Connect with us

Mitra Hijau

PT Tata Metal Lestari Buktikan ESG Lewat 4 Kali Monitoring Karbon di Sadang Purwakarta

Published

on

PT tata metal lestari monitoring karbon

LindungiHutan Insight

  • PT Tata Metal Lestari membuktikan komitmen ESG dengan melakukan empat kali monitoring karbon selama 1,5 tahun, bukan hanya menanam pohon.
  • Hasil monitoring menunjukkan total serapan karbon meningkat 44,8 persen, dari 921,77 ton CO₂eq menjadi 1.334,69 ton CO₂eq.
  • Pendekatan monitoring berbasis data dan analisis ilmiah membantu perusahaan memperoleh bukti terukur untuk mendukung pelaporan keberlanjutan dan dekarbonisasi.

PT Tata Metal Lestari tidak ingin upaya penghijauan berhenti sebagai formalitas semata.  Perusahaan produsen baja lapis dan seng warna yang beroperasi di Plant Sadang, Purwakarta, Jawa Barat ini memilih turun langsung monitoring karbon dan mengukur dampak penanaman pohon yang telah dilakukan.

Menyadari aktivitas produksinya menghasilkan emisi karbon, PT Tata Metal Lestari menjalankan pemantauan lingkungan secara berkala selama satu setengah tahun. 

Bukan hanya menanam, perusahaan juga melakukan pengukuran ilmiah untuk melihat sejauh mana pohon-pohon tersebut benar-benar mampu menyerap karbon dari atmosfer.

Hasil pemantauan menunjukkan serapan karbon meningkat hingga 44,8 persen dalam periode tersebut. 

Angka ini menjadi bukti bahwa langkah keberlanjutan tidak hanya dijalankan sebagai kegiatan seremonial, tetapi juga diikuti dengan evaluasi yang terukur dan dapat dipertanggungjawabkan.

Memilih Monitoring Karbon, Bukan Sekadar Menanam

PT Tata Metal Lestari memanfaatkan layanan Monitoring Karbon Berkala melalui program SustainabiliTree dari LindungiHutan. 

Program ini tidak hanya berfokus pada penanaman pohon, tetapi juga memastikan dampak lingkungannya dapat diukur dan dilaporkan secara jelas kepada para stakeholder.

Monitoring dilakukan di lahan seluas 4,43 hektar di sekitar kawasan Plant Sadang, Purwakarta, dengan total 1.536 pohon dari 25 spesies berbeda. Untuk mendapatkan data yang akurat, pengukuran dilakukan menggunakan dua pendekatan sekaligus.

Pendekatan pertama ialah metode allometrik non-destruktif, yaitu pengukuran diameter dan tinggi pohon tanpa penebangan. 

Metode ini mengacu pada rumus ilmiah yang dikembangkan Chave et al. (2005), sehingga estimasi biomassa dan serapan karbon dapat dilakukan tanpa merusak ekosistem yang dipantau.

Selain itu, dilakukan pula analisis spasial berbasis GIS menggunakan citra satelit PlanetScope beresolusi 3×3 meter yang diolah melalui QGIS dan InVEST Workbench. 

Melalui pendekatan ini, pengukuran karbon dilakukan lebih menyeluruh, mulai dari biomassa atas tanah (AGB), biomassa bawah tanah (BGB), karbon tanah (C-soil), hingga karbon organik mati (C-dead).

sustainability perusahaan PT Tata Metal Lestari sustanabilitree_11zon

Data 4 Monitoring: Tren yang Konsisten dan Terbuktikan

Untuk melihat sejauh mana pohon-pohon yang ditanam berkembang dan menyerap karbon, monitoring dilakukan secara berkala selama sekitar satu setengah tahun. Pengukuran ini tidak hanya mencatat jumlah pohon, tetapi juga pertumbuhan biomassa dan perubahan kapasitas serapan karbon dari waktu ke waktu.

Hasil Monitoring Metode Allometrik

Sejak Mei 2024 hingga Oktober 2025, tim LindungiHutan turun ke lapangan untuk mengukur pertumbuhan dan serapan karbon tegakan pohon di area pabrik. Berikut hasil monitoring pertama dan terkini berdasarkan metode allometrik:

Periode MonitoringTanggalTotal Serapan Karbon
Monitoring 18–9 Mei 2024921,77 ton CO₂eq
Monitoring 428 Oktober 20251.334,69 ton CO₂eq

Dalam kurun sekitar satu setengah tahun, total serapan karbon tercatat meningkat sebesar 412,92 ton CO₂eq atau sekitar 44,8 persen. 

