Connect with us

Wilayah

Dukuh Rejosari Senik, Bedono, Demak yang Tenggelam dan Rasanya Hidup Sendiri di Sana

Published

on

Qodriyah Desa Bedono

Sekitar pukul delapan pagi saya sudah berada di dermaga kecil menunggu perahu yang akan menjemput. Pagi itu, saya hendak menyambangi rumah Mak Jah sekeluarga, sosok hebat yang tinggal sendirian di kampung yang tergenang rob memilih menanam dan menjaga hutan mangrove.

Untuk menuju rumah Mak Jah saya harus menempuh perjalanan kurang lebih 40 menit dari Kota Semarang. Saya berjanji dengan Ikhwan, putra sulung Mak Jah, yang akan menjemput dengan perahu dan membawa kami menuju rumahnya. Mengapa dengan perahu?

Ya, Mak Jah bersama keluarga tinggal di Dusun Rejosari Senik, Desa Bedono, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak. Sejak tahun 2000 Dusun Rejosari Senik mulai digenangi air rob dampak dari abrasi di pesisir Utara Pulau Jawa. Berangsur-angsur masyarakat meninggalkan kampung halamannya, mencari tempat lain yang lebih layak tinggal.

“Hidup sendiri di sini sudah dari tahun 2010, lha kalau tak tinggal pergi lalu enggak ada yang ngerawat yang nyulami mangrove,” Tutur Mak Jah.

Dari 200 kepala keluarga, kini tinggal Mak Jah sekeluarga yang memilih bertahan. Bukan tanpa alasan, semenjak abrasi mengantam, Mak Jah mulai menanam mangrove dengan harapan bisa menghijaukan kembali kondisi lingkungan tempat tinggalnya. Syukur-syukur menghambat laju abrasi yang kini sudah di depan mata. Untuk itu, Mak Jah enggan pindah. Baginya ini sudah menjadi tanggung jawab untuk merawat hutan-hutan mangrove yang ada di pesisir Bedono.

Baca juga: Sehari Bersama Mak Jah, Menanam Mangrove dan Rasanya Tinggal Sendirri di Tengah Lautan

Rasanya Hidup Sendiri di Kampung yang Tenggelam

Tak perlu menunggu waktu lama, pria kurus berjaket merah menghampiri saya, menyodorkan tangannya sembari memperkenalkan diri. Ikhwan kemudian mengarahkan saya ke pinggir dermaga menunjuk perahu mana yang hendak kami tunggangi.

Kami butuh sekitar 10 menitan menggunakan perahu bermotor untuk menuju rumah Mak Jah. Dari kejauhan tampak rumah di tengah hamparan air laut bersama perahu dan sampan yang terikat di sana. Tak lain dan tak bukan itulah rumah Mak Jah.

Mengetahui kedatangan kami, Mak Jah tergopoh-gopoh keluar rumah menyambut. Mempersilakan saya masuk dan menyambut dengan berbagai sajian makanan dan minuman hangat. Sudah 10 tahun lebih Mak Jah bersama keluarga tinggal sendiri di  Dusun Rejosari Senik, Bedono.

Akibat abrasi, kondisi rumahnya mesti disesuaikan. Halaman belakang rumah menjadi teras, lantai ditinggikan supaya tidak tergenang air laut, meskipun jarak kepala menuju atap memang tak terlalu lenggang. Pagi itu Mak Jah tidak memasak, air laut masih pasang merendam dapurnya. Tungku pawon basah tak bisa untuk memasak. Mak Jah mesti ke pasar untuk membeli makan.

Bagi banyak orang termasuk saya, mungkin kondisi hidup Mak Jah sekeluarga tidaklah biasa. Ketika rumah-rumah lain membangun garasi dan mengisinya dengan motor atau mobil, Mak Jah menyandarkan perahu dan sampan di halaman depan untuk transportasi sehari-harinya.

Rasa penasaran saya muncul, apa rasanya bertahun-tahun tinggal sendirian di tengah lautan? Maka, saya memutuskan untuk bertanya!

Baca juga: Thomas Heri Wahyono, Pakar Mangrove dari Kampung Laut Cilacap Mendapat Penghargaan

Semangat Qodriyah Arungi Lautan untuk Sampai Sekolah

Saya rasa Mak Jah tak pernah keberatan dengan pilihan hidupnya, dan memang benar demikian. Namun, bagaimana dengan putra-putrinya? Mak Jah tinggal bersama empat orang anaknya, dua di antaranya masih menempuh pendidikan. Lantas, bagaimana mereka menjalani hidup yang tak biasa ini?

Saya sempat mengobrol dengan Qodriyah (18), satu-satunya anak perempuan Mak Jah yang baru saja lulus bangku SMA dan hendak meneruskan kuliah. Mungkin terdengar bodoh, tetapi seketika mulut saya bertanya, bagaimana Qodriyah berangkat sekolah? Ia menjawab dengan sedikit tertawa, bahwa pilihannya ya hanya dengan perahu atau sampan.

Untuk sampai di sekolahan, Qodriyah mesti menggunakan perahu atau sampan dari rumahnya. Sehari-hari berangkat pukul setengah 6 pagi, kemudian sampai di dermaga pukul 6. Dari dermaga, lanjut dengan sepeda menuju jalan raya. Perjalanan belum usai, Qodriyah mesti menyambung dengan bus untuk sampai di sekolahan. Rute tersebut dirinya lakoni setiap hari selama berangkat maupun pulang sekolah!

“Capek banget emang, apalagi kalau malam itu sampai rumah jam 7 atau 8 malam,” Ungkap Qodriyah.

Belum lagi jika hujan tiba, tak ada alasan baginya untuk bolos sekolah. Qodriyah tetap berangkat sekolah seperti biasa.

“Tetap berangkat, pernah hujan sampai sekolah basah kuyup, buku basah, seragam juga, sampai sekolah tempat duduknya di bawah kipas angin lagi, dinginnya kayak apa?” Tanya Qodriyah sembari saya membayangkannya.

Di luar sekolah, Qodriyah mengaku jarang bermain dengan teman-temannya. Mengingat dirinya yang tidak memiliki tetangga, membuatnya menyibukkan diri dengan membaca, nonton TV, hingga bermain dengan adiknya. Dahulu ketika abrasi belum menghantam dan banjir rob menggenang, Qodriyah masih memiliki teman-teman bermain. Seiring berjalannya waktu teman-teman Qodriyah bersama keluarganya memutuskan pindah.

Baca juga: Enggak Cuma Ramai di Twitter, K-Popers Tunjukkan Kepeduliannya terhadap Aksi Pelestarian Lingkungan

Ada banyak suka dan duka selama tinggal bersama keluarga, sendirian di kampung yang kini terendam air laut akibat abrasi.

“Sukanya karena tenang, jauh dari keramaian, udaranya juga masih enak, kalau dukanya itu mati lampu atau air habis itu harus cari air dulu di desa sebelah, terus kemana-mana harus naik perahu, kalau musim angin kencang juga ngeri banget, rob tinggi, rumah jadi basah kuyup,” Ujar perempuan yang baru saja memulai perkuliahannya tahun ini.

Di tengah keterbatasan gerak dan fasilitas, Qodriyah tak pernah menyesali dan merutuki nasib hidupnya. Bahkan, dirinya bersama keluarga ikut membantu Mak Jah menanam dan menjaga mangrove di pesisir Bedono. Qodriyah ingin melanjutkan apa yang sudah dilakukan oleh ibunya.

“Aku masih ingin bertahan melanjutkan apa yang sudah dilakukan mamak, tetapi dengan caraku sendiri. Menurut aku untuk generasi muda ayo semangat kita hijaukan dan jaga lingkungan, ikut berpartisipasi aktif, karena di sini abrasinya nyata dan sudah sampai jalan Pantura,” Pungkas Qodriyah.

Baca juga: 5 Rekomendasi Lokasi Menanam Mangrove

LindungiHutan Menanam Lebih Dari 800 RIBU Pohon di 50 Lokasi Penanaman yang Tersebar di Indonesia!

Muhamad Iqbal adalah SEO content writer di LindungiHutan dengan fokus pada tulisan-tulisan lingkungan, kehutanan dan sosial.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Rawat Bumi LindungiHutan