Connect with us

Tim Kami

Tren Produk Ramah Lingkungan dan Pentingnya Perusahaan Menjaga Kelestarian Alam (2022)

Published

on

Tren Produk Ramah Lingkungan dan Pentingnya Perusahaan Menjaga Kelestarian Alam (2022).

Perlu diingat kembali bahwasanya menjaga kelestarian alam adalah tanggung jawab bersama bagi siapapun yang tinggal di bumi ini. Termasuk dunia usaha dalam menjalankan praktik bisnisnya juga wajib memperhatikan kelestarian lingkungan. Jangan sampai perusahaan atau pelaku industri hanya mau menikmati untungnya saja dari sumber daya alam tetapi lepas tangan terhadap kontribusi pelestarian lingkungan.

Ada berbagai macam cara yang bisa diimplementasikan oleh pelaku usaha supaya tetap menghasilkan keuntungan dari bisnisnya tetapi di sisi lain turut menjaga kelestarian alam. Saat ini, ada banyak brand yang mengusung konsep sustainability maupun eco-friendly. Maksudnya, brand maupun perusahaan tersebut tidak hanya berfokus pada produk atau jasa yang dihasilkan, tetapi juga mempertimbangkan dampak yang bisa ditimbulkan bagi lingkungan dan sosial (manusia).

Tentunya, konsep usaha semacam ini perlu kita dukung bersama sebab bisa menjadi terobosan baru guna menggenjot kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga lingkungan. Apalagi, dengan meningkatnya tren masyarakat terhadap minat produk-produk ramah lingkungan, lantas memunculkan optimisme baru bahwa kita perlahan-lahan bisa bertransformasi menerapkan gaya hidup yang ramah lingkungan.

Nyatanya Masyarakat Mempertimbangkan Dampak yang Dihasilkan Sebuah Brand terhadap Lingkungan

Mengutip dari laman databoks.katadata.co.id, hasil survey Katadata Insight Center (KIC) “Katadata Consumer Survey on Sustainability” menunjukkan bahwa sebanyak 60,5% konsumen membeli produk berkelanjutan atau ramah lingkungan karena ingin melestarikan bumi. Hasil tersebut menjadi pertanda jika sebagian besar konsumen di Indonesia sadar mengenai pentingnya kelestarian lingkungan.

Baca juga: Green Marketing: Pengertian, Tujuan, Komponen, dan Manfaat

Fakta tersebut diamini oleh Tim B2B Partnership LindungiHutan. Ketika dimintai keterangannya, mereka menuturkan bahwasanya konsumen memang mempertimbangkan apakah brand pilihan mereka, memiliki dampak dan kontribusi pada lingkungan.  

“Sebenarnya beberapa tahun yang lalu 2020-an kami itu bikin deck Colaboratree yang mana di dalam deck tersebut tertulis misalnya sekian persen dari customer dari sebuah brand itu lebih suka atau akan lebih memilih produk yang memiliki value sendiri. Nah, selama dua setengah tahun kami berjalan di divisi B2B merasakan jika hal tersebut memang nyata. Brand-brand yang sebelumnya belum bekerja sama dengan LindungiHutan sales-nya segitu-segitu saja, tetapi ketika mereka mengeluarkan produk khusus bundling misalnya sama LindungiHutan, sales-nya bisa jadi naik, mostly sih naik, tetapi beberapa ada yang stagnan juga,” Tutur Tim B2B Partnership LindungiHutan.

Bukan Hanya Sebatas Kewajiban, Program CSR Perusahaan Merupakan Bentuk Tanggung Jawab terhadap Kelestarian Alam.

Selain menerapkan konsep sustainability dan ramah lingkungan, sebuah brand atau perusahaan juga tetap bisa turut andil dalam upaya pelestarian lingkungan salah satunya dengan melaksanakan program Corporate Social Responsibility (CSR). Di luar dari kewajiban yang memang harus dijalankan oleh perusahaan, program CSR bisa menjadi wujud komitmen untuk ikut berpartisipasi aktif dalam upaya menjaga serta melaksanakan konservasi lingkungan.

“Semua perusahaan itu pasti pakai Sumber Daya Alam untuk beroperasi dan CSR itu seharusnya bukan sesuatu yang sifatnya opsional tetapi sebuah kewajiban. Makanya perusahaan punya tanggung jawab CSR dan sebetulnya CSR itu bukan hanya bentuk kesadaran dari internal perusahaan saja tetapi karena memang ada dorongan dari pihak-pihak luar yang memaksa pihak perusahaan untuk konsen terhadap persoalan lingkungan misalnya dari aktivis ataupun investor,” Ungkap Tim B2B Partnership LindungiHutan.

Beberapa perusahaan dalam menjalankan program CSR-nya kadang kala menggandeng pihak lain seperti contohnya LindungiHutan. LindungiHutan sebagai platform penggalangan dana dan kerja sama untuk konservasi hutan Indonesia hingga saat ini telah berkolaborasi dengan ratusan bisnis partner.

“Kalau di total seluruhnya hingga saat ini sudah ada 305 bisnis partner sementara bentuk kerja samanya itu, bisa berupa marketing sales seperti kerja sama bundling atau profit, dan juga ada pelaksanaan program Corporate Social Responsibility (CSR),” Jelas Tim B2B Partnership LindungiHutan.

Baca juga: Social Enterprise Adalah: Pengertian Menurut Ahli, CiriCiri, dan Contoh-contohnya (2022)

Bisnis partner tersebut harapannya tidak hanya sekadar menjadi partner tetapi juga teman yang bisa menguntungkan satu sama lain. Artinya, di satu sisi perusahaan bisa berpartisipasi aktif dalam menjaga keseimbangan ekosistem alam dengan tetap meningkatkan performa sales dan LindungiHutan dapat menjadi jembatan atas kepentingan tersebut.

“Kami sih berharap adanya kerja sama yang tidak hanya program kita yang berkelanjutan tetapi kerja samanya juga yang berkelanjutan, artinya konsisten dalam penanaman dan juga konsisten untuk me-monitoring pohonnya, kami sebagai tim B2B Partnership LindungiHutan pun sangat menghargai proses di mana mungkin awal penanaman 350 pohon terus naik jadi 500 pohon, terus naik lagi jadi 1.000 pohon, jadi ke depannya makin banyak pohon yang tertanam,” Pungkas Tim B2B Partnership LindungiHutan.

Rawat Bumi LindungiHutan