Connect with us

Hutanpedia

Simak! 8 Jenis Mangrove yang Menyimpan Banyak Manfaat

Published

on

jenis mangrove

Hutan mangrove memiliki peran strategis dalam menjaga keseimbangan ekosistem pesisir. Selain berfungsi sebagai pelindung alami terhadap abrasi pantai, kawasan ini juga menjadi habitat penting bagi beragam jenis flora dan fauna.

Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki keanekaragaman jenis mangrove yang sangat tinggi. Apa saja jenis-jenis mangrove yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia? Simak penjelasan lengkapnya dalam artikel ini.

1. Mangrove Jenis Api-Api (Avicennia spp)

Jenis mangrove yang pertama yang akan kita bahas adalah Mangrove api-api (Avicennia spp). Jenis ini termasuk mangrove sejati dan merupakan pionir dalam ekosistem pesisir.

Mangrove api-api berperan penting dalam menjaga integritas lingkungan sekaligus menyediakan sumber daya bernilai ekonomi, baik berupa produk kayu maupun hasil hutan non-kayu.

Pemanfaatannya mendukung ketahanan pangan dan kesehatan masyarakat pesisir, serta berkontribusi pada pelestarian ekosistem.

Sejak abad lampau, masyarakat pesisir di wilayah seperti Palembang, Cilacap, Bekasi, dan Tangerang telah memanfaatkan pohon api-api secara tradisional.

Bagian-bagian tanaman digunakan untuk berbagai kebutuhan, seperti daun untuk pakan ternak, buah sebagai bahan pangan, getah untuk obat-obatan, dan abu kayu sebagai bahan pembersih.

Salah satu inovasi pemanfaatan buah mangrove api-api adalah sebagai bahan baku tepung. Tepung mangrove ini dapat menjadi produk antara untuk industri kuliner atau produk turunan lainnya.

Namun, proses pengolahannya memerlukan penanganan khusus untuk menghilangkan senyawa tanin dan sianida yang memberikan rasa pahit pada bahan baku tersebut.

Baca juga: Hutan Mangrove: Ciri-Ciri, Fungsi, dan Manfaatnya

2. Jenis Mangrove Pedada (Sonneratia)

Pedada (Sonneratia spp) merupakan salah satu jenis mangrove yang tumbuh di area dengan salinitas rendah, umumnya pada tanah lumpur dalam di sepanjang sungai kecil dengan aliran pelan dan terpengaruh oleh pasang surut.

Jenis ini tidak ditemukan pada daerah berkarang atau pematang. Pohon pedada dapat tumbuh hingga ketinggian 15 meter dan memiliki akar napas berbentuk kerucut yang kuat dan banyak jumlahnya.

Ciri morfologis lainnya adalah cabang atau ranting yang terkulai serta memiliki bentuk segi empat pada fase pertumbuhan muda.

Mangrove Pedada (Sonneratia) memiliki karakteristik buah normal yang memerlukan proses penaburan atau penyemaian kecambah untuk meningkatkan peluang tumbuh di alam.

Jenis ini juga bertipe biji rekalsitran, yaitu biji yang tumbuh secara berkelanjutan tanpa mengalami masa dormansi. Daunnya tunggal, berhadapan, berbentuk bundar telur terbalik atau memanjang, dengan pangkal meruncing seperti baji dan ujung membulat atau tumpul.

Secara tradisional, buah pedada dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai bahan pangan, salah satunya untuk campuran rujak karena rasanya yang asam dan tidak beracun.

3. Bakau (Rhizophora sp)

Dalam konteks pelestarian ekosistem pesisir, istilah “mangrove”, “bakau”, dan “Rhizophora” sering kali digunakan secara bergantian, meskipun memiliki pengertian yang berbeda.

Pohon bakau merupakan sebutan lokal yang merujuk pada berbagai tumbuhan dari genus Rhizophora, yang merupakan salah satu komponen utama dari hutan mangrove di Indonesia.

Tanaman bakau umumnya berkembang di bagian luar kawasan hutan mangrove yang langsung menghadap laut, dengan substrat berupa lumpur.

Lokasi tumbuh ini menjadikan pohon bakau sebagai garda terdepan dalam melindungi pesisir dari abrasi dan ombak tinggi. Selain fungsi ekologisnya, kawasan bakau juga menyediakan habitat penting serta sumber makanan bagi berbagai spesies flora dan fauna.

Ciri khas pohon bakau terletak pada struktur akarnya. Akar tunjang (stilt root) membantu menopang batang pohon agar tetap kokoh saat menghadapi tekanan dari ombak dan pasang surut air laut.

Struktur ini juga berperan dalam stabilisasi sedimen dan meningkatkan penyerapan nutrisi. Di Indonesia, pohon bakau dari genus Rhizophora terbagi menjadi tiga jenis utama, yaitu:

  • Rhizophora Apiculata (Bakau minyak)
  • Rhizophora Mucronata (Bakau hitam)
  • Rhizophora Stylosa

4. Lacang (Bruguiera sp)

Bruguiera merupakan salah satu genus penting penyusun ekosistem hutan mangrove yang memiliki nilai ekologis tinggi.

Tumbuhan ini tumbuh dalam bentuk pohon dengan tinggi mencapai 23 meter dan memiliki sistem perakaran khas, yaitu akar lutut dan akar papan yang melebar dari pangkal batang untuk memberikan stabilitas pada tanah berlumpur.

Kulit batangnya berwarna abu-abu, relatif halus, dan memiliki lentisel kecil sebagai jalur pertukaran udara. Daunnya berwarna hijau cerah dengan bagian bawah yang agak kekuningan.

Susunan daun bersifat berlawanan, berbentuk elips dengan ujung agak meruncing, dan berukuran antara 7–17 cm panjang serta 2–8 cm lebar.

Bunga Bruguiera tumbuh berkelompok, terdiri dari tiga kuntum, dan terletak di ujung atau ketiak tangkai bunga.

Mahkota bunga berwarna putih, sementara kelopaknya berjumlah delapan dengan warna hijau kekuningan. Bagian bawah kelopak berbentuk seperti tabung dan berukuran sekitar 3–4 mm.

Ciri khas lainnya adalah hipokotil—struktur yang merupakan bakal tunas—yang berbentuk silindris memanjang atau sedikit melengkung, berukuran 8–15 cm dengan diameter 5–10 mm, berwarna hijau.

Bruguiera umumnya tumbuh berkelompok dalam jumlah besar pada substrat yang gembur. Habitat alaminya berada di bagian belakang zona Avicennia atau di zona tengah vegetasi mangrove yang mengarah ke laut.

Tumbuhan ini sangat bergantung pada akar napas untuk suplai oksigen, sehingga membutuhkan kondisi penggenangan air yang cukup lama dan dengan pasang surut yang konsisten.

5. Jenis Mangrove Xylocarpus spp atau Nyirih

Dijumpai setidaknya tiga jenis mangrove dari genus Xylocarpus, yakni Xylocarpus granatum, X. mekongensis, X. molukensis.

Mangrove jenis ini berupa pohon dan memiliki akar papan yang melebar ke samping, meliuk-liuk, dan membentuk celah. Kulit kayu berwarna coklat muda kekuningan, tipis, dan mengelupas.

Daunnya agak tebal dengan susunan berpasangan dan ada yang soliter pada tangkai. Helai daun berbentuk elips hingga bulat telur terbalik dengan ujung membundar.

Buah seperti bola atau kelapa yang bergelantung pada dahan, dengan kulit berwarna hijau kecoklatan. Di dalam buah terdapat biji-biji besar, berkayu, dan berbentuk tetrahedral.

Selain itu, kayu jenis mangrove ini biasanya dimanfaatkan untuk bahan bangunan.

6. Nipah (Nypa fruticans), Jenis Tanaman Bakau Berbentuk Palem

Nipah adalah salah satu jenis tanaman bakau yang umumnya tumbuh di lingkungan hutan bakau di perairan payau (daerah pasang surut).  Hutan nipah tersebar di pesisir pulau Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua.

Nipah telah banyak dimanfaatkan oleh masyarakat di antaranya untuk membuat atap rumah, berbagai kerajinan, kayu bakar, dan sapu lidi, serta beberapa produk misalnya gula nira, tepung, dan makanan olahan.

Bagian tanaman nipah juga telah dimanfaatkan sebagai obat sakit perut, diabetes, dan obat penurun panas dalam oleh masyarakat pesisir perairan Banyuasin sumatera selatan.

Sementara, masyarakat pesisir Aceh mempercayai air rebusan daun nipah berkhasiat sebagai obat sariawan dan sakit gigi.

Ciri morfologis pohon berupa palma tanpa batang di permukaan tetapi batang berada di dalam tanah yang menggarpu dan membentuk rumpun.

Daun menyerupai daun kelapa yang memiliki pelepah. Helai daun berbentuk lanset dengan ujung meruncing. Buah bertandan dengan bulir berbentuk bulat, warna cokelat, kaku, dan berserat. Setiap buah memiliki biji berbentuk telur.

7. Teruntum (Lumnitzera littorea)

Lumnitzera littorea, dikenal dengan nama lokal teruntum, merupakan salah satu jenis mangrove sejati dari famili Combretaceae.

Jenis ini memiliki nilai ekologis dan sosial yang penting, serta sering dimanfaatkan oleh masyarakat pesisir sebagai bahan bangunan dan kayu bakar.

Secara morfologis, Teruntum merupakan pohon selalu hijau yang tumbuh secara tersebar. Sistem perakarannya dilengkapi dengan akar napas berbentuk lutut berwarna cokelat tua, yang berfungsi untuk menunjang pertukaran oksigen di habitat berlumpur dan tergenang.

Kulit batangnya memiliki ciri khas berupa celah atau retakan membujur. Daunnya tebal, kaku, dan berdaging, dengan bentuk bulat telur terbalik dan ujung membundar.

Helai daun tumbuh berumpun di ujung dahan, dengan susunan sederhana dan saling berseberangan. Bunga berwarna merah cerah dan mencolok, sedangkan buahnya berbentuk seperti jambangan dan berwarna hijau.

Lumnitzera littorea banyak ditemukan di kawasan tropis dan merupakan salah satu penanda alami zona transisi antara hutan daratan dan hutan mangrove.

Jenis ini hanya dapat tumbuh di bagian tepi ekosistem mangrove yang berbatasan langsung dengan daratan, sehingga perannya sangat penting dalam menjaga kestabilan kawasan pesisir dan mendukung keanekaragaman hayati.

Baca juga: 10+ Manfaat Hutan Mangrove untuk Lingkungan dan Masyarakat

8. Jenis Mangrove Excoecaria agallocha

Jenis mangrove ini memiliki nama lokal buta-buta dari family Euphorbiaceae. Kayu dari mangrove ini sering digunakan oleh masyarakat untuk bahan pagar. Kulit kayu berbintik dan berwarna abu-abu.

Akarnya menjalar di sepanjang permukaan tanah dan sering berbentuk kusut serta ditutupi lentisel. Daun berwarna hijau tua dan menjadi warna merah bata sebelum rontok. Helai daun berbentuk elips dengan ujung meruncing dan pinggiran bergerigi halus.

Letak pinak daun bersilang. Buah berwarna hijau berbentuk seperti bola dengan tiga tonjolan, dan buah berisi berwarna coklat tua.

Jenis mangrove Excoecaria agallocha juga memiliki potensi manfaat bahan obat sakit gigi dan bengkak pada tangan dan kaki. Selain itu, daunnya berpotensi sebagai antibakteri maupun antijamur.

Itulah delapan jenis mangrove beserta ciri morfologi dan manfaatnya. Keberagaman flora mangrove yang dimiliki Indonesia perlu dijaga dan dilestarikan bersama.

Kerusakan ekosistem mangrove dapat membawa dampak serius bagi manusia maupun lingkungan. Mari berperan aktif dalam menjaga kelestarian mangrove untuk keberlanjutan masa depan.

FAQ

Apa itu hutan mangrove?

Hutan mangrove adalah jenis hutan yang terdiri atas formasi dari tumbuhan yang spesifik, dan umumnya dijumpai tumbuh dan berkembang pada kawasan pesisir yang terlindungi di daerah tropika dan subtropika.

Apa saja jenis mangrove yang ada?

Mangrove api-api, pepada, bakau, lacing, nyirih, nipah, teruntum, buta-buta.

LindungiHutan Menanam Lebih dari 1.1 JUTA Pohon di 30+ Lokasi Penanaman Bersama 600+ Brand dan Perusahaan

Apa yang Kami Lakukan?
Butuh Info Lebih Lanjut?

Muhamad Iqbal adalah SEO content writer di LindungiHutan dengan fokus pada tulisan-tulisan lingkungan, kehutanan dan sosial.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *