Connect with us

Pendukung

Donasi Pohon Sugiyarti, Menanam Harapan di Tengah Ancaman Banjir

Published

on

donasi pohon sugiyarti

Donasi pohon Sugiyarti tidak sekadar wujud kepedulian, tetapi juga cermin dari keresahan yang nyata.

Wanita bernama lengkap Sri Sugiyarti ini tinggal di Bandarharjo, Kota Semarang, Sugiyarti menyaksikan langsung bagaimana banjir pasang laut menjadi ancaman rutin di lingkungannya.

Di sana, pohon mangrove yang seharusnya menjadi benteng alami, nyaris tidak terlihat. “Setiap banjir datang, saya sedih kenapa tidak bisa mencegahnya,” ungkapnya lirih.

Kesadaran inilah yang menuntunnya untuk mulai berdonasi pohon lewat LindungiHutan sejak Oktober 2023. Hingga April 2025, donasi pohon Sugiyarti sudah mencapai lebih dari lima kali. Baginya, ini bukan sekadar aksi sesaat, tapi bentuk tanggung jawab jangka panjang.

Donasi Pohon Sugiyarti: Dari Fandom ke Aksi Nyata

Awalnya, Sri mengenal LindungiHutan dari teman dan keluarga. Namun, yang membuatnya semakin tergerak adalah momen-momen spesial, seperti ulang tahun idola, yang ia jadikan sebagai alasan untuk berdonasi.

“Eh, tiap ulang tahun idola kita, kita donasi aja di LindungiHutan,” katanya saat mengajak teman-temannya. Donasi pohon Sugiyarti menjadi jembatan antara fandom dan aksi nyata menjaga alam.

Menariknya, Sri juga merasa senang bisa memilih langsung lokasi penanaman pohon. Baginya, itu memberikan rasa kontrol dan kepuasan tersendiri karena tahu pohonnya ditanam di tempat yang memang membutuhkan.

“Saya hanya ingin berdonasi tanam pohon saja. Semua lokasi penting dan harus ditingkatkan,” ujarnya.

Baca Juga: Cara Cek Lokasi Penghijauan di LindungiHutan

Bukti Nyata, Bukan Sekadar Janji

Kepercayaan Sugiyarti kepada LindungiHutan berakar dari transparansi dan bukti nyata yang ia lihat. Meski awalnya tertarik karena ingin mendapatkan sertifikat donasi untuk fandom, ia justru tersentuh karena merasa benar-benar dilibatkan dalam proses restorasi alam.

“Mungkin hanya di sini yang benar-benar bekerja untuk alam dan tidak ada unsur pemaksaan,” ungkapnya.

Penelitian yang dipublikasikan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyebutkan bahwa ekosistem mangrove mampu menyerap hingga lima kali lebih banyak karbon dibandingkan hutan tropis lainnya.

Di wilayah pesisir seperti Semarang, penanaman mangrove terbukti efektif dalam mengurangi dampak abrasi dan banjir rob.

Donasi Pohon Sugiyarti untuk Masa Depan yang Lebih Hijau

Setiap donasi pohon Sugiyarti adalah langkah kecil menuju masa depan yang lebih baik. Dengan perasaan tenang dan senang, ia berharap hutan Indonesia bisa tetap lestari, bebas dari penggundulan dan kebakaran, serta oksigen tetap terjaga untuk anak cucu nanti.

Sebagai seorang ibu, Sugiyarti pun kerap bercerita kepada anak-anaknya tentang pentingnya menjaga alam. Baginya, edukasi tentang lingkungan harus dimulai dari keluarga.

“Saya ingin anak-anak saya tumbuh dengan rasa cinta dan tanggung jawab terhadap bumi,” tuturnya.

Setiap kali mereka bersama-sama melihat pohon mangrove yang mulai tumbuh di pesisir Semarang, Sri merasa ada secercah harapan bahwa masa depan bisa lebih hijau jika setiap generasi diajarkan untuk peduli.

Tak hanya itu, Sri juga aktif mengajak komunitas kecil di lingkungannya untuk ikut berdonasi. Ia kerap membagikan informasi tentang donasi pohon Sugiyarti di grup WhatsApp warga.

“Banyak yang awalnya ragu, tapi setelah saya jelaskan prosesnya, makin banyak yang tertarik. Setiap pohon yang kita tanam adalah investasi untuk masa depan,” ujarnya penuh semangat.

Ia juga memberi saran agar proses penanaman lebih fleksibel. “Jumlah penanamannya perlu dikurangi. Kalau harus nunggu sampai 1000 pohon baru ditanam, rasanya kurang efektif. Terutama di lokasi yang sering banjir, penanaman sebaiknya bisa lebih cepat,” pungkasnya.

Baca Juga: Donasi Pohon Alicia, Sebuah Bentuk Cinta untuk Bumi

Ketika Satu Aksi Menyebar Harapan

Donasi pohon Sugiyarti menjadi semakin signifikan di tengah fakta keberadaan mangrove Indonesia yang kian terancam.

Penelitian Arifanti et al. (2021) menemukan bahwa antara 2009–2019, sekitar 182.091 hektar mangrove hilang, yang setara dengan rata-rata lebih dari 18.200 ha per tahun.

Hal ini terutama terjadi akibat alih fungsi lahan menuju tambak, pertanian, dan pembangunan infrastruktur.

Data tersebut juga menunjukkan bahwa pelepasan emisi akibat deforestasi mangrove mencapai 182,6 megaton CO₂ ekuivalen selama dekade itu, atau sekitar 18,26 MtCO₂e per tahun.

Artinya, hutan mangrove menghasilkan emisi sebesar sekitar 8% dari total emisi deforestasi nasional meskipun luasnya hanya 2,6% dari keseluruhan hutan Indonesia .

donasi pohon sugiarti fandom semarang

Dengan fakta tersebut jelas terlihat bahwa rusaknya mangrove tak hanya mengancam ekosistem pesisir dan keberlangsungan ribuan spesies, tetapi juga memperburuk krisis iklim global.

Dalam konteks ini, donasi pohon Sri Sugiyarti bukan sekadar menanam bibit, tetapi menjadi bagian dari solusi nyata untuk restorasi mangrove, yang berperan menahan gelombang, menyerap karbon, dan menjaga kestabilan iklim lokal dan global.

Jika dihimpun bersama ribuan aksi serupa, kita bisa menahan alih fungsi lahan kritis, melestarikan ekosistem pesisir, dan menurunkan emisi karbon dari salah satu sumber terbesar.

Dengan menanam mangrove, kita turut menjaga rumah bagi banyak makhluk serta warisan bagi anak cucu ke depan.

“Kita nggak harus nunggu jadi orang besar atau punya banyak uang dulu. Dengan donasi sekecil Rp20.000 saja, kita sudah bisa membantu menanam satu pohon,” tutupnya.

Donasi pohon Sri Sugiyarti adalah bukti bahwa aksi kecil bisa menyebarkan harapan besar. Lewat semangatnya, ia tidak hanya menjaga bumi, tetapi juga menginspirasi banyak orang untuk melakukan hal yang sama. Bukan dengan paksaan, tapi lewat kepedulian dan ketulusan.

Dengan klik sederhana, Sri menanam perubahan. Bukan hanya pohon, tapi juga masa depan yang lebih hijau.

Tanam Harapan, Donasi Pohon Mulai 20 Ribu di LindungiHutan

Donasi Sekarang!
Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *