Wilayah
Desa Bojong, Kabupaten Garut : Sungai Cimanuk yang Harus Dilindungi dengan Pohon
Desa Bojong, Kecamatan Banjarwangi, Kabupaten Garut memiliki lahan seluas 832,80 ha. Hampir 15% wilayahnya merupakan tanah hutan. Sebagian besar hutan tersebut merupakan hutan rakyat yang dikelola oleh masyarakat sekitar. Sumber daya alam yang tersedia di hutan menjadi tumpuan warga untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Daftar Isi
Sumber Mata Air Sungai Cimanuk
Di desa ini mengalir sungai panjang yang menjadi salah satu sumber mata air Jawa Barat. Nama Sungai Cimanuk diambil dari kisah warga yang sedang berburu manuk (burung –red) tiba-tiba tenggelam dalam lumpur hisap di hulu sungai ini. Akibat adanya peristiwa tenggelamnya warga saat sedang berburu manuk (urung –red), sungai ini disebut Cimanuk.
Hulu sungai yang berupa lumpur hisap tersebut tepatnya terletak di Gunung Mandalagiri, Desa Cikandang, Kecamatan Cikajang, Kabupaten Garut. Hingga saat ini lumpur hisap itu masih ada selebar 1,5 meter. Titik lumpur itu ditutupi oleh semak belukar yang cukup rimbun.
Sungai Cimanuk mengalir melintasi Garut, Sumedang, Indramayu, Cirebon dan bermuara ke Laut Jawa. Sungai terpanjang kedua di Jawa Barat ini menyediakan 2,2 miliar m3 air per tahun. Namun, saat ini Sungai Cimanuk sedang dalam kondisi kritis. Fluktuasi debit sangat besar saat musim kemarau dan musim penghujan. Air sungai surut ketika kemarau sehingga kerap menyebabkan kekeringan. Sementara itu, kala musim hujan, air sangat melimpah hingga sering menyebabkan banjir.

Kualitas air Sungai Cimanuk kian hari juga menurun. Banyak zat-zat tercemar terkandung dalam air sungai. Mineral berbahaya seperti fosfat, klorida, besi, sulfat, sulfida sering kali ditemukan di sampel air yang diteliti. Hal ini menyebabkan konsumsi air Sungai Cimanuk dapat membahayakan kesehatan manusia.
Padahal Sungai Cimanuk merupakan sumber mata air utama khususnya bagi masyarakat Desa Bojong, Kabupaten Garut. Perhutanan rakyat sangat bergantung dengan keberadaan air Sungai Cimanuk untuk dapat berproduksi dengan baik. Masyarakat di sini mengelola pohon kopi untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Produksi kopi sangat dipengaruhi oleh ketersediaan air dari Sungai Cimanuk.
Baca juga: Dusung Tangkolak: Wisata Kapal Karam yang Turut Terancam Tenggelam (2022)
Hutan Rakyat dan Perhutani
Perhutanan kopi dikelola oleh masyarakat sekitar atas pendampingan dari pihak Perhutani setempat. Pihak Perhutani manggandeng masyarakat di Desa Bojong untuk memelihara hutan lindung di Desa Bojong dengan kegiatan kerakyatan lainnya. Hutan-hutan pinus ditanami dengan tanaman bawah berupa kopi yang hasilnya dapat dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar. Buah kopi yang dihasilkan dapat dipanen oleh warga untuk menunjang kegiatan perekonomian. Kopi Garut bahkan menjadi salah satu komoditas unggulan Indonesia.
Di sisi lain, hutan lindung tetap akan terjaga karena masyarakat tidak perlu membuka lahan untuk perkebunan kopi. Pohon-pohon pinus dapat terus tegak berdiri untuk menjaga produksi kopi. Pohon kopi memang memerlukan naungan seperti pinus agar dapat tumbuh dengan baik. Dengan demikian, masyarakat akan selalu menjaga hutan agar produksi kopi tetap tinggi.
Hutan Desa Bojong juga banyak dimanfaatkan sebagai bumi perkemahan. Perhutani bekerja sama dengan Pramuka Indonesia untuk melaksanakan berbagai kegiatan perkemahan cinta lingkungan di sini. Dengan juga melibatkan warga sekitar, kegiatan edukasi tentang pelestarian hutan diadakan untuk memperluas pengetahuan dan pemahaman masyarakat.
Banjir dan Longsor Kerap Terjadi
Meskipun potensinya sangat besar sebagai hutan rakyat, lahan Desa Bojong terancam kerusakan. Perubahan iklim telah menyebabkan Sungai Cimanuk bergejolak hingga menyebabkan banyak bencana alam. Banjir dan longsor adalah ironi yang kerap menghantui warga akhir-akhir ini.
Erosi di Desa Bojong mencapai luasan lebih dari 200 ha, terdiri dari 190 ha erosi ringan, 35 ha erosi sedang, dan 10 ha erosi berat. Erosi tersebut disebabkan oleh kikisan air hujan yang membuat tanah runtuh. Pada tahun 2018 terjadi longsong besar pertama di Desa Bojong. Kejadian tersebut menyebabkan terputusnya akses jalan menuju Kecamatan Pameungpeuk.
Di tahun 2020 longsor kembali terjadi di Kampung Arasay, Desa Bojong yang menutup jalanan menuju rumah warga. Baru-baru ini di bulan September 2022, tanah longsor yang lebih parah melanda Desa Bojong bersama beberapa desa lainnya di Kabupaten Garut, seperti Desa Sirnabakti, Desa Pamengpeuk, Desa Paas, Desa Mandalakasih, Desa Jatimulya, Desa Mancagahar, dan Desa Bojong Kidul. Peristiwa ini menerjang setidaknya 400 rumah warga dan memutus beberapa akses jalan. Bahkan terdapat korban jiwa di beberapa desa.
Banjir juga sempat menenggelamkan Desa Bojong pada Juli 2022 lalu. Sungai Cimanuk yang meluap menyebabkan air menerjang pemukiman warga. Setidaknya 20 desa lainnya di Kabupaten Garut juga mengalami kejadian serupa.
Baca juga: Kondisi Kritis Muara Cisadane: Dari Tambak Kembali ke Mangrove (2022)
Menanam Pohon untuk Kembalikan Kelestarian

Melihat kerusakan-kerusakan yang terjadi akibat perubahan iklim, LindungiHutan hadir di tengah warga Desa Bojong untuk memperbaiki hutan dan lingkungan dengan menanam pohon. Dengan menanam pohon, hutan-hutan dapat hijau kembali dan tanah dapat lebih kuat menahan erosi. Air yang berlebih juga disimpan oleh akar pohon sehingga mengurangi dampak banjir dan kekeringan. Pohon alpukat dan buah-buahan lain juga dipilih untuk ditanam di hutan sekitar Desa Bojong untuk dapat dikonsumsi oleh masyarakat sekitar.
LindungiHutan dalam hal ini menggandeng Agam Niagara, seorang warga yang sudah giat melakukan penanaman pohon sejak tahun 2015. Agam menjadi pioneer yang mengajak warga lain untuk menanam pohon di Desa Bojong. Ayo turut dukung kegiatan penanaman pohon ini dengan berdonasi dan membuat kampanye alam di www.LindungiHutan.com! Mari #BersamaMenghijaukanIndonesia!
Penulis: Alma Cantika Aristia
