Connect with us

Bisnis Lestari

Apa Itu Doughnut Economics dan 7 Prinsip Pelaksanaannya!

Published

on

doughnut economics adalah

Sebelum kita membahas konsep ekonomi satu ini, dua pertanyaan sebagai pembuka, apakah laju pembangunan dan pertumbuhan ekonomi tak pernah bisa berjalan berdampingan? Apakah selamanya kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat hanya bisa ditempuh dengan jalan pembangunan yang mengorbankan lingkungan?

Jawabannya adalah iya dan tidak! Iya jika kita melihat dengan kacamata lama bahwa bumi beserta isinya adalah sumber yang mesti kita eksploitasi tanpa henti. Kendati demikian, ada harga yang harus kita bayar atas perbuatan tersebut. Barangkali, harga itu yang sedang kita bayar bersama-sama kini hari.

Namun, jawaban juga bisa tidak apabila kita melihat bumi, lingkungan, dan kelestarian alamnya sebagai elemen serta unsur yang wajib dijaga, sebagaimana menjaga roda pembangunan terus berputar.

Maka dari itu, pemenuhan kebutuhan manusia harus dilakukan dalam batasan kapasitas planet bumi. Jika batasan tersebut dilanggar maka akan ada konsekuensi yang kita tanggung bersama-sama. Mindset ini kemudian disebut sebagai doughnut economics. Apa maksudnya dan bagaimana prinsip-prinsip pelaksanaanya? Simak ulasan lengkapnya berikut ini!

Baca juga: Pentingnya Ekonomi Sirkular dan Implementasinya di Berbagai Negara

Apa Itu Doughnut Economics?

Doughnut economics adalah cara pandang baru dalam ekonomi. Dengan memikirkan kembali sistem serta tujuan ekonomi nasional dan global yang tadinya sekadar meningkatkan PDB menjadi menciptakan masyarakat yang mendapatkan kehidupan layak dengan memanfaatkan sumber daya yang ada tanpa mengancam keamanan dan kehidupan manusia.

Kenapa disebut dengan doughnut? Karena dalam penerapannya, konsep ini memang mengadopsi bentuk donat. Kira-kira begini penjelasannya!

Jadi, kalau kita melihat bentuk donat akan ada lingkaran di dalam dan lingkaran di luar. Lingkaran di dalam atau lubang donat adalah kondisi di mana masyarakat tidak terpenuhi kebutuhan dasar hidupnya seperti makanan, air, perawatan kesehatan, dan lain sebagainya. Jika kita tidak bisa memanfaatkan sumber daya yang ada, maka kita akan berada dalam kondisi lingkaran donat yang di dalam. Dengan kata lain, kebutuhan dasar hidup masyarakat gagal terpenuhi.

Namun di sisi lain, jika selama kita memanfaatkan sumber daya untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia secara berlebihan maka kita juga akan hidup dalam lingkaran donat yang di luar. Di mana masyarakat akan menghadapi konsekuensi seperti perubahan iklim, maraknya polusi, pencemaran dan imbas lainnya.

Jadi, intinya masyarakat harus bisa hidup di dalam zona ‘the safe and just space for humanity’. Di dalam zona tersebut kebutuhan masyarakatnya terpenuhi, tetapi kita tidak merugikan lingkungan dan bumi sehingga tidak ada dampak buruk yang kita rasakan. Sederhananya kita harus tahu batasan, sejauh mana kita boleh memanfaatkan untuk kebutuhan hidup dan kapan kita harus ngerem sebelum jadi manusia yang serakah!

Baca juga: Sustainability Marketing Adalah? Apa Bedanya dengan Konsep Marketing Lain?

Apa saja Prinsip Pelaksanaan Doughnut Economics?

Setelah paham maksudnya, kemudian apa yang harus kita lakukan? Bagaimana caranya kita bisa hidup di dalam zona yang berkecukupan tetapi juga tidak merugikan lingkungan? Kate Raworth menyarankan untuk menerapkan paradigma ekonomi abad ke-21 melalui 7 cara berikut!

1. Ubah Tujuannya!

Raworth mencatat bahwa strategi pertumbuhan yang digunakan selama ini mendorong banyak masyarakat dalam kondisi ketimpangan dan keruntuhan ekologis. Banyak orang yang masih kekurangan dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka, tetapi di sisi lain eksploitasi terhadap bumi terus dilakukan tanpa henti. Untuk itu, tujuan harus berubah! Menurut Raworth tujuannya agar selalu seimbang, yaitu memenuhi kebutuhan manusia sembari menjaga kelestarian lingkungan.

2. Lihat Gambaran Besarnya!

Cara lama memandang ilmu ekonomi sebagai sistem yang terisolasi tanpa ada hubungan dengan sistem lain. Padahal tidak dalam praktiknya! Karena dalam prosesnya, kegiatan ekonomi melibatkan masyarakat dan lingkungan di dalamnya. Maka dari itu, konsep doughnut economics melibatkan masyarakat, bumi, dan lingkungan dalam kegiatan ekonomi.

3. Membina Sifat Manusia

Pemahaman untuk mementingkan kepentingan diri sendiri dengan mengorbankan kepentingan orang lain adalah suatu tindak tidak terpuji. Bahkan, hal tersebut sudah diajarkan sejak kita duduk di bangku sekolah dasar. Menurut Kate Raworth, kita harus mengubah sifat dari yang semula mementingkan diri sendiri menjadi lebih peduli terhadap masyarakat luas. Termasuk, lebih peduli terhadap kondisi lingkungan dan bumi kita.

4. Memahami Sistem

Ekonomi terlalu kompleks dan bergantung pada terlalu banyak faktor. Selain itu, keseimbangan tidak selalu ada. Pemikiran sistematis lebih membantu untuk memahami dinamika ekonomi. Karena itu, Raworth mengatakan bahwa para ekonom abad ke-21 seharusnya tidak memandang dirinya sebagai insinyur yang mengendalikan perekonomian. Melainkan diumpamakan sebagai tukang kebun yang merawat dan membentuknya.

5.Bersifat ‘Distributif’

Ekonomi seharusnya lebih dari sekadar mendistribusikan pendapatan, tetapi kekayaan. Terutama ketika kekayaan tersebut berasal dari kepemilikan tanah, perusahaan, dan teknologi atau dari penciptaan uang. Menurut Raworth penting untuk bekerja dengan semangat terbuka. Mewaspadai kekuasaan dan mengupayakan untuk meningkatkan kesetaraan di antara para pemangku kepentingan.

6. Penting untuk Memahami Bahwa Kita akan “Mewariskan”

Kerusakan lingkungan adalah akibat dari orientasi degenerative industri dan bahwa kita membutuhkan pemikiran ekonomi baru di abad mendatang yang memiliki orientasi regenerative dan pendekatan yang lebih sirkular. Kita harus mengubah model bisnis di mana limbah mesti diolah kembali menjadi barang berharga.

7. Berkembang bukan Bertumbuh

Jangan biarkan pertumbuhan menjadi tujuan itu sendiri. Kita harus sadar bahwa pertumbuhan ekonomi pada akhirnya harus mencapai batasannya. Menurut Kate Raworth, lebih baik fokus pada tingkat di mana kita dapat memenuhi kebutuhan manusia dan hidup selaras dengan lingkungan.

Baca juga: Konservasi Mangrove Sebagai Tanggung Jawab Sosial Perusahaan

LindungiHutan Menanam Lebih Dari 750 RIBU Pohon di 45+ Lokasi Penanaman yang Tersebar di Indonesia!

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *