Naikkan kepercayaan brand lewat Green Campaign Marketing Mulai Konsultasi Sudah sejauh mana ESG perusahaan Anda? Ukur kesiapannya Cek Sekarang Galang dukungan tanam pohon, satu ajakan Anda bisa menumbuhkan ribuan pohon Jadi Campaigner
Connect with us

Penggerak

Prasetia Diputra: Bersama Warga Merawat Mangrove di Geopark Ciletuh, Sukabumi

Published

on

prasetia diputra

LindungiHutan Insight

  1. Prasetia Diputra adalah petani penggerak yang mendedikasikan dirinya demi konservasi mangrove di kawasan pesisir Geopark Ciletuh.
  2. Pras tergerak untuk melakukan konservasi mangrove karena kondisi kawasan pesisir Geopark Ciletuh yang rentan terkena bencana dan menghadapi tantangan mulai dari abrasi, erosi, longsor, sampai deforestasi.
  3. Upaya konservasi mangrove di kawasan telah berdampak positif, meski masih membutuhkan waktu dan banyak dukungan. Pras dan masyarakat juga berencana mengembangkan ekowisata mangrove dan UMKM olahan mangrove.

“Dari Puncak Darma atau Panenjoan, dari ketinggian yang cukup curam, kita bisa melihat Pantai Palangpang dan Cikadal yang memang berada di kelerengan atau berada di topografi yang paling bawah,” kata Pras, “Makanya dari UNESCO tertarik untuk dijadikan Geopark, karena (area) itu dalam bentuk batuan-batuan tua, sehingga cocok hasil penelitiannya.” 

Geopark Ciletuh adalah salah satu destinasi wisata yang menawarkan lanskap yang indah berupa perbukitan dan bebatuan.  

Tidak hanya itu, Geopark Ciletuh juga mempunyai wilayah pesisir atau pantai yang dijadikan destinasi selancar. Namun, kawasan pesisir tersebut rentan terkena abrasi, longsor, dan erosi yang mengancam keindahan dan juga keselamatan warga setempat. 

Dengan demikian, kawasan pesisir Geopark Ciletuh memerlukan aksi konservasi yang nyata dari berbagai pihak. Prasetia Diputra menjadi salah satu sosok petani penggerak yang mendedikasikan dirinya untuk konservasi mangrove dan kelestarian pesisir Geopark Ciletuh. 

Sosok yang Akrab Dengan Alam 

Prasetia Diputra atau akrab dipanggil Pras, mengawali karier bukan dengan mangrove, melainkan dari pengelolaan hutan. 

“Kalau perjalanan saya dari awal, saya bekerja di pengelolaan hutan di berbagai daerah, yang paling lama di Mentawai, Sumatera Barat,” kata Pras. 

Saat ini, Pras berprofesi sebagai penyuluh lingkungan dan kehutanan, yang mencakup bidang penanaman dan berbagai aspek pengelolaan lingkungan lainnya.

Pras juga menjadi ketua organisasi Forestry Lestari. Bersama Pokmasi Mandrajaya Nusantara, Forestry Lestari bekerja untuk menjaga kelestarian area pesisir Geopark Ciletuh. 

Forestry Lestari dan Pokmasi Mandrajaya Nusantara pada dasarnya digerakkan oleh jaringan masyarakat lokal yang sama. Forestry Lestari menjadi wadah yang lebih umum dan tidak terbatas pada satu wilayah. Kelompok ini juga menghubungkan masyarakat dengan pihak luar. 

Sementara itu, Pokmasi Mandrajaya Nusantara lebih banyak beroperasi di lapangan, seperti berfokus pada pengelolaan persemaian dan penanaman mangrove di pesisir Cikadal dan Palangpang.

Akhir-akhir ini, kedua kelompok memusatkan kegiatan pada penanganan isu banjir dan longsor di kawasan pesisir. Namun demikian, Forestry Lestari tetap menjadi wadah kerja sama yang lebih luas dan Pokmasi menjadi ujung tombak pelaksanaan di lapangan.

Pada tahun 2025, setelah mencari mitra yang dapat mendukung program rehabilitasi secara lebih luas, Pokmasi dan Forestry Lestari akhirnya juga menjalin kolaborasi resmi dengan LindungiHutan.

Prasetia Diputra dan Mangrove Geopark Ciletuh 

Sekitar tahun 2012, kondisi vegetasi mangrove di Geopark Ciletuh, khususnya di Pantai Cikadal dan Palangpang masih relatif rapat dan berpotensi sebagai destinasi wisata, meskipun belum dikelola secara formal.

Menurut Pras, tahun 2018–2019, kondisi mangrove telah menurun akibat tekanan alam seperti erosi dan longsor serta aktivitas penebangan untuk kayu bakar.

Saat itu, Pras juga melihat kondisi mangrove atau pesisir di sepanjang Pantai Minajaya, Ujung Genteng, Ciemas, Palangpang, hingga Pelabuhan Ratu mengalami abrasi dan erosi serta belum dikelola dengan baik. 

Karena kondisi pesisir tersebut, akhirnya Pras bersama masyarakat mulai mengembangkan persemaian mangrove secara mandiri di Desa Mandrajaya. 

Ada dua jenis mangrove yang ditanam oleh Pras dan masyarakat, yaitu bakau (Rhizophora apiculata) yang mengisi sekitar 70% dari total penanaman, dan api-api (Avicennia) yang mengisi sisa 30%.

Kedua jenis utama ini dipilih karena dinilai paling cocok dengan karakteristik tanah dan kondisi perairan di Cikadal dan Palangpang.

Baca Juga: Menelusuri Geopark Ciletuh: Potensi Wisata dan Konservasi Mangrove

Tantangan Saat Merawat Mangrove 

Perjalanan konservasi mangrove juga menghadapi berbagai tantangan, mulai dari faktor alam hingga manusia. 

Kondisi topografi wilayah yang curam dan berada di dataran bawah membuat kawasan mangrove di Pantai Cikadal dan Palangpang rentan terkena abrasi, erosi, serta rawan banjir. 

Kemudian, musim turut mempengaruhi keberhasilan penanaman. Saat musim kemarau, tingkat kematian bibit mangrove lebih tinggi dan membutuhkan perawatan yang lebih intensif karena aliran sungai yang mengairi mereka menyusut. 

Sedangkan, pada musim hujan, tanah menjadi lebih subur untuk tumbuh, tetapi akses jalan menjadi lebih sulit. 

Pada Desember 2024, kawasan Geopark Ciletuh terkena bencana banjir dan longsor akibat hujan berintensitas tinggi yang menimpa 39 kecamatan di Kabupaten Sukabumi.

Kondisi tersebut semakin menegaskan pentingnya pemulihan vegetasi dan tutupan lahan sebagai bagian dari upaya meningkatkan ketahanan kawasan terhadap bencana hidrometeorologi.

“Bencana ini kan menyangkut kemanusiaan, ke korban atau kehilangan nyawa, itu yang paling utama yang prihatin bagi saya,” kata Pras “Walaupun kita tidak bisa memberikan materi yang cukup untuk para korban, setidaknya dari kita sebagai penggiat lingkungan dan konservasi, kita mengantisipasi dari bidang ekologinya dulu.”

Faktor manusia seperti deforestasi juga menjadi tantangan. Deforestasi dinilai menjadi salah satu penyebab bencana banjir dan longsor di Sukabumi. 

Selain itu, pemahaman dan kesadaran masyarakat tentang pentingnya mangrove dan persemaian juga masih minim, terutama di kalangan nelayan yang fokus utamanya adalah hasil tangkapan ikan saja. 

Pras dan kawan-kawan melakukan pendekatan yang informal dan kekeluargaan kepada masyarakat, seperti diskusi santai sambil ngopi atau makan bersama di warung. 

Pendekatan ini membuahkan hasil positif. Menurut penilaian Pras sendiri, saat ini sekitar 80 persen masyarakat sudah mendukung program konservasi mangrove ini. 

Bahkan, sebagian warga yang memiliki lahan kosong mulai berinisiatif menawarkan lahannya untuk ditanami. 

Progres Konservasi Mangrove 

Upaya konservasi mangrove di Geopark Ciletuh mulai membawa perubahan. 

Dari aspek keanekaragaman hayati, berbagai satwa mulai muncul seperti elang jawa, kupu-kupu, amfibi dan reptil. Penyu hijau, yang walaupun area konservasinya jauh dari lokasi mangrove, juga terlihat mampir. 

Kegiatan penanaman mangrove yang dilakukan bersama LindungiHutan juga mulai memberikan dampak positif. Hingga Agustus 2026, pohon-pohon yang ditanam telah menyerap sekitar 37,7 kg CO₂eq. 

Meskipun begitu, Pras mengatakan bahwa perbaikan kondisi area pesisir baru mencapai sekitar 30 hingga 40 persen dari keseluruhan. Ia mengatakan bahwa pemulihan lingkungan pesisir membutuhkan proses jangka panjang dan bukan hasil yang instan.

prasetia diputra 2
Kegiatan penanaman bibit pohon mangrove di area Geopark Ciletuh

Harapan Untuk Mangrove Ciletuh 

Walaupun konservasi mangrove sudah berjalan selama beberapa tahun dan memberi dampak, tapi masih banyak yang perlu dikerjakan.  

Di samping bantuan materi, Pras berharap ada lebih banyak lagi peran dari berbagai pihak untuk mendukung konservasi, utamanya dalam mengedukasi masyarakat.

Pras dan kawan-kawan berencana untuk mengembangkan ekowisata mangrove dan mendirikan UMKM berbasis olahan mangrove.

Kemudian, menurut Pras, agenda ke depan lainnya adalah menjadikan Geopark Ciletuh tidak hanya dikenal dunia karena keindahan bebatuan purbanya, tetapi juga karena keberhasilan konservasi mangrove yang mendukung ekosistem pesisirnya.

“Saya ingin menyampaikan kepada masyarakat bahwa mangrove milik kita bersama, oleh karena itu mari kita jaga bersama-sama,” pungkas Pras. 

Baca Juga: 9 Lokasi Penanaman Pohon Terbaru, dari Jawa hingga Riau

Turun Tangan Mendukung Konservasi Mangrove Geopark Ciletuh 

Geopark Ciletuh terkenal akan keindahan alamnya dan menjadi salah satu destinasi wisata. Namun, kawasan ini juga rentan terkena berbagai ancaman, baik dari bencana alam maupun aktivitas manusia.

Bersama LindungiHutan, Anda bisa ikut terlibat dalam menjaga mangrove dan kawasan pesisir Geopark Ciletuh, dengan cara bekerja sama melalui layanan CorporaTree, ikut berdonasi pohon, atau melakukan kampanye alam. 

Mari segera turun tangan, karena dukungan Anda sangat berarti untuk konservasi mangrove dan kelestarian area pesisir Geopark Ciletuh.  

LindungiHutan Menanam Lebih dari 1.3 JUTA Pohon di 30+ Lokasi Penanaman Bersama 600+ Brand dan Perusahaan

Apa yang Kami Lakukan?
Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp Kami