Peningkatan ini diperoleh dari hasil monitoring lapangan yang dilakukan secara berkala dan terukur, sehingga datanya dapat dipertanggungjawabkan.

Menariknya, kenaikan serapan karbon tetap terjadi meski kondisi di lapangan sempat mengalami perubahan. 

Spesies Penyumbang Terbesar

Dari 25 spesies pohon yang dimonitor, dua spesies mendominasi kontribusi serapan karbon pada Monitoring 4. 

Spesies berkayu keras dengan diameter batang besar menjadi kontributor terbesar karena kemampuannya menyimpan karbon dalam jumlah masif di jaringan kayunya. 

Sementara itu, spesies cepat tumbuh dengan jumlah batang terbanyak berkontribusi signifikan lewat konsistensi pertumbuhan biomassanya dari periode ke periode.

Pada Monitoring 4, rata-rata tinggi pohon di seluruh area tercatat mencapai 4,06 meter dengan rata-rata diameter batang 13,03 cm. 

Data ini menunjukkan pertumbuhan vegetatif yang baik sekaligus menandakan kondisi lingkungan di lokasi penanaman cukup mendukung.

sustainability perusahaan Tata Metal Lestari feasibilty study_11zon

Hasil Analisis GIS

Pada Monitoring 4, metode allometrik mencatat total serapan karbon sebesar 1.334,69 ton CO₂eq. Sementara itu, hasil analisis berbasis GIS menunjukkan angka yang lebih tinggi, yakni 1.566,89 ton CO₂eq.

Perbedaan hasil tersebut muncul karena cakupan pengukurannya tidak sama. Metode allometrik berfokus pada karbon yang tersimpan di tegakan pohon yang diukur secara langsung di lapangan. 

Adapun analisis GIS menghitung lebih luas, termasuk karbon bawah tanah, serasah, hingga materi organik mati di area pemantauan.

Keduanya saling melengkapi dan memberikan gambaran yang lebih utuh mengenai potensi serapan karbon di kawasan tersebut.

Apa Artinya Ini bagi Industri?

Hasil empat kali monitoring menunjukkan tren yang konsisten, yaitu pohon terus tumbuh, serapan karbon meningkat, dan seluruh prosesnya terdokumentasi secara terukur. 

Data ini menjadi bukti bahwa program penghijauan yang dijalankan PT Tata Metal Lestari tidak berhenti pada kegiatan penanaman saja, tetapi juga diikuti dengan pemantauan berkala yang dapat dipertanggungjawabkan.

Bagi perusahaan yang tengah menyusun laporan ESG maupun memenuhi kebutuhan pelaporan CDP, pendekatan seperti ini menjadi semakin relevan. 

Data serapan karbon yang diperoleh melalui pengukuran lapangan dan analisis ilmiah dapat digunakan sebagai pendukung laporan keberlanjutan, sekaligus menunjukkan komitmen perusahaan terhadap upaya dekarbonisasi.

PT Tata Metal Lestari juga membuktikan bahwa industri manufaktur dapat menjalankan program lingkungan berbasis data, bukan sekadar dokumentasi kegiatan formalitas saja. 

Dengan monitoring yang dilakukan secara konsisten, perusahaan memiliki gambaran nyata mengenai perkembangan pohon dan dampak lingkungan yang dihasilkan dari program tersebut.

Baca Juga: 3 Sustainability Perusahaan Indonesia yang Patut Dijadikan Benchmark

Melalui layanan SustainabiliTree, LindungiHutan membantu perusahaan tidak hanya dalam penanaman pohon, tetapi juga dalam proses monitoring karbon secara berkala. 

Solusi ini dapat menjadi pilihan bagi perusahaan yang baru memulai program keberlanjutan maupun yang sudah melakukan penanaman, tetapi belum memiliki data serapan karbon yang terukur.

Pada akhirnya, langkah PT Tata Metal Lestari menunjukkan bahwa penerapan ESG di sektor manufaktur dapat dijalankan secara serius, terukur, dan transparan. 

Jika perusahaan Anda ingin membangun program penghijauan yang dilengkapi monitoring karbon dan data yang dapat digunakan untuk pelaporan keberlanjutan, SustainabiliTree LindungiHutan dapat menjadi mitra kolaborasi yang tepat.

Pelajari Layanan SustanabiliTree dan Jadilah Bagian dari Aksi Nyata untuk Lingkungan

Pelajari Lebih Lanjut
Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *