Connect with us

Lingkungan

Mitigasi Bencana: Jenis, Strategi, Tahapan, Contoh, dan Penerapan

Published

on

Mitigasi Bencana: Pengertian, Jenis, dan Penjelasannya

Bencana adalah serangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu keselamatan manusia. Peristiwa tersebut bisa disebabkan berbagai faktor seperti faktor alam, non alam, bahkan manusia. Kehidupan Anda mungkin tidak lepas dari bencana.

Namun, Anda dapat berupaya untuk mengurangi risiko dan dampak yang ditimbulkan. Oleh sebab itu, Anda perlu mengetahui lebih lanjut mengenai tentang mitigasi bencana.

infografis mitigasi bencana
Infografis ringkas tentang mitigasi bencana (Muhamad Iqbal/LindungiHutan).

Pengertian Mitigasi Bencana

Mitigasi bencana adalah serangkaian upaya yang dilakukan guna mengurangi dampak dan risiko akibat terjadinya bencana.

Selain itu, mitigasi dapat diartikan sebagai serangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana, baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana. 

Baca juga: Banjir adalah: Jenisnya, Sebab, Dampak, dan Cara Mengatasi

Jenis Mitigasi Bencana

Mitigasi bencana dibagi menjadi dua jenis yaitu mitigasi struktural dan mitigasi non-struktural. Masing-masing jenis mitigasi bencana mempunyai karakteristik dan bentuknya yang akan diulas pada pembahasan di bawah ini.

1. Mitigasi Struktural

Mitigasi struktural adalah upaya mengurangi risiko bencana dengan membangun sarana dan prasarana fisik menggunakan teknologi.

Contohnya meliputi pembangunan waduk untuk mencegah banjir, alat pendeteksi aktivitas gunung berapi, bangunan tahan gempa, serta sistem peringatan dini (early warning system) untuk mendeteksi gelombang tsunami.

Mitigasi ini bertujuan mengurangi kerentanan terhadap bencana melalui rekayasa teknis bangunan yang tahan terhadap dampak bencana.

Bangunan tahan bencana adalah struktur yang memenuhi standar tertentu sehingga mampu bertahan atau mengalami kerusakan minimal saat terjadi bencana.

Rekayasa teknis sendiri adalah prosedur perancangan struktur bangunan yang mempertimbangkan berbagai karakteristik aksi dari bencana untuk memastikan keamanan dan ketahanan bangunan.

2. Mitigasi Non-Struktural

Mitigasi bencana non-struktural adalah jenis mitigasi yang dilakukan selain dengan pembangunan prasarana fisik. Bentuk mitigasi ini bisa dilakukan melalui pembentukan peraturan oleh pemerintah dan lain sebagainya. 

Upaya mitigasi bencana non-struktural biasanya dilakukan di daerah-daerah yang rawan bencana dan sekitarnya.

Tujuan dari mitigasi ini agar masyarakat tetap mampu berkegiatan dan beraktivitas tanpa adanya rasa takut yang berlebihan, sehingga mereka merasa aman dan nyaman. 

Pihak pemerintah melalui Badan Standardisasi Nasional (BSN) menerapkan mitigasi non-struktural dengan mengeluarkan kebijakan Standar Nasional Indonesia (SNI) bangunan tahan gempa.

Kebijakan tersebut terdapat dalam SNI 1726:2019 mengenai tata cara perencanaan ketahanan gempa untuk struktur bangunan gedung dan non gedung. 

Terlebih lagi, struktur bangunan harus memenuhi persyaratan minimum menyangkut beban, tingkat bahaya, kriteria terkait, dan sarana kerja yang diperkirakan untuk bangunan gedung, struktur lain, dan komponen non struktural yang memenuhi persyaratan peraturan bangunan. 

Strategi Mitigasi Bencana

Untuk memaksimalkan upaya mitigasi bencana, maka diperlukan strategi yang tepat agar upaya mitigasi bencana dapat terkoordinasi dengan maksimal dan baik. Berikut ini adalah strategi mitigasi bencana yang perlu ditempuh diantaranya yaitu:

1. Pemetaan 

Pemetaan menjadi langkah awal yang sangat penting, khususnya bagi daerah dengan wilayah yang rawan bencana.

Pemetaan digunakan sebagai acuan dalam mengambil keputusan dan antisipasi terjadinya bencana. Pemetaan mengenai tata ruang wilayah juga diperlukan agar tidak menimbulkan gejala bencana. 

Meskipun demikian, hingga saat ini strategi pemetaan belum berjalan dengan optimal. Keadaan tersebut disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya adalah;

  • Belum seluruh wilayah yang ada di Indonesia telah dipetakan,
  • Peta yang dihasilkan belum tersosialisasi kepada masyarakat dengan baik,
  • Peta bencana belum terintegrasi dengan baik.

2. Pemantauan 

Pemantauan dilakukan setelah pemetaan untuk memantau tingkat kerawanan bencana di setiap daerah. Hasil pemetaan ini sangat membantu dalam memprediksi potensi terjadinya bencana.

Selain sebagai dasar penyelamatan saat bencana terjadi, pemantauan juga diterapkan dalam pembangunan infrastruktur dengan memperhatikan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) agar upaya pembangunan tetap aman dan berkelanjutan.

3. Penyebaran Informasi

Penyebaran informasi dilakukan dengan berbagai jenis media salah satu caranya dengan memberikan poster dan leaflet kepada pihak pemerintah kabupaten/kota dan provinsi di seluruh Indonesia yang rawan bencana. 

Informasi tersebut berisikan tentang tata cara mengenali, mencegah, dan penanganan bencana. Tujuan adanya penyebaran informasi untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan bencana  geologi di kawasan tertentu.

Koordinasi dengan pemerintah daerah berperan penting dalam proses penyebaran informasi penting guna melakukan koordinasi dengan pemerintah daerah mengingat wilayah Indonesia yang sangat luas. 

4. Sosialisasi dan Penyuluhan 

Indonesia memiliki masyarakat yang sangat besar dan beragam, sehingga beberapa lapisan masyarakat mungkin kesulitan mengakses informasi mengenai bencana. Oleh karena itu, menjadi tugas aparat pemerintah untuk mengoptimalkan sosialisasi kepada masyarakat.

Program penyuluhan tentang strategi mitigasi bencana dapat difokuskan pada tata cara pengungsian dan penyelamatan saat bencana terjadi.

Pelatihan ini menekankan alur informasi dari petugas di lapangan, pejabat teknis, hingga masyarakat di tingkat pengungsian dan penyelamatan korban.

Diharapkan, melalui sosialisasi dan penyuluhan, kesiapan masyarakat dalam menghadapi bencana akan meningkat secara signifikan.

5. Peringatan Dini

Peringatan dini dilakukan dengan memberikan informasi hasil pengamatan kontinu di daerah rawan bencana agar masyarakat menjadi lebih siaga.

Upaya peringatan dini disosialisasikan melalui pemerintah daerah setempat dengan tujuan meningkatkan kesadaran masyarakat untuk menghindari risiko bencana, misalnya melalui sarana teknis, pengalihan jalur, pengungsian, dan fasilitas penanganan lainnya.

Baca juga: Ciri-ciri Pohon Karet, Klasifikasi Taksonomi, Habitat, Cara Budidaya dan Manfaatnya

Tahapan Penanganan Bencana

Setelah mengetahui strategi mitigasi bencana, Anda juga mesti memahami tahapan lebih lanjut dalam penanganan bencana. Berikut ini beberapa langkah dan tahapan penanganan bencana diantaranya yaitu:

  1. Mitigasi bencana adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan sebelum bencana terjadi. Contohnya meliputi pembuatan peta wilayah rawan bencana, pembangunan bangunan tahan gempa, penanaman bakau, reboisasi, serta penyuluhan dan peningkatan kesadaran masyarakat di daerah rawan bencana.
  2. Kesiapsiagaan adalah perencanaan untuk merespons kejadian bencana, berdasarkan data bencana yang pernah terjadi maupun potensi bencana di masa depan. Tahapan ini bertujuan meminimalisir korban jiwa dan kerusakan sarana prasarana pelayanan umum. Selain itu, kesiapsiagaan mencakup upaya mengurangi risiko, pengelolaan sumber daya manusia, serta pelatihan bagi warga di daerah rawan bencana.
  3. Respon adalah upaya mengurangi dampak bahaya yang ditimbulkan oleh bencana. Tahapan ini berlangsung segera setelah bencana terjadi, dengan fokus pada pertolongan korban dan antisipasi kerusakan akibat bencana tersebut.
  4. Pemulihan adalah tahapan untuk mengembalikan kondisi masyarakat seperti sebelum bencana. Fokus utama pada tahap ini adalah penyediaan tempat tinggal sementara bagi korban dan pembangunan kembali prasarana yang rusak.

Contoh Mitigasi Bencana

Indonesia terletak di kawasan Lingkaran Api Pasifik, yang menjadi salah satu faktor seringnya bencana terjadi di negara ini.

Bencana adalah peristiwa yang dapat mengancam dan mengganggu kehidupan masyarakat, seperti kehilangan nyawa dan harta benda. Oleh karena itu, mitigasi bencana menjadi langkah penting untuk mengantisipasi dampak tersebut.

Salah satu bencana besar yang tak terlupakan adalah gempa dan tsunami di Aceh, yang menelan ratusan ribu korban jiwa.

Karena itu, sangat penting bagi Anda untuk memiliki pengetahuan lengkap dalam menghadapi bencana. Berikut beberapa upaya mitigasi gempa dan tsunami yang dapat dilakukan:

  • Membangun tempat berlindung sesuai dengan standar SNI yang tahan gempa
  • Mempelajari cara evakuasi mandiri yang tepat
  • Memahami status peringatan dini dalam setiap kategorinya (awas, siaga, waspada)
  • Tetap tenang dan tidak melebih-lebihkan situasi
  • Mengembangkan sistem pemantauan agar selalu siap menghadapi bencana

Baca juga: Pencemaran Lingkungan: Penyebab, Jenis, Dampak, dan Cara Menanganinya

Penerapan Mitigasi di Berbagai Sektor 

Mitigasi bencana tidak hanya berkutat tentang bencana alam. Berikut ini merupakan pemahaman mitigasi bencana dalam beberapa sektor lainnya diantaranya yaitu:

1. Sektor Kehutanan 

Sektor kehutanan erat dengan meningkatnya emisi gas rumah kaca. Salah satunya akibat dari tindakan alih fungsi lahan hutan dan disertai kerusakan hutan dengan skala yang besar.

Upaya mitigasi yang dapat dilakukan yaitu melakukan penghijauan kembali, membangun hutan rakyat, hutan tanaman industri, dan hutan kemasyarakatan. 

2. Sektor Pertanian

Tindakan mitigasi pada sektor pertanian mempunyai fokus pada penerapan teknologi budidaya tanaman, memanfaatkan pupuk organik, kompos, dan menggunakan teknologi biogas serta pakan guna membantu mengurangi emisi gas rumah kaca

3. Sektor Perairan 

Untuk mengurangi dampak perubahan iklim terhadap sumber daya air, Anda perlu memanfaatkan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC).

Cara kerja teknologi tersebut dengan melakukan penaburan material semai berupa powder/flare. Selain itu, cara yang juga bisa dilakukan dengan merehabilitasi waduk dan embung, Kemudian, pengembangan teknologi pengolahan air tepat guna, dan lain sebagainya.

FAQ

Apa itu Mitigasi Bencana?

Mitigasi bencana adalah serangkaian upaya yang dilakukan guna mengurangi dampak dan resiko yang diakibatkan oleh terjadinya bencana.

Apa Tujuan Mitigasi Bencana?

Tujuan utama mitigasi bencana adalah agar masyarakat tetap mampu melakukan kegiatan dan beraktivitas tanpa adanya rasa takut yang berlebihan, sehingga mereka merasa aman dan nyaman. 

Penulis: Tasqiya Ratnasari

Editor: Rionaldo Andira Lesmono

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *