Connect with us

Hutanpedia

Rehabilitasi Mangrove: Sebuah Panduan, Strategi, dan Implementasi

Published

on

Rehabilitasi mangrove

Rehabilitasi mangrove bisa menjadi alternatif bagi perusahaan Anda yang ingin ikut memberikan kontribusi nyata bagi lingkungan dan masa depan bumi yang berkelanjutan. Inisiatif ini juga akan selaras dengan komitmen sustainability dan tentunya mendukung poin-poin pembangunan berkelanjutan/SDGs.

Mengingat, kawasan hutan mangrove dengan segenap potensi karbon birunya hingga manfaat bagi sosial ekonomi masyarakat.

Lantas, bagaimana rehabilitasi mangrove dilakukan?

Kondisi Hutan Mangrove di Indonesia Saat Ini, Cerita dari Lapangan!

Tahukah Anda, bahwa berdasarkan Peta Mangrove Nasional yang resmi dirilis oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Tahun 2021, total luas ekosistem mangrove di Indonesia mencapai 3.364.076 hektare atau 20,37% dari total luas dunia. Adapun, menurut KLHK luasan lahan tersebut terbagi sebagai rincian berikut ini:

  • Papua seluas 1.562.905 Ha
  • Sumatera seluas 660.445 Ha
  • Maluku seluas 224.36 Ha
  • Jawa seluas 56.500 Ha
  • Bali-Nusa tenggara seluas 39.974 Ha.

Baca juga: 10+ Manfaat Hutan Mangrove untuk Lingkungan dan Masyarakat

Kendati besar kawasan hutan mangrove yang kita miliki, besar pula tanggung jawab pelestarian yang dipikul. Sebab, alih fungsi lahan hingga pembalakan liar pohon mangrove kerap terjadi di lapangan.

Di sisi lain, upaya pelestarian dan rehabilitasi hutan mangrove kerap dipandang masih sepele. Mangrove dinilai sebatas benteng alami pencegah abrasi. Padahal, selain manfaat ekologis, manfaat ekonomi, dan sosialnya juga besar.

Di Kampung Laut Kabupaten Cilacap misalnya. Akhir tahun 90-an kawasan hutan mangrove di Segara Anakan Cilacap hilang menjelma tambak-tambak udang. Sayangnya, tambak udang kemudian berakhir gulung tikar menemui kebangkrutan karena satu lain hal. Menyisakan lahan gersang bekas tambak yang hutan mangrovenya juga ikut hilang.

Kawasan hutan mangrove Kampung Laut Cilacap

Menyaksikan kondisi tersebut, Thomas Heri Wahyono bersama masyarakat setempat mulai melakukan rehabilitasi mangrove. Menanam kembali demi hamparan hijau hutan mangrove seperti dulu lagi. Kini, sudah ada kurang lebih 2 juta pohon mangrove yang ditanam untuk menghijaukan lahan seluas 200 hektare. Cerita Wahyono bisa Anda simak lebih lanjut dalam artikel “Thomas Heri Wahyono, Pakar Mangrove dari Kampung Laut Cilacap Mendapat Penghargaan Nasional”

Selain Thomas Heri Wahyono, masih ada banyak cerita perjuangan lain dalam rangka rehabilitasi mangrove. Mulai dari Sururi profesor mangrove dari Mangunharjo Semarang, Mak Jah dari kampung tenggelam Bedono Demak, atau Edi dan Teh Aas yang menanam mangrove demi masa depan iklim bumi yang lebih baik.  

Komitmen Pemerintah dalam Upaya Rehabilitasi Mangrove

Apa yang terjadi di lapangan dan di akar rumput tentu tidak cukup untuk mewujudkan perubahan radikal. Perlu kolaborasi dan dukungan kolektif. Dalam hal ini andil pemerintah sebagai bukti konkret atas komitmennya.

Presiden Joko Widodo menyebutkan, langkah-langkah rehabilitasi hutan mangrove merupakan salah satu bentuk konkret upaya yang dilakukan pemerintah. Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) bersama Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM) melakukan percepatan rehabilitasi mangrove seluas 34.350 ha yang tersebar di 32 provinsi se-Indonesia.

Mengapa Rehabilitasi Mangrove Penting? Potensi Tersembunyi Karbon Biru

Selain guna mendukung program dan komitmen pemerintah, rehabilitasi mangrove penting dilakukan mengingat ada banyak alasan melatarbelakanginya.

Dari sisi ekologis jelas, keberadaanya mencegah abrasi pantai, rumah bagi biota laut, hingga mencegah intrusi air laut ke daratan. Sementara dari sisi sosial dan ekonomi, banyak masyarakat pesisir dan nelayan yang menggantungkan hidupnya pada ekosistem satu ini.

“Pentingnya menjaga mangrove ini tidak hanya untuk ketersediaan oksigen, tetapi juga untuk penanggulangan bencana seperti tsunami, abrasi yang makin parah, dan bencana lainnya. Tentu saja, selain untuk lingkungan, ekosistem mangrove juga bisa meningkatkan ekonomi masyarakat karena menjadi tempat udang dan ikan-ikan kecil bersembunyi atau membuat sarang yang nantinya bisa ditangkap oleh nelayan,” Ujar Aminul Ichan, Manajer Operasional LindungiHutan.

Rehabilitasi mangrove juga krusial untuk dilakukan mengingat besarnya potensi karbon biru yang dimiliki. Diperkirakan mangrove dapat menyimpan 20 Pg C (Satuan Pg C atau Pentagram Karbon digunakan untuk mengukur jumlah karbon dalam skala besar seperti pada ekosistem karbon biru) dan 70-80% tersimpan di dalam tanah sebagai bahan organik.

Jadi, mangrove sebagai salah satu ekosistem karbon biru di Indonesia memiliki potensi besar dalam mitigasi dan adaptasi perubahan iklim.

“Mangrove sendiri untuk penyimpanan karbon itu hampir 5 kali lipat atau bahkan lebih daripada hutan-hutan tropis lainnya, jadi dibandingkan hutan boreal, ataupun hutan tropis sekalipung mangrove ini punya potensi penyimpanan karbon yang lebih besar sekitar 5 kalinya dari hutan lain,” Jelas Alma Cantika Aristia, Lead Product LindungiHutan. Simak penjelasan Alma lebih lengkap mengenai penyimpanan karbon dalam “Ekosistem Karbon Biru: Potensi, Simpanan Karbon, dan Tantangan 2024”

Mengingat pentingnya rehabilitasi mangrove sebagai salah satu ekosistem karbon biru dalam rangka mitigasi perubahan iklim, tentu langkah ini perlu didukung melalui kolaborasi banyak pihak.

Pemerintah selaku regulator, masyarakat yang memahami kondisi di lapangan, hingga perusahaan yang ingin melakukan carbon offsetting maupun skema perdagangan karbon lainnya.

Perusahaan Anda bisa mendukung program rehabilitasi mangrove sebagai bentuk komitmen terhadap upaya mitigasi perubahan iklim dan masa depan bumi yang berkelanjutan. Sekaligus, mekanisme ini bisa dilakukan sebagai bentuk perdagangan karbon.

Upaya Konservasi dan Rehabilitasi Mangrove Bersama LindungiHutan

LindungiHutan hadir untuk membantu publik dalam mewujudkan kontribusinya terhadap hutan, lingkungan, dan masa depan bumi yang lebih baik. Kami menanam lebih dari 800 ribu pohon di 50 lokasi penanaman bersama 500+ brand dan perusahaan yang turut berkolaborasi.

Penanaman mangrove LindungiHutan
Mitra Petani LindungiHutan melakukan monitoring

Sementara itu, penanaman mangrove dan rehabilitasi mangrove menjadi salah dua fokus utama LindungiHutan.

Bersama Mitra Petani di lapangan, kami tidak hanya menanam mangrove tetapi juga melakukan monitoring demi terjaga tumbuh dan kembangnya pohon. Memastikan setiap pohonnya tumbuh dan bermanfaat sebagaimana mestinya. Sebagai gambaran, silakan simak kondisi penanaman mangrove di Pantai Trimulyo dalam artikel “Pantai Trimulyo: Perubahan Luasan Mangrove 2005-2022”

“Rehabilitasi tidak hanya menanam, namun juga merawat dan memastikan mangrove yang sudah ditanam dapat tumbuh dengan baik,” Jelas Aminul Ichsan.

Melalui penelitian “Mangrove of North Coast Semarang: Assessment of Survival Rate and Growth Progress of Mangrove Rehabilitation Effort”, LindungiHutan mencoba mengukur tingkat survival rate di empat lokasi penanaman mangrove. Hasilnya, penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa tingkat kelangsungan hidup mangrove terbesar ada di pesisir Mangunharjo Semarang dengan besar 93%, Pantai Trimulyo 75%, Pesisir Tambakrejo 70%, dan Bedono Demak 58%.

Tentu, ada banyak faktor yang memengaruhi tingkat keberhasilan rehabilitasi mangrove. Ai menjelaskan bahwa kesesuaian lokasi, musim, pasang surut air, kesesuaian bibit, hingga cara menanam ikut memengaruhi tinggi rendahnya survival rate.

Baca juga: Konservasi Hutan Mangrove, Pentingnya Menjaga Ekosistem Pesisir

LindungiHutan Menanam Lebih Dari 800 Pohon di 50 Lokasi Penanaman yang Tersebar Bersama 500+ Brand dan Perusahaan Terlibat

Rawat Bumi LindungiHutan