Bisnis Lestari
Mengapa Project Design Program Penanaman Harus Berbasis Feasibility Study
Daftar Isi
- Dari Mana Data Project Design Seharusnya Berasal?
- Apa yang Terjadi Jika Project Design Tidak Berbasis Feasibility Study?
- Bagaimana Kedalaman Feasibility Study Menentukan Kualitas Project Design?
- Mengapa Layanan Feasibility Study dan Project Design Selalu Berjalan Beriringan
- Pelajari Layanan SustanabiliTree dan Jadilah Bagian dari Aksi Nyata untuk Lingkungan
LindungiHutan Insight
- Project design program penanaman dan feasibility study saling berkaitan
- Akan ada 3 skenario jika project design tidak berlandaskan data feasibility study
- Setiap fase program restorasi harus berbasis teknis yang terverifikasi di lapangan
Banyak yang memandang feasibility study dan project design sebagai dua hal yang berjalan sendiri-sendiri, satu di tahap awal, satu di tahap teknis. Padahal keduanya bukan hanya berkaitan,rancangan program yang baik bergantung pada data dari kajian lapangan.
Project design program penanaman yang disusun tanpa data feasibility study adalah desain yang berdiri di atas asumsi. Sementara di lapangan ekologis, asumsi bisa sangat mahal harganya.
Dari Mana Data Project Design Seharusnya Berasal?
Setiap komponen dalam project design program penanaman membutuhkan input data yang spesifik hasil kajian lapangan yang sistematis. Di sinilah peran assesment diperlukan.
Perhatikan pemetaan berikut:
| Komponen Project Design | Datanya Berasal dari Feasibility Study |
| Pemilihan jenis tanaman | Analisis kesesuaian vegetasi & tapak |
| Zonasi dan pola penanaman | Analisis biofisik dan kondisi topografi |
| Perhitungan jumlah tanaman | Kerapatan vegetasi dan kondisi aktual lahan |
| Metode penanaman | Identifikasi risiko ekologis lapangan |
| Jadwal pemeliharaan | Kondisi tapak dan risiko yang teridentifikasi |
| Metode monitoring | Kondisi ekologis aktual lapangan |
Dari pemetaan di atas diketahui bahwa hampir tidak ada satu pun keputusan teknis dalam project design yang dibuat secara valid tanpa memiliki data dari feasibility study.
Baca Juga: 3 Sustainability Perusahaan Indonesia yang Patut Dijadikan Benchmark
Apa yang Terjadi Jika Project Design Tidak Berbasis Feasibility Study?
Ketika project design program penanaman disusun tanpa landasan data feasibility study, ada tiga skenario kegagalan yang paling sering terjadi di lapangan:
Skenario 1: Pemilihan tanaman tanpa analisis kesesuaian
- Tanaman dipilih berdasarkan ketersediaan atau kebiasaan, bukan berdasarkan data ekologis.
- Tidak mempertimbangkan pH tanah, kelembaban, atau mikroklimat lokasi.
- Risikonya: tingkat mortalitas tinggi dan program tidak efektif karena output yang diusahakan tidak menghasilkan input ekologis yang sesuai.
Skenario 2: Perhitungan jumlah tanaman tanpa data kerapatan aktual
- Jumlah tanaman hanya dihitung berdasarkan estimasi jarak tanam standar, tanpa memperhitungkan kondisi dan zonasi lahan aktual.
- Risikonya: distribusi tidak presisi, ada zona yang terlalu padat tanaman sehingga tanaman saling berkompetisi, ada juga yang zona yang dibiarkan kosong.
Skenario 3: Rencana pemeliharaan tanpa identifikasi risiko lapangan
- Jadwal pemeliharaan bersifat generik, tidak berbasis kondisi tapak yang spesifik
- Risikonya: pemeliharaan tidak tepat sasaran. Intervensi dilakukan di tempat yang tidak memerlukannya, sementara titik-titik kritis yang perlu perhatian justru terlewat.

Ketiga skenario ini bukan hipotesis teoritis, melainkan konsekuensi langsung dari desain program yang dibangun atas asumsi tanpa data. Standar praktik restorasi ekosistem global menekankan bahwa setiap fase program restorasi harus berbasis teknis yang terverifikasi di lapangan.
Bagaimana Kedalaman Feasibility Study Menentukan Kualitas Project Design?
Kualitas desain program berbanding lurus dengan kedalaman studi kelayakan yang menjadi fondasinya. Semakin mendalam kajian awalnya, maka akan semakin presisi perencanaan penanaman yang bisa dihasilkan.
Untuk menyesuaikan kebutuhan proyek, hasil dari feasibility study dan project design dapat disusun dalam tiga kategori report:
| Kategori | Feasibility Study | Project Design yang Dihasilkan |
| Basic | Data sekunder, desk study | Desain sederhana, 1 fungsi tanaman, estimasi jarak standar |
| Comprehensive | Survey lapangan + plot sampling | Desain berbasis spasial & ekologi aktual, 2 fungsi tanaman, disesuaikan kerapatan aktual |
| Advanced | Survey lapangan + GIS multilayer + alometrik | Desain presisi berbasis zonasi, 3 fungsi tanaman, distribusi presisi per zona |
Sebuah program dengan anggaran terbatas mungkin cukup dengan pendekatan basic. Namun, program restorasi skala besar butuh akuntabilitas tinggi perlu pendekatan advanced yang mengintegrasikan GIS multilayer dan analisis alometrik untuk benar-benar presisi.
Pilihan kategori report bukan semata soal anggaran, melainkan soal seberapa jauh program ingin bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah dan teknis.
Baca juga: SustainabiliTree: Penanaman Pohon di Lokasi Perusahaan & Program Non-Planting
Mengapa Layanan Feasibility Study dan Project Design Selalu Berjalan Beriringan
Dalam praktiknya, kedua proses ini tidak bisa dipisahkan karena secara struktural keduanya saling bergantung. Feasibility study menghasilkan data yang berpengaruh langsung menjadi input project design.
Memisahkan keduanya berarti ada gap informasi yang harus diisi dengan asumsi. Dan di lapangan ekologis, termasuk dalam konteks program pemulihan ekosistem nasional, asumsi bisa sangat mahal harganya.
Inilah mengapa pendekatan paling bertanggung jawab baik secara teknis maupun ekologis adalah mengintegrasikan feasibility study dan project design sebagai salah satu rangkaian proses yang tidak terputus. Bukan dua pekerjaan yang dikerjakan terpisah.
Tertarik mengetahui bagaimana SustainabiliTree menjalankan Feasibility Study dan Project Design secara terintegrasi? → Lihat studi kasus kami

