Connect with us

Mitra Hijau

Testimoni CEO Dus Duk Duk Menanam Pohon dengan LindungiHutan

Published

on

ceo dus duk duk arif susanto lindungihutan

“Momentum itu kalau diingat, saya masih sering merinding,” ujar Arief Susanto, CEO sekaligus Founder Dus Duk Duk, mengenang momen penanaman mangrove di Belitung Timur dari pengumpulan donasi pohon di tahun 2024 untuk penanaman di 2025.

Ia bercerita dengan nada hangat, tentang bagaimana warga menyambut kedatangannya beserta tim dengan senyum tulus. Penanaman diikuti juga dari mahasiswa KKN dari berbagai daerah, dan bagaimana laut biru Belitung menjadi saksi kesungguhan mereka.

“Yang paling menyentuh adalah ketika masyarakat datang langsung menyampaikan terima kasih. Rasanya luar biasa, ternyata langkah kecil kami benar-benar bermakna,” tuturnya.

Hari itu, 21 Agustus, bertepatan dengan Hari Mangrove Sedunia, menjadi titik refleksi penting bagi Dus Duk Duk. 

“Entah kenapa, sejak itu saya merasa punya ikatan batin dengan Belitung Timur. Kami ingin terus menanam, bukan hanya pohon, tapi juga harapan untuk masa depan yang lebih hijau,” tambah Arief.

pt kreasi karya raya dus duk duk

Dari “Kardus untuk Duduk” Menuju Gerakan Ramah Lingkungan

Nama Dus Duk Duk terdengar unik, bahkan sedikit jenaka. Namun, di balik nama itu tersimpan filosofi sederhana yang sarat makna.

“Awalnya kami belum fokus di dekorasi event. Produk pertama kami justru kursi berbahan kardus daur ulang. Dari situ muncul nama Dus Duk Duk, yang berarti kardus untuk duduk.” kenang Arief Susanto.

Tahun itu 2013, Arief masih kuliah semester tiga di ITS jurusan Desain Produk. Sambil menimba ilmu, ia mulai merintis usaha kecil yang memanfaatkan kardus bekas menjadi furnitur. Selama dua tahun, lini furnitur itu menjadi fokus utama perusahaan.

Hingga suatu hari di tahun 2015, kesempatan baru datang, proyek dekorasi butik Luna Maya Hardware, dengan brand ambassador Luna Maya sendiri. 

“Dari situ, kami melihat peluang lain di luar furnitur. Ternyata, banyak sekali event yang butuh dekorasi kreatif, tapi masih menggunakan material yang sulit didaur ulang,” cerita Arief.

Sejak saat itu, arah Dus Duk Duk pun bergeser. Mereka mulai bereksperimen menciptakan dekorasi event berbahan kardus daur ulang 100%, yang tidak hanya estetis, tapi juga ramah lingkungan dan ekonomis.

Namun, 12 tahun kemudian, di 2025, Arief dan tim kembali ke awal perjalanan, yakni konsep awal yang melahirkan Dus Duk Duk. “Tahun ini kami menghadirkan lagi lini furnitur dengan nama Paperoom,” katanya. 

“Kami ingin membawa semangat awal kami kembali, bedanya, sekarang teknologi dan desainnya jauh lebih matang.”

Uniknya, setiap sambungan pada furnitur Paperoom kini menggunakan kardus daur ulang sebagai material penyambung antarbagian.

“Jadi filosofi ‘kardus untuk duduk’ itu benar-benar kembali hidup,” tambahnya sambil tersenyum.

Dari kursi sederhana yang dulu dibuat di ruang kos, Dus Duk Duk kini telah menjelma menjadi perusahaan industri kreatif yang menaungi empat brand utama:

  • Dus Duk Duk – dekorasi event berbasis kardus,
  • TOTOYS – mainan edukatif anak-anak,
  • Paperoom – furnitur kreatif untuk rumah, dan
  • Packimpact – solusi packaging ramah lingkungan.

Dus Duk Duk tidak sekadar menciptakan produk, tetapi juga menanamkan tanggung jawab terhadap siklus hidup materialnya. Kardus bekas tidak dibuang begitu saja, melainkan dikembalikan dan didaur ulang menjadi produk baru.

Hingga saat ini, produk dari brand Dus Duk Duk sangat beragam, mulai dari pin, coaster, hingga notebook. Proses ini melibatkan kelompok ibu-ibu di Karanganyar, Solo, sebagai bentuk pemberdayaan masyarakat lokal.

Baca Juga: 1.278 Pohon Mangrove Kolaborasi Kedua Dus Duk Duk di Kabupaten Belitung Timur

Sustainability Bukan Tren, Tapi Prinsip Hidup

“Sejak awal berdiri, nilai utama kami adalah ramah lingkungan. Istilah sustainability mungkin baru populer belakangan, tapi buat kami, ini sudah jadi DNA perusahaan,” ujar Arief.

Latar belakangnya di dunia desain membuat Arief Susanto percaya bahwa estetika tidak boleh lepas dari tanggung jawab sosial dan lingkungan.

Bagi Dus Duk Duk, setiap karya harus bisa “dipertanggungjawabkan setelah event selesai”, baik dari segi efisiensi material, pengelolaan limbah, hingga kontribusi sosial.

Dari sinilah muncul program kolaborasi penanaman pohon bersama LindungiHutan, yang telah berjalan sejak 2023 dan kini memasuki tahun ketiga.

“Benang merahnya sederhana. Kardus itu berawal dari kertas, dan kertas dari pohon. Maka sudah seharusnya kami mengembalikan apa yang kami gunakan kepada Bumi,” jelas Arief.

Kenapa Mangrove, dan Kenapa LindungiHutan?

Menurut Arief, Indonesia adalah negara maritim yang lebih dari separuh wilayahnya berupa laut. Maka, menanam mangrove menjadi langkah paling relevan dan berdampak besar bagi ekosistem pesisir.

“Bagi kami, ini bukan sekadar CSR, tapi refleksi. Kami ingin Dus Duk Duk menjadi perusahaan yang menghasilkan karya keren, tapi juga punya kontribusi nyata,” ujarnya.

Arief bercerita bahwa Ia sudah lebih dulu mengenal LindungiHutan melalui media sosial. Ia cukup lama mengikuti sosial media LindungiHutan.

Ketika mencari mitra yang bisa dipercaya menjalankan program lingkungan, khusus penanaman pohon, maka ia tidak ragu memilih LindungiHutan.

arif susanto dus duk duk lindungihutan

“Waktu kami mulai, tidak ada pilihan lain. Dari komunikasi, transparansi laporan, sampai keberlanjutan program, LindungiHutan selalu konsisten. Jadi kami memilih mereka bukan karena viral, tapi karena sudah kami amati sejak lama,” ungkapnya.

Kolaborasi itu kini menjadi pilar penting Dus Duk Duk. Setiap proyek dekorasi event yang mereka kerjakan akan diikuti dengan penanaman pohon, memastikan setiap karya kreatif mereka turut menumbuhkan kehidupan baru bagi Bumi.

Menyuarakan Alam Lewat Kolaborasi Penanaman Pohon

Tidak berhenti di sana, Dus Duk Duk juga membangun platform bernama Bangga Membumi. Platform ini merupakan ruang untuk menyuarakan dan menggerakkan aksi lingkungan lintas sektor.

Melalui platform tersebut, Dus Duk Duk menggagas berbagai program seperti penanaman mangrove, adopsi pohon, edukasi lingkungan, hingga pelestarian penyu.

“Dan Bangga Membumi adalah jembatannya. Bagi kami, sustainability tidak bisa berdiri sendiri. Ia hanya bisa tumbuh lewat kolaborasi,” kata Arief.

Prinsip People, Planet, Prosperity

Arief percaya bahwa bisnis hanya bisa bertahan jika berpijak pada tiga pilar, yaitu People, Planet, dan Prosperity.

“Kalau salah satunya hilang, bisnis tidak akan seimbang. Tanpa people, siapa yang menjalankan? Tanpa profit, siapa yang bertahan? Dan tanpa menjaga planet, kita tidak punya apa-apa lagi untuk dikelola,” ujarnya.

Pandangan ini menjadikan Dus Duk Duk bukan hanya dikenal karena inovasi desainnya, tapi juga karena integritas lingkungannya. Banyak klien kini datang justru karena mereka ingin menjadi bagian dari perjalanan berkelanjutan Dus Duk Duk.

Dari Belitung, Tumbuh Harapan untuk Indonesia

Bagi Arief Susanto, pengalaman di Belitung Timur bukan hanya tentang menanam pohon, tapi juga menanam kesadaran.

“Besar kecilnya perusahaan tidak penting. Kalau niat kita tulus untuk memberi dampak positif, orang akan merasakannya,” ujarnya lembut.

Ia menyebut Belitung Timur sebagai tempat dengan semangat gotong royong yang tinggi, meski tengah berjuang lepas dari ketergantungan pada tambang. 

pt kreasi karya raya dus duk duk

“Mereka mulai beralih ke peternakan, perikanan, dan edukasi lingkungan. Itu luar biasa,” katanya.

Dari sana, Arief yakin bahwa kontribusi sekecil apa pun akan menemukan resonansinya, terutama jika dilakukan dengan tulus.

Baca Juga: Cerita Kolaborasi Penanaman Mangrove Dus Duk Duk dengan LindungiHutan

Menjaga Amanah Alam Indonesia

Menutup pembicaraan, Arief menyampaikan keyakinannya bahwa Indonesia, dengan kekayaan hayati yang luar biasa, memiliki tanggung jawab spiritual untuk menjaga alam.

“Kalau dulu kita disebut paru-paru dunia, itu bukan tanpa alasan. Tuhan menitipkan kekayaan alam ini kepada kita. Maka tugas kita adalah menjaganya,” ujarnya.

Bagi Dus Duk Duk, menjaga Bumi bukan sekadar misi perusahaan, tapi bentuk penghambaan dan rasa syukur terhadap karunia Tuhan.

