Kegiatan
Kolaborasi Lintas Sektor Dorong Solusi Hijau
Dalam menghadapi krisis iklim global, solusi tidak bisa lagi digerakkan oleh satu sektor saja. Diperlukan kolaborasi yang melibatkan berbagai pihak dari lintas sektor.
LindungiHutan melalui Open House Vol. 3 membuka ruang diskusi dengan menghadirkan perwakilan industri, aktivis lingkungan, dan pemangku kepentingan lainnya untuk mencari jalan keluar bersama demi masa depan yang lebih hijau dan berkelanjutan.
Pendekatan ini sejalan dengan pandangan World Economic Forum yang menekankan bahwa kolaborasi lintas sektor adalah satu-satunya cara untuk menyelesaikan tantangan global yang paling sulit, termasuk perubahan iklim.
Acara ini juga menyoroti perubahan lanskap bisnis yang kini menuntut tanggung jawab lingkungan tidak hanya sebagai nilai tambah, tetapi sebagai kebutuhan strategis.
Melalui pendekatan kolaboratif, para narasumber berbagi informasi tentang tantangan, solusi, dan peran penting individu dalam mendorong keberlanjutan di tingkat organisasi.
Talkshow menghadirkan para speaker:
1. dr. Andri Theja, M.M (PT Salam Pacific Indonesia Lines)
2. Adryan Hafizh / Bang Yahe (Kolaborasi.co & LindungiHutan)
3. Regina Inderadi, MBA, CSSCP (ISSP Indonesia)
Daftar Isi
- Tantangan Multi Sektor Atasi Krisis Iklim
- Regulasi dan Konsumen Mendorong Perubahan Industri
- Kolaborasi Lintas Sektor sebagai Katalis Inovasi Hijau
- Peran LindungiHutan dalam Mendorong Kolaborasi Lintas Sektor
- Membangun Masa Depan Berkelanjutan Bersama
- Saatnya Terlibat dalam Kolaborasi Lintas Sektor
- LindungiHutan Menanam Lebih dari 1 JUTA Pohon di 30+ Lokasi Penanaman Bersama 590+ Brand dan Perusahaan
Tantangan Multi Sektor Atasi Krisis Iklim
Bang Yahe, aktivis lingkungan, menyoroti bahwa krisis iklim kini disebabkan tidak hanya oleh sektor industri, tetapi juga oleh gaya hidup individu. “Semua orang menyumbang emisi karbon, tapi belum semuanya paham bagaimana menebusnya,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa tren CSR yang bersifat simbolis sudah tidak relevan. Solusi seperti penanaman pohon dan pengurangan sampah plastik harus menjadi pendekatan jangka panjang yang menyatu dengan strategi perusahaan. CSR bukan lagi soal branding, tetapi investasi keberlanjutan.
Regulasi dan Konsumen Mendorong Perubahan Industri
Menurut Kak Regina menjelaskan bahwa dorongan terbesar bagi perusahaan untuk berubah adalah regulasi pemerintah dan tekanan konsumen. “Kini transparansi menjadi kunci daya saing,” katanya, merujuk pada regulasi OJK dan UU terkait keberlanjutan.
Sementara itu, Kak Nora dari industri baja menambahkan, “Demand dan peraturan terbaru yang mengatur tentang industri berkelanjutan seperti Undang-Undang, Permen LHK, dan standar ISO 14001 mendorong industri untuk berinovasi menuju keberlanjutan.”
Perusahaan kini tidak hanya melihat cost, tapi juga bagaimana memenuhi ekspektasi konsumen dan regulator secara bersamaan.
Baca Juga: Strategi Keberlanjutan Sebagai Fondasi Utama Bisnis
Kolaborasi Lintas Sektor sebagai Katalis Inovasi Hijau
Menurut Kak Andri dari PT SPIL, kesadaran akan tingginya emisi karbon yang dihasilkan perusahaan dan pentingnya menjaga ekosistem laut menjadi titik awal perubahan menuju keberlanjutan.

“Industri memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga bumi, karena kita juga menggantungkan operasional pada sumber daya alam,” ujarnya.
Salah satu langkah konkret yang dilakukan adalah edukasi internal kepada karyawan, dengan menanamkan pemahaman bahwa keberlanjutan bukan hanya tanggung jawab perusahaan, melainkan juga individu.
Dari kebiasaan sederhana seperti membawa tumbler hingga mendaur ulang seragam, perusahaan mulai membangun budaya kerja yang berorientasi hijau.
Namun, perubahan ini tentu tidak mudah. Kak Andri menekankan bahwa tantangan terbesarnya adalah mengubah pola pikir industri yang masih menganggap keberlanjutan sebagai beban tambahan, terutama dari segi biaya.
Agar sistem keberlanjutan dapat berjalan efektif, transformasi tidak hanya dilakukan di level manajerial tetapi juga di tingkat operasional. Di sinilah peran kolaborasi lintas hijau menjadi krusial.
PT SPIL mulai menjalin sinergi dengan komunitas dan pemerintah yang memiliki visi serupa, sebagai upaya untuk memperkuat sistem keberlanjutan yang relevan dengan kebutuhan korporasi sekaligus mendukung inovasi hijau secara lebih luas.
Regina menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektoral untuk mendorong inovasi hijau yang mampu menciptakan dampak nyata bagi konsumen dan lingkungan.

Ia mencontohkan perusahaan besar seperti Unilever dan Danone yang telah berhasil meningkatkan reputasi merek melalui penerapan green innovation.
Harapannya, pendekatan ini tidak hanya diadopsi oleh industri besar, tetapi juga menginspirasi UMKM untuk menerapkan ke arah inovasi hijau dan berkelanjutan.
Peran LindungiHutan dalam Mendorong Kolaborasi Lintas Sektor
Bang Yahe menyampaikan bahwa permintaan dari industri terus berkembang. LindungiHutan kini tidak hanya sebagai penyedia solusi penghijauan, tetapi juga katalisator kolaborasi antara perusahaan, komunitas, dan pemerintah.
“Perubahan permintaan yang cepat menjadi peluang bagi kami untuk memperkuat kerja sama lintas sektor dan menciptakan dampak yang lebih luas,” ujarnya.
Baca Juga: Testimoni AsetKu: Kolaborasi Bersama LindungiHutan, Tanam 1.000 Mangrove di Pulau Pari
Membangun Masa Depan Berkelanjutan Bersama
Seluruh narasumber sepakat bahwa kesadaran individu merupakan fondasi bagi terciptanya perubahan sistemik. Bang Yahe menekankan bahwa keputusan kecil seperti mengurangi penggunaan kantong plastik yang dapat berdampak besar jika dilakukan secara kolektif.
Ia mengingatkan bahwa individu seringkali kesulitan melihat dampak jangka panjang, padahal pilihan sehari-hari turut menentukan masa depan lingkungan.
Untuk menanamkan nilai keberlanjutan sejak dini, LindungiHutan tengah merancang program edukasi hijau untuk anak-anak sekolah.
Kak Regina menambahkan pentingnya menyampaikan edukasi keberlanjutan sejak usia dini, agar pola pikir ramah lingkungan tertanam lebih awal.
Ia juga menyoroti tantangan persepsi terhadap green product yang dianggap mahal, padahal harga tinggi belum tentu mencerminkan keberlanjutan yang sesungguhnya.
Menurutnya, UMKM tidak perlu terbebani dengan standar tinggi, karena kontribusi hijau bisa dimulai dari langkah-langkah kecil yang berdampak.
Sementara itu, Kak Andri mengibaratkan bumi seperti tubuh manusia yang semakin tua dan rentan, sehingga perlu dijaga dengan usaha ekstra.
Ia menekankan bahwa keberlanjutan bukan sekadar branding perusahaan, melainkan tanggung jawab bersama yang harus dimulai dari individu.
“Bumi sudah memberi banyak tanda peringatan. Jangan tunggu dampaknya terasa besar—mulai aja dulu, dari hal kecil,” tegasnya.
Saatnya Terlibat dalam Kolaborasi Lintas Sektor
Jika perusahaan Anda sedang mempertimbangkan strategi keberlanjutan, kolaborasi lintas sektor adalah langkah strategis yang tidak bisa diabaikan.
LindungiHutan siap menjadi mitra kolaboratif Anda dalam mewujudkan solusi hijau yang terukur dan berdampak. Mulailah dari langkah kecil, karena perubahan besar dimulai dari tindakan sederhana yang konsisten.
Hubungi tim kami hari ini dan mulai perjalanan hijau Anda bersama LindungiHutan.
