Connect with us

Hutanpedia

Bagaimana Blue Economy Dapat Memberdayakan Masyarakat Pesisir dalam Memerangi Perubahan Iklim

Published

on

Implementasi blue economy

Artikel ditulis oleh: Barakalla Robyn — Executive Advisor, Pesisir Lestari (YPL)

Selama beberapa generasi, masyarakat pesisir  (coastal communities)   telah hidup selaras dengan lautan. Mata pencaharian, tradisi, dan keberadaan mereka terjalin erat dengan kesehatan lingkungan laut.

Namun saat ini, ancaman kerap membayangi mereka – perubahan iklim. Naiknya permukaan air laut, menghangatnya air laut, dan pengasaman laut mengganggu ekosistem yang rapuh ini, yang tidak hanya membahayakan kesehatan laut, tetapi juga cara hidup masyarakat pesisir (World Bank Group).

Kabar baiknya, lautan itu sendiri memegang kunci untuk membuka solusi yang ampuh: karbon biru atau kerap dikenal dengan blue carbon. Ekosistem blue carbon, seperti hutan bakau, lamun, dan rawa-rawa asin, bertindak sebagai penyerap karbon alami, menangkap dan menyimpan karbon dioksida dalam jumlah yang sangat besar – secara kolektif menyimpan karbon tiga kali lebih banyak daripada hutan tropis (Sasmito, dkk: 2020).

Melindungi dan memulihkan ekosistem ini menawarkan situasi yang saling menguntungkan – memitigasi  perubahan iklim  sekaligus melindungi masyarakat pesisir (coastal communities).

Namun, potensi ini sebagian besar masih belum dimanfaatkan. Secara tradisional, pendanaan iklim berfokus pada solusi berbasis daratan, dan mengabaikan potensi lautan yang sangat besar (reuters.com) . Di sinilah peran blue economy. Ini adalah tentang mengarahkan sumber daya keuangan ke proyek-proyek yang melindungi dan memulihkan ekosistem blue carbon, sambil memastikan bahwa investasi ini bermanfaat bagi masyarakat pesisir.

Baca juga: Unduh Booklet Karbon Biru, Kondisi dan Potensi di Indonesia

Blue Economy: Tantangan dan Peluang Membangun Masa Depan yang Lebih Cerah untuk Lautan dan Masyarakat Pesisir

Terlepas dari potensi pendanaan blue carbon yang sangat besar, ada beberapa rintangan yang harus diatasi:

1. Data yang Terbatas

Bukti ilmiah mengenai kemampuan penyerapan karbon dan potensi penyimpanan jangka panjang ekosistem blue carbon masih terus berkembang. Kita membutuhkan data yang kuat untuk membangun kepercayaan investor dan skema pendanaan berkelanjutan lainnya.

2. Kurangnya Kesadaran

Banyak pemangku kepentingan, termasuk pembuat kebijakan dan lembaga keuangan, yang tidak terbiasa dengan blue carbon dan manfaatnya.

3. Pengembangan Proyek

Mengembangkan proyek blue carbon yang dapat didanai oleh bank dan institusi finansial lainnya membutuhkan keahlian di bidang ekologi, keuangan, dan pelibatan Masyarakat pesisir. Keahlian ini yang mungkin masih perlu dikembangkan beberapa daerah.

4. Blue Carbon Proyek Saingan

 Proyek blue carbon mungkin menghadapi persaingan dari penggunaan laut yang sudah ada seperti penangkapan ikan atau pembangunan pesisir (IFC.org). Menemukan solusi yang menyeimbangkan konservasi dengan mata pencaharian yang berkelanjutan sangatlah diperlukan.

Namun, ada juga peluang yang menjanjikan:

1. Integrasi Kebijakan

Ketika negara-negara memperbarui National Determined Contribution (NDC) mereka, secara eksplisit menyertakan solusi berbasis laut seperti blue carbon dapat membuka peluang pendanaan yang signifikan (menlhk.go.id).

2. Mekanisme Pendanaan yang Inovatif

 Blue bonds, blue carbon credits, coastal insurance mechanisms dan model pembiayaan campuran dapat menarik investasi swasta dan publik untuk proyek blue carbon. Disini pengembangan model bisnis berbasis masyarakat sangatlah diperlukan.

3. Keterlibatan Masyarakat dan Pembagian Manfaat (benefit sharing)

Cara-cara yang adil bagi masyarakat pesisir untuk mendapatkan manfaat dari perlindungan ekosistem ini. Hal ini dapat melibatkan peningkatan pendapatan melalui program konservasi dan restorasi mangrove, inisiatif ekowisata, atau pembayaran jasa ekosistem (PES).

Program peningkatan kapasitas dapat membekali masyarakat dengan keterampilan untuk berpartisipasi dalam desain, implementasi, dan pemantauan proyek sehingga menjadi pemangku kepentingan teratas dan terpenting dalam skema pendanaan iklim. Praktik-praktik tradisional yang telah mempertahankan ekosistem yang sehat selama beberapa generasi harus diakui dan dihormati.

Peran Masyarakat Pesisir dalam NDC dan Bagaimana Pengembangan NDC Dapat Mendukung Mereka

Agar NDC benar-benar efektif dalam melindungi ekosistem blue carbon, mereka membutuhkan partisipasi aktif dan pengetahuan dari masyarakat pesisir. Masyarakat ini adalah penjaga sumber daya penting ini dan memiliki pengalaman turun-temurun hidup selaras dengan lautan (Traditional Ecological Knowledge) (Ariando dan Limjirakan: 2019). NDC dapat menjadi alat yang ampuh untuk memberdayakan masyarakat ini dan memastikan bahwa mereka mendapatkan manfaat dari perlindungan blue carbon.

1. Peningkatan Kapasitas

Mengembangkan NDC yang kuat membutuhkan investasi dalam program peningkatan kapasitas untuk masyarakat pesisir (UNDP.org). Hal ini dapat menumbuhkan rasa kepemilikan dan memastikan proyek-proyek tersebut memenuhi kebutuhan dan prioritas spesifik masyarakat yang paling terdampak.

2. Pembagian Manfaat yang Adil dan Kemitraan

Secara historis, beberapa proyek karbon telah gagal untuk mempertimbangkan kesejahteraan masyarakat lokal, sehingga menimbulkan kecacatan administrasi dan pada akhirnya kegagalan proyek (wrm.org.uy). Untuk memastikan keberhasilan dan keberlanjutan yang sesungguhnya, NDC harus menetapkan mekanisme pembagian manfaat yang adil dan kemitraan.

Pendekatan kemitraan ini melibatkan masyarakat lokal sebagai pemangku kepentingan utama sejak awal.  Mereka harus menjadi partisipan aktif dalam proses pengembangan dan pengambilan keputusan proyek blue carbon. Hal ini tidak hanya memastikan pembagian manfaat yang adil (peningkatan pendapatan melalui program restorasi, praktik penangkapan ikan yang berkelanjutan, atau usaha ekowisata), tetapi juga memanfaatkan pengalaman mereka selama beberapa generasi untuk hidup selaras dengan laut.

Selain itu, pembayaran untuk jasa ekosistem dapat lebih mendorong keterlibatan masyarakat dalam melindungi sumber daya vital ini. Dengan mendorong pendekatan kolaboratif, NDC dapat memberdayakan masyarakat lokal dan menciptakan rasa kepemilikan. Hal ini akan membangun kepercayaan dan memastikan proyek-proyek tersebut memenuhi kebutuhan dan prioritas spesifik dari mereka yang paling terdampak. Pada akhirnya, kemitraan ini sangat penting untuk keberhasilan jangka panjang inisiatif blue carbon.

3. Menghargai Praktik-praktik Tradisional

Masyarakat pesisir sering kali memiliki banyak pengetahuan tradisional tentang praktik pengelolaan sumber daya berkelanjutan yang telah membantu menjaga ekosistem yang sehat selama beberapa generasi (Traditional Ecological Knowledge). NDC harus mengakui dan menghormati pengetahuan ini, dengan mengintegrasikannya ke dalam desain proyek dan rencana pengelolaan. Hal ini akan mendorong kolaborasi dan menciptakan rasa pengakuan budaya bagi masyarakat.

Baca juga: Konservasi Hutan Mangrove dan Tren Blue Carbon dalam CSR Perusahaan 2024

Panggilan untuk Penjaga Laut

Masa depan lautan kita bergantung pada perubahan penting: dari memandang masyarakat pesisir sebagai pengamat menjadi mengakui mereka sebagai pengelola. Cara hidup mereka terkait erat dengan kesehatan lingkungan laut. Pendanaan biru berkelanjutan bukan hanya sebuah investasi; ini adalah kesempatan untuk memberdayakan masyarakat sebagai mitra aktif dalam melindungi rumah mereka.

Dengan bekerja sama – pemerintah, lembaga keuangan, LSM, dan yang paling penting, masyarakat pesisir – kita dapat mengatasi tantangan dan membuka potensi besar keuangan biru. Mari kita memprioritaskan proyek-proyek yang dirancang dan dipimpin oleh masyarakat pesisir. Pengalaman mereka selama beberapa generasi memegang kunci keberhasilan konservasi.

Bayangkan masa depan di mana masyarakat yang berkembang berkolaborasi untuk mengelola ekosistem laut yang sehat dan dinamis. Ini adalah hasil yang saling menguntungkan yang harus kita perjuangkan. Bersama-sama, mari kita menjadi penjaga planet biru kita dan memastikan masa depan yang lebih cerah untuk semua.

About YPL

Pesisir Lestari adalah organisasi non pemerintah (NGO) lokal yang berfokus pada konservasi laut dengan mengedepankan Community-led Model dalam mewujudkan visi membangun masa depan berkelanjutan bagi masyarakat pesisir. Beberapa program yang berlangsung saat ini antara lain pengelolaan mangrove berkelanjutan melalui perhutanan sosial di Jembrana (Desa Budeng), Banggai (Desa Uwedikan), Manggarai Barat (Desa Golo Sepang) dan Minahasa Utara (Desa Darunu), mengembangkan tool box untuk mengidentifikasi peluang Other Effective Area-based Conservation Measures (OECM) dan advokasi Rencana Pengelolaan Perikanan (RPP) Gurita di Indonesia.

Contact:

Amelia Syarifah – Communications Coordinator, Pesisir Lestari (YPL)

Email: [email protected]

Website: www.pesisirlestari.org

Artikel Ini Merupakan Hasil Kolaborasi Antara Pesisir Lestari dengan LindungiHutan

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Survey LindungiHutan