Powered by ProofFactor - Social Proof Notifications

Perjuangan Pak Ujang Jaga Kelestarian Hutan Mangrove Jakarta

Siapa bilang Jakarta tidak ada hutan? Pak Ujang dan rekan-rekan masih berjuang untuk menjaga kelestarian hutan mangrove Jakarta. Simak kisah dan cerita mereka di artikel ini
Kisah singkat mitra penanaman pohon LindungiHutan di Jakarta, Pak Ujang.

Apa yang terpikirkan olehmu jika mendengar kata-kata “profesi mulia”’? Apakah itu seorang Guru? Atau Polisi? Tanpa kita sadari, profesi menjadi seorang petani hutan juga banyak berjasa di dalam kehidupan kita. Mulai dari menanam pohon sebagai penghasil oksigen untuk kita semua, hingga menghasilkan bahan sandang, papan dan pangan yang kita konsumsi setiap hari.

Jadi, pekerjaan petani juga merupakan pekerjaan mulia lho. Sama seperti Pak Ujang, seorang petani hutan dan mitra penghijauan lapangan LindungiHutan yang lebih memilih profesi mulia ini dibandingkan profesi lainnya.

Pak Ujang dan Rekan-rekan Berjuang Menyelamatkan Hutan Mangrove di PIK

Ujang Kustiawan atau yang kerap disapa Pak Ujang merupakan seorang petani mangrove di kawasan Mangrove Ecotourism Center Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara. Pak Ujang sudah berkecimpung menjadi petani sejak umur beliau yang masih terhitung muda, yaitu saat berusia 23 tahun.

Ujang Kurniawan, mitra penanaman pohon LindungiHutan di Jakarta, sedang memegang bibit mangrove.
Pak Ujang, mitra penghijauan lapangan (penggerak) LindungiHutan di Jakarta, sedang memegang bibit mangrove yang akan ditanam di area Ekowisata Hutan Mangrove PIK, Jakarta Utara (Dokumentasi: LindungiHutan/Business Development).

Pak Ujang memang tidak seberuntung orang-orang lainnya yang dapat bersekolah hingga ke tingkat perguruan tinggi.

Walaupun pendidikannya terhenti di tingkat SLTA, namun kondisi tersebut tidak menghentikan semangat beliau untuk terus menjadi petani hutan dan memberikan manfaat untuk lingkungan, terutama untuk sekitar kawasan ekowisata hutan mangrove PIK.

Pak ujang dan kawan-kawan petaninya berjuang melawan abrasi di kawasan Pantai Indah Kapuk dengan menanam pohon mangrove. Seperti yang kita ketahui, telah banyak kerusakan yang terjadi pada hutan mangrove di kawasan PIK akibat ulah tangan manusia yang mengubah lahan resapan air tersebut menjadi permukiman.

Menurut Puput Putra, Direktur Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Jakarta, “Perubahan wilayah di PIK dan Pluit dari kawasan hutan lindung bakau menjadi pemukiman mewah ini dalam sejarahnya penuh dengan kontroversi. Banjir di Pluit adalah indikasi wilayah itu telah mengalami pengurangan daya serap”, ujarnya.

Bukan hanya itu saja, daerah pesisir merupakan tempat strategis yang menjadi akses utama dari berbagai aktivitas, seperti perdagangan, permukiman, rekreasi, pendidikan, dan lain-lain. Kondisi ini yang menyebabkan terjadinya penumpukan konsentrasi penduduk dan memunculkan berbagai masalah lingkungan.

Para petani hutan seperti Pak Ujang, hadir untuk menjaga daerah pesisir dengan menanam mangrove yang berguna sebagai penyangga kehidupan untuk mengatur tata air, mencegah banjir, mengendalikan erosi, mencegah intrusi air laut, sampai dengan memelihara kesuburan tanah.

Baca juga: Privy.ID Tanam 500 Pohon Mangrove di Jakarta

Menjadi Petani merupakan Mimpi Pak Ujang Sejak Kecil

Berbeda dengan orang-orang kebanyakan, yang sejak kecil bercita-cita menjadi dokter. Pak Ujang yang kini telah menginjak usia 30 tahun ini ternyata memiliki ketertarikan terhadap tanaman dan lingkungan sedari usia yang masih belia saat masih tinggal di kampung halaman.

Kecintaannya terhadap tanaman tersebut menjadi motivasi beliau untuk terus menghijaukan lingkungan hingga kini.

“Karena sejak kecil saat tinggal di kampung sering melihat hutan dan sawah, jadi ketika pindah ke kota, senang bekerja di bidang ini,” ucap Pak Ujang.

Meskipun begitu, Pak ujang baru mulai memutuskan untuk pindah ke kota dan menjadi petani di Pantai Indah Kapuk pada tahun 2015 lalu. Tapi usaha menghijaukan lingkungan yang dilakukan oleh Pak Ujang bukan hanya sebatas menjadi petani mangrove saja.

Pak Ujang juga berjasa menanam beberapa jenis pohon lainnya, seperti pohon mahoni, pohon ketapang dan pohon trembesi yang sering kali kita temui sebagai peneduh di sepanjang jalan.

Berharap Bisa Terus Menanam di Hutan Mangrove PIK

Dokumentasi penanaman pohon mangrove di Ekowisata Hutan Mangrove PIK Jakarta.
Foto perwakilan karyawan PT. Ocean Network Express (ONE) Indonesia saat menanam mangrove di PIK, Jakarta Utara hasil kolaborasi dengan LindungiHutan pada 4 Desember 2021 (Dokumentasi: LindungiHutan/Business Development).

Bagi Pak Ujang, menanam sudah menjadi bagian dari hidup beliau. Mengurus tanaman yang ada di lahan sudah menjadi rutinitas sehari-hari yang tidak bisa ditinggalkan.

Menjadi seorang petani pastinya terdapat suka dan duka yang harus dilewati, namun hal ini tidak menjadi kendala bagi Pak Ujang. Beliau bahkan berkata bahwa tidak ada kekhawatiran yang beliau rasakan mengenai pekerjaannya sekarang ini sebagai seorang petani.

Bukan cuma itu, bahkan di antara banyaknya profesi lainnya, Pak Ujang tetap memilih untuk fokus menjadi petani dibandingkan pekerjaan lainnya.

Mengingat pendapatan seorang petani di negeri ini tidak sebesar gaji dari pekerjaan lainnya, namun Pak Ujang masih tetap memilih profesi mulia ini untuk menghidupi diri dan keluarganya.

Melihat kisah Pak Ujang sebagai petani sungguh sebuah inspirasi bukan?

Dibalik keterbatasan pendidikan dan asal beliau yang bukan dari kota besar, tidak menghentikan langkah beliau untuk meneruskan mimpi beliau untuk terus menanam dan memberikan manfaat bagi lingkungan.

Seharusnya ini menjadi pengingat bagi generasi muda seperti kita, untuk terus berbuat baik pada lingkungan dengan segala keterbatasan yang ada.

Maka dari itu, mari kita bantu para petani seperti Pak Ujang untuk mewujudkan mimpinya untuk terus menghijaukan Indonesia!

Penulis: Farhana Nisa