Green Skilling
Membangun Real Impact: Belajar dari Pendopo Indonesia dan LindungiHutan
Dunia bisnis kini bergerak ke arah baru. Konsumen tak lagi hanya membeli produk, tetapi juga nilai di baliknya. Investor dan mitra pun menilai perusahaan bukan dari seberapa besar laba yang dihasilkan, melainkan seberapa nyata dampak sosial dan lingkungannya.
Inilah yang dibahas dalam Green Skilling Vol. 24, sebuah forum edukasi keberlanjutan yang diinisiasi oleh LindungiHutan dengan tema “Real Impact as a Business Strategy: Empowering Brands to Leverage Its Values and Influence Markets.”
Acara ini menghadirkan dua pelaku bisnis inspiratif yakni Pendopo Indonesia dan LindungiHutan yang membuktikan bahwa strategi bisnis bisa berjalan seiring dengan keberlanjutan dan nilai kemanusiaan.
Daftar Isi
- Apa Itu Real Impact dalam Strategi Bisnis?
- Pendopo Indonesia: Ragam Budaya dan Kolaborasi untuk Dampak Nyata
- LindungiHutan: Teknologi dan Kolaborasi untuk Reforestasi
- Kolaborasi sebagai Inti Real Impact Strategy
- Menuju Bisnis yang Berdampak Nyata
- LindungiHutan Menanam Lebih dari 1.2 JUTA Pohon di 30+ Lokasi Penanaman Bersama 600+ Brand dan Perusahaan
Apa Itu Real Impact dalam Strategi Bisnis?
Real impact berarti dampak nyata yang terukur, berkelanjutan, dan dirasakan oleh masyarakat serta lingkungan. Bukan sekadar kampanye hijau atau CSR sesaat, tetapi strategi bisnis yang menempatkan keberlanjutan sebagai fondasi utama.
Dalam diskusi Green Skilling Vol. 24, moderator membuka sesi dengan kalimat kunci:
“Real impact isn’t about doing more, but about doing what matters.”
Artinya, bisnis berkelanjutan bukan hanya soal berbuat banyak, tapi berbuat yang bermakna dan membangun sistem yang menguntungkan manusia dan alam secara bersamaan.
Pendopo Indonesia: Ragam Budaya dan Kolaborasi untuk Dampak Nyata
Sesi pertama menghadirkan Putu Laura (Kak Ola) dari Pendopo Indonesia, sebuah brand retail di bawah naungan AZKO (Kawan Lama Group) yang mengusung semangat “Culture in Motion.”

“Pendopo ini sebenarnya bukan sekadar brand, tapi wadah bagi ratusan UMKM untuk tumbuh bersama,” ujar Kak Ola.
“Kami sekarang sudah memiliki lebih dari 300 UMKM dengan 12.000 produk yang dikurasi dari berbagai budaya Nusantara.”
Pendopo berdiri sebagai agregator UMKM dengan empat kategori produk: fashion,craft, kuliner, dan BNL (Beauty & Lifestyle).

Dengan slogan “Ragam Satu Negeri,” Pendopo berupaya menjadi jembatan bagi para perajin dari Sabang hingga Merauke untuk memperkenalkan karya mereka secara nasional.

“Kami ingin membangun bisnis yang menumbuhkan kolaborasi, bukan sekadar transaksi,” jelasnya. “Budaya hanya bisa hidup kalau kita bekerjasama.”
Pendopo tidak hanya menjadi etalase budaya, tetapi juga fasilitator pemberdayaan. Setiap tahun, mereka mengadakan pelatihan dan pembinaan selama satu tahun penuh bagi UMKM binaan.

Produk hasil pelatihan bahkan dipamerkan dalam berbagai fashion show bergengsi, bekerja sama dengan desainer ternama.
“Jangan hanya membangun bisnis, tapi ciptakan kolaborasi yang memperbanyak dampak— Don’t just a build business, create collaborations that multiply impact.” tutup Putu Laura (Kak Ola- Head of Pendopo Indonesia.
Dengan semangat itu, Pendopo membuktikan bahwa warisan budaya bisa menjadi kekuatan ekonomi baru tanpa kehilangan jati diri lokalnya.
Baca Juga: Download Ebook Program CSR Sektor Ritel
LindungiHutan: Teknologi dan Kolaborasi untuk Reforestasi
Setelah sesi Pendopo, giliran Miftachur “Ben” Robani (Mas Ben) sebagai CEO LindungiHutan berbagi kisah tentang bagaimana teknologi dapat memperluas dampak konservasi lingkungan.

“Kami adalah platform reforestasi digital yang berdiri sejak 2016,” jelasnya.
“Fokus kami adalah menghubungkan masyarakat dengan komunitas hutan yang menjaga bumi lewat aksi konservasi berkelanjutan.”

Sejak berdiri, LindungiHutan telah menanam lebih dari 1,2 juta pohon di 30+ lokasi di Indonesia. Mereka berkolaborasi dengan 600+brand dan 120+ petani mitra, yang melakukan penanaman, perawatan, serta pelaporan kondisi pohon secara berkala.

Mas Ben menambahkan:
“Menanam pohon bukan cuma soal konservasi. Kami ingin menanam relevansi dan kolaborasi.”
Melalui dua program unggulannya yaitu CorporaTree (CSR dan employee engagement untuk perusahaan) dan CollaboraTree (kerja sama brand–UMKM) — LindungiHutan membangun model bisnis yang berdampak dan transparan.

“Kami percaya, kalau masyarakat hutan terlindungi, kita semua ikut terselamatkan,” lanjutnya.
Dengan sistem digital di situs lindungihutan.com, setiap donatur dapat memantau perkembangan pohon: tinggi, diameter, tingkat hidup, hingga estimasi serapan karbon.
Model ini menjadikan LindungiHutan bukan sekadar lembaga konservasi, tetapi ekosistem digital untuk keberlanjutan.
Kolaborasi sebagai Inti Real Impact Strategy
Dari dua narasumber ini, satu benang merah mengemuka: kolaborasi adalah inti dari real impact.
Pendopo membangun kolaborasi antar-manusia melalui budaya dan ekonomi kreatif. LindungiHutan membangun kolaborasi antar-sektor melalui teknologi dan konservasi.
“Pendopo dan LindungiHutan sama-sama terbuka untuk kolaborasi,” ujar moderator Green Skilling, Kak Dara.
“Keduanya menunjukkan bahwa real impact bukan cuma tentang branding hijau, tapi keberanian membangun nilai dan komunitas.”
Kedua brand ini juga menegaskan bahwa keberlanjutan bukan tambahan strategi bisnis melainkan bagian dari DNA perusahaan.
Menuju Bisnis yang Berdampak Nyata
Krisis lingkungan dan sosial kini menjadi panggilan bagi semua pelaku bisnis untuk bertindak. Di tengah tren global menuju value-driven business, perusahaan yang ingin bertahan harus berani menempatkan impact sebagai strategi inti.
Langkah awalnya bisa dimulai dari hal sederhana:
- Mengukur dan melaporkan dampak sosial-lingkungan secara transparan.
- Menggandeng komunitas dan mitra lokal dalam rantai pasok.
- Mengintegrasikan nilai keberlanjutan dalam setiap keputusan bisnis.
- Berkolaborasi dengan platform keberlanjutan seperti LindungiHutan.
Program Green Skilling sendiri menjadi ruang belajar lintas sektor — tempat para profesional, pelaku usaha, dan komunitas saling berbagi praktik terbaik menuju bisnis berkelanjutan.
Karena pada akhirnya, real impact bukan tentang seberapa banyak Anda lakukan, tapi seberapa besar dampak yang Anda tinggalkan. 🌱
Penulis: Lintang Pramudito
