Connect with us

Emisi Karbon

Karbon Monoksida: Penyebab hingga Dampak bagi Kesehatan dan Lingkungan (Update 2024)

Logo LindungiHutan

Published

on

Gambar karbon monoksida

Artikel di-review oleh Muthi’ah Aini Rahmi, Tim Rnd dan Product LindungiHutan

World Health Organization (WHO) menyebutkan bahwa permasalahan utama dalam pencemaran lingkungan adalah polusi udara, termasuk karbon monoksida salah satu penyebabnya. 

Dilansir dari Betahita, sebagai silent killer, polusi udara dapat mengurangi kehidupan manusia di bumi rata-rata sebesar dua tahun. Beberapa kota di Indonesia dinilai memiliki kualitas udara yang buruk dan dapat memperpendek usia manusia hingga 6,4 tahun.

Analisis baru mengenai indeks Udara Kualitas Kehidupan (AQLI), yang dihasilkan oleh Energy Policy Institute at the University Chicago (EPIC), menunjukkan bahwa rata-rata orang Indonesia dapat kehilangan 1,2 tahun dari harapan hidupnya lantaran kualitas udara yang tidak memenuhi pedoman WHO untuk polusi partikulat halus (AQLI Air Quality Life Index).

Bukan tanpa alasan, mengutip dari laman National Geographic Indonesia, pada tahun 2015 polusi udara menyebabkan 8,8 juta kematian dini. Sementara itu, HIV/AIDS menyebabkan 1 juta kematian dan parasit serta penyakit yang menular seperti malaria mengakibatkan sekitar 600.000 kematian

Salah satu penyebab polusi udara adalah gas pembuangan dari kendaraan bermotor. Tidak dapat dimungkiri, mayoritas masyarakat di Indonesia mobilitasnya menggunakan kendaraan bermotor. Alhasil, meningkatkan salah satu polutan di udara yaitu CO atau karbon monoksida.

Lantas, mengapa gas monoksida berbahaya? Seperti apa gangguan kesehatan apabila terpapar karbon Monoksida ini? Yuk kita simak penjelasan berikut ini!

Video Penjelasan tentang Karbon Monoksida dan Beberapa Highlight

  • Karbon monoksida adalah gas berbahaya yang dihasilkan oleh kendaraan bermotor tanpa bau atau warna.
  • Ada banyak hal yang menyebabkan terjadinya karbon monoksida seperti proses pembakaran kendaraan bermotor, pembakaran fosil minyak bumi, asap rokok, dan lain sebagainya.
  • Jelas, gas karbon monoksida yang tinggi menyebabkan penurunan kualitas udara yang berdampak bagi kesehatan manusia.

Baca juga: Pengertian Blue Carbon, Manfaat, dan Elemen Karbon Ekosistem Karbon Biru

Apakah yang Dimaksud dengan Karbon Monoksida?

Karbon monoksida adalah salah satu gas yang berasal dari pembuangan kendaraan bermotor. Gas monoksida tidak memiliki bau dan warna, tetapi sangat berbahaya jika terhirup oleh manusia dalam jumlah yang besar.

Karena gas CO tidak berbau, biasanya gas CO terhirup bersamaan dengan gas lainnya. Gas CO dapat berbentuk cairan pada suhu di bawah -192°C. Di kota besar dengan lalu lintas yang padat menghasilkan gas CO yang tinggi dibanding di pedesaan. 

Apa yang Menyebabkan Terjadinya Karbon Monoksida?

Karbon monoksida berasal dari proses pembakaran kendaraan bermotor. Menurut BPS, pada tahun 2018-2021 jumlah kendaraan bermotor di Indonesia mengalami peningkatan. Pada tahun 2018 jumlah kendaraan bermotor (Sepeda motor, bis, mobil barang, dan mobil penumpang) di Indonesia adalah 126.508.776 dan pada tahun 2021 menjadi 141.992.573.

Selain dari pembakaran kendaraan bermotor, gas CO berasal dari pembakaran fosil minyak, batu bara, dan gas dalam jumlah besar. 

Gas CO juga disebabkan oleh pemanas ruangan dengan bahan bakar minyak tanah, asap rokok, asap dari industri, pembakaran hutan, dan lainnya. 

Berapa Jejak Karbon yang Kamu Hasilkan Hari Ini?

Hitung besar emisi karbon sekarang juga dengan menggunakan kalkulator jejak karbon Imbangi. Menggunakan Imbangi, kamu bisa menghitung besar emisi karbon dari penggunaan kendaraan, listrik, dan peralatan elektronik lainnya.

Coba GRATIS Imbangi di Sini!
Kalkulator jejak karbon Imbangi.

Apa Bahayanya Karbon Monoksida dalam Tubuh?

Gas monoksida yang berasal dari pembakaran sangat berbahaya dan berakibat fatal untuk kesehatan. Gas CO mengikat hemoglobin (Hb) sehingga menyebabkan karboksihemoglobin (COHb) pada darah.

Dalam mengikat hemoglobin, ikatan karbon monoksida  (CO) lebih kuat dibanding ikatan oksigen (O2). Ikatan CO lebih lama mengikat Hb dibanding O2 yang lebih mudah melepaskan dari Hb. Akibatnya ikatan hemoglobin dengan oksigen akan semakin sedikit. Jadi, paparan gas CO secara terus-menerus ternyata dapat memengaruhi kadar COHb pada darah. 

Menghirup gas CO dalam kurun waktu yang lama akan menimbulkan beberapa penyakit bahkan kematian. Apa saja penyakit yang timbul apabila kita terpapar gas CO?

1. Penyakit Jantung

Karbon monoksida yang terhirup secara terus-menerus menyebabkan serangan jantung, jantung koroner, dan penyakit kardiovaskuler lainnya.

Menurut Wang Y dkk 2020, efek peningkatan kadar CO di dalam tubuh dapat meningkatkan Year of Life Lost (YLL). YLL adalah ukuran kematian dini pada masyarakat yang memperhitungkan antara frekuensi kematian dan usia terjadinya kematian. 

2. Penyakit Paru-paru

Paparan gas CO secara singkat dapat mengakibatkan penyakit bronkitis, terutama pada laki-laki usia lanjut. Orang dengan riwayat merokok menyebabkan gangguan pada fungsi paru sekitar 62% (Premana dan Griandhi 2017).

Sehingga paparan dari gas CO, meningkatkan terjadinya bronkitis dan Delayed Encephalopathy After Acute Carbon Monoxide Poisoning (DEACMP). 

3. Efek pada Ibu Hamil

Ibu hamil yang terpapar karbon monoksida rentan mengalami BBLR (Berat Bayi Lahir Rendah). Menurut penelitian paparan asap rokok memiliki risiko 2,353 kali lebih besar mengakibatkan ibu hamil mengalami BBLR (Hasriyani dkk 2018). 

Sebagai perokok pasif tentunya sangat membahayakan ibu hamil, apalagi jika ibu hamil terpapar gas CO lebih dari 7 jam setiap harinya (Nur 2018). Gangguan lain pada ibu hamil yaitu kematian janin, komplikasi jangka pendek, gangguan perkembangan, dan lesi otak kronis. 

Paparan asap rokok lebih dari 3 jam setiap harinya dapat menyebabkan efek stunting pada balita (Humairoh dkk 2021). 

Menurut Nevers (2000), efek gas CO yang ada di dalam tubuh manusia dapat dilihat sebagai berikut:

% CO dalam Darah (dalam Bentuk COHb)Efek Bagi Tubuh
0,3-0,7Gangguan psikologi seperti pada perokok
2,5-3,0Gangguan dan kerusakan fungsi jantung: aliran darah, perubahan konsentrasi sel darah merah, dan tekanan darah 
4,0-6,0Berkurangnya kesiagaan, penglihatan, penurunan energi untuk kerja maksimum
6,0-8,0 Terjadinya gejala seperti pada perokok, perokok memproduksi lebih banyak sel darah merah dari pada bukan perokok untuk mengimbanginya
10,0-20,0Sakit kepala berlebihan, tidak bertenaga, lesu, potensi kerusakan pada janin, pembesaran sel darah pada kulit, dan penglihatan tidak normal
20,0-30,0 Ketidaknormalan keterampilan individu, mual, sakit kepala
30,0-40,0Kelemahan otot, muntah, mual, pandangan mata gelap, mudah emosi, timbul sifat pemberontak, dan sakit kepala hebat
40,0-60,0Pingsan, tertawa yang berlebihan, koma
60,0-70,0Koma, berhentinya aktivitas jantung dan pernapasan, beberapa terjadi kematian
Lebih dari 70,0Kematian
Tabel efek gas karbon monoksida bagi tubuh.

Baca juga: Pengungkapan Emisi Karbon dan Manfaatnya bagi Perusahaan

Dampak Karbon Monoksida untuk Lingkungan

Karbon monoksida atau CO memang ubkanlah polutan utama gas rumah kaca. Namun keberadaannya juga berkontribusi pad apembentukan ozon toporsfer, polutan udara lain yang memiliki efek tidak sehat. Kendati karbon monoksida tidak menyebabkan perubahan iklim secara langsung, keberadaannya memengaruhi kelimpahan gas rumah kaca seperti metana dan karbon dioksida.

Ketika karbon monoksida dilepaskan ke atmosfer, juga memengaruhi jumlah gas rumah kaca yang terkait dengan perubahan iklim dan pemanasan global. Hal ini dapat menyebabkan peningkatan suhu di daratan dan laut, mengubah ekosistem, meningkatkan aktivitas badai, dan menyebabkan peristiwa cuaca ekstrem lainnya.

Orang dan hewan dapat terpapar tingkat karbon monoksida yang tinggi selama kebakaran hutan. Paparan tinggi karbon monoksida dapat membuat kita sakit dan membuat sulit untuk memiliki bayi.

Cara Mengurangi Dampak Karbon Monoksida (CO)

Penggunaan kendaraan di Indonesia terbilang sangat tinggi, apalagi di kota-kota besar. Salah satu cara untuk mengurangi CO, menurut penelitian Maryanto dkk (2009) dengan cara penambahan arang aktif, glasswool, air, atau bahan yang bersifat absorben dan adsorben mampu mengurangi kadar emisi gas CO yang terbuang dari knalpot kendaraan bermotor.

Selain itu, kita dapat menggunakan transportasi umum ketika bepergian misalnya bekerja. Jika menggunakan kendaraan pribadi, pastikan selalu merawat dengan rutin agar knalpot terjaga dengan baik.

Memasang Detektor gas CO bisa dilakukan di rumah. Adanya detektor mampu mengetahui berapa tingkat konsentrasi CO di sekitar kita.

Dan yang terakhir, pastikan dapur memiliki ventilasi udara yang baik dan kalau kita memasak/membakar menggunakan arang, lakukan di luar ruangan agar gas karbon dioksida tidak terperangkap di rumah kita.

Itulah penjelasan singkat mengenai karbon monoksida! Setelah membaca tulisan di atas, sebaiknya kita lebih aware dengan kondisi sekitar kita, agar terhindar dan dapat mengurangi dampak dari paparan gas monoksida.

Baca juga: Mengenal Apa Itu FOLU Net Sink 2030

LindungiHutan Menanam Lebih Dari 800 RIBU Pohon di 50 Lokasi Penanaman Bersama 500+ Brand dan Perusahaan

Apa yang Kami Lakukan?
Hubungi Kami

FAQ

Apakah gas karbon monoksida berbahaya?

Gas monoksida sangat berbahaya itu lah mengapa disebut silent killer. Gas ini tidak berbau dan berwarna. Menghirup gas CO secara berlebihan mampu menyebabkan kematian.

Apa akibat dari karbon monoksida?

Akibat dari karbon monoksida adalah dapat mengakibatkan keracunan karbon monoksida pada manusia. Hal ini dapat menyebabkan gejala seperti pusing, mual, muntah, bahkan kematian jika terpapar dalam jumlah yang berbahaya.

Bagaimana pengaruh karbon monoksida pada perubahan iklim?

Gas CO yang terperangkap di dalam atmosfer meningkatkan gas rumah kaca sehingga meningkat pula suhu rata-rata di bumi yang menjadi tanda adanya perubahan iklim.

Mengapa CO sangat berbahaya?

CO sangat berbahaya karena mengikat hemoglobin dalam darah dan menghambat pengiriman oksigen ke sel-sel tubuh, yang dapat mengakibatkan hipoksia dan bahkan kematian.

Penulis: Ana Salsabila