Connect with us

Emisi Karbon

Pengertian Blue Carbon, Manfaat, dan Elemen Ekosistem Karbon Biru (Update 2023)

Logo LindungiHutan - Green - Square - 1280 x 1280 pixels - PNG

Published

on

Pengertian blue carbon, ekosistem pendukung dan manfaat karbon biru

Penggunaan istilah blue carbon atau karbon biru di kalangan pegiat lingkungan hidup dan kehutanan terus meningkat akhir-akhir ini. Walaupun memiliki nama karbon biru, tapi sebenarnya konsep ini tidak berkaitan dengan senyawa karbon dioksida yang diberi warna biru.

Karbon biru banyak tersimpan di sekitar ekosistem pesisir dan laut. Saat ini, perkembangan blue carbon di Indonesia banyak terfokus pada ekosistem mangrove.

Kali ini, kita akan mengulas lebih lanjut mengenai blue carbon. So, simak penjelasannya di bawah ini!

Pengertian Blue Carbon

Blue carbon adalah istilah yang digunakan untuk cadangan emisi karbon yang diserap, disimpan dan dilepaskan oleh ekosistem pesisir dan laut. Istilah karbon biru atau blue carbon dilatar belakangi oleh keadaan karbon yang terserap dan tersimpan di bawah air dan berhubungan dengan perairan.

Potensi karbon biru di Indonesia sangatlah besar yakni mencapai 3.4 Giga Ton (GT) atau sekitar 17% dari karbon biru dunia. Ekosistem blue carbon yang terdapat di daerah pesisir sangatlah penting, karena dalam jangka panjang penyerapan dan penyimpanan karbon yang baik dan terjaga akan membantu dalam mengurangi dampak perubahan iklim.

Ekosistem karbon biru mencakup beberapa wilayah seperti hutan mangrove, padang lamun, estuaria/rawa air payau/rawa air asin, dan terumbu karang.

Baca juga: Karbon Dioksida: Sifat, Kegunaan, Manfaat, Bahaya dan Cara Menguranginya (Update 2023)

Blue carbon adalah.
Infografis blue carbon oleh LindungiHutan.

Manfaat Blue Carbon

Secara umum seharusnya dapat dipahami bahwa segala kegiatan yang dilakukan oleh kita tentu akan menghasilkan residu secara langsung maupun tidak langsung.

Seluruh makhluk hidup baik manusia, hewan dan tumbuhan, tentu kita secara alamiah akan menghasilkan karbon dan secara alamiah pula karbon tersebut akan diserap oleh tumbuh-tumbuhan dan binatang. 

Ekosistem karbon biru merupakan penyerap karbon paling efektif dibandingkan ekosistem lain. Lingkungan pesisir berperan besar dalam menyelamatkan umat manusia bahkan bumi dari dampak perubahan iklim yang kian memburuk.

Pelestarian ekosistem karbon biru menjadi solusi alami terbaik sebagai upaya mitigasi perubahan iklim. Perubahan iklim yang dipicu oleh efek rumah kaca atau peningkatan jumlah CO2 dan beberapa gas lain, menyebabkan panas matahari terperangkap di atmosfer bumi. 

Kondisi tersebut menjadi pemicu mencairnya es di kutub, rusaknya ekosistem baik akibat kebakaran dan kekeringan, dan kenaikan permukaan air laut sehingga daratan akan tenggelam. Beberapa efek rumah kaca tersebut tentu sangat merugikan dan berbahaya apabila tidak segera diperbaiki.

Menjaga kelestarian ekosistem pesisir baik hutan mangrove, bakau, lamun, lahan gambut dan rawa asin dapat memberi manfaat untuk menyerap gas rumah kaca, mencegah erosi, melindungi perumahan warga ketika pasang surut, badai dan banjir ketika menghantam, menangkap polutan yang kerap ada di udara dan perairan, dan menjadi habitat bagi makhluk hidup yang terkhusus berada di wilayah pesisir. 

Selain itu, ekosistem karbon biru dapat dimanfaatkan oleh masyarakat pesisir sebagai sumber ekonomi atau pendapatan masyarakat dengan memberikan servis ekologi. Pengelolaan daerah pesisir dapat menjadi daya tarik dan berpotensi wisata yang menarik pengunjung. 

Daerah ekosistem pesisir yang kaya akan karbon biru turut pula menyediakan makanan bagi ikan, sehingga sumber daya ikan berlimpah yang dapat dimanfaatkan masyarakat. 

Keanekaragaman ikan yang ada di ekosistem pesisir diantaranya ikan, siput, kerang, udang dan kepiting. Terlebih lagi, ekosistem pesisir juga dapat meningkatkan kualitas air dan memberikan pasokan konstruksi materi berupa unsur untuk obat-obatan.

Elemen Penyokong Ekosistem Blue Carbon

Di Indonesia, blue carbon tersebar di ekosistem pesisir seperti hutan mangrove, hutan bakau, padang lamun, dan lahan gambut di kawasan pesisir. Luasnya hutan mangrove yang Indonesia miliki menjadi potensi besar bagi tempat penyerapan CO2 dari atmosfer kemudian disimpan dan diubah dalam bentuk biomassa tubuh.

Jumlah total luasan hutan mangrove Indonesia yang mencapai 22,4% atau 3,22 juta ha dengan proporsi terbesar berada di Pulau Papua. Hutan mangrove Indonesia masih lebih luas dibandingkan Brazil dan Australia dengan luasan yang hanya mencapai kurang lebih 7% dari luasan mangrove global

Cadangan karbon biru yang dapat diserap di Indonesia mencapai 891,70-ton C/ha dengan total cadangan karbon biru nasional sebesar 2,89 Tt C.

Selain hutan mangrove, potensi blue carbon yang ada pada wilayah gambut pesisir juga terbilang luar biasa. Potensi pada wilayah gambut tersebut akan membantu penyerapan karbon dalam jumlah besar.

Semakin dalam lapisan gambut, maka akan semakin besar pula karbon yang diserap dan menjadi cadangan blue carbon.

Ekosistem pesisir ini dapat membantu penyerapan emisi karbon yang di atmosfer dan lautan, kemudian menyimpannya pada daun, batang, cabang, akar, serta sedimen yang mendasarinya.

Keunikan ekosistem pesisir dalam menyerap karbon adalah penyerapan 3 kali lebih banyak dibandingkan ekosistem daratan atau hutan terestrial, meskipun wilayah ekosistem karbon biru ini lebih kecil dari hutan terestrial.

Menurut Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan (Puslitbanghut) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dalam menyatakan bahwa cadangan karbon terbagi kedalam 5 sumber cadangan karbon yaitu

  • Biomassa vegetasi hidup atau diatas permukaan tanah,
  • Biomassa vegetasi hidup yang berada pada bagian bawah permukaan tanah seperti akar,
  • Serasah atau tumpukan tumbuh-tumbuhan yang sudah mati,
  • Kayu mati, dan
  • Dalam lapisan tanah.

Baca juga: Pengertian, Contoh dan Manfaat Konservasi Air [LENGKAP]

LindungiHutan Tanam 4.000 Pohon 1.3 Hektare mangrove Rhizophora sp., dalam Program Karbon Biru Cilacap

Ancaman Kerusakan Ekosistem Blue Carbon

Kerusakan terhadap ekosistem karbon biru sangat mungkin terjadi. Bisa dibilang, ancaman ini sangat merugikan ekosistem laut lantaran banyak menyimpan karbon dibanding ekosistem lainnya. 

Dikutip dari laman CarbonEthics, terdapat ancaman yang dapat menyerang laut dan ekosistem karbon biru, meliputi:

1. Pengasaman Air Laut

Pengasaman air laut mampu menyebabkan plankton tidak dapat membentuk cangkangnya. Plankton merupakan organisme penting di ekosistem laut. Jika organisme ini mati, maka proses rantai makanan tidak akan berjalan dengan baik.

Air laut yang asam menyebabkan kematian banyak makhluk hidup, tentunya mempengaruhi kehidupan masyarakat yang bergantung pada ekosistem ini.

2. Perubahan Penggunaan Lahan

Hutan mangrove yang menyimpan banyak karbon dan menjadi penyelamat perubahan iklim secara nasional maupun global banyak ditebang untuk penggunaan lahan lain seperti pembangunan perumahan, lahan pertanian, dan aktivitas lain.

3. Penangkapan Ikan Besar-Besaran

Praktek penangkapan ikan oleh sebagian orang banyak menggunakan peralatan modern yang berdampak negatif bagi habitat dan kehidupan di laut. Misalnya menggunakan bom peledak, jaring dorong, racun, dan perburuan liar lainnya.

Banyaknya ikan yang tertangkap, akan berakibat pada proses rantai makanan yang ada di lautan.

4. Polusi Plastik

Proses penguraian plastik membutuhkan waktu puluhan hingga ratusan tahun lamanya. Bahkan, banyak beredar di sosial media hewan laut mati karena memakan plastik sehingga membuat gangguan pencernaan.

Plastik menjadi ancaman yang dapat memperparah perubahan iklim saat ini, sebab banyak menghasilkan gas metana dan etilen.

5. Polusi Kimia

Polusi kimia yang terjadi di laut salah satunya dari tumpahan minyak dari aktivitas pertambangan yang ada di lautan. Cairan ini sangat sulit dibersihkan dan menyebabkan kematian bagi makhluk hidup di lautan.

Selain itu, pupuk kimia dari sektor pertanian yang mengalir ke lautan menyebabkan eutrofikasi yang merugikan organisme di laut.

Oleh karena itu, dibutuhkan peraturan yang mampu menjaga dan mengelola ekosistem karbon biru di Indonesia. 

Menurut Dr. Mas Achmad Santosa dalam seminar peluncuran hasil studi bertajuk “Ekosistem Karbon Biru sebagai Critical Natural Capital: Blue Carbon Ecosystem Governance di Indonesia” terdapat 6 elemen yang harus dikembangkan dan diperkuat di Indonesia dalam pengelolaan ekosistem blue carbon antara lain:

  1. Kerangka hukum dan kebijakan nasional
  2. Penataan kelembagaan
  3. Partisipasi dan pemberdayaan masyarakat
  4. Keamanan tenurial
  5. Pengawasan dan penegakan hukum
  6. Pendanaan dan pendistribusian manfaat secara berkeadilan.

Baca juga: 5 Dampak Emisi Karbon yang Berbahaya bagi Kita

Upaya Perlindungan Karbon Biru

Dikarenakan karbon biru memiliki pengaruh yang besar, tidak sedikit dari masyarakat Indonesia dan global yang mengupayakan pemulihan dan pemanfaatan berkelanjutan dari ekosistem pesisir.

Dukungan dan kolaborasi antar stakeholder dapat terus digalakan untuk menjaga ekosistem pesisir yang lestari agar keberfungsiannya menangkap karbon dan menyimpannya menjadi karbon biru terus berlangsung.

Melalui promosi inisiatif “Blue Carbon” atau kegiatan dalam beraktifitas yang senantiasa memikirkan dampak keberlanjutan pada alam.

Selama manusia melakukan kegiatan untuk mendapatkan dan mendistribusikan kebutuhan sehari-hari harus berlandaskan pada inisiatif blue carbon yakni tidak merubah atau mencemari lingkungan. Penggunaan konsep ekowisata dapat menjadi alternatif dalam memanfaatkan ekosistem pesisir yang tetap memperhatikan kelangsungan hidup lingkungan sekitar.

Selain itu langkah pemulihan ekosistem karbon biru dilakukan dengan reboisasi tanaman-tanaman pesisir seperti pohon bakau untuk terus menambah luasan ekosistem tersebut. Banyaknya kampanye terkait donasi pohon untuk wilayah pesisir juga turut menjadi ruang edukasi dan motivasi bagi masyarakat luas untuk ambil peran menyelamatkan bumi.

Banyak LSM atau organisasi dan yayasan lingkungan yang melakukan Kerjasama baik dengan perusahaan atau pemerintah guna mendukung pemulihan blue carbon. Mengajak masyarakat sekitar pesisir untuk Kembali merawat lingkungan mereka.

Terakhir, upaya yang dapat memberikan dampak besar ialah mengangkat urgensi karbon biru pada tatanan kebijakan. Tujuan utamanya dimaksudkan untuk memberikan sanksi bagi pelanggar yang merusak ekosistem karbon biru dan menjadikan kewajiban bagi sesama untuk terus menjaga ekosistem karbon biru.

Baca juga: Apa itu Carbon Offset (Tebus Karbon)? Manfaat, Skema dan Cara Menghitungnya (Update 2023)

Program Karbon Biru Cilacap

LindungiHutan akan melanjutkan komitmen dalam program “Karbon Biru Cilacap” ini dengan melakukan pilot project kedua melalui penanaman 2 hektare lahan mangrove (6600 pohon). Berbeda dari pilot project pertama, kali ini akan dilakukan percontohan penanaman dengan 3 spesies mangrove berbeda, yaitu Rhizophora sp., Bruguiera sp., dan Avicenia sp..

Penanaman berbagai jenis mangrove ini diharapkan dapat meningkatkan keanekaragaman hayati yang ada di Segara Anakan. Informasi selengkapnya bisa Anda dapatkan dalam laporan tahun 2023 LindungiHutan yang dapat diunduh di sini!

FAQ

Apa itu Blue Carbon (Karbon Biru)?

Blue carbon (karbon biru) adalah jumlah emisi karbon dan gas rumah kaca yang dapat diserap, disimpan dan dilepaskan oleh ekosistem pesisir dan lautan.

Apa saja manfaat karbon biru?

menyerap gas rumah kaca, menyimpan karbon lebih banyak dibandingkan di ekosistem daratan, menyediakan lapangan kerja, meningkatkan pendapatan masyarakat, meningkatkan kualitas air, memberikan perlindungan pada daerah pesisir.

Ekosistem apa saja yang termasuk blue carbon (karbon biru)?

Ekosistem penyokong karbon biru (blue carbon) meliputi hutan mangrove, hutan bakau, padang lamun dan lahan gambut di daerah pesisir. Selain itu, terumbu karang juga memiliki perananan signifikan dalam penyerapan emisi karbon dari atmosfer dan lautan.

Penulis: Jati Ratna Arifah dan Ana Salsabila

Editor: M. Nana Siktiyana

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *