Connect with us

Lingkungan

ESG: Pengertian, Kriteria, dan Strategi Investasi Berkelanjutan

Logo LindungiHutan

Published

on

Apa itu ESG?

Artikel ini di-review oleh Muthi’ah Aini Rahmi, Product Assistant LindungiHutan

Penggunaan istilah ESG (Environmental, Social, and Governance) sedang ramai diperbincangkan di berbagai penjuru dunia.

Perkembangan isu lingkungan dan sosial yang terus menarik perhatian ahli ekonomi, investor, aktivis lingkungan hidup, dan masyarakat umum membuat kaidah baru ini populer.

Pengertian ESG (Environment, Social, and Governance)

ESG adalah standar yang digunakan perusahaan untuk menilai kinerja keberlanjutan suatu bisnis berdasarkan tiga kriteria utama, yakni Environmental (Lingkungan), Social (Sosial), dan Governance (Tata Kelola Perusahaan).

Pengertian ESG berakar dari inisiatif sektor swasta yang merespons tuntutan global akan pembangunan ekonomi berkelanjutan.

Perusahaan yang menerapkan prinsip ini berarti mengintegrasikan kebijakan dan praktik bisnis yang selaras dengan keberlangsungan lingkungan, tanggung jawab sosial, serta tata kelola yang transparan dan etis.

Saat ini, konsep ESG sustainability semakin populer digunakan oleh investor global, termasuk di Indonesia seiring diperkenalkannya inisiatif Keuangan Berkelanjutan (Sustainable Finance) di sektor perbankan.

Implementasi Environmental Social and Governance (ESG) menjadi faktor penting dalam pengambilan keputusan investasi. Investor kini mempertimbangkan penerapan ESG sebagai indikator kunci keberlanjutan dan daya saing suatu perusahaan.

Selain ESG, terdapat beberapa konsep serupa yang juga relevan, seperti:

  • Environmental, Social, and Corporate Governance (ESCG)
  • Responsible Business Conduct (RBC)
  • Co-Shared Value (CSV)
  • Impact Investing

Apakah ESG sama dengan CSR?

Meski pengertiannya hampir mirip, ESG (Environmental, Social, and Governance) dan CSR (Corporate Social Responsibility) memiliki perbedaan yang cukup mencolok, baik dari segi tujuan maupun pelaksanaannya.

ESG adalah pendekatan yang menekankan integrasi prinsip keberlanjutan ke dalam keseluruhan proses bisnis, sejak tahap perencanaan hingga operasional sehari-hari.

Sementara itu, pengertian CSR lebih mengarah pada upaya sukarela perusahaan untuk memberikan dampak positif kepada masyarakat dan lingkungan, yang tidak selalu terintegrasi dengan strategi inti bisnis.

Dengan kata lain, jika CSR seringkali bersifat reaktif atau simbolis, maka ESG bersifat strategis dan terukur dalam jangka panjang.

Baca juga: 10 Contoh Program CSR Perusahaan di Indonesia

🌱 Gratis! Ebook Panduan Komprehensif Implementasi ESG untuk Perusahaan

Pelajari langkah praktis dan strategi ESG guna memenuhi regulasi, menarik investor, dan meningkatkan reputasi bisnis Anda.

Download Ebook Sekarang!
ESG adalah

3 Kriteria atau Pillar ESG

Environmental Social Governance merujuk pada tiga kriteria yang berhubungan erat dengan keberlangsungan perusahaan.

Ketiga kriteria ini merupakan faktor sentral pengukuran dampak keberlanjutan dan etis dalam pengambilan keputusan dalam berinvestasi pada bisnis dan perusahaan tertentu.

Ketiga faktor utama dalam implementasi Environmental Social Governance tersebut yaitu:

1. Kriteria Lingkungan (Environment)

Environment adalah salah satu kriteria penting dalam ESG yang menilai bagaimana investor mempertimbangkan kinerja perusahaan berdasarkan praktik yang ramah lingkungan dalam operasional bisnisnya.

Environment artinya lingkungan, dan dalam konteks bisnis, mencakup segala upaya perusahaan untuk menjaga keseimbangan alam serta meminimalkan dampak negatif terhadapnya.

Pengertian environment dalam ESG merujuk pada kebijakan dan tindakan perusahaan terkait isu lingkungan, mulai dari efisiensi energi, pengelolaan limbah, hingga perlindungan terhadap keanekaragaman hayati.

konservasi adalah

Contoh environment yang baik dalam praktik perusahaan misalnya penggunaan energi terbarukan, sistem daur ulang limbah, serta konservasi sumber daya alam.

Dengan kata lain, pengertian environment dan contohnya erat kaitannya dengan tanggung jawab ekologis yang dijalankan secara nyata.

Contoh environmental action dari perusahaan antara lain penanaman pohon, pelestarian satwa, atau mengurangi emisi karbon dalam proses produksi.

pantai mangunharjo

Penerapan kriteria environment ini juga menjadi bagian dari manajemen risiko sebagai langkah proaktif yang dapat mengurangi potensi kerugian akibat kerusakan lingkungan atau regulasi yang semakin ketat.

Komitmen perusahaan dalam memenuhi standar lingkungan ini tak hanya berdampak positif pada alam, tapi juga memperkuat fondasi bisnis yang berkelanjutan.

Sebab, kondisi lingkungan yang sehat akan mendukung keberlangsungan operasional jangka panjang perusahaan.

2. Kriteria Sosial (Social)

Aspek social adalah kriteria yang membahas komitmen perusahaan dalam mengelola hubungan dan dampaknya terhadap masyarakat.

Komunitas, masyarakat, pemasok, pembeli, media, dan entitas-entitas lainnya yang memiliki hubungan, secara langsung maupun tidak langsung merupakan faktor yang perlu dipertimbangkan melalui kriteria sosial ini.

Faktor-faktor dari kriteria sosial dapat memberikan dampak pada performa finansial suatu perusahaan. Citra perusahaan dipengaruhi dari siap atau tidak siapnya perusahaan tersebut dalam mengadaptasikan posisinya pada masalah sosial. Berikut contoh implementasinya:

  • Kesejahteraan karyawan: Kondisi kerja yang layak, keseimbangan kerja-hidup, dan kesejahteraan umum karyawan.
  • Hak Asasi Manusia: Kepatuhan terhadap standar hak asasi manusia dalam rantai pasokan dan operasional perusahaan.
  • Komunitas lokal: Dampak operasi perusahaan terhadap komunitas lokal, termasuk program pengembangan komunitas.

3. Kriteria Tata Kelola Perusahaan (Governance)

Berbeda dengan kriteria Environment (Lingkungan) dan Social (Sosial Kemasyarakatan) yang menyoroti hubungan perusahaan dengan pihak eksternal, kriteria Governance (Tata Kelola Perusahaan) memiliki fokus yang berbeda.

Governance lebih menekankan pada bagaimana perusahaan mengelola proses internalnya secara baik, transparan, dan berkelanjutan.

Kriteria Governance membahas aktivitas perusahaan, tergantung aktivitas manajemen dan pemilik perusahaan.

Aspek-aspek yang perlu diperhatikan dalam kriteria ini seperti kebijakan perusahaan, standar perusahaan, budaya, penyingkapan, informasi, proses audit, dan kepatuhan.

Faktor tersebut bisa menjadi nilai plus bagi perusahaan yang dapat memberikan kepercayaan diri calon investor untuk berinvestasi pada perusahaan terkait.

Contohnya, tata kelola keuangan perusahaan yang transparan, legal, dan tidak melanggar hak etik tentunya merupakan hal yang selalu diperhitungkan oleh investor.

7 Strategi Penerapan Environmental Social Governance untuk Perusahaan

Pada dasarnya, penerapan Environmental Social Governance adalah jenis pendekatan investasi yang dapat diadopsi pada berbagai jenis aktivitas dan entitas.

Tidak hanya sebatas pada investor, para pemangku kepentingan, pegiat komunitas, dan para perancang kebijakan dapat menggunakan kriteria Environmental (Lingkungan), Social (Sosial) dan Governance (Tata Kelola Perusahaan) sebagai model manajemen mereka.

