Pendukung
Donasi Pohon Yuliati, Warisan Cinta untuk Generasi Mendatang
Donasi pohon Yuliati bukan sekadar aksi menanam, tetapi sebuah perjalanan spiritual dan kepedulian lingkungan. Sebuah inisiatif yang bermula di tengah hiruk-pikuk Jakarta Timur, di sebuah sudut Pondok Kelapa.
Di sana tinggal seorang perempuan bernama Yuliati yang percaya bahwa pohon adalah bentuk amal jariah paling abadi.
Sejak 2019, Yuliati telah bergabung menjadi donatur LindungiHutan, sebuah langkah kecil yang ia mulai setelah melihat unggahan di Facebook. Namun, dari langkah kecil itulah tumbuh sebuah niat besar: menyelamatkan Bumi demi anak cucunya.
Daftar Isi
Mengisi Waktu Luang dengan Bibit Harapan
Bagi Yuliati, mencintai pohon bukan hanya tentang berdonasi. Ia rutin mengumpulkan biji buah dari mangga, rambutan, durian, hingga salak yang ia konsumsi, lalu menanamnya di polybag.
Ia rawat sendiri bibit-bibit itu meski tahu bahwa prosesnya tidak sebentar. “Saya tidak menunggu hasilnya, tapi menjadikannya kegiatan positif di waktu luang,” ujarnya.
Mengapa Pohon?

Yuliati sadar bahwa sekolah, rumah ibadah, dan fasilitas sosial lainnya telah banyak dibangun. Tapi pohon? Ia melihat masih banyak ruang kosong untuk hijau yang sesungguhnya. Donasi pohon Yuliati didasari oleh filosofi yang mendasar terhadap kebutuhan lingkungan.
Dalam pemahamannya yang sederhana tapi dalam, ia menyadari bahwa fotosintesis menyerap karbon dioksida dan menghasilkan oksigen. Donasi pohon Yuliati, baginya, adalah kontribusi nyata dalam menghambat pemanasan global.
Penelitian dari International Union for Conservation of Nature (IUCN) menunjukkan bahwa program restorasi pohon dan hutan memiliki potensi besar dalam mitigasi perubahan iklim.
Salah satu studi menyebutkan bahwa secara global, restorasi hutan dapat mengurangi emisi karbon sebesar 30% yang dibutuhkan untuk mencapai target iklim dunia.
Selain itu, menurut Badan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat (EPA), satu pohon dewasa dapat menyerap rata-rata 21 kilogram karbon dioksida per tahun dan memproduksi cukup oksigen untuk dua orang.
Memilih LindungiHutan: Antara Kepercayaan dan Kebutuhan
“Menanam dan merawat pohon bukan hal mudah,” tegas Yuliati. Inilah yang membuatnya mempercayai LindungiHutan. Donasi pohon Yuliati melalui platform ini tak hanya menanam pohon, tapi juga berkomitmen untuk merawatnya hingga tumbuh besar.
Karena itulah donasi pohon Yuliati melalui LindungiHutan menjadi pilihan istimewa. Ini mewakili sebuah aksi nyata yang tidak hanya menanam, tetapi juga memastikan setiap pohon tumbuh dan memberi manfaat jangka panjang.
Keyakinannya terhadap integritas LindungiHutan membuatnya terus berdonasi. Ia telah berdonasi pohon lebih dari lima kali sejak 2019, dan terakhir pada tahun 2025.
Setiap pohon yang ia titipkan lewat LindungiHutan bukan hanya sebongkah kayu hidup, tapi juga doa yang tumbuh di tanah, harapan yang menjulang ke langit, dan cinta yang mengakar dalam bumi.
Donasi pohon Yuliati adalah cerminan ketulusan hati yang ingin memberi tanpa mengharap kembali. Bagi Yuliati, berdonasi pohon bukan sekadar memberi, tapi mewariskan kehidupan.
Baca Juga: Cerita Donasi Pohon Adelia untuk Bumi yang Lebih Hijau
Menurut data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Indonesia kehilangan sekitar 684.000 hektar hutan tiap tahun (Global Forest Watch, 2023). Kehilangan hutan dalam skala sebesar ini berdampak besar terhadap keseimbangan ekosistem.
Selain itu, deforestasi mengancam habitat satwa liar, memperparah banjir dan longsor, serta mempercepat laju pemanasan global akibat meningkatnya konsentrasi karbon di atmosfer.
Hal ini juga berisiko terhadap ketahanan pangan dan kehidupan masyarakat adat yang bergantung pada hutan.
Namun, dengan pohon-pohon yang telah ditanam, mampu menyerap hingga 21 kg karbon per tahun (EPA). Yuliati merasa lega, optimis, dan bahagia setiap kali melihat laporan karbon yang berhasil direduksi dari donasinya.
Harapan dan Ajakan untuk Masa Depan
“Kalau tak ingin bencana makin dahsyat, tanamlah pohon sebanyak-banyaknya,” kata Yuliati. Harapannya jelas: agar Indonesia bisa mengembalikan jati dirinya sebagai paru-paru dunia dengan menghijaukan lahan gundul, rusak, maupun pesisir pantai.
Meski ia telah mengajak teman-temannya berdonasi melalui grup-grup sosial, respons masih minim. Tapi itu tidak menyurutkan semangatnya.
Ia tetap percaya, gerakan kecil seperti donasi pohon Yuliati bisa menjadi gelombang besar jika dilakukan bersama dan terus menerus digelorakan.
Catatan Kecil untuk LindungiHutan
Sebagai donatur setia, donasi pohon Yuliati memberi masukan agar LindungiHutan lebih aktif memposting prestasi dan dokumentasi kegiatan penanaman. Ia juga berharap halaman kampanye lebih informatif agar memudahkan pemahaman publik.
Dalam tiga kata, Yuliati merangkum seluruh perasaannya setelah berdonasi: lega, optimis, dan bahagia. Ia bukan hanya menanam pohon. Ia sedang menanam harapan, harapan bagi Bumi, bagi masa depan, dan bagi generasi yang belum lahir.
**Cerita ini disusun berdasarkan kisah nyata Ibu Yuliati, donatur LindungiHutan sejak 2019. Mari lanjutkan semangatnya dan tumbuhkan lebih banyak kehidupan di bumi ini.
Jika kamu ingin bergabung seperti Yuliati, yuk berdonasi pohon hari ini. Karena satu pohon yang kamu tanam, bisa jadi awal dari hutan yang menyelamatkan dunia.
Tanam Harapan, Donasi Pohon Mulai 20 Ribu di LindungiHutan
