Kegiatan
Reforestathon: Jelajahi Sukses Digelar di Desa Sukawali dan Bedono
Ada dua garis pantai di Indonesia yang sedang berjuang diam-diam. Yang satu dihantam kiriman sampah dari hulu sungai yang tak pernah berhenti. Sementara yang lain perlahan tenggelam.
Pada Sabtu, 4 April 2026, LindungiHutan mengunjungi keduanya melalui satu visi, yaitu Reforestathon: Jelajahi. Kegiatan ini dilaksanakan di Desa Bedono, Kab. Demak dan Desa Sukawali, Kab. Tangerang.
Daftar Isi
- Reforestathon: Jelajahi 2026
- Desa Sukawali: Pantai yang Perlu Dijaga
- Keseruan Reforestathon: Jelajahi di Desa Sukawali
- Desa Bedono: Kampung yang Tenggelam
- Keseruan Reforestathon: Jelajahi di Desa Bedono
- Cerita dari Lapangan
- Monitoring dan Keberlanjutan
- LindungiHutan Menanam Lebih dari 1.2 JUTA Pohon di 30+ Lokasi Penanaman Bersama 600+ Brand dan Perusahaan
Reforestathon: Jelajahi 2026
Reforestathon: Jelajahi adalah bagian dari program Reforestathon, yaitu marathon penghijauan LindungiHutan sepanjang tahun 2026.
Program ini mengajak masyarakat untuk terlibat langsung dan merasakan kondisi secara nyata dan ikut ambil bagian dalam proses pemulihannya, sekaligus menjadi bentuk dari Reforestathon+ Special Edition.
Berbeda dari program penanaman pada umumnya, Reforestathon: Jelajahi tidak hanya berfokus pada penanaman pohon, tetapi juga pada pengembangan potensi lokasi secara terintegrasi, mencakup aspek lingkungan, sosial, dan ekonomi.
Melalui kolaborasi lintas sektor, program ini bertujuan menghasilkan dampak yang lebih terukur, relevan, dan berkelanjutan.
Pada 4 April 2026, sebanyak 18 peserta hadir di dua lokasi, 10 orang di Desa Sukawali dan 8 orang di Desa Bedono melaksanakan program Reforestathon: Jelajahi. Mereka terdiri dari KOL, tim media, mitra LindungiHutan, pemerintah, hingga mahasiswa.
Peserta juga mengikuti sesi diskusi bersama stakeholder yang hadir, melalui sesi edukasi dan berbagi cerita langsung dari para penjaga pesisir.
Desa Sukawali: Pantai yang Perlu Dijaga
Pantai KSS Sukawali berdiri di titik yang tidak mudah, yaitu kawasan muara Sungai Cisande. Posisi ini menjadikannya sebagai titik akumulasi segala yang mengalir dari hulu, termasuk sampah yang akan mengendap di pesisir dan ekosistem mangrove.
Wilayah ini juga mengalami tekanan pesisir yang cukup tinggi, seperti abrasi dan banjir rob. Di sisi lain, ekosistem mangrove yang sebelumnya tumbuh alami mengalami degradasi akibat alih fungsi lahan.
Sukawali kini masuk dalam kategori kritis pesisir dan perlu restorasi melalui penanaman mangrove secara berkelanjutan untuk melindungi kawasan secara alami.
Baca juga: Desa Sukawali Kabupaten Tangerang, Kampung Bahari Nusantara dan Kondisi Mangrove
Keseruan Reforestathon: Jelajahi di Desa Sukawali
Kegiatan Reforestathon: Jelajah di Desa Sukawali dimulai dengantour hutan mangrove: mencari buah mangrove untuk pembibitan dan penyemaian langsung di lokasi. Setiap peserta minimal menanam 2 bibit mangrove sebagai kontribusi nyata rehabilitasi pesisir.

Peserta kemudian turun langsung ke pantai untuk beach clean up. Peserta turut belajar membuat dan cara pemasangan APO (Alat Pemecah Ombak) dari sampah yang terkumpul, sebagai solusi perlindungan pesisir yang lahir dari kreativitas komunitas lokal sendiri.

Sesi istirahat dan makan siang dilakukan di Rumah Pintar yang sekaligus ruang Sekretariat Petani, dilanjut sesi edukasi dan pengenalan local heroes. Sesi ini menjadi ruang mendengar langsung cerita mereka menjaga pesisir.

Kegiatan di tutup dengan penandatanganan MoU simbolis bersama perwakilan LindungiHutan, mitra petani, pemerintah setempat, dan media sebagai bentuk komitmen kolaborasi jangka panjang.
Desa Bedono: Kampung yang Tenggelam
Dalam dua dekade terakhir, sebagian wilayah Desa Bedono di Kabupaten Demak telah tenggelam akibat abrasi. Dua dusun berubah menjadi laut dan ratusan keluarga terpaksa direlokasi.
Di tengah desa yang tenggelam, masih ada satu keluarga yang bertahan. Mak Jah, perempuan tangguh yang kini menjadi penghuni terakhir di kampung yang telah hilang.
Tidak sekadar bertahan, Mak Jah sejak tahun 2000 aktif menanam mangrove sebagai upaya melindungi sisa wilayahnya dari abrasi. Kini, bersama anaknya dan Kelompok Swadayamas, kisahnya menjadi simbol ketahanan masyarakat pesisir.
Restorasi mangrove bukan lagi pilihan, melainkan keharusan. Reforestathon hadir di Bedono bukan untuk sekadar menanam. Tetapi juga untuk mendengar, belajar, dan berdiri di tanah yang sedang berjuang.
Baca juga :Desa Bedono Demak dan Upayanya Menolak Tenggelam
Keseruan Reforestathon: Jelajahi di Desa Bedono
Kegiatan Reforestathon di Desa Bedono dimulai bukan dengan jalan kaki, melainkan perahu kayu. Peserta menelusuri kawasan hutan mangrove, mengunjungi area terdampak kerusakan lingkungan, hingga ke rumah Mak Jah, penghuni terakhir kampung yang telah tenggelam.

Di Rumah Mak Jah, sesi pembibitan berlangsung. Peserta mendapat edukasi langsung tentang teknik pembibitan mangrove dan turut menyemai bibit di lokasi penanaman, setiap peserta menanam 2 bibit mangrove.

Sesi edukasi dan pengenalan Mak Jah sebagai local hero menjadi momen paling berkesan. Makan siang pun dilakukan di rumah Mak Jah, sebelum dilanjutkan menggunakan perahu menuju Tambak Mak Jah untuk mencari kerang.

Setelah bersih-bersih di area parkir, peserta kembali berkumpul untuk wrap up, menutup hari dengan kenangan yang penuh makna dari pesisir Demak yang berjuang untuk tetap ada, serta membawa oleh-oleh kerang segar dari tambak Mak Jah.
Cerita dari Lapangan
Pengalaman di lapangan meninggalkan kesan nyata bagi para peserta di semua momen. Tapi, momen menanam mangrove langsung di tengah air jadi highlight yang paling diingat peserta.
Aisya dari Semarang yang sempat khawatir karena postur petite-nya ternyata bisa menikmati sepenuhnya, “teman-teman dari LindungiHutan sangat helpful bantuin kita.” Menurutnya, ini adalah petualangan sekaligus misi menyelamatkan hutan dan bisa jadi cerita di masa depan.
Trian dari Kudus juga menyebutnya seru banget. Baginya ini bukan sekadar refreshing, melainkan “petualangan yang bermanfaat untuk masa depan.”
Nara dari Jepara menyebut ini pertama kalinya menanam benar-benar di tengah laut, “perjalanan yang selain mengasyikkan dan seru, tapi juga edukatif dan bermanfaat untuk alam,” ungkapnya.
Tim Infopantura Demak yang turut hadir menyebut pengalaman ini sebagai sesuatu yang “sangat berharga.” Mereka pun langsung mengajak followersnya untuk merasakan sendiri karena “feelnya harus dirasakan langsung.”
Dari peserta lain, Riezha menutup dengan hangat, “Terima kasih banget atas kesempatannya, ditunggu next invitation nya ya.”
Satu kata dari para peserta untuk Reforestathon: Jelajahi? Asik.Hebat.Ikut. Dengan pesannya satu, semua orang harus coba. “Apalagi kamu yang peduli dan ingin merawat bumi ini.”
Semangat yang hadir di lapangan tidak hanya dirasakan peserta. Miftachur ‘Ben’ Robani, CEO LindungiHutan turut memaknai kegiatan ini sebagai kontribusi bersama.
“Walaupun yang hadir langsung mungkin hanya beberapa orang, kegiatan ini sejatinya adalah kontribusi kita semua sebagai bagian dari LindungiHutan. Semoga apa yang kita lakukan kemarin bisa jadi hal baik dan membawa manfaat nyata bagi mereka.”
Baca Juga: Program CSR LindungiHutan: Edukasi Lingkungan & Berbagi di Yayasan Al-Kahfi
Monitoring dan Keberlanjutan
Perjalanan tidak berhenti di penanaman. Pertumbuhan bibit mangrove yang ditanam akan terus dipantau dan diperbarui melalui dashboard campaign LindungiHutan yang bisa diakses di Desa Sukawali (https://lindungihutan.com/reforestathonsukawaliJELAJAHI) dan Desa Bedono (https://lindungihutan.com/reforestathonbedonoJELAJAHI).
Reforestathon akan terus berlanjut dan berkembang, diselaraskan dengan programpartnership dan inisiatif LindungiHutan lainnya.
Reforestathon bukan hanya tentang pohon yang ditanam lalu tumbuh. Ini tentang kesatuan yang bergerak dari garis pantai yang punya harapan baru.
Jadilah bagian dari Reforestathon berikutnya. Mulai dari sini.
