{"id":933,"date":"2022-02-08T19:15:00","date_gmt":"2022-02-08T12:15:00","guid":{"rendered":"http:\/\/blog-backup.lindungihutan.com\/?p=933"},"modified":"2026-05-05T09:55:21","modified_gmt":"2026-05-05T02:55:21","slug":"pengertian-deforestasi-penyebab-dan-dampak","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lindungihutan.com\/blog\/pengertian-deforestasi-penyebab-dan-dampak\/","title":{"rendered":"Deforestasi: Pengertian, Penyebab, Dampak, dan Pencegahan"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Deforestasi adalah peristiwa hilangnya tutupan hutan yang berubah menjadi tutupan lain. Hal ini dapat terjadi pada hutan yang berada di areal dengan intensitas tinggi atau berbatasan langsung dengan kegiatan manusia.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Apa Itu Deforestasi?<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Deforestasi dapat diartikan secara kuantitatif yaitu pengurangan tutupan tajuk pohon menjadi kurang dari ambang minimum sebesar 10% untuk jangka panjang dengan tinggi pohon minimum 5 m pada areal seluas minimum 0,5 ha.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Secara sederhana, deforestasi adalah perubahan tutupan lahan dari yang semula berhutan menjadi tidak berhutan. Wilayah yang sebelumnya dipenuhi vegetasi pohon dengan kerapatan tertentu berubah menjadi area tanpa tutupan pohon, atau bahkan tanpa vegetasi sama sekali.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Definisi ini diperkuat oleh Peraturan Menteri Kehutanan Republik Indonesia Nomor 30 Tahun 2009 tentang Tata Cara Pengurangan Emisi dari Deforestasi dan Degradasi Hutan (REDD). Regulasi tersebut menyatakan bahwa deforestasi merupakan perubahan permanen areal hutan menjadi tidak berhutan akibat aktivitas manusia.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">\ud83c\udf31 Eksklusif! Ebook Carbon Policy &amp; Pemanfaatan dan Status Hutan Indonesia \ud83c\udf33<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Jelajahi regulasi dan solusi bisnis berbasis karbon untuk keberlanjutan. <strong><a href=\"https:\/\/lynk.id\/lindungihutan\/Om4aqoE\" target=\"_blank\" data-type=\"link\" data-id=\"https:\/\/lynk.id\/lindungihutan\/Om4aqoE\" rel=\"noreferrer noopener\">Unduh sekarang, GRATIS!<\/a><\/strong><\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Deforestasi di Indonesia, Bagaimana Kondisinya?<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Menurut data terbaru, Indonesia mengalami deforestasi yang cukup signifikan. Pada periode 2021-2022, perkebunan kelapa sawit menjadi kontributor terbesar penggundulan hutan di Indonesia, menyebabkan emisi gas rumah kaca sebesar 200 juta ton metrik setiap tahunnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pada tahun 2022, total emisi Indonesia, tidak termasuk dari sektor penggunaan lahan yang mencakup perkebunan, mencapai 1.240 juta ton metrik\u200b (<a href=\"https:\/\/news.mongabay.com\/2024\/02\/palm-oil-deforestation-makes-comeback-in-indonesia-after-decade-long-slump\/\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\">Mongabay<\/a>)\u200b.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Namun, mengutip laman PPID KLHK, deforestasi di Indonesia sukses turun hingga titik terendah pada tahun 2021-2022 sebesar 104 ribu hektare. Sementara deforestasi Indonesia tahun 2020-2021 adalah sebesar 113,5 ribu hektare.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Perbedaan data deforestasi antara laporan global dan data pemerintah Indonesia terjadi karena perbedaan dalam metode penghitungan. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Menurut analisis <a href=\"https:\/\/www.globalforestwatch.org\/dashboards\/country\/IDN\/\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\">Global Forest Watch (GFW)<\/a>, banyak kehilangan hutan primer di Indonesia yang diklasifikasikan sebagai hutan sekunder atau tutupan lahan lainnya oleh pemerintah.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Perbedaan ini memengaruhi cara pelaporan data deforestasi. Global Forest Watch (GFW) mendefinisikan kehilangan tutupan pohon sebagai hilangnya seluruh kanopi pohon dalam area 30 x 30 meter. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sementara itu, dari analisis <a href=\"https:\/\/news.mongabay.com\/2023\/07\/indonesia-claims-record-low-deforestation-but-accounting-raises-questions\/\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\">Mongabay<\/a>, pemerintah Indonesia menggunakan resolusi yang lebih kasar dan turut memasukkan reboisasi industri dalam perhitungan deforestasi bersih (net deforestation).<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Baca juga: <a href=\"https:\/\/lindungihutan.com\/blog\/9-dampak-kerusakan-hutan-bagi-manusia\/\" target=\"_blank\" data-type=\"link\" data-id=\"https:\/\/lindungihutan.com\/blog\/9-dampak-kerusakan-hutan-bagi-manusia\/\" rel=\"noreferrer noopener\">9 Dampak Kerusakan Hutan Bagi Manusia<\/a><\/strong><\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"800\" height=\"2000\" src=\"https:\/\/blog-backup.lindungihutan.com\/\/wp-content\/uploads\/2024\/07\/Penyebab-dan-dampak-deforestasi.webp\" alt=\"\" class=\"wp-image-13715\" title=\"\"><\/figure>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Apa Saja Penyebab Terjadinya Deforestasi?<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Hilangnya tutupan lahan atau pengurangan secara kuantitatif sangat berhubungan erat dengan aktivitas manusia atau adanya gangguan alam. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Diantara bentuk yang sering terjadi yaitu pembukaan area lahan kehutanan yang dikonversi untuk lahan pertanian, penggembalaan, transmigrasi, dan sebagainya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Angka penebangan hutan yang tinggi setiap tahunnya akan menyebabkan hilangnya lahan hutan secara besar-besaran. Akibat dari kehilangan lahan hutan yang berdampak negatif pada keberlanjutan lingkungan maupun kehidupan sosial.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Beberapa penyebab deforestasi yang umum dijumpai di Indonesia antara lain yaitu:<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">1. Kebakaran Hutan<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Hampir setiap tahun, Indonesia menghadapi bencana kebakaran hutan. Pada tahun 2015 saja, sekitar 1,7 juta hektar hutan terbakar. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kebakaran ini memicu bencana asap yang berdampak serius pada pendidikan, transportasi udara, kesehatan, ekonomi, dan merusak lingkungan secara luas.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kebakaran membuat angka deforestasi menjadi semakin parah dibandingkan kehilangan lahan yang disebabkan oleh kegiatan konversi lainnya. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kerugian akibat kebakaran hutan juga berpotensi menghilangkan plasma nutfah.Fenomena kebakaran hutan di Indonesia telah menjadi tradisi yang terus-menerus terjadi.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">2. Pembukaan Lahan Perkebunan<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Penyebab deforestasi juga cukup besar dari akibat pembukaan lahan perkebunan seperti kelapa sawit secara ekologis berdampak langsung terhadap angka penyusutan hutan. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pembukaan lahan perkebunan kelapa sawit menjadi salah satu faktor dominan penyebab kehilangan tutupan dan lahan hutan di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kondisi ini disebabkan karena perkebunan kelapa sawit dan tanaman perkebunan lainnya umumnya diperoleh dengan dua metode, yaitu pengalihan fungsi lahan hutan dan pengalihan fungsi lahan perkebunan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pengalihan fungsi lahan perkebunan adalah metode yang dilakukan dengan mengganti tanaman pokok perkebunan dengan tanaman baru (kelapa sawit).<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">3. Perambahan Hutan untuk Memenuhi Keinginan Manusia<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Salah satu penyebab utama deforestasi adalah perambahan hutan, yang telah menjadi isu nasional. Deforestasi sering kali terjadi karena keterlibatan manusia. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Beberapa faktor yang mendorong masyarakat melakukan perambahan hutan antara lain tekanan ekonomi, kurangnya pemahaman tentang dampak lingkungan, adanya pihak sponsor, keterbatasan jumlah petugas pengawas, serta lemahnya penegakan hukum.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">4. Program Transmigrasi<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kawasan permukiman transmigrasi terus bertambah dan akan terus berkembang yang membutuhkan areal untuk mewadahi aktivitas tersebut. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Di satu sisi telah terjadi perubahan tutupan lahan hutan ke tutupan lahan non hutan khususnya kawasan hutan yang bersentuhan langsung dengan kawasan permukiman transmigrasi.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">5. Pertambangan dan Pengeboran Sumber Daya Alam<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kegiatan pertambangan dan pengeboran minyak menyebabkan adanya bekas pertambangan di kawasan hutan yang kondisi tanahnya sudah berlubang-lubang. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Jika tidak dilakukan penutupan kembali maka kawasan tersebut akan menyebabkan dampak buruk pada kualitas dan perubahan fungsi lahan lingkungan di area sekitarnya.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\n<iframe loading=\"lazy\" title=\"Perjalanan ke Taman Nasional Way Kambas - Konservasi Gajah dan Penanaman Pohon\" width=\"740\" height=\"416\" src=\"https:\/\/www.youtube.com\/embed\/A1xgNtlMB14?feature=oembed\" frameborder=\"0\" allow=\"accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share\" referrerpolicy=\"strict-origin-when-cross-origin\" allowfullscreen><\/iframe>\n<\/div><\/figure>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Dampak Deforestasi<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Deforestasi menimbulkan dampak yang sangat serius baik pada tingkat nasional maupun tingkat internasional. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kebakaran hutan yang tidak terkendali setiap tahun, penebangan yang merusak, pembukaan lahan untuk perkebunan dan pertambangan, serta pembangunan wilayah transmigrasi merupakan sejumlah faktor utama penyebab berkurangnya tutupan hutan. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Aktivitas-aktivitas tersebut telah menyebabkan penurunan tutupan hutan secara signifikan dalam beberapa dekade terakhir.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dampak deforestasi jelas terasa bagi masyarakat yang sangat bergantung dengan hasil alam atau hutan. AKibatnya, timbul kerugian yang besar yakni bagi seluruh masyarakat maupun negara.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Karena perubahan lahan hutan tersebut menyebabkan terganggunya keadaan lingkungan, antara lain :<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">1. Bencana Alam<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kegiatan penebangan yang mengesampingkan konversi hutan mengakibatkan penurunan kualitas lingkungan dan akan meningkatkan peristiwa bencana alam, seperti tanah longsor dan banjir.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Deforestasi atau alih fungsi hutan mangrove yang cukup marak terjadi di pesisir utara Pulau Jawa misalnya terbukti menyebabkan banjir rob yang dampaknya membuat resah masyarakat di kawasan pesisir utamanya. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Seperti di <a href=\"https:\/\/lindungihutan.com\/blog\/mengenal-pantai-trimulyo-genuk-semarang\/\" target=\"_blank\" data-type=\"link\" data-id=\"https:\/\/lindungihutan.com\/blog\/mengenal-pantai-trimulyo-genuk-semarang\/\" rel=\"noreferrer noopener\">pesisir Trimulyo Kota Semarang<\/a> misalnya, aktivitas pertambakan yang marak dilakukan di tahun 1980-1990-an meninggalkan jejak kerusakan yang cukup parah bagi kawasan mangrove di Pantai Trimulyo. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Mangrove yang rusak menyebabkan gelombang laut tidak dapat ditahan sehingga menerjang daratan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Baca juga: <a href=\"https:\/\/lindungihutan.com\/blog\/mengenal-pesisir-tambakrejo-semarang\/\" target=\"_blank\" data-type=\"link\" data-id=\"https:\/\/lindungihutan.com\/blog\/mengenal-pesisir-tambakrejo-semarang\/\" rel=\"noreferrer noopener\">Pantai Tambakrejo, Kota Semarang: Abrasi dan Makam Tenggelam<\/a><\/strong><\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">2. Kepunahan Flora dan Fauna<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Alih fungsi lahan yang tidak sesuai dengan fungsi kawasan hutan juga bisa berdampak pada kelestarian flora dan fauna. Apabila deforestasi terus dibiarkan habitat asli mereka akan bergeser menjadi kawasan yang hanya diuntungkan bagi aktivitas manusia saja.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">3. Dampak Deforestasi terhadap Pemanasan Global dan Perubahan Iklim<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Hutan memiliki peran penting sebagai penyimpan cadangan karbon dalam jumlah besar. Hutan juga mampu menyerap kelebihan karbon dioksida di udara. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Melalui proses fotosintesis, karbon dioksida tersebut diubah menjadi oksigen, dan hutan dapat menyimpan karbon lebih dari dua ratus miliar ton.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sehingga deforestasi berpengaruh sangat besar terhadap perubahan iklim yang berkaitan dengan karbon-karbon yang ada di udara dan pada tanah gambut. Apabila <a href=\"https:\/\/lindungihutan.com\/blog\/gambut-adalah-jenis-dan-ciri-lahan-gambut\/\" target=\"_blank\" data-type=\"link\" data-id=\"https:\/\/lindungihutan.com\/blog\/gambut-adalah-jenis-dan-ciri-lahan-gambut\/\" rel=\"noreferrer noopener\">lahan gambut<\/a> kehilangan pohon di atasnya maka akan melepaskan karbon yang tersimpan ke udara.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Menurut <a href=\"https:\/\/lindungihutan.com\/blog\/climate-crisis-dan-pengelolaan-hutannya\/\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\">Haryo Ajie Dewanto<\/a>, Technical Director Rimba Raya Conservation, keberadaan hutan sangat penting dan harus dipertahankan. Ia menegaskan bahwa hutan tidak boleh dibabat atau dialihfungsikan secara sembarangan. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&#8220;Jika karbon dan biomassa hutan, yang jumlahnya mencapai hampir 300 juta gigaton di seluruh dunia, berkurang atau terlepas, kita tidak tahu apakah atmosfer kita masih bisa bertahan,&#8221; ujarnya dalam acara Green Skilling LindungiHutan.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">4. Terganggunya Siklus Air<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Hutan yang hilang akan mengakibatkan berkurangnya penguapan air tanah oleh pohon. Kondisi ini berakibat pada iklim dan cuaca yang berubah menjadi lebih kering, karena curah hujan akan berkurang.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Baca juga: <a href=\"https:\/\/lindungihutan.com\/blog\/manfaat-reboisasi\/\" target=\"_blank\" data-type=\"link\" data-id=\"https:\/\/lindungihutan.com\/blog\/manfaat-reboisasi\/\" rel=\"noreferrer noopener\">10+ Manfaat Reboisasi dan Penghijauan untuk Manusia dan Alam<\/a><\/strong><\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Bagaimana Cara Pencegahan Deforestasi?<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Banyaknya dampak negatif yang ditimbulkan oleh deforestasi menuntut adanya upaya nyata untuk menekannya, agar laju kehilangan hutan tidak semakin meningkat. Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah melalui upaya konservasi sumber daya alam.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Beberapa solusi deforestasi yang dapat diupayakan antara lain:<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">1. Penebangan dengan Sistem Tebang Pilih<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tebang pilih adalah salah satu <a href=\"https:\/\/lindungihutan.com\/blog\/apa-itu-silvikultur\/\" target=\"_blank\" data-type=\"link\" data-id=\"https:\/\/lindungihutan.com\/blog\/apa-itu-silvikultur\/\" rel=\"noreferrer noopener\">sistem silvikultur <\/a>yang diterapkan di Indonesia. Metode tebang pilih dilakukan pada hutan hutan alam tak seumur sebagai salah satu sub sistem dari sistem pengelolaan hutan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sistem ini menjadi salah satu sarana utama dalam mewujudkan hutan dengan struktur yang sesuai dengan lingkungan dan terwujudnya pengelolaan hutan yang berkelanjutan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sistem tebang pilih ini diharapkan mampu menjaga dalam keberlangsungan ekosistem hutan dan berfungsi dalam penyangga kehidupan. Pada metode tebang pilih juga melakukan penanaman kembali agar kegiatan-kegiatan tersebut tidak menyebabkan kerugian.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">2. Reboisasi dan Penghijauan<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><a href=\"https:\/\/lindungihutan.com\/blog\/reboisasi-adalah-arti-dan-manfaat-reboisasi\/\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\">Reboisasi <\/a>dilakukan dengan menanam kembali pada kawasan hutan, sedangkan penghijauan ditujukan untuk kawasan non-hutan. Hal ini penting karena hutan yang gundul tidak lagi mampu menjalankan fungsinya secara optimal.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Strategi ini tertuang di dalam (RPJMN) 2020-2024 dalam upaya mengurangi kehilangan hutan yang yaitu mengurangi tingkat deforestasi menjadi 310 hektar\/per tahun. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Langkah yang dicanangkan dengan melakukan penanaman kembali dan pengkayaan di hutan-hutan produksi dengan 1,97 juta hektar.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Cara yang dicoba termasuk luas ekosistem gambut yang telah terkoordinasi dan difasilitasi restorasi pada 7 provinsi di Indonesia yang rentan terhadap bencana kebakaran dengan mencapai target 300.000 hektarnya pertahun.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">3. Pembentukan REDD+<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><a href=\"https:\/\/lindungihutan.com\/blog\/pengertian-redd-adalah\/\" target=\"_blank\" data-type=\"post\" data-id=\"4510\" rel=\"noreferrer noopener\">REDD+<\/a> atau Reducing Emissions from Deforestation and Forest Degradation adalah sebuah pendekatan kepada konservasi lahan hutan yang bisa menjadi solusi deforestasi. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Metode yang diambil menggunakan skema keuangan dalam melakukan konservasi hutan yang menjadi usaha yang dapat memberikan keuntungan atau penghasilan dibandingkan melakukan penebangan hutan melalui pembayaran.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tujuan dari REDD+ adalah menghitung nilai karbon yang tersimpan di hutan sebagai bagian dari upaya mitigasi perubahan iklim. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Program ini menawarkan mekanisme bagi negara berkembang untuk mengurangi emisi melalui investasi menuju jalur pembangunan rendah karbon.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Melalui skema ini, negara maju dapat bekerja sama dengan memberikan kompensasi kepada negara berkembang, termasuk Indonesia, atas upaya pengurangan deforestasi, pembakaran lahan gambut, dan degradasi hutan.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">4. Pengawasan Hutan<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pengawasan dilakukan untuk pengamanan aset hutan dalam mencegah serta mengendalikan terjadinya gangguan, kejahatan, maupun ancaman yang meliputi hutan yang ada di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pengawasan dapat dilakukan secara langsung dengan aparat yang berwenang ataupun dengan monitoring perkembangan menggunakan teknologi terbaru dan turut dalam mengawasi hutan melalui teknologi satelit.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Teknologi satelit ini dapat meningkatkan transparansi pada rantai pasokan perusahaan, melalui program Forest Cover Analyzer, Eyes On The Forest dan Global Forest Watch 2.0<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Teknologi ini memungkinkan setiap orang dapat melihat kapan dan dimana perubahan wilayah hutan melalui internet. Pemerintah Indonesia juga berinisiatif melakukan pengawasan hutan di berbagai badan-badan pemerintahan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Baca juga: <a href=\"https:\/\/lindungihutan.com\/blog\/7-upaya-pengendalian-karhutla-2026\/\" target=\"_blank\" data-type=\"link\" data-id=\"https:\/\/lindungihutan.com\/blog\/7-upaya-pengendalian-karhutla-2026\/\" rel=\"noreferrer noopener\">7 Upaya Pengendalian Karhutla 2026 di Tengah El Nino<\/a><\/strong><\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">FAQ<\/h2>\n\n\n<div id=\"rank-math-faq\" class=\"rank-math-block\">\n<div class=\"rank-math-list \">\n<div id=\"faq-question-1681737116898\" class=\"rank-math-list-item\">\n<h3 class=\"rank-math-question \">Apa yang dimaksud dengan deforestasi?<\/h3>\n<div class=\"rank-math-answer \">\n\n<p>Perubahan permanen kawasan hutan menjadi tidak berhutan akibat aktivitas manusia, ditandai dengan berkurangnya tutupan pohon di bawah ambang tertentu.<\/p>\n\n<\/div>\n<\/div>\n<div id=\"faq-question-1681737190668\" class=\"rank-math-list-item\">\n<h3 class=\"rank-math-question \">Apa saja penyebab deforestasi?<\/h3>\n<div class=\"rank-math-answer \">\n\n<p>Penyebab deforestasi yang umum dijumpai di Indonesia berupa kebakaran hutan, pembukaan lahan perkebunan, perambahan hutan untuk memenuhi keinginan manusia,<\/p>\n\n<\/div>\n<\/div>\n<div id=\"faq-question-1776937622196\" class=\"rank-math-list-item\">\n<h3 class=\"rank-math-question \">Apa dampak deforestasi?<\/h3>\n<div class=\"rank-math-answer \">\n\n<p>Dampak deforestasi adalah bencana alam, kepunahan flora &amp; fauna, pemicu pemanasan global &amp; perubahan iklim,  dan terganggunya siklus air<\/p>\n\n<\/div>\n<\/div>\n<div id=\"faq-question-1776937948251\" class=\"rank-math-list-item\">\n<h3 class=\"rank-math-question \">Bagaimana cara pencegahan deforestasi?<\/h3>\n<div class=\"rank-math-answer \">\n\n<p>Solusi deforestasi seperti melakukan penebangan dengan sistem tebang pilih, reboisasi &amp; penghijauan, pembentukan REDD+, dan pengawasan hutan<\/p>\n\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n\n\n<div class=\"wp-block-stackable-call-to-action stk-block-call-to-action stk-block stk-54d71fc is-style-default\" data-v=\"2\" data-block-id=\"54d71fc\"><div class=\"stk-block-call-to-action__content stk-content-align stk-54d71fc-column stk-container stk-54d71fc-container stk-hover-parent\"><div class=\"has-text-align-center stk-block-content stk-inner-blocks stk-54d71fc-inner-blocks\">\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><span style=\"color: #005e4e;\" class=\"stk-highlight\">LindungiHutan Menanam Lebih dari 1.2 JUTA Pohon di 30+ Lokasi Penanaman Bersama 600+ Brand dan Perusahaan <\/span><\/h2>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-stackable-button-group stk-block-button-group stk-block stk-92ca01c\" data-block-id=\"92ca01c\"><div class=\"stk-row stk-inner-blocks stk-block-content stk-button-group\">\n<div class=\"wp-block-stackable-button stk-block-button stk-block stk-1e0074e\" data-block-id=\"1e0074e\"><style>.stk-1e0074e .stk-button{background:#005e4e !important;border-top-left-radius:13px !important;border-top-right-radius:13px !important;border-bottom-right-radius:13px !important;border-bottom-left-radius:13px !important;}<\/style><a class=\"stk-link stk-button stk--hover-effect-darken\" href=\"https:\/\/lindungihutan.com\/dampak\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\"><span class=\"stk-button__inner-text\"><strong>Apa yang Kami Lakukan?<\/strong><\/span><\/a><\/div>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-stackable-button stk-block-button cta-wa stk-block stk-7fcf1d9\" data-block-id=\"7fcf1d9\"><style>.stk-7fcf1d9 .stk-button{background:#005e4e !important;border-top-left-radius:13px !important;border-top-right-radius:13px !important;border-bottom-right-radius:13px !important;border-bottom-left-radius:13px !important;}<\/style><a class=\"stk-link stk-button stk--hover-effect-darken\" href=\"#\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\"><span class=\"stk-button__inner-text\"><strong><strong>Butuh Info Lebih Lanjut?<\/strong><\/strong><\/span><\/a><\/div>\n<\/div><\/div>\n<\/div><\/div><\/div>\n\n\n\n<script>\nconst pageUrl = window.location.href;\nconst message = `[LH.BLOG] - Halo, saya mengunjungi blog LindungiHutan tentang ${pageUrl} dan ingin bertanya.`;\n\nconst waLink = `https:\/\/api.whatsapp.com\/send\/?phone=6282329015769&text=${encodeURIComponent(message)}`;\n\n\/\/ Cari tombol <a> DI DALAM elemen yang punya class 'cta-wa'\nconst waButton = document.querySelector('.cta-wa a');\n\nif (waButton) {\n    waButton.href = waLink;\n}\n<\/script>\n\n\n\n<iframe loading=\"lazy\" src=\"https:\/\/lindungihutan.com\/component\/form-collaboratree\" width=\"100%\" height=\"1000px\" style=\"border:none;\"><\/iframe>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Penulis: <a href=\"https:\/\/www.linkedin.com\/in\/ridharizkiana\/\" target=\"_blank\" data-type=\"URL\" data-id=\"https:\/\/www.linkedin.com\/in\/ridharizkiana\/\" rel=\"noreferrer noopener\">Ridha Rizkiana<\/a><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Editor: <a href=\"https:\/\/blog-backup.lindungihutan.com\/\/author\/siktiyana\/\" target=\"_blank\" data-type=\"URL\" data-id=\"https:\/\/blog-backup.lindungihutan.com\/\/author\/siktiyana\/\" rel=\"noreferrer noopener\">M. Nana Siktiyana<\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Deforestasi adalah peristiwa hilangnya tutupan hutan yang berubah menjadi tutupan lain. Hal ini dapat terjadi pada hutan yang berada di areal dengan intensitas tinggi atau berbatasan langsung dengan kegiatan manusia. Apa Itu Deforestasi? Deforestasi dapat diartikan secara kuantitatif yaitu pengurangan tutupan tajuk pohon menjadi kurang dari ambang minimum sebesar 10% untuk jangka panjang dengan tinggi [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":7,"featured_media":13716,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[11],"tags":[247,419,252,253],"class_list":["post-933","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-hutanpedia","tag-alam","tag-deforestasi","tag-edukasi","tag-hutan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lindungihutan.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/933","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lindungihutan.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lindungihutan.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lindungihutan.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/7"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lindungihutan.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=933"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/lindungihutan.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/933\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":19180,"href":"https:\/\/lindungihutan.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/933\/revisions\/19180"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lindungihutan.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media\/13716"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lindungihutan.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=933"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lindungihutan.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=933"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lindungihutan.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=933"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}