Lingkungan
Keadilan Ekologis: Ketika Bisnis Harus Berpihak pada Mereka yang Paling Terdampak
Daftar Isi
- Menghadapi Triple Planetary Crisis
- Keadilan Ekologis: Menjaga Garda Terdepan yang Paling Terdampak
- Restorasi Lahan: Menciptakan Lapangan Kerja dan Harapan
- Perusahaan Indonesia yang Mulai Bergerak untuk Lingkungan
- Saatnya Bisnis Ikut Berperan
- LindungiHutan Menanam Lebih dari 1.2 JUTA Pohon di 30+ Lokasi Penanaman Bersama 600+ Brand dan Perusahaan
LindungiHutan Insight
- Keadilan ekologis adalah konsep yang menegaskan bahwa setiap makhluk hidup, manusia, satwa, tumbuhan, hingga ekosistem keseluruhan memiliki hak untuk hidup, berkembang, dan terlindungi dari kerusakan.
- Yang paling terdampak dari krisis ekologi adalah petani, nelayan, dan satwa liar, padahal mereka bukan pelaku utamanya.
- Menanam pohon bersama komunitas lokal bukan hanya memulihkan ekosistem dan habitat satwa, tapi juga membuka lapangan kerja hijau yang berdampak jangka panjang.
Bumi sedang mengirimkan sinyal darurat dan kita semua perlu mendengarnya. Banjir yang semakin meluas, gagal panen yang semakin sering, dan hutan yang menyusut. Hingga muncul pertanyaan, siapa yang paling menanggung beban kerusakan ini?
Keadilan ekologis (ecological justice) menjelaskan bahwa yang paling sedikit berkontribusi pada kerusakan lingkungan, justru paling besar merasakan dampaknya.
Menghadapi Triple Planetary Crisis
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah menyatakan bahwa dunia saat ini tengah menghadapi triple planetary crisis (tiga krisis planet) yang berlangsung secara bersamaan: perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, dan polusi.
Ketiganya tidak berdiri sendiri, tetapi saling terkait dan memperparah satu sama lain dalam sebuah lingkaran yang terus berputar. Tinjauan Lingkungan OECD mengkaji, ketiga krisis ini diperkirakan akan meningkat secara global hingga 2050, meskipun dengan laju yang berbeda.
Yang perlu dipahami oleh setiap pelaku bisnis adalah apa yang dilakukan hari ini akan menentukan kondisi 10 hingga 20 tahun kedepan. Investasi hijau bukan lagi pilihan, melainkan keputusan bisnis yang cerdas untuk jangka panjang.
Keadilan Ekologis: Menjaga Garda Terdepan yang Paling Terdampak
Keadilan ekologis adalah prinsip yang menegaskan bahwa setiap makhluk hidup, manusia, satwa, tumbuhan, hingga ekosistem keseluruhan memiliki hak untuk hidup, berkembang, dan terlindungi dari kerusakan.
Di balik setiap musim kemarau panjang, ada petani yang gagal panen. Di balik setiap badai yang makin ganas, ada nelayan yang tidak dapat melaut. Mereka adalah garda terdepan krisis iklim, bukan karena pilihan, melainkan posisi mereka yang dekat dengan alam.

Ironisnya, komunitas lokal ini bukan pelaku utama kerusakan lingkungan. Emisi karbon terbesar justru berasal dari sektor industri, transportasi, dan energi fosil. Namun, mereka yang tinggal di kawasan pertanian, pesisir, dan hutanlah yang merasakan dampak krisis ekosistem.
Kerusakan juga menghantam mereka yang tidak bisa berbicara, orangutan yang kehilangan hutan, burung migran yang kehilangan mangrove untuk tempat singgah, dan biota laut yang hidupnya menyempit akibat sedimentasi dan polusi.
Keadilan ekologis bukan hanya tentang menanam pohon, melainkan memastikan manusia yang menjaga pohon itu sejahtera dan makhluk hidup yang bergantung pada pohon punya rumah.
Baca juga: Kilas Balik: 6 Tokoh Penggerak Penghijauan yang Menginspirasi
Restorasi Lahan: Menciptakan Lapangan Kerja dan Harapan
Perusahaan yang beroperasi di atau berdekatan dengan kawasan rawan baik secara geografis maupun dalam rantai pasoknya memiliki tanggung jawab moral dan strategis untuk memberikan solusi nyata.
Restorasi ekosistem bukan hanya tentang menanam bibit, ini adalah proses menghidupkan kembali fungsi ekologis yang rusak, memulihkan kualitas tanah, mengembalikan siklus air, dan menyehatkan lanskap yang terdegradasi.
Ketika ekosistem pulih, yang kembali bukan hanya pohon, melainkan satwa-satwa yang terusir, burung yang membutuhkan peneduh, juga serangga penyerbuk yang menjaga ketahanan pangan lokal.

Restorasi lahan juga berarti restorasi kehidupan secara menyeluruh. Proyek restorasi terbukti mampu membuka lapangan kerja hijau (green jobs) yang bermakna bagi masyarakat lokal, mulai dari pembibitan, penanaman, hingga pemantauan.

Ada temuan yang perlu diperhatikan, pohon yang dirawat oleh masyarakat lokal memiliki tingkat kelangsungan hidup yang jauh lebih tinggi. Ketika seseorang merasa memiliki dan bertanggung jawab terhadap sebuah pohon, mereka akan merawatnya dengan sungguh-sungguh.
Baca juga: Manfaat Konservasi Mangrove bagi Lingkungan dan Ekonomi
Perusahaan Indonesia yang Mulai Bergerak untuk Lingkungan
Seiring meningkatnya kesadaran akan isu lingkungan, berbagai perusahaan di Indonesia mulai terlibat dalam aksi nyata untuk mendukung keberlanjutan. Salah satu bentuk kontribusi yang banyak dilakukan adalah melalui kegiatan penanaman pohon di berbagai wilayah.
Beberapa inisiatif yang telah dilakukan antara lain:
- PT Hino Finance Indonesia: Menanam 2.511 pohon mangrove di wilayah pesisir Surabaya sebagai bentuk kontribusi terhadap ketahanan iklim dan keberlanjutan ekosistem di daerah yang rentan terhadap rob dan erosi.
- PT Pigeon Indonesia: Menanam 1.000 pohon mangrove di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu, Jakarta sebagai bentuk tanggung jawab sosial perusahaan sekaligus kontribusi terhadap keberlanjutan lingkungan.
- BCA Life: Menanam 1.111 pohon mangrove di Desa Sukawali Tangerang sebagai komitmen berkelanjutan dalam menjaga kelestarian lingkungan melalui program CorporaTree.
- BRI Danareksa Sekuritas: Menanam 1.000 pohon mangrove di Desa Sukawali sebagai wujud komitmen perusahaan dalam mendukung pelestarian lingkungan pesisir yang rentan abrasi.
- PT Adira Finance & Grup MUFG: Menanam 2.000 pohon berakar kuat di Kawasan Taman Nasional Way Kambas sebagai bentuk kepedulian bencana hidrometeorologi di Sumatera.
Mereka adalah bukti bahwa bisnis dan keadilan ekologis bisa berjalan beriringan. Setiap pohon yang ditanam adalah pernyataan keberpihakan yang nyata.


Saatnya Bisnis Ikut Berperan
Krisis ekologi tidak bisa diselesaikan hanya oleh pemerintah atau aktivis lingkungan. Bisnis dengan sumber daya, jaringan, dan pengaruhnya memiliki peran yang tidak tergantikan.
Namun, peran itu akan bermakna ketika bisnis tidak hanya membahas soal net zero atau carbon neutral di atas kertas, tetapi turut mendampingi petani yang lahannya terdegradasi, membuka lapangan kerja hijau, dan memastikan restorasi ekosistem berdampak.
Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah melalui kolaborasi dalam program penanaman pohon bersama berbagai pihak, termasuk LindungiHutan yang menghubungkan aksi lingkungan dengan dampak sosial dan ekonomi.
Dengan langkah sederhana seperti menanam pohon, bisnis dapat mulai berkontribusi menciptakan lingkungan yang lebih lestari sekaligus mendukung kehidupan masyarakat di sekitarnya.
Mulai dari sini
