Connect with us

Bisnis Lestari

Green Skincare, Apakah Benar-Benar Green dan Ramah Lingkungan?

Published

on

Apa itu green skincare?

Isu lingkungan yang makin sering dibicarakan membuat publik seiring berjalannya waktu menaruh perhatian pada gaya hidup yang ramah lingkungan. Termasuk dalam memilih produk kosmetik yang hijau dan berkelanjutan atau biasa disebut sebagai green skincare. Akan tetapi, bagaimana sebuah produk atau brand bisa dikatakan sebagai green skincare?

Simak ulasan selengkapnya bersama Farhaniza Farhan CEO Yagi Forest Dalam diskusi webinar online Green Skilling “Green Beauty dalam Branding Bisnis, Komitmen Sustainability atau Greenwashing”

Apa Itu Green Skincare?

Green skincare atau green beauty adalah produk kecantikan yang bersumber, diproduksi, dan dikemas dengan cara yang etis dan berkelanjutan dan tentunya ramah untuk bumi kita.

Green skincare biasanya akan dibuat dengan bahan-bahan alami dari bahan baku yang dapat diperbarui dan sering kali tidak mengandung bahan kimia keras.

Namun, perlu digaris bawahi bahwasanya klaim green skincare ini tidak boleh hanya melihat dari satu aspek atau sisi saja. Misalkan hanya dengan melihat sumber yang digunakan atau hanya dengan melihat packaging yang berbahan dasar kertas sehingga menjadi lebih ramah lingkungan.

Green skincare dan sustainable beauty ini mestilah melihat secara keseluruhan dan komperhensif dari hulu hingga hilirnya. Bukan hanya dari pemilihan bahan yang bertanggung jawab dan berkelanjutan saja, melainkan juga proses pembuatan dan produksinya, hingga penggunaannya di tangan konsumen.

“Jadi, kalau tidak dilihat dari tiga aspek source, process, dan consumptionnya hanya melihat per bagian-bagian saja, itu kita akan sangat-sangat rentan dengan greenwashing,” Ujar Farhaniza Farhan.

Baca juga: 10+ Brand Skincare Lokal yang Peduli Lingkungan & Hutan Indonesia

Trend Green Beauty Naik, Mengapa Bisa Terjadi dan Apa yang Mesti Dilakukan?

Isu lingkungan maupun perubahan iklim secara detail serta dampak yang mulai nyata terasa membuat masyarakat makin sadar akan pentingnya istilah kelestarian bumi. Publik mulai menyadari bahwa aktivitas yang dilakukannya tidak boleh merusak lingkungan dan planet bumi, termasuk dalam hal berbelanja produk kosmetik serta skincare.

Hal tersebut didukung oleh beberapa data survei dari berbagai sumber. Sebuah studi terbaru dalam Green Guide yang dirilis British Beauty Councill menyatakan, 23.000 pembeli produk kecantikan menemukan bahwa hampir setengahnya atau 48% mencari lebih banyak informasi dan kejelasan tentang nilai-nilai dan komitmen merek terhadap lingkungan.

Terhadap product-product green skincare dan sustainable beauty, masyarakat mau membayar lebih untuk produk-produk yang lebih berkelanjutan.

Sementara di Indonesia, mengutip dari databoks, menurut hasil survey Katadata Insight Center (KIC), kategori kesehatan/kosmetik menjadi salah satu barang ramah lingkungan yang paling banyak dibeli yaitu di angka 30,6%. Adapun, alasan tertinggi mengapa responden memilih produk ramah lingkungan karena ingin melestarikan bumi (60,5%).

“Bisnis kosmetik yang green juga penting sebagai bentuk perhatian terhadap dampak lingkungan. Sebab, bumi diciptakan untuk makhluk hidup, manusia salah satunya, ketika buminya rusak, maka kita merusak rumah kita sendiri, jadi ketika kita berbisnis, kita harus menjaga dan merawat bumi ini dalam setiap aspek, tidak hanya menjaga alamnya, tetapi menjaga diri kita,” Ungkap Farhaniza Farhan.

Memang, tingginya minat atau concern konsumen terhadap produk ramah lingkungan mendorong produsen-produsen untuk menjadi lebih sustainable. Hanya saja yang menjadi catatan adalah konsumen juga harus sadar dan aware dalam memilih produk apakah memang green atau enggak? Jangan sampai, niat baik ingin melestarikan bumi kemudian terjebak dalam pilihan green skincare yang ternyata green washing.

Baca juga: Apa Itu Green Brand dan Bagaimana Implementasinya?

Green Beauty jangan Cuma jadi Green Branding, tetapi Komitmen Hulu hingga Hilir

Tingginya minat masyarakat terhadap produk green skincare dan sustainable beauty membuat tak sedikit brand kecantikan yang kemudian ‘me-branding’ dirinya ramah lingkungan, sustainable, atau embel-embel hijau lainnya. Pertanyaannya adalah, produk seperti apa yang kemudian boleh melabelkan diri sebagai green beauty/green skincare/sustainable beauty?

Paling tidak dalam rantai produksi hulu hingga hilir, brand harus komitmen untuk melakukannya secara ramah lingkungan dan berkelanjutan. Artinya bukan hanya berhenti di pemilihan sumber bahan baku saja, packaging, atau di seputaran inisiatif tambahan seperti melalui program CSR penanaman pohon untuk kemudian melabeli diri sebagai produk green skincare atau sustainable beauty.

Kendati memang, hal tersebut sudahlah satu langkah baik menuju upaya pelestarian lingkungan dan planet bumi, tetapi akan menjadi lebih baik lagi ketika dari mulai pemilihan bahan baku hingga produk berakhir di tangan konsumen mesti dilakukan secara ramah lingkungan.

“Masih banyak brand yang linear ekonomi, ambil material dari mana, diproduksi, terus dijual digunakan oleh konsumen, terus jadi sampah, nah sampah ini enggak tahu di mana, tidak tahu lagi terus habis itu mau ngapain dengan sampah itu, ini yang masih banyak terjadi di antara beauty brand saat ini,” Jelas Farhaniza Farhan.

Jadi, dari saat memilih bahan baku mesti dilakukan dengan tanggung jawab, diperhatikan dan dikuasai dengan baik. Kemudian di produksi dengan pasti proses yang sirkular, jadi selama proses produksi memang betul ditekan minimal waste. Lalu, di sisi penerimaan konsumen, kemasan produk juga mesti dipikirkan dampaknya terhadap bumi. Apakah kemasan produk ini akan ditarik kembali dengan skema refill atau kemasan-kemasan yang didesain mudah didaur ulang. 

Artinya, green skincare dan sustainable beauty ini semestinya melihat keseluruhan aspek sebagai upaya untuk menunjukkan komitmen ramah lingkungannya. Bukan hanya di sepenggal-sepenggal inisiatifnya saja.

“Menjadi brand yang lebih transparan dan responsible, kalau kamu belum sampai natural yang sebenarnya, kalau brand belum bener-bener natural nih, brand kita masih pakai fossil fuel di dalamnya, kita enggak tahu source dari produk turunan kelapa sawit yang kita pakai gitu, at least kita transparan tentang itu dan kita bertanggung jawab akan itu, jadi kalau ada yang nanya tidak perlu ditutup-tutupi, ya kita katakan apa adanya, biarkan konsumen yang menentukan, seberapa value di dirinya align dengan brand tersebut,” Pungkas Farhaniza Farhan

Baca juga: Apa Itu Product Bundling? Simak Cerita Kolaborasi Dusdukduk dengan LindungiHutan

LindungiHutan Menanam Lebih dari 800 RIBU Pohon di 50 Lokasi Penanaman Bersama 500 Brand dan Perusahaan

Muhamad Iqbal adalah SEO content writer di LindungiHutan dengan fokus pada tulisan-tulisan lingkungan, kehutanan dan sosial.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Survey LindungiHutan