Connect with us

Lingkungan

Bagaimana Tren Thrifting Dapat Berdampak Baik pada Kelestarian Lingkungan

Published

on

fenomena thrifting dan dampaknya terhadap lingkungan.

Kamu mungkin sudah tidak asing dengan istilah thrift shop, atau thrifting. Beberapa tahun terakhir ini, thrifting memang menjadi tren yang digandrungi oleh masyarakat Indonesia, utamanya di kalangan anak muda.

Namun tahukah kamu, aktivitas satu ini ternyata sarat akan kepedulian terhadap lingkungan?! Kok bisa? Nah sebelum itu, mari kita bahas dulu apa itu thrifting dan bagaimana ia menjadi sebuah tren?

Apa Arti Thrifting?

Ilustrasi orang sedang thrifting.
Menjadi tren di kalangan anak muda, apa sebenarnya thrifting itu?

Jadi, budaya thrifting adalah bagian dari budaya populer yang mana kegiatan ini sedang disukai atau diminati oleh banyak orang, kemudian berkembang terus hingga menjadi sebuah tren. Jika diartikan secara bebas, artinya adalah kegiatan berburu dan berbelanja barang bekas.

Menurut Nella & Dyva, thrifting adalah aktivitas berbelanja barang kuno yang harganya lebih murah dari harga aslinya, ketersediaan barangnya di pasaran pun  terbatas.

Tak berbeda jauh, Gulfira mengartikan thrifting sebagai kegiatan mencari barang secondhand stuff  ke tempat-tempat yang menjual barang bekas.

Lebih lengkap, Hayati dan Susilawati menjelaskan bahwa thrifting adalah suatu aktivitas mencari dan membeli barang bekas pakai berdasarkan model yang diinginkan dengan harga yang terjangkau, sehingga ada kepuasan tersendiri karena membeli barang bekas tersebut (Nella Linggar Adji, 2023).

Jauh sebelum banyak diminati dan puncaknya menjadi sebuah tren di Indonesia sejak 2019, di berbagai negara, kegiatan mencari barang preloved sebenarnya sudah berkembang dan menyebar sebagai suatu budaya setelah adanya revolusi industri. 

Di  Inggris misalnya, peminat fashion pakaian bekas atau kuno meningkat sekitar tahun 1980 dan 1990-an (Virgina, 2022).

Baca juga: Declutttering: Solusi Hidup Minimalis untuk Lingkungan yang Lebih Tenang (2023)

Kalau di Indonesia Sendiri Gimana?

Tren belanja pakaian bekas di Indonesia.
Faktanya, di indonesia total volume impor pakaian bekas tahun 2019 mencapai 392 ton.

Well, tren ini mulai booming banget pada tahun 2019 lalu. Hal tersebut didukung sama data Badan Pusat Statistik (BPS) yang melaporkan bahwa tahun 2019 menjadi nilai impor pakaian bekas paling tinggi selama satu dekade terakhir. Bahkan, total volume impornya mencapai volume 392 ton dengan nilai US$494.000 (Bayu, 2022).

Selain itu, tingginya minat masyarakat terhadap thrifting juga membuat toko-toko barang bekas bermunculan, baik itu online maupun offline. Secara umum, alasan masyarakat memilih thrifting untuk berbelanja adalah karena mereka tetap bisa membeli barang bermerek untuk berpenampilan “Wah”, plus dengan harga yang murah. 

Kemudian, secara khusus ada beberapa faktor yang membuat seseorang memilih untuk berbelanja baju bekas. Penelitian yang dilakukan oleh Virgina di Pasar Pagi Tugu Pahlawan Surabaya, menemukan empat motif yang melatarbelakangi masyarakat di sana melakukan thrifting.

Di antaranya untuk menghemat uang, adanya kebanggaan memakai pakaian thrifting, sarana refreshing, dan terakhir adalah misi lingkungan (Virgina, 2022).

Infografis tentang thrift.
Infografis tentang thrifting oleh LindungiHutan.

Jadi, Apakah Thrift Ramah Lingkungan?

Thrifting ramah lingkungan?
Setidaknya cara ini bisa menekan limbah dari produksi fast fashion.

Meski kebanyakan masyarakat Indonesia tidak menjadikan isu lingkungan sebagai motif utama dalam thrifting, tetapi secara tidak sadar mereka tetap berperan aktif dalam menjaga kelestarian lingkungan. Utamanya, dalam menekan limbah hasil industri fesyen. Emang Iya ya? Jadi begini…

Perkembangan industri fesyen yang saat ini mengadopsi proses produksi fast fashion yakni mode bisnis  yang cepat, murah, serta massal memberi dampak negatif terhadap lingkungan.

EDGE Fashion Intelligence dalam Fashion Industry Waste Statistics, menyebutkan bahwa industri pakaian dan tekstil merupakan pencemar terbesar di dunia kedua setelah minyak (Annisa Karimah Balqies, 2022).

Hal tersebut karena produk fast fashion memiliki masa pakai yang singkat, sehingga jumlah pembuangan sampah pakaiannya pun akan cepat. Sampah pakaian yang sangat sulit didaur ulang itu pada akhirnya akan dibuang ke laut.

Dampaknya, limbah-limbah produksi pakaian akan membahayakan keberlangsungan makhluk hidup yang berhabitat di lautan, dan juga berdampak buruk bagi proses pemanasan global.

Di tengah ancaman tersebut, tren thrifting memberi angin segar akan masa depan lingkungan yang lebih baik. Menggunakan barang hasil thrifting berarti kita telah mengimplementasikan konsumsi yang berkelanjutan dengan prinsip 3R (reduce, reuse, recycle).

Dari aspek ekonomi pun, thrifting dapat menjadi peluang usaha yang menjanjikan. Melansir dari theconversation, seorang pedagang yang memiliki bisnis thrift shop mengaku tiap bulannya mendapat omzet hingga Rp 18 juta. Gimana?

Pro Kontra Thrifting

pro dan kontra.
Kalau menurut kamu gimana nih?

Sementara itu, bisnis thrifting yang umumnya menjual pakaian-pakaian bekas bermerek dengan harga miring menimbulkan pro kontra tersendiri. Pasalnya, Kementerian Perdagangan (Kemendag) secara resmi memasukkan pakaian bekas ke dalam barang yang dilarang impor.

Bahkan, dalam rangka menegakkan peraturan tersebut,  pada Agustus 2022 lalu, Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan, membakar impor pakaian bekas yang bernilai RP 8,5 miliar.

Melansir dari theconversation.com, langkah tersebut ia lakukan karena adanya potensi penyebaran jamur yang berbahaya yang ditemukan pada pakaian bekas impor.

Penegakkan peraturan tersebut juga dilakukan untuk melindungi industri tekstil Indonesia yang kalah bersaing dengan pakaian impor bekas yang harganya lebih murah tapi barangnya bermerek dan masih layak pakai.

Baca juga: Lepas: Mengusung Konsep Slow Fashion dan Inisiasi Kampanye Alam “Pendar untuk Semesta”

Terlepas dari pro dan kontra yang ada, paling tidak dengan adanya fenomena thrift memberikan kita alternatif belanja fesyen yang lebih ramah lingkungan.

 Namun, satu hal yang tak juga kalah penting! Belanjalah sesuai kebutuhan dan jangan impulsif! Untuk apa menjejali lemarimu dengan setumpuk pakaian yang hanya kamu pakai sekali saja? 

FAQ

 Apa Baju Thrifting itu bekas pakai?

Barang yang dijual di toko-toko thrift shop umumnya adalah barang bekas pakai tetapi masih layak digunakan. Keuntungan membeli barang thrifting adalah  harganya yang murah, barang tersedia terbatas, dan bermerek.

Thrifting termasuk usaha apa?

Kebanyakan pedagang-pedagang yang terjun ke dunia thrift shop baik konvensional ataupun online adalah mereka yang masuk dalam golongan usaha kecil.

Penulis: Mas Wanajih

Ambil Peran dalam Upaya Pelestarian dan Penghijauan Hutan

LindungiHutan adalah startup yang berfokus untuk penghijauan kembali wilayah hutan (reforestasi) dan luar hutan (Aforestasi). Selama bertahun-tahun, puluhan ribu orang telah percaya dan menggunakan layanan kami.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Unduh Annual Report LindungiHutan