Investasi berbasis Environmental Social Governance dapat lebih mudah dilakukan dengan mengeliminasi perusahaan yang bersentimen negatif dan memilih perusahaan-perusahaan yang bernilai positif bagi lingkungan maupun sosial.

Konsep investasi hijau dan berkelanjutan melalui penerapan Environmental, Social, and Governance (ESG) tidak semata-mata berfokus pada keuntungan.

ESG juga memperhatikan dampak positif perusahaan terhadap lingkungan, masyarakat, dan pemerintah, yang pada akhirnya dapat meningkatkan nilai perusahaan secara signifikan dalam jangka panjang.

Tentunya dalam melakukan investasi dana ke perusahaan yang berbasis 3 pilar ini ini juga perlu menerapkan strategi agar investasi dapat berjalan sesuai keinginan.

Berikut ini 7 strategi investasi hijau dan berkelanjutan pada perusahaan yang menerapkan prinsip-prinsip ESG yaitu:

1. Exclusionary (Ekslusif)

Strategi exclusionary dapat membuat investasi ini menjadi tepat sasaran. Seorang calon investor perlu membuat daftar-daftar perusahaan yang secara sentimen dinilai negatif terhadap lingkungan maupun masyarakat.

Perusahaan yang perlu masuk blacklist (daftar hitam) seperti perusahaan pengeruk sumber daya alam ataupun bisnis yang mengarah pada perjudian. Sebab, perusahaan-perusahaan tersebut cenderung abai dengan implementasi prinsip-prinsip berkelanjutan.

2. Best in Class (Terbaik di Bidangnya)

Investasi hijau dengan memilih perusahaan yang menerapkan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) didasarkan pada strategi best in class, yaitu memilih yang terbaik di bidang atau industrinya.

Pendekatan ini membantu calon investor memahami bahwa tidak semua perusahaan yang tampaknya peduli pada isu lingkungan atau sosial otomatis layak dijadikan sasaran investasi.

Pihak investor perlu memilih perusahaan-perusahaan yang memiliki peringkat dan catatan kepeduliaan dan penerapan kriteria Environmental Social Governance yang baik.

Perusahaan tersebut dapat dinilai melalui dampak perusahaan terhadap lingkungan, reputasi di mata masyarakat, dan kepatuhan terkait tata kelola maupun aturan.

3. ESG Integration

ESG Integration adalah analisis aspek-aspek Environmental Social Governance dalam suatu perusahaan oleh manajer investasi untuk dilakukannya penyesuaian sebelum mengambil keputusan investasi.

Manajer investasi umumnya akan mencoba melakukan penyesuaian taksiran penjualan maupun biaya untuk mengintegrasikan faktor-faktor Environmental Social Governance pada suatu perusahaan.

Melalui penyesuaian tersebut, akan diketahui kesesuaian jika valuasi yang ditawarkan oleh perusahaan tersebut sesuai dan cukup menjanjikan atau tidak.

Baca juga: Apa Itu ESG Investing? Bagaimana Cara Kerjanya?

4. Sustainability Theme Investment

Melalui strategi ini, investor tidak perlu menyasar berbagai perusahaan dan menilai keseluruhan aspek lingkungan dan sosialnya.

Calon investor hanya perlu menargetkan perusahaan-perusahaan di bidang tertentu yang memiliki sentimen positif terkait lingkungan maupun masyarakat.

Contohnya, pemilik modal bisa memilih untuk berinvestasi ke perusahaan yang berbasis atau mengelola energi terbarukan.

Tidak hanya bertujuan untuk finansial jangka panjang, melainkan dukungan perusahaan tersebut terhadap lingkungan yang bisa memberikan dampak positif bagi lingkungan.

5. Green Bond (Obligasi Hijau)

Hampir sama dengan strategi Sustainability Theme Investment, strategi investasi ESG yang satu ini mengarahkan investasi ke perusahaan-perusahaan sejenis yang ramah lingkungan maupun sosial.

Perbedaannya terdapat pada bentuk investasi yang dilakukan. Pada Sustainability Theme Investment, investor biasanya membeli saham perusahaan yang sudah terdaftar bursa efek dan dananya akan digunakan untuk operasional perusahaan secara keseluruhan.

Sementaraan pada strategi green bond (obligasi hijau), hanya membeli surat utang atau obligasi (bond) perusahaan terkait proyek berbasis lingkungan atau sosial yang tengah mereka kerjakan.

6. Impact Investment (Investasi Berdampak Positif)

Investasi hijau dapat investor lakukan dengan melihat syarat dan nilai keberdampakan sosial dan lingkungan suatu perusahaan secara spesifik.

Sebelum melakukan investasi pada perusahaan yang menerapkan prinsip ESG, calon investor harus mengetahui terlebih dahulu seberapa besar pengaruh pengelolaan perusahaan tersebut terhadap pengurangan pencemaran air maupun udara.

Setelah itu, pemilik modal dapat melakukan investasi pada perusahaan hijau dan berkelanjutan tersebut melalui surat utang atau pembelian saham.

7. Stewardship and Engagement

Strategi ini mengarah pada intervensi berupa pengarahan dan pengawasan manajer investasi ke perusahaan yang dituju untuk investasi hijau.

Pengarahan dan pengawasan ini bertujuan untuk memastikan perusahaan terkait menjalankan bisnisnya dengan basis lingkungan, sosial dan taat aturan.

Pada strategi ini, terjadi interaksi antara manajer investasi dengan manajemen perusahaan yang berfokus pada penerapan aspek-aspek Environmental Social Governance.

Baca juga: Dukung Keberlanjutan Pesisir PantaiBCA Life Tanam 1.500 Pohon Mangrove Kolaborasi dengan Lindungi Hutan-Program ESG

FAQ

Apa itu ESG?

ESG adalah standar keberlanjutan yang menilai kinerja perusahaan dari aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola, serta kini menjadi acuan penting bagi investor dan bisnis dalam menciptakan dampak jangka panjang.

Apakah ESG sama dengan CSR?

ESG adalah pendekatan strategis yang mengintegrasikan keberlanjutan ke seluruh proses bisnis, berbeda dengan CSR yang lebih bersifat sukarela dan tidak selalu terhubung langsung dengan inti strategi perusahaan.

Apa 3 pilar atau kriteria ESG?

3 pilar atau kritea ESQ yaitu Environmental (Lingkungan), Social (Sosial), dan Governance (Tata Kelola Perusahaan).

Apa saja strategi penerapan ESG?

7 strategi penerapan prinsip-prinsip ESG yaitu Exclusionary (Ekslusif), Best in Class (Terbaik di Bidangnya), ESG Integration, Sustainability Theme Investment, Green Bond (Obligasi Hijau), Impact Investment (Investasi Berdampak Positif), dan Stewardship and Engagement.

LindungiHutan Menanam Lebih dari 1.1 JUTA Pohon di 30+ Lokasi Penanaman Bersama 600+ Brand dan Perusahaan

Apa yang Kami Lakukan?
Butuh Info Lebih Lanjut?

Penulis: Farhana Nisa Arviani

Editor: M. Nana Siktiyana

Continue Reading
3 Comments

3 Comments

  1. Syamsul

    01/05/2022 at 10:10

    Terima kasih atas informasinya. Sangat membantu.

  2. Abdullah

    15/03/2023 at 18:32

    Dengan adanya tiga kriteria ESG merupakan faktor sentral dalam keberlangsungan
    Perusahaan ketiga kriteria itu
    1.kriteria lingkungan
    2. Kriteria sosial
    3. Kriteria kelola perusahaan
    Ketiga kriteria tersebut menjadi nilai plus bagi perusahansemoga hal ini dapat
    Tolak ukur dalam melakukan aktipitas

  3. ABDULLAH

    15/03/2023 at 18:34

    Dari ketiga faktor keriteria ESG
    1. Kriteria lingkungan
    2.keriteria sosial
    3. Kriteria kelola perusahaan
    Dapat memberikan dampak terhadap perusahaan karena didalamnya terdapat konservasi sumber daya alam
    Dan hubungan sebuah perusahaan dengan fihak eksternal

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *