Lingkungan
Indonesia Darurat Sampah, Gas Metana Jadi Ancaman: Peran Pohon sebagai Solusi
Daftar Isi
- Indonesia Dinyatakan dalam Status Darurat Sampah
- Gas Metana Menjadi Ancaman
- Bahaya Gas Metana terhadap Kualitas Udara
- Bahaya Gas Metana terhadap Manusia
- Tumpukan Sampah Organik Menjadi Salah Satu Sumber Gas Metana
- Peran Pohon sebagai Solusi Mengurangi Gas Metana di Udara
- LindungiHutan Menanam Lebih dari 1.2 JUTA Pohon di 30+ Lokasi Penanaman Bersama 600+ Brand dan Perusahaan
LindungiHutan Insight
- Gas Metana yang dihasilkan oleh tempat pembuangan akhir (TPA) Indonesia, diperkirakan sebesar 11.390 ton per tahun.
- Indonesia memproduksi sampah sebanyak 143 ribu ton per hari.
- Hal inilah yang menyebabkan Indonesia dinyatakan dalam status darurat sampah dan menjadi salah satu penyumbang gas metana terbanyak.
Indonesia dinyatakan dalam status darurat sampah. Di Bali, awal tahun 2026 disambut dengan bencana banjir akibat sampah yang menyumbat saluran air. Di Bandung, persoalan sampah belum sepenuhnya pulih sejak tragedi kebakaran tempat pembuangan akhir (TPA) Sarimukti.
Dua daerah tersebut hanya sebagian kecil daerah di Indonesia yang mengalami bencana akibat persoalan sampah.
Sektor sampah menjadi salah satu penyumbang metana dalam porsi yang signifikan. Metana adalah gas rumah kaca yang lebih berbahaya daripada karbondioksida (CO₂).
Dilansir dari koran pikiran rakyat, menurut tim riset Emmett Institute dari University of California, tempat pengolahan sampah terpadu (TPST) Bantar Gebang, Bekasi, menjadi penyumbang metana terbesar kedua di dunia dengan laju mencapai 6,3 ton per jam.
Indonesia Dinyatakan dalam Status Darurat Sampah
Dilansir dari website resmi Lembaga Ketahanan Nasional, Indonesia memproduksi sampah sebanyak 143 ribu ton per hari.
Dari sekian banyak fasilitas pengelolaan sampah, hanya 76% yang berfungsi optimal. Adapun dari seluruh sampah yang dihasilkan, hanya 26% yang berhasil dikelola setiap harinya.
Masih dilansir dari website yang sama, kondisi ini diperparah oleh 69% tempat pembuangan akhir (TPA) yang masih menggunakan sistem open dumping, yaitu praktik pembuangan sampah terbuka yang mencemari tanah, air, dan udara.
Hal inilah yang menyebabkan Indonesia dinyatakan dalam status darurat sampah dan menjadi salah satu penyumbang metana terbanyak.
Dilansir dari lestari kompas, berdasarkan data tahun 2024, Indonesia berada pada urutan kelima sebagai negara penghasil sampah terbanyak di dunia.
Adapun berdasarkan data SIPSN (Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional), timbunan sampah nasional Indonesia per tahun 2025, mencapai 24,8 juta ton.
Masih berdasarkan data SIPSN yang dilansir dari environment Indonesia, Indonesia berada pada posisi kedua sebagai penghasil sampah makanan (food waste) terbanyak di dunia. Tiga kota ini menjadi penyumbang terbanyak yaitu Jakarta, Banten, dan Jawa Barat.
Kondisi ini bukan sekadar peringatan. Berdasarkan data terbaru Kementerian Lingkungan Hidup yang dilansir dari koran pikiran rakyat, mencatat bahwa, 65,4% wilayah administratif di Indonesia kini dinyatakan dalam status darurat sampah.
Dilansir dari environment Indonesia, lima provinsi ini menjadi penghasil sampah terbanyak di Indonesia. Jawa Tengah menduduki peringkat pertama, disusul oleh Jawa Timur, lalu Jawa Barat, kemudian Jakarta, dan yang terakhir yaitu Banten.
Gas Metana Menjadi Ancaman
Gas metana adalah gas yang tidak berbau, tidak berwarna, dan bersifat mudah terbakar. Di atmosfer, gas metana (CH4) dapat bertahan selama 9 – 12 tahun.
Namun, dampaknya terhadap pemanasan global dalam jangka waktu tersebut bisa 25 kali lipat dibandingkan dengan karbon dioksida (CO₂) dalam periode waktu yang sama, sebagaimana dilansir dari universaleco.
Masih dilansir dari sumber yang sama, metana juga memberikan dampak negatif terhadap lapisan ozon. Metana berkontribusi terhadap penipisan lapisan ozon melalui mekanisme tidak langsung.
Di atmosfer, metana bereaksi dengan radikal hidroksil (OH) dan membentuk air serta karbon dioksida. Reaksi ini mengurangi jumlah radikal hidroksil untuk menguraikan ozon, sehingga memperpanjang umur ozon di troposfer.
Ozon troposfer adalah polutan yang berbahaya bagi kesehatan manusia dan tanaman. Pembentukan ozon troposfer dipicu oleh reaksi kimia antara metana, nitrogen oksida (NOx), dan senyawa organik volatil (VOC) di bawah sinar matahari.
Ozon bertindak sebagai polutan dan gas rumah kaca. Hal inilah yang juga membuat metana menjadi bagian dari komposisi gas rumah kaca.
Gas metana sebagai bagian gas rumah kaca, dapat membuat lapisan sendiri di permukaan atmosfer bumi. Walaupun dengan jumlah yang sedikit, lapisan metana jauh lebih efektif menyerap panas dari matahari dan menyebabkan kenaikan pada suhu Bumi.
Efek tersebut pada akhirnya juga berdampak pada fenomena perubahan iklim, seperti cuaca ekstrem, naiknya permukaan laut, dan mencairnya es di kutub.
Baca juga: 10 Cara Melindungi Lapisan Ozon yang Bisa Dimulai Hari Ini
Bahaya Gas Metana terhadap Kualitas Udara
Dilansir dari wastechange, pada kadar yang tinggi, metana dapat mengurangi kadar oksigen di atmosfer bumi sebanyak 19,5 %.
Metana juga menjadi polutan berbahaya yang tidak dapat diserap secara alami oleh klorofil dalam proses fotosintesis. Pencemaran udara akibat gas metana membuat kualitas udara menurun dan bahkan mengandung racun jika terhirup.
Bahaya Gas Metana terhadap Manusia
Gas metana juga berbahaya apabila terhirup oleh manusia. Dilansir dari wastechange dan crowcon, dampak kesehatan yang akan dirasakan yaitu, mulai dari gejala ringan seperti mual, sakit kepala, kemerahan pada wajah, gelisah, dan lesu.
Gangguan kognitif seperti perubahan mood, penglihatan kabur, bicara cadel, kehilangan keseimbangan, dan kehilangan memori. Pada tingkat yang serius, dapat menyebabkan detak jantung lebih cepat, pingsan, bahkan kematian.
Tumpukan Sampah Organik Menjadi Salah Satu Sumber Gas Metana
Gas Metana dihasilkan dari tumpukan sampah organik yang membusuk di tempat pembuangan. Dilansir dari wastechange, tempat pembuangan akhir (TPA) di Indonesia, diperkirakan menghasilkan metana sebesar 11.390 ton per tahun.
Tumpukan sampah organik yang membusuk tanpa pengelolaan memadai, menghasilkan metana melalui proses biologis dan dekomposisi oleh bakteri metanogenik yang memecah bahan organik.
Dalam kondisi minim oksigen di tumpukan sampah, serta kelembaban tinggi di sekitar TPA, risiko ledakan dapat meningkat akibat penumpukan metana di dalamnya.

Baca Juga: Tutorial Donasi Pohon Online
Peran Pohon sebagai Solusi Mengurangi Gas Metana di Udara
Dilansir dari forestdigest dan mongabay, pohon juga bisa menyerap metana. Selama ini, tanah diketahui dapat menyerap metana. Proses ini dibantu oleh bakteri yang hidup di dalam tanah.
Sementara itu pada pohon, mikroba yang hidup di kulit pohon berperan dalam menyerap metana. Kulit pohon mengandung mikroba yang bisa menyerap metana untuk dikonsumsi sebagai bahan metabolisme. Mikroba tersebut yaitu bakteri dan jamur.
Namun, hanya pohon dengan tinggi sekitar 2 meter yang bisa menyerap metana. Jumlah metana yang bisa diserap yaitu sekitar 10%.
Secara global, pohon dapat menyerap gas metana sebanyak 25 hingga 50 juta ton setiap tahunnya. Hutan tropis menjadi penyerap gas metana terbesar. Hutan beriklim sedang dan boreal yang lebih dingin, hanya mampu menyerap sedikit gas metana.
Oleh karena itu, kita harus menjaga pohon-pohon yang ada di hutan tropis, untuk membantu mengurangi pencemaran gas metana di udara.

