Powered by ProofFactor - Social Proof Notifications

Tanam Mangrove! Mencegah Tenggelamnya Desa Bedono Demak Jawa Tengah! (2022)

Dalam 10-20 tahun terakhir, pengikisan daratan oleh air laut terus terjadi di Desa Bedono, 200 rumah penduduk tengglam akibatnya.
Mangrove, Mencegah Tenggelamnya Desa Bedono Demak Jawa Tengah!

Percaya atau tidak, pesisir utara Pulau Jawa diramalkan oleh Tim Peneliti dari Universitas Diponegoro akan tenggelam dalam 35 tahun ke depan. Rata-rata penurunan tanah atau Land Subsidence di pesisir utara Pulau Jawa adalah sekitar 1-2 meter per tahun. Penurunan tanah ini akan diperparah oleh tingginya abrasi dan banjir rob. 

Hal ini menyebabkan pesisir utara Pulau Jawa mengalami penyempitan luas daratan dan perubahan bentuk lahan yang sangat masif di wilayah pesisir diantaranya hilangnya permukiman, tambak dan vegetasi hutan bakau. Saat ini, banjir rob terparah yang terjadi di Pulau Jawa ada di Desa Bedono. 

Lokasi Desa Bedono

Desa Bedono terletak di Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, Jawa Tengah. Desa ini merupakan salah satu wilayah pesisir yang terletak di utara Pulau Jawa. Jika dilihat dari sejarah Indonesia pada abad ke-15, Kabupaten Demak adalah tempat Kesultanan Demak berdiri dan berkuasa di mana kerajaan ini memanfaatkan daerah pesisir sebagai jalur perdagangan dan transportasi. 

Kabupaten Demak sendiri mempunyai panjang pantai 34,10 km dan panjang garis pantai 72,14 km yang membentang dari Kecamatan Sayung sampai Kecamatan Wedung (Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Demak, 2016). Kondisi tersebut membuat banyak masyarakat Demak yang melakukan budidaya perikanan darat atau tambak di daerah pesisirnya. Menurut data BPS (Badan Pusat Statistik) Kabupaten Demak tahun 2016, luas lahan yang digunakan sebagai tambak/empang/hutan negara sebesar 9.724 Ha.

Masyarakat Pesisir Desa Bedono

Lokasi Desa Bedono berada di 3 kilometer arah utara dari pusat Kecamatan Sayung dengan luas wilayah mencapai 7,39 km2 (10% dari luas Kecamatan Sayung). Akses jalan dari pusat kecamatan ke Desa Bedono terbilang sangat baik dengan terbangunnya jalan cor selebar 4 meter. 

Tingkat pendidikan di sana tergolong tidak terlalu tinggi dengan rata-rata penduduk tidak tamat sekolah SD sebanyak 549 jiwa. Data tahun 2015 mengatakan bahwa mata pencaharian masyarakat setempat didominasi oleh pekerjaan buruh tani (23,76%), nelayan (20,54 %), buruh bangunan (17,97%), buruh industri (16,86 %), dan pedagang (13,02%). 

Baca juga: Penyelamatan Pesisr Ogotua Toli-Toli Sulawesi Tengah dari Abrasi (2022)

Sementara itu, dstribusi penggunaan lahan Desa Bedono hanya dibagi menjadi tiga yaitu tambak (82,83%), bangunan (10,27%) dan tegalan (6,89 %). Masyarakat Desa Bedono merupakan masyarakat sederhana dan belum banyak terpengaruh budaya dari luar. Mereka merupakan masyarakat homogen yang secara historis turun temurun hidup di daerah tersebut. Homogenitas dilihat dari hal profesi dan agama yang mana mayoritas beragam muslim dan bekerja sebagai petambak. 

Banjir Rob di Desa Bedono

Foto beberapa rumah di Desa Bedono Kabupaten Demak yang tenggelam.
Foto beberapa rumah di Desa Bedono Kabupaten Demak yang tenggelam akibat kenaikan air laut.

Banjir Rob melanda di beberapa kecamatan di Kabupaten Demak di antaranya Kecamatan Sayung di mana Desa Bedono berada. Karena lokasi Kecamatan Sayung yang menjorok ke laut, dan kondisi topografinya landai serta datar, membuat kawasan ini kerap menjadi korban banjir rob. 

Dalam 10-20 tahun terakhir, pengikisan daratan oleh air laut terus terjadi di Desa Bedono, Demak, Jawa Tengah. Hingga saat ini 200 rumah penduduk tenggelam akibat abrasi tersebut. Warga terpaksa kehilangan mata pencaharian sebagai nelayan sehingga mereka melakukan relokasi tempat tinggal. Kerusakan ini disebabkan oleh faktor alam maupun aktivitas manusia. 

Penelitian menyebutkan bahwa faktor manusia yang memicu terjadinya banjir rob adalah reklamasi di pesisir Kota Semarang utamanya di kawasan Pantai Marina dan Pelabuhan Tanjung Emas pada tahun 1985.  Selain itu, intensifikasi lahan tambak yang merambah ke kawasan mangrove di tahun 1990, turut mengakibatkan timbulnya abrasi di sebagian besar pesisir desa Bedono.

Menurut data dari Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Demak, pada tahun 2011 ekosistem mangrove di Kabupaten Demak sekitar 8 % dalam kondisi rusak. Rusaknya hutan mangrove turut melemahkan pertahanan wilayah daratan di sekitar pesisir Kabupaten Demak terhadap dinamika alam yang berasal dari arah laut, seperti arus, gelombang, pasang surut, dan angin.

Apalagi, tingkat kerusakan ekosistem mangrove di Indonesia, termasuk Jawa Tengah sangat tinggi akibat pembukaan lahan tambak, penebangan hutan mangrove dan pencemaran lingkungan. Imbasnya, luasan mangrove di Kabupaten Demak juga mengalami penurunan sekitar 8%-10% sejak tahun 1980 (Chafid et al., 2012). 

Rusaknya vegetasi mangrove ini memperparah peristiwa erosi pantai (abrasi) dan rob yang terjadi di Desa Bedono. yaitu merubah peta wilayah Kabupaten Demak. Bukan hanya itu, 640 hektare lahan tambak yang menjadi penopang hidup warga ikut hilang tak berbekas. 

Abrasi pantai yang terjadi di pesisir Demak, dikategorikan paling memprihatinkan. Posisi lahan terkena abrasi membentuk teluk. Apabila tidak ditangani secara serius, lahan yang tergerus air laut akan semakin jauh ke perkampungan. Menurut Bemmelen (1949), pertumbuhan pantai Kabupaten Demak dari tahun 1695 hingga 1940 rata-rata 8 meter tiap tahun. Untuk itu diperlukan penyelesaian yang menyeluruh dan komprehensif melalui pendekatan pengelolaan pesisir yang terpadu. 

Kampanya Alam Untuk Pesisir Demak

Dengan kondisi banjir rob yang sangat memprihatinkan, ada salah satu warga Desa Bedono yang masih bersikukuh memutuskan untuk tetap tinggal di Desa Bedono yaitu keluarga Mak Jah. Mak Jah memilih tinggal dan melakukan penanaman untuk memulihkan lingkungan. 

Tahun 2017, Lindungi Hutan hadir untuk mendukung semangat Mak Jah dan warga Desa Bedono dalam menanam pohon mangrove. Pohon mangrove terus ditanam untuk menghijaukan kembali Desa Bedono dan mencegah abrasi meluas.

Kehadiran Lindungi Hutan berusaha untuk membantu dalam hal penanaman mangrove, melalui beberapa kampanye alam yang telah diadakan. Hingga Juni 2022 terdapat 138 kampanye alam dengan 7.4079 pohon tertanam dengan total 0,7 ha luasan yang tertanam dan 8774,51 kg CO2 ekv terserap.

Pohon yang didonasikan merupakan jenis Mangrove Rhizophora. Mangrove Rhizophora dipilih karena dapat mengendapkan lumpur di akar-akar pohon bakau sehingga mencegah terjadinya intrusi air laut ke daratan. Selain itu, mangrove memiliki akar yang dapat mempercepat penguraian limbah organik dan limbah kimia yang dapat mencemari laut. 

Baca juga: Mangrove Vs Lumpur di Kampung Laut Cilacap (2022)

LindungiHutan masih dan akan terus mendukung kampanye penanaman pohon di Desa Bedono, mari bersama hijaukan kawasan pesisir utara Jawa kita!

Muhamad Iqbal
Muhamad Iqbal adalah SEO content writer di LindungiHutan dengan fokus pada tulisan-tulisan lingkungan, kehutanan dan sosial.