Connect with us

Bisnis Lestari

Konservasi Hutan Mangrove: Pentingnya Menjaga Ekosistem Pesisir

Published

on

Konservasi hutan mangrove adalah

Tahukah Anda bahwa hutan mangrove di Indonesia mencapai luas 3.364.076 hektare? Hutan mangrove ini terbagi menjadi tiga kategori, yaitu mangrove lebat dengan luas 3.121.240 hektare, mangrove sedang seluas 188.366 hektare, dan mangrove jarang seluas 54.474 hektare.

Namun, ketika membahas potensi besar hutan mangrove, tentu diperlukan semangat dan komitmen pemerintah yang besar pula untuk menjaga kelestariannya. Upaya konservasi hutan mangrove mesti digalakan!

Kenyataannya, ekosistem hutan mangrove juga menghadapi tantangan dan risiko, seperti perubahan fungsi lahan menjadi pertanian, pemukiman, tambak, polusi limbah, dan berbagai masalah lainnya.

Manfaat Hutan Mangrove

Hutan mangrove memainkan peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem pesisir. Mangrove berfungsi sebagai benteng alami yang melindungi pantai dari abrasi dan badai, memberikan tempat berkembang biak yang vital bagi berbagai jenis ikan dan organisme laut, serta menyediakan sumber daya yang berkelanjutan untuk masyarakat sekitar.

Selain itu, mangrove juga berkontribusi dalam menyaring air laut, menyerap karbon dioksida, dan mempertahankan keanekaragaman hayati. Untuk lebih lengkapnya, simak artikel “10+ Manfaat Hutan Mangrove untuk Lingkungan dan Masyarakat.

Selain manfaat ekologis seperti contoh di atas, berikut ini peran dan manfaat hutan mangrove dari segi ekonomi, sosial, hingga kontribusi dalam upaya mitigasi perubahan iklim!

1. Olahan Mangrove Ibu-Ibu Kelompok Kebaya Bekasi

Tahukah Anda, di Kabupaten Bekasi lebih tepatnya Muaragembong, Alpiah bersama Kelompok Kebaya bukan hanya menanam dan melestarikan mangrove. Alpiah bersama Kelompok Bahagia Berkarya melakukan kegiatan penanaman mangrove, pencarian buah mangrove, hingga pengolahannya.

Total, sudah ada 10 macam produk olahan mangrove mulai dari sirup, jus, stick, kacang umpet, keripik umpet, keripik daun, keripik buah, kopi, hingga tepung mangrove. Olahan tersebut kemudian dipasarkan dan menjadi pemasukan tambahan bagi ibu-ibu Muaragembong.

Cerita lengkapnya dapat Anda baca dalam artikel “Cerita Alpiah Mengenalkan Olahan Mangrove Bersama Kelompok Kebaya Muaragembong Bekasi”.

2. Upaya Rehabilitasi dan Konservasi Hutan Mangrove Menciptakan Lapangan Kerja

Upaya rehabilitasi dan konservasi jelas mendukung keterlibatan banyak pihak, termasuk komunitas lokal yaitu masyarakat setempat. Di LindungiHutan, proses penanaman pohon melibatkan kelompok tani masyarakat setempat. Keberadaan mitra petani di lapangan membantu dalam penyediaan bibit, proses penanaman, hingga monitoring dan penyulaman.

Dalam laporan annual report LindungiHutan tahun 2023, kami mencatat tercipta 507.984 jam kerja bagi petani, memberikan kontribusi positif tidak hanya pada lingkungan tetapi juga ekonomi lokal. Penanaman pohon juga meningkatkan persentase pendapatan petani sebesar 23%.

3. Peran Konservasi Hutan Mangrove dalam Mitigasi Perubahan Iklim

Faktanya, ekosistem karbon biru merupakan penyerap karbon yang efektif di mana hutan mangrove termasuk salah satu di antaranya.

Diperkirakan mangrove dapat menyimpan 20 Pg C (Satuan Pg C atau Pentagram Karbon digunakan untuk mengukur jumlah karbon dalam skala besar seperti pada ekosistem karbon biru) dan 70-80% tersimpan di dalam tanah sebagai bahan organik. Sementara di Indonesia, hutan bakau diperkirakan menyimpan 0,82-1,09 PgC (Pentagram karbon) per hektare.

Ancaman Terhadap Hutan Mangrove

Meskipun memiliki peran vital dalam menjaga ekosistem pesisir, hutan mangrove menghadapi berbagai ancaman serius. Alih fungsi lahan menjadi pertanian, pemukiman, dan tambak, bersama dengan pencemaran limbah, memberikan tekanan besar terhadap kelestarian hutan mangrove.

Di Kampung Laut, Cilacap misalnya, pembalakan liar hutan bakau terjadi secara masif pada tahun 1994. Puluhan hektare hutan mangrove hilang demi terbangunnya tambak-tambak udang. Bukan tanpa alasan, iming-iming dan harapan mendapatkan untung besar dari tambak udang membuat tak sedikit pihak yang mengalih fungsikan kawasan hutan mangrove.

Sayangnya, memasuki tahun 1998 muncul penyakit yang menyerang udang. Hingga akhirnya banyak udang mati dan membuat investor hengkang meninggalkan tambak udang pada tahun 1999. Tambak gulung tikar, meninggalkan hutan yang gersang.

Apa yang terjadi di Kampung Laut Kabupaten Cilacap bisa Anda simak melalui artikel “Thomas Heri Wahyono, Pakar Mangrove dari Kampung Laut Cilacap Mendapat Penghargaan Nasional”.

Bersama LindungiHutan Mengupayakan Konservasi Hutan Mangrove yang Berdampak dan Berkelanjutan!

Menanam mangrove dapat dijadikan sebagai alternatif program CSR (Corporate Social Responsibility) bagi perusahaan Anda guna mendukung pencapaian dampak positif yang berkelanjutan.

Terutama, upaya rehabilitasi dan pelestarian hutan mangrove merupakan bagian dari tekad pemerintah dalam menekan emisi karbon serta menjalankan langkah-langkah mitigasi terhadap perubahan iklim.

Oleh karena itu, akan sangat menarik apabila Program CSR perusahaan Anda dapat diselaraskan dengan program dan komitmen pemerintah. Kolaborasi dengan berbagai pihak menjadi suatu kemungkinan yang sangat mungkin dilakukan!

LindungiHutan berkomitmen untuk memberikan kemudahan serta fleksibilitas bagi perusahaan Anda yang ingin mewujudkan kontribusi positif terhadap lingkungan dan hutan melalui program CSR. Termasuk salah satunya dalam mendukung konservasi hutan mangrove. Untuk lebih jelasnya, Anda bisa menyimak cerita “Bank Danamon Menanam Mangrove Bersama LindungiHutan”

Layanan program CSR end to end bersama kami memberikan kemudahan bagi perusahaan Anda terhadap akses lokasi penanaman, proses penanaman, hingga monitoring, dan report kegiatan.

LindungiHutan Menanam Lebih Dari 800 RIBU Pohon di 50 Lokasi Penanaman yang Tersebar di Indonesia Bersama 500+ Perusahaan/Brand

Rawat Bumi LindungiHutan