Bisnis Lestari
Cara Menyusun Feasibility Study untuk Program Penanaman: Metode, Tahapan, dan Output
Daftar Isi
- Tahap 1: Desk Study dan Pengumpulan Data Sekunder
- Tahap 2: Analisis Kondisi Biofisik Lokasi, Vegetasi Eksisting, dan Ketersediaan Sumber Air
- Tahap 3: Analisis Kesesuaian Vegetasi dan Tapak
- Tahap 4: Analisis Risiko
- Tahap 5: Rekomendasi Awal Desain Program, Metode Penanaman, dan Pemeliharaan
- Kedalaman Analisis: Basic, Comprehensive, atau Advanced?
- Output Akhir Feasibility Study Report
- Siap Memulai?
- Pelajari Feasibility Study dan Jadilah Bagian dari Aksi Nyata untuk Lingkungan
LindungiHutan Insight
- Terdapat 5 tahapan feasibility study untuk program SustainabiliTree
- Tahapannya dimulai dengan pengumpulan data skunder hingga rekomendasi desain program
- Output akhirnya perusahaan akan menerima Feasibility Study & Project Design Report
Memahami pentingnya feasibility study saja tidak cukup. Perusahaan juga perlu mengetahui bagaimana proses penyusunannya dilakukan, aspek apa saja yang dianalisis, metode yang digunakan, serta output akhir yang akan diterima.
Artikel ini membahas lima tahapan cara menyusun feasibility study untuk program SustainabiliTree secara praktis, lengkap dengan metode yang digunakan di setiap tahap dan gambaran output akhir yang bisa diharapkan.
Tahap 1: Desk Study dan Pengumpulan Data Sekunder
Desk study menjadi fondasi dari seluruh tahapan feasibility study. Pada tahap ini, data awal dikumpulkan dan dianalisis untuk membentuk gambaran awal kondisi lokasi. Sebelum tim terjun ke lapangan, analisis dimulai melalui pengumpulan dan kajian data sekunder.
Sumber data yang digunakan meliputi: data dari KLHK dan BMKG, citra satelit, serta literatur ilmiah yang relevan dengan kondisi ekologis lokasi target.
Metode utama pada tahap ini adalah interpretasi citra satelit dan kajian literatur. Hasilnya akan menjadi landasan sebelum melakukan analisis yang lebih mendalam atau dalam.
Tahap 2: Analisis Kondisi Biofisik Lokasi, Vegetasi Eksisting, dan Ketersediaan Sumber Air
Tahap ini mencakup penilaian menyeluruh terhadap kondisi fisik dan ekologis lokasi. Adapun parameter yang dianalisis antara lain:
- Kondisi tanah (jenis, tekstur, dan struktur tanah)
- Iklim dan mikroklimat lokasi
- Topografi (kemiringan dan ketinggian lahan)
- Tutupan lahan eksisting
- Vegetasi eksisting termasuk identifikasi spesies invasif
- Ketersediaan sumber air di sekitar lokasi
Tim LindungiHutan akan melakukan survei lapangan di beberapa titik lokasi untuk mengumpulkan data secara langsung. Temuan dari berbagai parameter yang dianalisis akan menjadi dasar dalam menentukan rekomendasi penanaman yang paling sesuai.
Tahap 3: Analisis Kesesuaian Vegetasi dan Tapak
Ini adalah tahap scoring, tahap untuk menilai seberapa cocok jenis-jenis tanaman tertentu dengan kondisi lokasi yang telah dianalisis. Parameter yang digunakan dalam penelitian ini meliputi:
- Kondisi biofisik
- Edafik: pH dan kelembaban tanah
- Mikroklimat lokasi
- Kesesuaian ekologis: habitat dan kondisi topografi
Output tahap ini adalah rekomendasi jenis tanaman yang sesuai dengan fungsi yang dibutuhkan program, apakah untuk fungsi ekologis, penyerapan karbon, peneduh, atau kombinasi ketiganya.
Semakin tinggi kategori report yang dipilih, semakin banyak fungsi tanaman yang bisa direkomendasikan: Basic (1 fungsi), Comprehensive (2 fungsi), hingga Advance (3 fungsi dengan kustomisasi penuh sesuai kebutuhan).
Tahap 4: Analisis Risiko
Setiap lokasi memiliki potensi risiko teknis yang perlu diidentifikasi sejak awal agar program penanaman dapat dirancang dengan antisipasi yang tepat.
Identifikasi risiko dilakukan berbasis studi historis, seperti adanya risiko bencana yang signifikan atau riwayat penanaman di lokasi yang dimaksud. Data ini menjadi kompas untuk pengambilan keputusan penanaman.
Output tahap ini adalah gambaran risiko teknis yang perlu diantisipasi dalam desain program penanaman pohon, seperti risiko erosi, banjir, kekeringan, atau gangguan hama.
Baca juga: SustainabiliTree: Penanaman Pohon di Lokasi Perusahaan & Program Non-Planting
Tahap 5: Rekomendasi Awal Desain Program, Metode Penanaman, dan Pemeliharaan
Tahap terakhir menyatukan semua hasil analisis sebelumnya menjadi rekomendasi teknis yang actionable. Cakupannya meliputi:
- Rekomendasi desain tanam (high-level) termasuk layout dan pola penanaman
- Estimasi kapasitas penyerapan karbon dari program penanaman pohon
- Rencana penanaman: metode yang sesuai kondisi ekologis yang sebenarnya
- Rencana pemeliharaan: jadwal penyiraman, penyulaman, dan pengelolaan tapak
- Rekomendasi metode monitoring untuk mengevaluasi keberhasilan program

Kegiatan monitoring secara berkala diperlukan untuk mengukur tingkat keberhasilan penanaman melalui pengukuran, pencatatan data, dan dokumentasi visual.
Kedalaman Analisis: Basic, Comprehensive, atau Advanced?
Tidak semua program penanaman membutuhkan kedalaman analisis yang sama. SustainabiliTree menyediakan tiga kategori report yang dapat disesuaikan dengan skala proyek, ketersediaan data, dan kebutuhan akurasi klien:
| Aspek | Basic | Comprehensive | Advance |
| Sumber Data | Data sekunder | Lapangan + sampling | Lapangan + GIS multilayer |
| Analisis Vegetasi | 1 fungsi tanaman | 2 fungsi tanaman | 3 fungsi tanaman + kustomisasi |
| Analisis Karbon | Estimasi literatur | Alometrik spesifik jenis | Alometrik + GIS overlay |
| Analisis Risiko | Studi historis | Historis + observasi lapangan | Historis + observasi lapangan |
| Pendekatan Desain | Sederhana berbasis data historis | Berbasis analisis spasial dan ekologi | Analisis spasial + zonasi lahan |
| Monitoring | Rekomendasi umum | Berbasis kondisi ekologis aktual | Berbasis kondisi ekologis aktual |
Sebagai gambaran umum:
Basic report cocok untuk kajian awal atau lokasi dengan data sekunder yang memadai. Comprehensive direkomendasikan ketika akurasi data lapangan penting dalam pengambilan keputusan. Advance idealnya untuk proyek berskala besar yang perlu presisi tinggi.
Output Akhir Feasibility Study Report
Di akhir proses feasibility study, perusahaan menerima Feasibility Study & Project Design Report yang mencakup:
- Kajian kelayakan lokasi secara ekologis, teknis, dan operasional
- Analisis kesesuaian lahan dan tanaman
- Rekomendasi teknis dan strategi penanaman serta pemeliharaan
- Identifikasi risiko dan batasan program
- Rekomendasi awal desain program (high-level)
- Perencanaan pola penanaman (layout dan jarak tanam)
- Rekomendasi jenis dan jumlah tanaman
- Estimasi kapasitas penyerapan karbon
- Feasibility Study & Project Design Report (dokumen lengkap)
Report ini berfungsi sebagai dasar pengambilan keputusan dan fondasi untuk tahap berikutnya, mulai dari desain program, implementasi penanaman, hingga monitoring dan impact assessment.
Baca Juga: 3 Sustainability Perusahaan Indonesia yang Patut Dijadikan Benchmark
Siap Memulai?
Feasibility study bukan sekadar formalitas, ini adalah investasi akan kualitas program berkelanjutan yang dibangun. Melalui data yang tepat dan analisis yang mendalam, perusahaan dapat melaksanakan aksi yang berdampak, terukur, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Ingin melihat bagaimana feasibility study diterapkan di protek nyata?
Lihat bagaimana feasibility study diterapkan di proyek nyata atau diskusikan kebutuhan kajian lokasi Anda bersama tim SustainabiliTree

