Connect with us

Lingkungan

Kenapa Indonesia Rentan terhadap El Nino dan La Nina? Ini Penjelasannya

Published

on

el nino dan la nina_11zon

LindungiHutan Insight

  • El Nino dan La Nina merupakan fenomena iklim di Samudra Pasifik yang memengaruhi pola curah hujan dan kondisi cuaca di Indonesia.
  • El Nino umumnya menyebabkan musim kemarau lebih panjang, sedangkan La Nina meningkatkan curah hujan dan risiko bencana hidrometeorologi.
  • Dampak kedua fenomena ini dapat dikurangi melalui pengelolaan lingkungan yang baik, termasuk menjaga kelestarian hutan dan meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat.

Musim kemarau di Indonesia tidak selalu berlangsung dengan pola yang sama setiap tahun. Perubahan pola cuaca tersebut sering kali berkaitan dengan dua fenomena iklim, yaitu El Nino dan La Nina.

Indonesia termasuk salah satu negara yang paling terdampak oleh kedua fenomena tersebut. Letaknya yang berada di kawasan khatulistiwa dan diapit oleh Samudra Pasifik serta Samudra Hindia membuat perubahan kondisi laut dan atmosfer di Pasifik dapat memengaruhi cuaca di Indonesia secara langsung.

Apa Itu El Nino dan La Nina?

El Nino dan La Nina merupakan fenomena iklim yang terjadi di Samudra Pasifik tropis dan memengaruhi pola cuaca di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. 

Keduanya merupakan bagian dari siklus iklim yang dikenal sebagai El Nino-Southern Oscillation (ENSO).

Istilah El Nino berasal dari bahasa Spanyol yang berarti “anak laki-laki”. Nama ini pertama kali digunakan oleh nelayan di Peru untuk menggambarkan kemunculan arus laut hangat yang biasanya terjadi menjelang Natal. 

Sementara itu, La Nina yang berarti “anak perempuan” digunakan untuk menyebut fenomena dengan karakteristik yang berlawanan.

Secara sederhana, El Nino terjadi ketika suhu muka laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur lebih hangat dari kondisi normal. Perubahan ini menyebabkan curah hujan di Indonesia cenderung berkurang sehingga musim kemarau dapat berlangsung lebih panjang.

Sebaliknya, La Nina terjadi saat suhu muka laut di wilayah yang sama lebih dingin dari biasanya. 

Kondisi tersebut mendorong peningkatan pembentukan awan hujan di Indonesia sehingga curah hujan cenderung lebih tinggi dan risiko banjir maupun tanah longsor ikut meningkat.

Karena memengaruhi suhu laut dan pola pergerakan atmosfer, kedua fenomena ini dapat mengubah kondisi cuaca secara signifikan. El Nino umumnya dikaitkan dengan cuaca yang lebih kering, sedangkan La Nina sering membawa curah hujan yang lebih tinggi dari normal.

Baca Juga: 7 Upaya Pengendalian Karhutla 2026 di Tengah El Nino

Bagaimana El Nino dan La Nina Bisa Terjadi?

Sebelum membahas proses terjadinya El Nino dan La Nina, penting untuk memahami terlebih dahulu kondisi normal Samudra Pasifik yang menjadi dasar terbentuknya kedua fenomena tersebut.

Kondisi Normal Samudra Pasifik

Dalam kondisi normal, angin pasat bertiup dari timur ke barat di sepanjang garis khatulistiwa. Angin tersebut mendorong air laut hangat dari kawasan pantai Amerika Selatan menuju wilayah barat Samudra Pasifik, termasuk Asia Tenggara dan Indonesia.

Pergerakan ini membuat suhu permukaan laut di sekitar Indonesia cenderung lebih hangat dibandingkan wilayah timur Pasifik. 

Sementara itu, di perairan dekat Peru, air dingin dari lapisan laut yang lebih dalam naik ke permukaan untuk menggantikan air hangat yang terdorong ke barat. 

Fenomena yang dikenal sebagai upwelling ini membawa banyak nutrisi sehingga mendukung produktivitas ekosistem laut di wilayah tersebut.

Kondisi laut yang hangat di sekitar Indonesia juga mendorong pembentukan awan hujan, sehingga sebagian besar wilayah Indonesia memperoleh curah hujan yang relatif cukup sepanjang tahun. 

Namun, pola ini dapat berubah ketika kekuatan angin pasat melemah atau justru menguat di luar kondisi normal.

Proses Terjadinya El Nino

El Nino terjadi ketika angin pasat di Samudra Pasifik melemah atau bahkan berbalik arah. Kondisi ini menyebabkan air laut hangat yang biasanya terkumpul di wilayah barat Pasifik, termasuk sekitar Indonesia, bergeser ke bagian tengah dan timur Pasifik hingga mendekati pantai Amerika Selatan.

Perpindahan massa air hangat tersebut membuat suhu muka laut di Pasifik tengah dan timur menjadi lebih tinggi dari normal. Sebaliknya, perairan di sekitar Indonesia cenderung lebih dingin sehingga proses penguapan berkurang. Dampaknya, pembentukan awan hujan menjadi lebih sedikit dan curah hujan di berbagai wilayah Indonesia ikut menurun.

Berkurangnya curah hujan sering kali menyebabkan musim kemarau berlangsung lebih lama dari biasanya. Kondisi ini juga meningkatkan risiko kekeringan, gangguan pada sektor pertanian, serta kebakaran hutan dan lahan di sejumlah daerah.

Menurut BMKG, puncak El Nino umumnya terjadi pada sekitar bulan Desember. Meski demikian, dampaknya di Indonesia biasanya mulai terasa pada periode Juni hingga November, bertepatan dengan musim kemarau.

Proses Terjadinya La Nina

La Nina terjadi ketika angin pasat di Samudra Pasifik menguat dibandingkan kondisi normal. Angin yang lebih kuat ini mendorong lebih banyak air laut hangat ke wilayah barat Pasifik, termasuk perairan Indonesia dan Asia Tenggara.

Penumpukan air hangat di kawasan tersebut meningkatkan proses penguapan dan pembentukan awan hujan. Akibatnya, curah hujan di Indonesia cenderung lebih tinggi daripada kondisi normal. Berdasarkan data BMKG, peningkatan curah hujan selama La Nina dapat mencapai sekitar 20–40 persen di sejumlah wilayah.

Kondisi tersebut membuat musim hujan berpotensi datang lebih awal, berlangsung lebih lama, atau disertai hujan dengan intensitas yang lebih tinggi. Karena itu, risiko banjir dan tanah longsor juga cenderung meningkat selama periode La Nina.

Di sisi lain, wilayah timur Samudra Pasifik, termasuk perairan dekat Peru, mengalami penurunan suhu muka laut. Curah hujan di kawasan tersebut berkurang sehingga kondisi yang lebih kering sering kali terjadi.

el nino dan la nina_11zon

Kapan dan Seberapa Sering El Nino dan La Nina Terjadi?

El Nino dan La Nina merupakan fenomena iklim yang muncul secara berkala, tetapi tidak memiliki pola waktu yang tetap. Secara umum, keduanya terjadi setiap dua hingga tujuh tahun sekali. 

Sebagian besar episode berlangsung sekitar 9–12 bulan, meski dalam beberapa kasus dapat bertahan lebih lama. La Nina, misalnya, dapat berlangsung hingga beberapa tahun berturut-turut.

Dibandingkan La Nina, kejadian El Nino tercatat sedikit lebih sering. Setelah salah satu fenomena berakhir, kondisi iklim biasanya kembali netral sebelum beralih ke fase berikutnya.

Indonesia telah beberapa kali mengalami dampak signifikan dari kedua fenomena tersebut. Pada 2015, El Nino kuat memicu kebakaran hutan dan lahan dalam skala besar di Sumatera dan Kalimantan. Luas area yang terbakar mencapai sekitar 2,6 juta hektar dengan kerugian ekonomi yang ditaksir mencapai Rp220 triliun.

Fenomena El Nino kembali terjadi pada 2023. Meskipun tidak sekuat peristiwa 2015, sejumlah wilayah tetap mengalami penurunan curah hujan yang signifikan dan peningkatan kejadian kebakaran hutan dan lahan.

Sementara itu, La Nina 2010 dikenal sebagai salah satu episode yang berdampak besar terhadap peningkatan curah hujan di Indonesia. Hujan dengan intensitas tinggi terjadi di berbagai wilayah, termasuk Sumatera Selatan, Jawa, Bali, dan Sulawesi.

