Wilayah
Profil Wilayah Penanaman Hutan Mangrove Wonorejo, Surabaya
Wonorejo, Surabaya Timur, bukan hanya tentang laut dan tambak. Kawasan ini juga menjadi rumah singgah bagi burung-burung migran yang melintasi jalur East Asian–Australasian Flyway, menjadikannya salah satu titik penting bagi keanekaragaman hayati pesisir Indonesia.
Di balik hiruk-pikuk kota metropolitan yang padat dan modern, tersimpan kawasan hijau yang menjadi benteng terakhir ekosistem pesisir Surabaya.
Sejak kolaborasi dengan LindungiHutan dimulai pada 2021, upaya rehabilitasi mangrove di Wonorejo terus memperlihatkan hasil nyata bagi lingkungan dan satwa yang bergantung padanya.
Namun, kerusakan ekosistem mangrove akibat konversi lahan dan pencemaran mengancam fungsi vital tersebut. Sejak 2008, masyarakat setempat berjuang melakukan rehabilitasi mangrove secara swadaya.
Kini, bersama LindungiHutan, mereka berupaya memulihkan kembali kawasan pesisir yang berperan penting bagi ketahanan ekologis dan ekonomi warga.
Daftar Isi
Hutan Mangrove Wonorejo Surabaya
Hutan Mangrove Wonorejo merupakan salah satu kawasan konservasi pesisir terpenting di Kota Surabaya, Jawa Timur. Terletak di wilayah timur Surabaya, tepatnya di Kecamatan Rungkut.
Kawasan ini lebih dikenal masyarakat sebagai Ekowisata Mangrove Wonorejo, sebuah destinasi wisata alam yang menggabungkan keindahan hutan bakau dengan kegiatan edukasi dan konservasi lingkungan.

Hutan mangrove Wonorejo merupakan kawasan yang berfungsi sebagai sabuk hijau (green belt) yang melindungi kota dari abrasi dan intrusi air laut, sekaligus menjadi rumah bagi beragam flora dan fauna khas ekosistem mangrove.
Awal mula kawasan ini dikembangkan sebagai area konservasi terjadi pada tahun 2000-an, seiring meningkatnya kesadaran Pemerintah Kota Surabaya terhadap pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem pesisir.
Kini, kawasan seluas sekitar 200 hektar ini menjadi paru-paru hijau kota sekaligus destinasi wisata edukatif berbasis ekowisata mangrove.
Dengan vegetasi utama, seperti Rhizophora mucronata, Avicennia marina, dan Sonneratia alba, kawasan ini menyediakan habitat alami bagi burung air, ikan, kepiting bakau, dan berbagai biota laut lainnya yang penting bagi keseimbangan ekosistem pesisir.
Baca Juga: Berkunjung ke Ekowisata Mangrove Wonorejo Surabaya
Mengenal Kelurahan Wonorejo, Surabaya
Wonorejo bukan hanya dikenal sebagai kawasan konservasi mangrove, tetapi juga sebagai desa Ekowisata Mangrove Wonorejo yang berfungsi sebagai penyangga pesisir.
Dulunya, wilayah ini sering mengalami abrasi dan erosi akibat gelombang laut, sehingga kehilangan sebagian lahan pesisirnya.
Kehadiran mangrove kini berperan penting dalam menjaga keberlanjutan ekosistem pesisir sekaligus melindungi desa dan aktivitas ekonomi warga dari ancaman alam.
Masyarakat setempat, yang sebagian besar berprofesi sebagai nelayan dan petani tambak, kini mulai beradaptasi dengan konsep ekowisata berbasis masyarakat (community-based ecotourism).
Melalui sinergi antara warga, pemerintah kota, dan berbagai lembaga lingkungan, masyarakat Wonorejo berupaya menjadikan kelestarian mangrove sebagai sumber ekonomi baru tanpa merusak alam.

Sementara itu, wisatawan yang berkunjung dapat menikmati tracking mangrove sejauh hampir dua kilometer melalui jembatan kayu yang menembus hutan, hingga tiba di dermaga kecil untuk berperahu menuju muara.
Jalur tracking ini memberikan kesempatan untuk menikmati pemandangan alam, mendengarkan kicauan burung, dan mengamati berbagai spesies flora dan fauna yang ada di kawasan tersebut.
“Dulu kami menganggap mangrove hanya pohon biasa, tapi sekarang kami tahu kalau ini yang menyelamatkan kampung dari abrasi. Kalau mangrove rusak, tambak dan rumah bisa hilang,”
– David, salah satu warga dan Mitra Petani LindungiHutan Wonorejo.
Selain itu, kelompok-kelompok masyarakat sekitar Hutan Mangrove Wonorejo, seperti Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Wonorejo dan Kelompok Tani Mangrove (KTM) aktif melakukan pembibitan.

Mereka juga aktif melakukan penanaman mangrove untuk memperluas area hijau serta meningkatkan kesadaran lingkungan di kalangan anak muda dan pengunjung.
Upaya Penanaman Pohon di Hutan Mangrove Wonorejo
Kegiatan penanaman pohon di Wonorejo tidak hanya bertujuan menghijaukan kawasan, tetapi juga untuk memperkuat struktur tanah dan mencegah abrasi pesisir.
Jenis pohon yang ditanam umumnya adalah bakau (Rhizophora sp.), api-api (Avicennia sp.), dan tancang (Bruguiera sp.), ketiganya berperan penting dalam menahan gelombang laut dan menyediakan tempat bertelur bagi ikan serta udang.
“Awalnya kami bergerak tanpa dana APBD, hanya atas dasar kepedulian dari masyarakat. Tantangan terbesar ya pendanaan. Kehadiran LindungiHutan membantu membuka akses,” ujar Ahmad David (37), pegiat lingkungan dan mitra petani mangrove Wonorejo, Jumat (26/8).
David menjadi saksi bagaimana semangat gotong royong warga perlahan menghidupkan kembali lahan pesisir yang dulu gersang dan tergerus air laut.
Sejak kolaborasi dengan LindungiHutan dimulai pada 2021, lebih dari seribu bibit mangrove ditanam di area yang sebelumnya rusak parah.
Dampaknya terasa nyata. Abrasi berkurang, kualitas udara meningkat, dan keanekaragaman hayati mulai pulih. Bahkan, burung migran Great Egret (Ardea alba), yang melintasi jalur migrasi Asia Timur hingga Australia, kini kembali terlihat di kawasan tersebut.
“Great Egret datang karena ada makanan yang cukup. Akar mangrove jadi tempat ikan dan udang berkembang biak, dan itu menarik burung pemangsa seperti egret. Artinya rantai makanan kita sudah mulai pulih,” kata David.
Selain Great Egret, kawasan ini juga menjadi bagian dari jalur migrasi burung air internasional East Asian–Australasian Flyway (EAAF), yang membentang dari Rusia Timur hingga Selandia Baru.
Setiap tahunnya, ratusan ribu burung bermigrasi melewati jalur ini untuk mencari makan dan tempat beristirahat, dan Wonorejo menjadi salah satu titik penting di Indonesia.
Karena itu, keberhasilan rehabilitasi mangrove di kawasan ini tidak hanya berdampak bagi Surabaya, tetapi juga bagi konservasi keanekaragaman hayati global.
“Kami menanam bukan hanya untuk wisata, tapi untuk masa depan anak cucu. Kalau mangrove kuat, kampung aman, ikan banyak,” ujar Nurul, salah satu anggota kelompok wanita tani pesisir yang turut aktif dalam program penanaman.
Program penanaman ini juga mendapat dukungan dari berbagai komunitas dan perusahaan melalui inisiatif kolaboratif seperti LindungiHutan, yang hingga kini telah menanam lebih dari 1,1 juta pohon di 30+ lokasi penanaman di Indonesia, termasuk di kawasan mangrove Wonorejo.

Baca Juga: PT Hino Finance Indonesia Tanam 2.511 Mangrove di Pesisir Wonorejo, Surabaya
Melalui penanaman ini, manfaat yang dihasilkan tidak hanya dirasakan oleh lingkungan, tetapi juga oleh masyarakat sekitar.
Mangrove memberikan perlindungan alami terhadap bencana, meningkatkan hasil tangkapan nelayan, dan mendorong potensi wisata berkelanjutan di Surabaya Timur.
Hingga kini per Oktober 2025, kegiatan rehabilitasi di kawasan ini telah mencapai 33 total kampanye, melibatkan 755 orang yang aktif menanam dan merawat bibit, dengan jumlah pohon yang berhasil tertanam mencapai 30.699 pohon.
Dari kegiatan ini, diperkirakan total karbon yang terserap sebesar 9,7 kgCO₂eq, menjadikan Ekowisata Mangrove Wonorejo tidak hanya berperan sebagai paru-paru kota tetapi juga sebagai penyerap karbon yang signifikan.
Kini, Hutan Mangrove Wonorejo menjadi ikon konservasi Surabaya, kota besar yang tetap mampu menjaga harmoni antara pembangunan dan pelestarian alam.
Pemerintah, komunitas, dan masyarakat lokal berkolaborasi untuk memastikan kawasan ini tetap lestari dan bermanfaat bagi generasi mendatang.
Kegiatan edukasi lingkungan, penanaman pohon, dan wisata konservasi yang dikenal sebagai Ekowisata Mangrove Wonorejo menjadi bagian dari semangat bersama untuk menghijaukan pesisir dan menjaga ekosistem laut dari ancaman perubahan iklim.
