Connect with us

Wilayah

Bukit Batu Bajak Kamang Hillir (2022)

Published

on

Bukit Batu Bajak Kamang Hillir (2022)

Bukit Bajak Kamang Hilir terletak di Kecamatan Magek, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Perlu diketahui jika bukit ini, bukan sekedar bukit biasa. Terdapat keindahan menakjubkan di dalamnya juga sejarah yang tersimpan dengan rapat.

Sejarah Wilayah Bukit Bajak Kamang Hillir

Suku asli yang mendiami wilayah ini disebut Ninik Mamak. Dalam upaya memenuhi kebutuhan pangannya, kaum Ninik Mamak melakukan budidaya rempah-rempah. Mereka menjualnya ke saudagar-saudagar Arab di pesisir pantai Sumatera. Pola budidaya masyarakat kala itu masih berpindah-pindah. Dengan kata lain, mereka melakukan perladangan berpindah. Ketika Belanda datang, terdapat aturan penetapan areal ladang dan intensifikasi pada ladang-ladang masyarakat. Tentu saja Belanda sangat diuntungkan dari wilayah dan juga masyarakat yang ada disini. 

Pada tahun 1803, meletuslah Perang Padri. Perang yang terjadi antara suku adat dan suku Padri. Keterlibatan Belanda turut memperkeruh suasana. Pada saat itu Bukit Batu Bajak Kamang Hilir mendapat tugas tambahan selain sebagai penyedia pangan, yaitu menjadi basis pertahanan Kaum Padri selama 30 tahun. Perang pun usai dan Belanda menjadi pemenang. Hutan di Bukit Batu Bajak Kamang Hilir kembali menjadi ladang rempah-rempah. Namun, kali ini terjadi perluasan guna menutupi semua biaya yang dikeluarkan selama perang. Pada tahun-tahun selanjutnya, bukit ini tetap mempertahankan fungsinya sebagai lahan rempah-rempah. Bahkan ketika terjadi pergolakan kemerdekaan, bukit ini kembali menjadi basis pertahanan para gerilyawan.  

Lalu bagaimanakah kondisi hutan Bukit Bajak Kamang Hilir yang sekarang?

Sempat Usang dan Ditinggalkan

Pada tahun 1990, masyarakat mulai meninggalkan ladang. Masyarakat berpindah ke kaki bukit dan mulai membangun pemukiman. Pada saat yang sama, Pemerintah Kabupaten Agam mencanangkan suatu program kemitraan dengan pihak swasta untuk membantu menyejahterakan masyarakat melalui penanaman kelapa sawit. Masyarakat ulayat (Ninik Mamak) menerima dengan baik kemitraan ini. Hingga kini kemitraan ini masih berjalan dengan baik.

Kemitraan ini menyebabkan masyarakat lain di luar suku asli Ninik Mamak turut mengadopsi penanaman kelapa sawit. Adopsi yang tidak diikuti dengan pelatihan, menyebabkan masyarakat menanam tapi tidak mengikuti SOP Produksi Kelapa Sawit Indonesia. Pola tanam yang tidak sesuai dengan standar yang berlaku tentu akan membahayakan lingkungan sekitar. Misalkan saja, menurunnya kandungan mineral fosfor, kalium, kalsium, dan magnesium di perkebunan sawit masyarakat.

Selain itu, pengelolaan limbah cair bekas kelapa sawit yang dilakukan masyarakat juga tidak sesuai standar. Limbah cair kelapa sawit berpotensi menurunkan kualitas perairan. Hal ini disebabkan oleh adanya kandungan racun seperti Chemical Oxygen Demand, Biochemical Oxygen Demand, juga padatan yang tersuspensi tinggi.

Komoditi lain yang dibudidayakan oleh masyarakat secara masif adalah padi. Banyaknya lahan yang dialihfungsikan menjadi areal persawahan tidak semerta-merta menguntungkan masyarakat secara ekonomi. Banyak areal lahan yang tidak bisa maksimal memberikan hasil panen yang baik.  Untuk mengatasi hal ini, masyarakat cenderung memperluas lahan mereka dengan harapan mendapat keuntungan yang lebih. Usaha perluasan lahan dianggap tidak efektif karena memerlukan tenaga kerja lebih. 

Potensi yang Mengancam

Mari sedikit mengenang sejarah yang telah Bukit Batu Bajak. Bisa dikatakan jika hutan di Bukit Batu Bajak perlahan menghilang dan bisa saja hanya tersisa menjadi legenda di masa mendatang. Di bukit bagian atas kini hanya tersisa belukar kering yang hanya menunggu jadwal kemarau tahunan untuk menjadi penyulut kebakaran. Kaki-kaki bukit pun kini berupa hamparan persawahan dan perkebunan sawit. Tidak berhenti di situ, bukit ini juga kaya akan batuan mineral. Dalam pemanfaatannya, dilakukan pertambangan dengan metode gali dan ledakkan. Dampak dari metode pertambangan ini sangat buruk, yaitu hancurnya bukit secara total. Bukit hancur secara total karena sistem aliran sungai terganggu dan juga rumah bagi sarwa-satwa liar hilang. Ketidakseimbangan alam tentu membawa kehancuran di masa depan. 

Kondisi satwa pun semakin hari semakin mengkhawatirkan. Jumlah satwa menurun. Hal ini diakibatkan oleh menurunnya kualitas lingkungan dan tidak tersedianya pangan yang cukup. Apabila hal ini terus berlangsung, maka semua satwa yang ada di Bukit Batu Bajak Kamang Hilir akan punah. 

Menanam Kembali

Kita tentu tidak bisa kembali ke masa lalu untuk memperbaiki semua hal. Namun, yang pasti kita punya hari ini untuk membuat perubahan. Atas dasar cinta terhadap Bukit Batu Bajak Kamang Hilir, Pak Akmal warga asli setempat dengan LindungiHutan melakukan konservasi melalui penanaman pohon mahoni sejak tahun 2020. Per Juni 2022, telah berhasil dilakukan 4 kampanye alam. Terdapat 242 pohon yang telah ditanam di lahan seluas 0,6 hektar dengan 56,86 kg CO2 ekv telah terserap. 

Penanaman dilakukan di areal belukar kering bekas lahan rempah-rempah yang ditinggalkan masyarakat. Tujuan dari penanaman mahoni adalah untuk mengembalikan kualitas tanah, mengurangi risiko kebakaran hutan, dan mengembalikan rumah bagi satwa-satwa liar. Mahoni sejak lama digunakan untuk memperbaiki kualitas tanah oleh orang-orang yang bekerja di pertambangan. Akar dari mahoni membantu tanah yang keras menjadi gembur. Selain itu akar pohon mahoni juga sangat baik dalam menyimpan cadangan air dan menahan erosi. Kandungan air yang cukup dalam tanah akan mendukung proses regenerasi hutan dan menghambat tersebarnya kebakaran hutan. Secara tidak langsung ketika memperbaiki kualitas tanah maka kualitas air pun akan ikut bagus. 

Konservasi tanah dan air adalah langkah awal dalam memperbaiki ekosistem. Ketika tanah dan air di suatu wilayah bagus, maka akan sangat mudah untuk tanaman bertumbuh. Tumbuhnya berbagai macam tanaman tentu merupakan tanda positif pulihnya hutan. Hutan yang pulih juga berarti rumah yang sehat bagi satwa-satwa liar yang ada di Bukit Batu Bajak Kamang Hilir. 

Untuk mendukung upaya percepatan konservasi di Bukit Batu Bajak Kamang Hilir, LindungiHutan mengajak teman-teman sekalian untuk berdonasi dan turut mensukseskan kegiatan konservasi di Bukit Batu Bajak Kamang Hilir. Tunggu apa lagi?

Muhamad Iqbal adalah SEO content writer di LindungiHutan dengan fokus pada tulisan-tulisan lingkungan, kehutanan dan sosial.

Sedekah Pohon LindungiHutan