian-dan-manfaatnya\/\" target=\"_blank\" data-type=\"post\" data-id=\"6754\" rel=\"noreferrer noopener\">sumber pangan<\/a> alternatif. Namun, tanamannya juga digunakan sebagai bahan pembuatan etanol, makanan ternak, dan lainnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sebagai sumber pangan, tanaman sorgum diketahui menjadi makanan utama bagi lebih dari 750 juta orang di Afrika, India, dan Amerika Latin. Akan tetapi, penggunaannya di Tanah Air diakui masih terbatas dan menurun tajam, seiring ketersediaan beras yang makin mencukupi kebutuhan dengan harga relatif murah.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Selain itu, anggapan beras sebagai pangan bergengsi membuat masyarakat enggan untuk mengonsumsi sorgum. Padahal, tanaman tersebut juga memiliki kandungan nutrisi seperti serat dan kalori cukup tinggi sehingga bisa menjadi alternatif pangan lainnya.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kandungan nutrisi dalam tanaman sorgum diketahui bermanfaat bagi kesehatan manusia. Beberapa senyawa fenolik dari tanaman tersebut diketahui memiliki aktivitas antioksidan, anti tumor, dan dapat menghambat perkembangan virus sehingga bermanfaat bagi penderita penyakit kanker, jantung dan HIV (Dicko et. al., 2006).<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Secara umum, harga sorgum di pasaran per kilogramnya dibanderol Rp 5.000. Kendati demikian, pengembangan tanaman pangan tersebut diakui masih menghadapi berbagai permasalahan, khususnya terkait jaminan harga dan aspek kelembagaan untuk keberlanjutan pengembangannya.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Apakah Sorgum Bisa Dimakan?<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sorgum menjadi salah satu jenis bahan pangan yang memiliki kandungan gizi, yang tidak kalah dengan beras. Tanamannya memiliki potensi yang besar untuk dibudidayakan lebih lanjut di Indonesia.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pengembangan sorgum juga dibutuhkan sebagai alternatif bahan pangan lainnya. Di samping, kelebihannya yang tahan terhadap hama penyakit dan toleransi terhadap kondisi marginal seperti kekeringan, salinitas, dan lahan masam.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tanaman sorgum dapat diolah menjadi tepung, yang kemudian bisa diproses lebih lanjut menjadi aneka makanan. Di Afrika biasa disajikan dalam bentuk roti, bubur, minuman, berondong, dan keripik (Dicko et al. 2006).&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kandungan dari tepung sorgum sendiri diketahui memiliki kadar lemak, abu, dan pati yang lebih tinggi dibandingkan tepung terigu. Kendati demikian, tanamannya juga memiliki kelemahan, yakni punya senyawa tanin yang dapat mengganggu rasa dari makanannya.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Rasa Sorgum Seperti Apa?<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Potensi sorgum sebagai bahan pangan cukup besar, terutama sebagai bahan substitusi pangan pokok beras dan lainnya. Apabila, tanaman tersebut diolah dengan benar maka rasanya dapat diterima oleh lidah masyarakat.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pengolahan biji sorgum harus dilakukan dengan benar, sebab tanamannya diketahui memiliki kandungan tanin cukup tinggi. Kandungan tersebut menyebabkan rasa sepat dan warna kusam pada produk akhir olahan (Harbone, 1996).<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Menurut Widowati et al. (2009), kandungan tanin pada biji sorgum dapat diturunkan hingga 78 % dengan disosoh dan direndam larutan NaCO. Penyosohan tersebut harus dilakukan dengan cara benar, sehingga sisa kulit biji yang menempel tidak menimbulkan tekstur kasar dan rasa pahit.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Penyosohan biji sorgum dapat dilakukan dengan berbagai cara, yaitu dengan menggunakan alu yang banyak digunakan di pedesaan atau dengan alat mekanis. Namun, alat mekanis lebih dianjurkan untuk digunakan agar menghasilkan kualitas lebih bersih dan siap untuk diolah menjadi tepung (Firmansyah dkk., 2013).<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Proses pengolahan sorgum menjadi tepung juga harus bebas dari benda asing seperti serangga. Hal tersebut dimaksudkan agar produknya memenuhi standar aman untuk dikonsumsi manusia.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Baca juga: <a href=\"https:\/\/blog-backup.lindungihutan.com\/\/pohon-siwak-dan-manfaatnya\/\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\">Pohon Siwak: Klasifikasi, Ciri-Ciri, Pesebaran, dan Manfaat Siwak<\/a><\/strong><\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Dimana Sorgum Ditanam?<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tanaman sorgum cocok ditanam di dataran rendah sampai daerah yang berketinggian 800 mdpl, dengan curah hujan antara 375-425 mm. Tanaman tersebut juga masih dapat tumbuh dengan baik pada tanah yang kurang subur, air yang terbatas, bahkan di lahan berpasir.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pola pertumbuhannya sama dengan jagung, tetapi interval waktu antara tahap pertumbuhan dan jumlah daun yang berkembang dapat berbeda. Waktu yang dibutuhkan untuk mencapai setiap tahap bergantung pada varietas dan lingkungan tumbuh tanaman.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Selain itu, waktu tanam sorgum dapat dilakukan sepanjang tahun, ketika musim hujan maupun musim kemarau. Di lahan kering, tanaman pangan tersebut dapat ditanam pada awal atau akhir musim hujan secara monokultur setelah panen palawija.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Produksi sorgum sendiri diakui masih rendah dibandingkan tanaman pangan seperti beras dan jantung. Oleh karena itu, pada 2020 pengembangannya di luar Pulau Jawa pun dilakukan oleh Kementerian Pertanian untuk menggenjot produksinya sebagai bahan pangan alternatif di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">FAQ<\/h2>\n\n\n<div id=\"rank-math-faq\" class=\"rank-math-block\">\n<div class=\"rank-math-list \">\n<div id=\"faq-question-1683515281200\" class=\"rank-math-list-item\">\n<h3 class=\"rank-math-question \">Apa itu Sorgum dan sebutkan manfaatnya?<\/h3>\n<div class=\"rank-math-answer \">\n\n<p>Sorgum termasuk tanaman yang masih berkerabat dekat dengan sumber pangan lainnya, seperti padi, jagung, dan gandum.<strong> <\/strong>Dalam perkembangannya, ia bukan hanya sebagai sumber pangan alternatif. Namun, juga digunakan sebagai bahan pembuatan etanol, makanan ternak, dan lainnya.<\/p>\n\n<\/div>\n<\/div>\n<div id=\"faq-question-1683515302813\" class=\"rank-math-list-item\">\n<h3 class=\"rank-math-question \">Apakah sorgum bisa dimakan?<\/h3>\n<div class=\"rank-math-answer \">\n\n<p>Biji sorgum mengandung karbohidrat 73%, lemak 3,5%, dan protein 10%, bergantung pada varietas dan lokasi penanaman. Biji dari tanaman inilah yang akan diolah menjadi bahan pangan bagi masyarakat.<\/p>\n\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n\n\n<div class=\"wp-block-stackable-call-to-action is-style-default stk-block-call-to-action stk-block stk-9bfe961\" data-block-id=\"9bfe961\"><div class=\"stk-block-call-to-action__content stk-content-align stk-9bfe961-column stk-container stk-9bfe961-container stk-hover-parent\"><div class=\"has-text-align-center stk-block-content stk-inner-blocks\">\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><span style=\"color: #005e4e;\" class=\"stk-highlight\">Dapatkan Ebook Gratis dari LindungiHutan<\/span><\/h2>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-stackable-text stk-block-text stk-block stk-35f7515\" data-block-id=\"35f7515\"><p class=\"stk-block-text__text\"><span style=\"color: #005e4e;\" class=\"stk-highlight\">LindungiHutan menyusun e-book panduan untuk menanam pohon GRATIS untuk kamu. E-book ini sangat ringkas tetapi penuh dengan pengetahhuan dan berdasarkan penelitian terhadap literatur-literatur terpercaya. Klik tombol di bawah ini untuk mengunduh (download)<\/span><\/p><\/div>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-stackable-button-group stk-block-button-group stk-block stk-edc3b0e\" data-block-id=\"edc3b0e\"><div class=\"stk-row stk-inner-blocks stk-block-content stk-button-group\">\n<div class=\"wp-block-stackable-button stk-block-button stk-block stk-1b37ff7\" data-block-id=\"1b37ff7\"><style>.stk-1b37ff7 .stk-button{background:#005e4e !important}<\/style><a class=\"stk-link stk-button stk--hover-effect-darken\" href=\"https:\/\/blog-backup.lindungihutan.com\/\/tanam-kini-tuai-nanti\/\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\"><span class=\"stk-button__inner-text\">Download E-book.<\/span><\/a><\/div>\n<\/div><\/div>\n<\/div><\/div><\/div>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-stackable-expand stk-block-expand stk-block stk-5a41a9e\" aria-expanded=\"false\" data-block-id=\"5a41a9e\"><div class=\"stk-inner-blocks stk-block-content\">\n<div class=\"wp-block-stackable-text stk-block-expand__short-text stk-block-text stk-block stk-40beb61\" aria-hidden=\"false\" data-block-id=\"40beb61\"><p class=\"stk-block-text__text\">Referensi dan rujukan yang digunakan dalam tulisan ini adalah:<\/p><\/div>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-stackable-button stk-block-button is-style-link stk-block-expand__show-button stk-block stk-037b149\" data-block-id=\"037b149\"><a aria-hidden=\"false\" role=\"button\" class=\"stk-link stk-button stk--hover-effect-darken\" href=\"#\"><span class=\"stk-button__inner-text\">Buka<\/span><\/a><\/div>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-stackable-text stk-block-expand__more-text stk-block-text stk-block stk-54b39d4\" aria-hidden=\"true\" data-block-id=\"54b39d4\"><p class=\"stk-block-text__text\">Aryani, Nurul Fitrah, dkk. (2022). Budidaya Tanaman Sorgum (<em>Sorghum bicolor (L.) Moench). <\/em>Dikutip dari: <a href=\"http:\/\/eprints.unm.ac.id\/26130\/1\/Buku%20KP%20Tim%20Balitsereal%20Biologi%20UNM.pdf\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">http:\/\/eprints.unm.ac.id\/26130\/1\/Buku%20KP%20Tim%20Balitsereal%20Biologi%20UNM.pdf<\/a><br><br>Suarni. (2016). Peranan Sifat Fisikokimia Sorgum dalam Diversifikasi Pangan dan Industri serta Prosepek Pengembangannya. Dikutip dari: <a href=\"https:\/\/media.neliti.com\/media\/publications\/123982-ID-peranan-sifat-fisikokimia-sorgum-dalam-d.pdf\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">https:\/\/media.neliti.com\/media\/publications\/123982-ID-peranan-sifat-fisikokimia-sorgum-dalam-d.pdf<\/a><br><br>Muhammad Azrai, dkk. (2021). Teknologi Budidaya Tanaman Sorgum Unggul Bebas Limbah. Dikutip dari: https:\/\/www.google.co.id\/books\/edition\/Teknologi_Budidaya_Tanaman_Sorgum_Unggul\/mn5OEAAAQBAJ?hl=id<br><br>Null. (2019). Menguntungkan, Kementan Dorong 80 Hektar Sentra Sorgum di Demak. Dikutip dari:&nbsp; <a href=\"https:\/\/distanbun.acehprov.go.id\/berita\/kategori\/sains\/menguntungkan-kementan-dorong-80-hektar-sentra-sorgum-di-demak\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">https:\/\/distanbun.acehprov.go.id\/berita\/kategori\/sains\/menguntungkan-kementan-dorong-80-hektar-sentra-sorgum-di-demak<\/a><br><\/p><\/div>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-stackable-button stk-block-button is-style-link stk-block-expand__hide-button stk-block stk-77c081b\" data-block-id=\"77c081b\"><a aria-hidden=\"true\" role=\"button\" class=\"stk-link stk-button stk--hover-effect-darken\" href=\"#\"><span class=\"stk-button__inner-text\">Tutup<\/span><\/a><\/div>\n<\/div><\/div>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Penulis:  <a href=\"http:\/\/www.linkedin.com\/in\/yemita-gea-a8697824a\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\">Yemita Gea<\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Tanaman sorgum berasal dari daerah timur Afrika, yang kemudian berkembang di berbagai negara seperti India, Nigeria, Argentina, Meksiko dan Sudan. Di Indonesia, tanaman tersebut diperkirakan dibawa oleh kolonial Belanda pada 1925, tetapi perkembangannya sebagai bahan pangan baru terlihat pada 1940-an. Sorgum termasuk tanaman yang masih berkerabat dekat dengan sumber pangan lainnya, seperti padi, jagung, dan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":3,"featured_media":7334,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[11],"tags":[873,871,872,874],"class_list":["post-7332","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-hutanpedia","tag-biji-sorgum","tag-sorgum","tag-tanaman-sorgum","tag-tepung-sorgum"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lindungihutan.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7332","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lindungihutan.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lindungihutan.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lindungihutan.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lindungihutan.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=7332"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/lindungihutan.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7332\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lindungihutan.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media\/7334"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lindungihutan.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=7332"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lindungihutan.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=7332"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lindungihutan.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=7332"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}