Periode La Nina 2020–2022 juga menjadi perhatian karena berlangsung selama tiga tahun berturut-turut. Kondisi tersebut menyebabkan musim hujan cenderung lebih panjang dan meningkatkan risiko banjir serta tanah longsor di berbagai daerah.

Baca Juga:Anomali Iklim: Penyebab dan Pengaruhnya bagi Kehidupan Kita

Dampak El Nino dan La Nina bagi Indonesia

Indonesia termasuk salah satu negara yang rentan terhadap perubahan pola cuaca akibat El Nino dan La Nina. Perubahan curah hujan yang terjadi dapat berdampak pada pertanian, sumber daya air, lingkungan, hingga aktivitas ekonomi masyarakat.

Dampak El Nino: Kemarau Panjang dan Kebakaran Hutan

Saat El Nino terjadi, curah hujan di Indonesia umumnya menurun sehingga musim kemarau berlangsung lebih lama dibandingkan kondisi normal. Dampaknya dapat dirasakan di berbagai sektor, mulai dari ketersediaan air hingga lingkungan dan pertanian.

  • Kekeringan dan berkurangnya ketersediaan air: Curah hujan yang rendah dalam waktu lama dapat menyebabkan sungai, waduk, dan sumber air lainnya mengalami penyusutan. 
  • Kebakaran hutan dan lahan (karhutla): Musim kemarau yang lebih kering meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan, terutama di kawasan gambut.
  • Gangguan pada sektor pertanian: Ketersediaan air yang berkurang dapat menghambat pertumbuhan tanaman pangan seperti padi dan jagung. 
  • Pemutihan terumbu karang: Peningkatan suhu laut selama periode El Nino juga dapat memicu pemutihan terumbu karang. 

Dampak La Nina: Banjir, Longsor, dan Gangguan Ekosistem

Berbeda dengan El Nino yang umumnya menurunkan curah hujan, La Nina cenderung meningkatkan curah hujan di berbagai wilayah Indonesia. Menurut BMKG, peningkatan curah hujan selama periode La Nina dapat mencapai sekitar 20–40 persen di atas kondisi normal. Kondisi ini meningkatkan risiko terjadinya berbagai bencana hidrometeorologi.

  • Banjir dan tanah longsor: Curah hujan yang tinggi dalam waktu yang cukup lama dapat menyebabkan sungai meluap dan meningkatkan risiko longsor di daerah perbukitan.
  • Peningkatan risiko penyakit: Genangan air yang muncul setelah hujan deras dapat menjadi tempat berkembang biak nyamuk pembawa penyakit. 
  • Gangguan pada sektor pertanian: Curah hujan yang tinggi dapat mengganggu produktivitas pertanian karena lahan tergenang dan risiko serangan hama maupun penyakit tanaman meningkat.
  • Dampak pada aktivitas perikanan: Gelombang tinggi dan cuaca yang kurang bersahabat dapat membatasi aktivitas melaut dan mengurangi hasil tangkapan nelayan.

Baca Juga: 5 Manfaat Menanam Pohon Cegah Perubahan Iklim

Apa yang Bisa Kita Lakukan?

El Nino dan La Nina merupakan bagian dari dinamika iklim yang terjadi secara alami. Meski tidak dapat dicegah, dampaknya dapat dikurangi melalui pengelolaan lingkungan yang baik dan peningkatan kesiapsiagaan masyarakat.

Salah satu upaya yang penting adalah menjaga kelestarian hutan. Hutan berperan dalam menjaga siklus air, mengurangi risiko erosi dan longsor, serta membantu menjaga keseimbangan ekosistem. 

Ketika tutupan hutan berkurang, wilayah yang terdampak El Nino maupun La Nina menjadi lebih rentan terhadap kekeringan, kebakaran hutan, banjir, dan longsor.

Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain mendukung penanaman pohon dan rehabilitasi hutan, menghindari pembukaan lahan dengan cara membakar, mendorong pengelolaan lahan gambut yang berkelanjutan, serta mengikuti informasi cuaca dan peringatan dini dari BMKG. 

Dengan langkah-langkah tersebut, risiko yang ditimbulkan oleh El Nino dan La Nina dapat ditekan sekaligus membantu menjaga ketahanan lingkungan dalam jangka panjang.

LindungiHutan Menanam Lebih dari 1.2 JUTA Pohon di 30+ Lokasi Penanaman Bersama 600+ Brand dan Perusahaan

Apa yang Kami Lakukan?
Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *