Green Skilling
Menumbuhkan Green Mindset: Sinergi Pendidikan dan Bisnis di Green Skilling #23
Perubahan iklim saat ini menjadi tanggung jawab bersama lintas sektor. Setiap individu, lembaga, hingga pelaku usaha memiliki peran penting dalam menjaga keberlanjutan bumi.
Melalui Green Skilling #23 – Green Future: Kolaborasi yang Mengakar, Guru Belajar Foundation dan LindungiHutan mempertemukan dunia pendidikan dan bisnis untuk membangun kesadaran akan pentingnya keberlanjutan.
Inti dari gerakan ini adalah menumbuhkan green mindset, sebuah pola pikir hijau yang menjadikan keberlanjutan sebagai nilai dasar dalam setiap keputusan.
Bagi perusahaan, hal ini menjadi langkah strategis untuk memastikan praktik bisnis selaras sejalan dengan prinsip sosial dan lingkungan.
Daftar Isi
Membangun Green Mindset dari Ruang Kelas
Marsaria Primadonna dari Yayasan Guru Belajar memulai sesi Green Skilling #23 dengan refleksi sederhana, bahwa perubahan besar berawal dari kelas.
Bagi Pima, membangun green mindset berarti menanamkan kesadaran akan berkelanjutan sejak dini agar generasi muda menyadari pentingnya lingkungan.
Sekolah bukan hanya tempat belajar, tetapi juga bagian dari ekosistem bumi. Taman, lapangan, serta interaksi sosial di dalamnya mencerminkan keterkaitan manusia dengan alam.
Di sinilah pendidikan untuk keberlanjutan memainkan peran penting dalam menjaga “rumah bersama” kita, yaitu bumi.
Secara global, konsep Education for Sustainable Development (ESD) dari PBB mendorong negara-negara untuk memasukkan aspek keberlanjutan dalam kurikulum.

Di Indonesia, Kemdikbudristek telah merilis Panduan Implementasi Pendidikan Perubahan Iklim yang dapat diadaptasi oleh sekolah untuk memperkuat kolaborasi keberlanjutan.

Implementasinya pun sederhana dan relevan. Guru dapat mengaitkan tema lingkungan dengan kehidupan sehari-hari siswa, seperti pengelolaan sampah, akses pada air bersih, atau gaya hidup ramah lingkungan.
Melalui proyek Profil Pelajar Pancasila (P5), nilai keberlanjutan diwujudkan lewat eco-projects dan wirausaha sosial berbasis daur ulang.

Pima turut menyinggung sosok inspiratif global, Greta Thunberg, yang memulai gerakan iklim seorang diri hingga mendunia.

Kisah ini mengingatkan bahwa perubahan bisa dimulai dari langkah kecil, bahkan dari satu ruang kelas. “Pendidikan yang berdaya dan aksi nyata perlu kolaborasi. Tidak bisa sendirian,” tegasnya.
Pesan ini mengakhiri sesi dengan ajakan untuk memperkuat green partnership antara sekolah, komunitas, dan mitra seperti LindungiHutan. Kerjasama lintas sektor menjadi pondasi dalam menumbuhkan budaya keberlanjutan yang berdampak luas.
Kolaborasi Nyata antara Pendidikan dan Aksi Lingkungan
Muthi’ah Aini Rahmi dari LindungiHutan menekankan pentingnya kerja sama lintas sektor dalam meningkatkan aksi keberlanjutan.
Melalui kerja sama antara lembaga pendidikan, komunitas, dan bisnis, LindungiHutan hadir sebagai penghubung yang menumbuhkan gerakan hijau bersama.

Kemitraan dengan Guru Belajar Foundation menjadi contoh konkret. Setiap kegiatan tanam pohon dan kampanye alam bukan hanya aksi ekologis, tetapi juga bentuk green partnership antara dunia pendidikan dan dunia usaha.
Kolaborasi ini membuktikan bahwa keberlanjutan dapat dijalankan secara inklusif dan saling mendukung.
Untuk memastikan dampaknya terukur, LindungiHutan mencatat setiap hasil penanaman, mulai dari jumlah pohon, lokasi, hingga estimasi emisi karbon yang terserap. Data ini berfungsi sebagai dasar pengukuran keberhasilan kolaborasi serta bukti transparansi kepada mitra.

Pendekatan yang didasarkan pada data ini memperkuat kredibilitas program dan membantu pelaporan ESG perusahaan.
Bagi bisnis, kolaborasi semacam ini tidak hanya menjadi bentuk tanggung jawab sosial, tetapi juga strategi untuk membangun reputasi ramah lingkungan.
Sementara bagi lembaga pendidikan, kemitraan ini membuka ruang belajar yang kontekstual sekaligus menumbuhkan kesadaran keberlanjutan sejak dini.
Baca Juga: Yayasan Guru Belajar: Membangun Organisasi Belajar Berkelanjutan
Ayo Jadi Bagian dari Perubahan
Acara Green Skilling #23 menegaskan pentingnya peran pendidikan dan bisnis dalam membangun ekosistem keberlanjutan.
Dunia pendidikan berperan dalam menumbuhkan kesadaran, sementara sektor bisnis memperkuat pengaruhnya melalui aksi nyata yang berdampak bagi lingkungan.
Melalui kolaborasi dari lintas sektor, perubahan di tingkat komunitas dapat terjadi lebih cepat dan berkelanjutan. Nilai green mindset yang ditanamkan sejak dini menjadi dasar agar keberlanjutan tumbuh sebagai budaya, bukan sekadar program.
Praktik green partnership antara sekolah, komunitas, dan dunia usaha menjadi contoh konkret dari gerakan hijau yang saling mendukung.
Kerja sama ini membuktikan bahwa keberlanjutan bukan hanya tanggung jawab sosial, tetapi juga strategi bersama untuk mewujudkan masa depan yang lebih lestari.
Kini saatnya Anda ikut berperan. Dukung kampanye alam bersama LindungiHutan atau jalin kerja sama untuk menciptakan dampak lingkungan yang nyata. Bergabung sekarang dan jadilah bagian dari perubahan.
Penulis: Nabila Nur Salma