“Apapun yang kami lakukan, dari kardus daur ulang hingga penanaman mangrove, semua berawal dari satu hal, yakni cinta pada Bumi.”

Dari kursi kardus sederhana hingga gerakan menanam ribuan mangrove, Dus Duk Duk telah membuktikan bahwa inovasi dan kepedulian bisa berjalan seiring.

Melalui kreativitas, kolaborasi, dan nilai-nilai keberlanjutan, mereka menunjukkan bahwa bisnis yang baik bukan hanya menghasilkan keuntungan, tetapi juga menumbuhkan kehidupan.

Seperti kata Arief Susanto, “Kami mungkin bukan perusahaan besar, tapi kami percaya kalau niatnya tulus, dampaknya akan selalu besar.”

Sebagai CEO dan pendiri Dus Duk Duk, Arief berhasil menempatkan kreativitas berkelanjutan sebagai inti dari setiap inovasi yang lahir dari perusahaannya.

Atas kiprahnya dalam mengembangkan desain ramah lingkungan dan memajukan industri kreatif berbasis daur ulang, Arief Susanto terpilih sebagai salah satu penerima penghargaan Forbes Indonesia 30 Under 30 tahun 2020, kategori Creative & Social Entrepreneurship.

ceo dus duk duk testimoni lindungihutan belitung timur

Penghargaan itu bukan sekadar pengakuan atas prestasi pribadi, tapi juga simbol bahwa bisnis yang berpihak pada lingkungan dapat berjalan seiring dengan kreativitas dan keberlanjutan.

Dus Duk Duk & CollaboraTree

Pada akhirnya, kisah Dus Duk Duk tidak berhenti pada inovasi material kardus daur ulang, atau hanya visual dekorasi yang menarik. Lebih dari itu, ada semangat untuk menjalin aksi nyata bersama masyarakat dan lingkungan. 

Usai sukses menggelar aksi penanaman pohon di Belitung Timur, Dus Duk Duk kembali meneruskan langkah hijaunya dengan mengadakan kegiatan penanaman di Pulau Pari, Kabupaten Kepulauan Seribu, yang dijadwalkan berlangsung pada 31 Desember 2025.

Hingga kini, telah terkumpul 284 pohon mangrove Rhizophora dari total target 500 pohon.
Anda juga dapat turut berpartisipasi dalam upaya pelestarian ekosistem pesisir dengan berdonasi melalui tautan berikut:

Salah satu jalur konkret yang mereka pilih adalah melalui program CollaboraTree dari LindungiHutan. Program CollaboraTree memungkinkan brand atau perusahaan untuk berkontribusi dalam konservasi lingkungan dengan tiga skema utama.

Tiga skema CollaboraTree di antaranya product bundling (setiap produk terjual berarti satu pohon tertanam), service bundling (layanan tertentu disertai dukungan penanaman pohon), dan project partner (kerjasama kampanye konservasi lingkungan jangka panjang). 

Bagi Dus Duk Duk, kolaborasi ini menjadi wujud nyata dari komitmen mereka terhadap keberlanjutan, bukan hanya pada penggunaan kardus daur ulang, tetapi juga pada pemulihan ekosistem pesisir yang mereka anggap penting. 

Arief Susanto menyebut bahwa ketika dekorasi selesai, dan acara berlalu, tanggung jawab mereka tidak berhenti. Mereka ingin ada jejak yang tetap, dan melalui CollaboraTree, jejak itu berupa ribuan pohon mangrove yang ditanam bersama masyarakat.

Dengan skema CollaboraTree, Dus Duk Duk tidak hanya “menggunakan bahan ramah lingkungan”, tetapi juga “mengembalikan sesuatu kepada alam”, yakni melalui penanaman pohon yang dapat diamati, dilaporkan, dan dirasakan dampaknya oleh masyarakat setempat maupun klien mereka. 

Lebih dari itu, langkah ini memperkuat cerita perjalanan Dus Duk Duk, dari kursi kardus di ruang kuliah, hingga instalasi besar di event-event, dan akhirnya hingga lubuk pesisir Belitung dimana masyarakat menyambut dengan tulus. 

Kolaborasi ini menjembatani kreativitas dan kepedulian menjadi bukti bahwa sebuah perusahaan kecil pun bisa memiliki “ruang besar” untuk perubahan.

“Bagi saya, besar kecilnya perusahaan tidak penting, kalau niat kita tulus untuk memberikan dampak positif bagi lingkungan, orang lain akan merasakannya dengan tulus juga,” kata Arief.

Melalui kolaborasi CollaboraTree, Dus Duk Duk mewujudkan niat itu menjadi aksi konkret. Harapannya, kiat-kiat seperti ini bukan hanya langkah satu-dua tahun, tetapi bagian dari “normal baru” bagi brand dan perusahaan yang ingin berdiri di persimpangan antara kreatif dan peduli.

LindungiHutan Menanam Lebih dari 1.1 JUTA Pohon di 30+ Lokasi Penanaman Bersama 600+ Brand dan Perusahaan

Apa yang Kami Lakukan?
Butuh Info Lebih Lanjut?
Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *