Connect with us

Bisnis Lestari

Mengenal Taksonomi Hijau Indonesia dan Relevansinya di Tahun 2024

Logo LindungiHutan

Published

on

Taksonomi hijau adalah

Di era keberlanjutan global, green taxonomy atau taksonomi hijau menjadi landasan penting untuk mendorong investasi hijau dan mendukung inisiatif lingkungan berkelanjutan.

Di Indonesia, taksonomi hijau OJK berperan sebagai panduan strategis bagi sektor keuangan untuk menentukan kelayakan proyek hijau berdasarkan kriteria yang jelas dan terukur.

Langkah ini bukan hanya sejalan dengan upaya mencapai tujuan ESG (Environmental, Social, and Governance) perusahaan, tetapi juga mendukung green finance yang lebih inklusif.

Artikel ini akan membahas secara mendalam tentang apa itu green taxonomy, perkembangan taksonomi hijau Indonesia, dampaknya bagi perusahaan, dan manfaat strategisnya untuk mendorong keberlanjutan.

Apa Itu Green Taxonomy?

Taksonomi hijau adalah klasifikasi aktivitas ekonomi yang mendukung upaya perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup serta mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim (OJK, 2022).  

Green taxonomy berperan penting dalam mengarahkan pendanaan ke sektor-sektor strategis seperti energy, sehingga mendukung Indonesia untuk mencapai target emisi nol bersih (net zero emission/NZE) pada tahun 2060 atau bahkan lebih cepat (Katadata green, 2024).

Selain itu, taksonomi ini menjadi panduan bagi lembaga pemerintah dan sektor swasta, khususnya di bidang jasa keuangan, untuk merencanakan dan mengalokasikan investasi di sektor-sektor ramah lingkungan.

Taksonomi ini memiliki hubungan erat dengan upaya lingkungan, sosial, dan tata kelola perusahaan (ESG).

Sistem ini dapat mencakup salah satu dari ketiga komponen tersebut,  bukan hanya aspek lingkungan, meskipun isu lingkungan sering kali menjadi yang paling banyak dibahas.

Baca juga: Laporan CSR? Panduan, Langkah Pembuatannya, dan Best Practice

Taksonomi untuk Keuangan Berkelanjutan Indonesia (TKBI)

Taksonomi Keuangan Berkelanjutan Indonesia (TKBI) adalah pedoman yang dirancang untuk mendorong pembiayaan berkelanjutan dan memastikan alokasi modal yang lebih tepat di Indonesia.

Dokumen ini diterbitkan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada 20 Februari 2024 sebagai pembaruan dari taksonomi hijau yang pertama kali diperkenalkan pada tahun 2022.

Taksonomi untuk Keuangan Berkelanjutan Indonesia atau TKBI merupakan klasifikasi aktivitas ekonomi yang mendukung upaya dan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan Indonesia yang mencakup aspek ekonomi, lingkungan hidup, dan sosial (OJK, 2024).

TKBI digunakan sebagai panduan guna meningkatkan alokasi modal dan pembiayaan berkelanjutan dalam mendukung pencapaian target net zero emission Indonesia.

TKBI dirancang untuk digunakan oleh berbagai pihak terkait, termasuk perusahaan, lembaga jasa keuangan (LJK), regulator, dan investor, sebagai alat untuk mengevaluasi apakah suatu aktivitas memenuhi kriteria keberlanjutan.

Baca juga: Panduan Pemberdayaan Masyarakat dan Implementasinya dalam Program CSR Perusahan

Manfaat Sustainable Finance

Implementasi sustainable finance bukan tanpa alasan mendasar. Selain manfaat keberlanjutan, keberadaanya juga memberikan angina segar bagi sektor bisnis.

“Keuangan berkelanjutan memperkenalkan dimensi baru dalam hal manajemen risiko, perusahaan dan lembaga keuangan harus mempertimbangan risiko ESG, dalam proses pengambilan keputusan, dampaknya atau konsekuensinya harus mempertimbangkan aspek ESG,” ujar Mulia Simatupang, Peneliti Eksekutif Senior OJK Institute, dalam Webinar Green Skilling “Akuntabilitas Sustainability Report dari Perspektif Implementasi Bidang Keuangan.  

Berikut ini manfaat dan peluang keuangan berkelanjutan (sustainable finance):

1. Meningkatkan Hubungan dengan Investor

Investor kini makin memperhatikan aspek ESG (Environmental, Social, and Governance) dalam membuat keputusan investasi.

Perusahaan yang mampu menunjukkan komitmen keberlanjutan, mereka memiliki peluang lebih besar untuk menarik minat dan mendapatkan kepercayaan dari investor.

2. Membuka Peluang Pasar Baru

Makin banyak negara yang mulai mengintegrasikan aspek jejak karbon (carbon footprint) ke dalam kebijakan ekonomi dan perdagangan mereka.

Hal ini menciptakan peluang bagi perusahaan yang beradaptasi dengan standar keberlanjutan untuk memperluas jangkauan pasar mereka di kancah internasional.

3. Permintaan yang Terus Meningkat untuk Produk Ramah Lingkungan

Preferensi konsumen makin mengarah pada produk dan layanan yang mendukung keberlanjutan.

Kesadaran terhadap dampak lingkungan mendorong permintaan yang lebih besar terhadap produk hijau, menciptakan potensi pasar yang signifikan bagi perusahaan yang mampu memenuhi ekspektasi ini.

🌱 Gratis! Ebook Serba-Serbi Sustainable Finance: Urgensi, Regulasi, dan Green Taxonomy

Ambil langkah pertama untuk mempelajari urgensi, regulasi, dan penerapan green taxonomy sebagai panduan investasi berkelanjutan bagi perusahaan, investor, dan lembaga keuangan.

Download Ebook Sekarang!

Manfaat Taksonomi Hijau bagi Perusahaan

Bagi perusahaan, penerapan taksonomi hijau menawarkan sejumlah manfaat strategis, di antaranya:

  • Penilaian kelayakan proyek hijau
  • Efisiensi dalam pengambilan keputusan
  • Dukungan untuk tujuan ESG
  • Akses ke green finance

Pada akhirnya, bagi perusahaan, memahami dan menerapkan taksonomi hijau tidak hanya mendukung keberlanjutan, tetapi juga memberikan keunggulan kompetitif melalui efisiensi, transparansi, dan kredibilitas. Lantas, apakah perusahaan Anda siap?

Baca juga: Testimoni BCA Syariah Kolaborasi Hijau Bersama LindungiHutan

LindungiHutan Menanam Lebih dari 1.1 JUTA Pohon di 30+ Lokasi Penanaman Bersama 600+ Brand dan Perusahaan

Apa yang Kami Lakukan?
Butuh Info Lebih Lanjut?

Referensi dan rujukan yang digunakan dalam tulisan ini adalah:

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *