Powered by ProofFactor - Social Proof Notifications

Keanekaragaman Hayati: Pengertian, Tingkatan & Manfaat Kehati

Indonesia memiliki tingkat biodiversitas atau keanekaragaman hayati yang tinggi. Tapi apa yang dimaksud dengan kehati? Pembahasan ini mengulas seluk-beluk keanekaragaman hayati secara detail dan lengkap
Pengertian keanekaragaman hayati, tingkatan kehati dan manfaat biodiversitas.

Keanekaragaman hayati adalah keanekaragaman makhluk hidup (manusia, hewan, tumbuhan, serangga, burung dan mikro organisme) dengan adanya variasi dari gen, spesies, dan ekosistem pada suatu tempat atau lingkungan tertentu.

Indonesia merupakan negara kepulauan beriklim tropis yang terletak di antara dua benua, yaitu Asia dan Australia serta dua samudra, yaitu Samudra Pasifik dan Hindia dengan posisi 6° LU–11° LS dan 95° BT–141° BT. Secara biogeografis, bentang alam Indonesia membentuk bioregion yang dapat dipisahkan antara biogeografi flora dan fauna Asia dengan Australasia sehingga terbentuklah garis Wallace dan garis biogeografi, seperti garis Weber dan Lydekker.

Posisi geografis tersebut menyebabkan Indonesia mempunyai keanekaragaman hayati yang sangat tinggi. Bahkan mungkin lebih tinggi dibandingkan dengan Brazil apabila semua sumber daya hayati yang ada di laut dan darat sudah dijelajahi semua.

Negara kita juga terkenal sebagai negara yang memiliki keanekaragaman hayati. Sayangnya beberapa populasi spesies endemik terancam punah. Menurut data yang dimiliki Badan Pusat Statistika (BPS) tahun 2017, jenis satwa yang terancam punah yaitu harimau sumatera, gajah sumatera, badak, banteng, owa, orang utan, bekantan, komodo, jalak bali, maleo, babi rusa, anoa, elang, tersius, dan monyet hitam sulawesi.

Baca juga: Perjuangan Pak Ujang dan Rekan untuk Menjaga Hutan Jakarta

Pengertian Keanekaragaman Hayati (Kehati)

Pengertian atau definisi keanekaragaman hayati menurut Medrizam dkk, (2004) dalam Abidin et al., (2020), Keanekaragaman hayati adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan keanekaan bentuk kehidupan di bumi, interaksi di antara berbagai makhluk hidup serta antara mereka dengan lingkungannya.

Menurut Widjaja et al., (2014), Keanekaragaman hayati dapat diterjemahkan sebagai semua makhluk yang hidup di bumi, termasuk semua jenis tumbuhan, binatang, dan mikroba.

Jenis-jenis keanekaragaman hayati saling berhubungan dan membutuhkan satu dengan yang lainnya untuk tumbuh dan berkembang sehingga membentuk suatu sistem kehidupan.

Sementara itu penjelasan di jurnal Buana Sains, biodiversity diartikan sebagai segala sesuatu yang mencakup seluruh bentuk kehidupan mulai dari gen, spesies, mikroorganisme, ekosistem dan proses ekologi.

Tingkatan Keanekaragaman Hayati

Kehati (biodiversity) terbagi menjadi berbagai tingkatan. Tingkatan kehati mulai dari spesies dan jenis hingga tingkatan yang lebih tinggi.

1. Kehati Tingkat Gen

Keanekaragaman genetik merupakan keanekaragaman yang terjadi pada tingkat populasi yang sama. Hal ini disebabkan adanya susunan gen yang berbeda-beda tiap individu dalam satu spesies. Keseluruhan materi genetik dalam suatu populasi disebut dengan gene pool atau plasma nutfah. Keanekaragaman genetik ini juga disebut variasi.

Pada tingkat keanekaragaman genetik ini, mempengaruhi bentuk fenotip yang dapat dilihat secara langsung dan secara fisiologis.

Semakin beragam keanekaragaman genetik suatu populasi maka menunjukkan semakin besar kemampuan populasi tersebut beradaptasi terhadap lingkungan sekitarnya. Indonesia yang memiliki keanekaragaman lingkungan yang berbeda-beda menyebabkan timbulnya variasi genetik tersebut.

Kehati tingkatan ini disebabkan variasi gen atau struktur gen dalam suatu spesies makhluk hidup. Selain itu, keanekaragaman genetik terjadi karena dua faktor, yaitu adaptasi makhluk hidup terhadap lingkungannya dan perkawinan.

Gen merupakan faktor pembawa sifat keturunan yang dapat dijumpai di dalam kromosom. Setiap susunan gen akan memberi penampakan, secara anatomi maupun fisiologi, pada setiap organisme. Apabila susunannya berbeda, maka penampakannya pun akan berbeda pada satu sifat atau bahkan secara keseluruhan.

Karakteristik keanekaragaman pada tingkat genetika cukup mudah dikenali dengan ciri-ciri yang memiliki variasi, nama ilmiah yang sama, serta perbedaan morfologi yang tidak terlalu mencolok.

Biasanya, keanekaragaman hayati tingkat gen disebut sebagai varietas.

Contoh keanekaragaman hayati tingkat gen pada tumbuhan diantaranya yaitu:

  • Padi (Oryza sativa) dengan varietas padi rojolele, padi ciherang, padi ciliwung, dan lain-lain.
  • Mangga (Mangifera indica) dengan varietas mangga arumanis, mangga manalagi, mangga golek, dan lain-lain.
  • Durian (Durio zibethinus) dengan varietas durian petruk, durian bawor, durian monthong, dan lain-lain.

Contoh keanekaragaman hayati tingkat gen pada hewan yaitu sebagai berikut:

  • Anjing (Canis familiaris) dengan ras anjing golden retriever, anjing bulldog, anjing german shepherd, dan lain-lain.
  • Kucing (Felis catus) dengan ras kucing anggora, kucing persia, kucing sphinx, dan lain-lain
  • Sapi (Bos taurus) dengan ras sapi bali, sapi madura, sapi fries holland, dan lain-lain.

Dalam keanekaragaman hayati tingkat gen, peningkatan dapat terjadi lewat persilangan alias hibridisasi antar organisme atau spesies dengan sifat berbeda serta pembudidayaan hewan dan tumbuhan liar oleh manusia alias domestikasi.

2. Kehati Tingkat Spesies

Keanekaragaman jenis di Indonesia sangat tinggi, keanekaragaman ini terbagi menjadi tiga parameter yaitu species richness (kekayaan jenis), diversity (keanekaragaman jenis) dan evenness (kemerataan jenis).

Di Indonesia, tingkat species richness, diversity dan evenness sangat tinggi. Keanekaragaman spesies tersebut antara lain terdapat 8.500 spesies ikan, 1.533 spesies burung, 35 jenis primata, 600 jenis reptil dan 270 jenis amfibi dan 38.000 jenis tumbuhan. Selain itu Indonesia memiliki keanekaragaman terbesar untuk jenis kupu-kupu, burung nurinurian, palem-paleman serta tumbuh-tumbuhan dan hewan hewan endemik.

Pada tahun 2007 sebanyak 127 jenis mamalia, 382 jenis burung, 31 jenis reptilia, 9 jenis ikan, 20 jenis serangga, 2 jenis crustacea, 1 jenis anthozoa dan 12 jenis bivalvia telah ditetapkan Departemen Kehutanan sebagai flora dan fauna yang dilindungi.

Keanekaragaman tingkat spesies dapat ditemukan pada komunitas atau kelompok berbagai spesies makhluk hidup dalam genus atau famili yang sama di suatu tempat. Biasanya, semakin jauh dari kehidupan manusia, keanekaragaman tingkat spesies juga semakin tinggi.

A. Contoh Kehati Tingkat Spesies pada Tumbuhan (Flora)

  • Tingkat genus: Genus Citrus misalnya pada jeruk bali (Citrus maxima), jeruk nipis (Citrus aurantifolia), dan jeruk manis (Citrus nobilis). Selain itu, Genus Musa pada pisang buah (Musa paradisiaca) dan pisang serat (Musa textilis).
  • Tingkat famili: Famili Poaceae pada padi (Oryza sativa), jagung (Zea mays), dan alang-alang (Imperata cylindrica), dan Famili Zingiberaceae pada kunyit (Curcuma domestica) dan jahe (Zingiber officinalis).

B. Contoh Kehati Tingkat Spesies pada Hewan (Fauna)

  • Tingkat genus: Genus Felis dan Genus Bos. Genus Felis, diantaranya kucing leopard (Felis bengalensis), kucing rumahan (Felis silvestris), dan kucing hutan (Felis chaus) dan Genus Bos pada sapi berpunuk (Bos indicus), sapi potong dan perah di Eropa (Bos Taurus), dan sapi asli Indonesia (Bos sondaicus).
  • Tingkat famili: Famili Bovidae pada sapi (Bos) dan kerbau (Bubalus) dan Famili Canidae: Serigala (Canis) dan rubah (Lycalopex).

3. Kehati Tingkat Ekosistem

Indonesia juga memiliki keanekaragaman ekosistem yang tinggi, diperkirakan Indonesia juga memiliki 90 tipe ekosisten di daratan maupun perairan. Terlebih lagi terdapat 15 formasi hutan alam yang tersebar dari ujung barat di Sabang sampai ujung Timur di Merauke. Setiap ekosistem memiliki karakteristik yang unik dan berbeda antara ekosistem satu dengan ekosistem lainnya.

Keanekaragaman ekosistem memiliki kaitan dengan kekayaan tipe habitat. Keanekaragaman ekosistem tidak hanya terjadi dari satu pulau ke pulau lainnya, tetapi juga dari satu tempat ke tempat lainnya dalam satu pulau. Contohnya adalah Pulau Jawa yang memiliki berbagai jenis ekosistem mulai dari ekosistem lautan pasir, mangrove, padang rumput (sabana), danau, hutan dataran rendah dan lain-lain.

Keanekaragaman ini terjadi akibat perbedaan letak geografis yang menyebabkan perbedaan iklim dan berpengaruh pada perbedaan suhu, curah hujan, intensitas cahaya matahari, dan lamanya penyinaran matahari.

Dengan banyak perbedaan tersebut, flora dan fauna yang menempati suatu daerah akan bervariasi juga.

Contoh keanekaragaman hayati tingkat ekosistem diantaranya yaitu:

  • Ekosistem lumut yang terletak di wilayah sekitar puncak gunung atau di daerah dingin sekitar kutub dan didominasi oleh tumbuhan lumut. Hewan yang dapat dijumpai di dalamnya ialah hewan-hewan berbulu tebal seperti beruang kutub.
  • Ekosistem hutan konifer yang didominasi oleh tumbuhan yang berdaun seperti jarum, misalnya pinus atau cemara yang di dalamnya, terdapat hewan juga salah satunya beruang.
  • Ekosistem hutan hujan tropis yang ditumbuhi beragam pohon, liana, dan epifit. Hewan yang hidup di dalamnya misalnya kera.
  • Ekosistem padang rumput yang terdapat di wilayah kering di ketinggian sekitar 4000 MDPL dan didominasi oleh rumput-rumputan. Pada ekosistem ini, hidup mamalia besar, karnivora, dan herbivora.
  • Ekosistem gurun yang memiliki perbedaan suhu mencolok antara siang dan malam, angin kencang, iklim panas, dan hujan yang sangat sedikit serta didominasi oleh kelompok tumbuhan xerofit seperti kaktus. Hewan yang dapat dijumpai di dalamnya adalah reptil dan mamalia kecil.
  • Ekosistem pantai yang didominasi oleh formasi pes-caprae dan barringtonia berbentuk perdu atau pohon. Di dalamnya, terdapat serangga, burung pantai, dan lain-lain.

Baca juga: Apa itu Green Marketing? Pengertian, Tujuan, Komponen dan Manfaat Green Branding

Klasifikasi Keanekaragaman Hayati

Sistem klasifikasi terdiri dari tiga jenis yaitu buatan, alami, dan filogenetik. Berikut penjelasan lengkapnya diantaranya yaitu:

1. Klasifikasi Sistem Buatan

Klasifikasi keranekaragaman hayati sistem buatan adalah sistem klasifikasi yang menggunakan satu atau dua ciri dari makhluk hidup tersebut. Sistem ini umumnya tersusun berdasarkan ciri atau sifat sesuai keinginan manusia atau sifat lain.

Contohnya yaitu Aristoteles yang membagi makhluk hidup dalam dua kelompok berdasarkan klorofil dan kemampuan berpindah.

2. Klasifikasi Sistem Alami

Sistem ini dibuat berdasarkan persamaan dan perbedaan morfologi. Contoh klasifikasi sistem alami yaitu: Hewan berkaki, bersayap, dan bersirip, terbagi berdasarkan cara gerak. Hewan berbulu, berambut, dan bercangkang, terbagi berdasarkan penutup tubuhnya. Biji berkeping dua dan berkeping satu, terbagi berdasarkan tumbuhan yang memiliki biji.

3. Klasifikasi Sistem Filogenetik

Klasifikasi keanekaragaman hayati ini berdasarkan pada jauh dekatnya kekerabatan antara takson yang satu dengan lainnya. Dengan kata lain, sistem ini disusun berdasarkan pada persamaan fenotipe atau sifat yang bisa diamati. Sistem filogenetik ini pernah dilakukan oleh ekolog bernama, R. H. Whittaker.

Sistem klasifikasi ini membagi makhluk hidup dalam lima kingdom (kerajaan) yaitu:

  1. Kingdom Monera: Kingdom ini memiliki anggota dari organisme prokariotik atau organisme yang tidak memiliki membran inti antara lain bakteri dan Cyanophyta.
  2. Kingdom Protista: Protista terdiri dari organisme tingkat rendah bersel satu misalnya saja organisme eukariotik seperti jamur, protozoa, dan alga.
  3. Kingdom Fungi: Kingdom fungi merupakan kelompok makhluk hidup eukariotik yang mirip dengan tumbuhan. Beberapa anggota kingdom ini yaitu Zygomycotina, Ascomycotina, Basidiomycotina, dan Deuteromycotina. Pengelompokan tersebut berdasarkan pada struktur hifa dan spora yang dihasilkan.
  4. Kingdom Plantae: Kingdom ini beranggotakan tumbuhan multiseluler dan berklorofil. Kelompok plantae ini dikenal juga sebagai organisme autotrof atau yang bisa menghasilkan makanan sendiri.
  5. Kingdom Animalia: Kingdom ini dikenal juga dengan dunia hewan. Anggota kingdom ini yaitu makhluk eukariotik dan multiseluler. Animalia tidak memiliki klorofil sehingga disebut sebagai makhluk hidup heterotrof.

Manfaat Keanekaragaman Hayati (Kehati)

Biodiversitas atau keanekaragaman hayati memiliki manfaat yang krusial bagi keberlangsungan hidup seluruh makhluk. Keragaman hewan dan tumbuhan serta organisme di bumi memenuhi segala macam kebutuhan yang diperlukan oleh kita sebagai manusia. Kebutuhan yang dipenuhi oleh ketiganya tak hanya mencakup kebutuhan primer, tetapi juga kebutuhan sekunder.

Manfaat keanekaragaman hayati diantaranya yaitu:

A. Manfaat Kehati di Bidang Ekonomi

Flora dan fauna dapat memiliki nilai ekonomi. Seperti yang kita ketahui, beberapa tumbuhan berkayu seperti jati biasanya digunakan untuk bahan bangunan dan furniture.

Bahkan, sebagian flora dan fauna hasil hutan menjadi komoditi ekspor yang akan menambah devisa negara.

Beberapa tumbuhan juga bisa dimanfaatkan sebagai sumber makanan dan bahan pembuatan obat. Hewan seperti ikan, unggas, dan ruminansia (sapi, kambing, dan sejenisnya) bisa dimanfaatkan sebagai sumber makanan.

Berbagai industri makanan atau industri lain membutuhkan flora dan fauna sebagai bahan baku produksi. Dengan demikian, semakin beragaman flora dan fauna yang dimiliki, semakin tinggi pendapatan yang akan diperoleh.

2. Manfaat Kehati di Bidang Ekologi

Keberadaan berbagai jenis hutan yang merupakan bagian dari biodiversity memiliki nilai ekologis yang berperan dalam kelestarian bumi. Hutan menghasilkan oksigen dan menyerap emisi karbon dioksida sehingga udara menjadi lebih segar dan bersih. Kemampuan tersebut jugalah yang bisa mencegah terjadinya efek rumah kaca. Sehingga kestabilan iklim global tetap terjaga.

Terlebih lagi, pohon dan organisme lain di hutan juga mampu menyerap polusi yang mencemari udara, tanah dan air.

3. Manfaat Kehati di Bidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK)

Keanekaragaman hayati dapat dimanfaatkan untuk pengembangan ilmu pengetahuan. Hingga saat ini masih banyak kajian ilmiah mengenai flora dan fauna yang ada di bumi.

Semakin banyak jumlah flora dan fauna maka semakin berkembang juga ilmu pengetahuan. Misalnya saja, saat ini masih banyak penelitian tentang potensi berbagai tumbuhan untuk obat herbal dan jamu. Atau penelitian tentang persilangan tanaman untuk menghasilkan varietas baru yang lebih unggul.

4. Manfaat Kehati di Bidang Sosial dan Budaya

Ragam flora dan fauna yang ada di Indonesia juga berpengaruh terhadap sosial budaya masyarakat. Ada beberapa agama di Indonesia yang menggunakan hewan atau tumbuhan tertentu dalam upacara keagamaan atau adat.

Baca juga: Konservasi In Situ dan Ex Situ: Pengertian, Tujuan, Perbedaan, Contoh dan Manfaat

FAQ

Apa itu Keanekaragaman Hayati (Kehati)?

Pengertian keanekaragaman hayati (biodiversity) adalah istilah yang digunakan untuk menunjukkan variasi bentuk kehidupan di bumi, interaksi di antara berbagai makhluk hidup serta antara makhluk hidup dengan lingkungan dan habitatnya.

Berapa Tingkat Keanekaragaman Hayati?

Keanekaragaman hayati (kehati) terbagi menjadi 3 tingkatan yaitu 1) tingkat genetika, 2) tingkat spesies dan 3) tingkat ekosistem. Kita telah mengulas penjelasan dan contoh masing-masing tingkatan kehati di artikel ini.

Penulis: Sintiami Ramadhani

Editor: M. Nana Siktiyana