Connect with us

Wilayah

Pohon Tabbebuya untuk Tepi Sungai Ijo Gading Kabupaten Jembrana Bali (2022)

Published

on

Pohon Tabbebuya untuk Tepi Sungai Ijo Gading Kabupaten Jembrana Bali.

Jembrana adalah sebuah kabupaten di ujung barat Pulau Bali yang memiliki jumlah kunjungan wisatawan paling kecil di Pulau Bali hanya sekitar 280 ribu wisatawan. Ditinjau dari letak geografisnya, Kabupaten Jembrana seolah-olah hanya menjadi lintasan masyarakat yang pergi dari Denpasar ke Gilimanuk atau sebaliknya. 

Padahal, Kabupaten Jembrana juga mempunyai alam yang indah berupa pegunungan, laut, dan terkenal dengan julukan Bumi Makepung yang mempunyai keberagaman seni budaya Bali. Salah satu daya tarik di Kabupaten Jembrana adalah Kampung Loloan. Kampung Loloan mempunyai rumah tradisional berbentuk panggung. Rumah panggung tersebut dibangun masyarakat untuk menghindari luapan sungai Ijo Gading dan serangan binatang buas. 

Kabupaten Jembrana adalah sebuah daerah yang memiliki sejarah panjang dengan adanya kerajaan Jembrana. Pusat perdagangan utama Kerajaan Jembrana kala itu berada di Bandar Pancoran. Kerajaan yang dulunya menganut paham animisme dan dinamisme tersebut lalu mengenal ajaran islam pada abad ke-17 melalui pedagang muslim dari dari suku Bugis dan Suku Makassar.  

Para pedagang muslim di wilayah kerajaan Jembrana akhirnya menikah dengan masyarakat Bali dan mendirikan perkampungan muslim di Gelgel, Loloan, Pegayaman, dan Kepoan. Akhirnya, sampai sekarang kerukunan beragama antara pemeluk Islam dan pemeluk Hindu di Kabupaten Jembrana senantiasa terpelihara dengan baik.

Pesona Sungai Ijo Gading and Tt Threats 

Sungai Ijo Gading terdapat di wilayah Loloan, Kota Negara, Kabupaten Jembrana-bali. Sungai ini berkategori permanen dan membagi wilayah antara Loloan Barat dan Loloan Timur dan wilayah itu dihubungkan oleh jembatan Syarif Tua. Sungai Gading Ijo adalah sungai bersejarah di mana melalui sungai ini lah terjadinya transportasi, penyebaran islam di Jembrana, dan perdagangan antar pulau maupun negara terjadi. 

Remaja Loloan Timur yang sadar akan lingkungan berusaha menjaga kebersihan dan keasrian Sungai Ijo Gading supaya dapat dijadikan sebagai tujuan wisata alam yang murah meriah dengan mengunggulkan pemandangan tepi Sungai Ijo Gading seperti layaknya Sungai Badung di Kota Denpasar yang sudah berhasil menarik wisatawan. 

Namun, peneliti mengungkapkan bahwa terjadinya perubahan warna air Sungai Ijo Gading menjadi hitam kebiruan. Hal ini disebabkan oleh limbah yang dibuang ke sungai diantaranya limbah pertanian, rumah tangga, perbengkelan, peternakan, dan sampah plastik. 

Baca juga: Tanam Mangrove! Cegah Tenggelamnnya Desa Bedono Demak, Jawa Tengah! (2022)

Salah satu penyumbang terbesar adalah sampah dari hulu aliran sungai yang mana sungai akan terus mengalir melintasi kawasan Mangrove lalu ke laut. Dalam masa uji coba alat penangkap sampah (mangrove bin) yang di pasang di Sungai Ijo Gading selama tiga bulan oleh warga Desa Lolohan dan Balai Penelitian dan observasi laut ditemukannya sampah plastik rumah tangga di sebanyak 230 Kilogram dan sampah alami 544,26 Kilogram. 

Bukan hanya itu, Sungai Ijo Gading sangat rentan oleh natural hazard seperti perubahan iklim, hujan deras yang menyebabkan banjir dan longsor. Banjir menerjang senderan sungai dan menggenangi rumah warga sekitar sungai Ijo gading dan merusak fasilitas jogging track yang akibatnya ambrol sepanjang 20 meter. 

Hal ini disebabkan oleh perambahan hutan yang tidak terkontrol di daerah aliran sungai (DAS). Kabupaten Jembrana yang luasnya 84.140 ha, memiliki kawasan hutan seluas 41.307,27 ha (50,91 %) dari luas wilayah Kabupaten Jembrana yang tersebar pada 4 kecamatan yaitu Kecamatan Melaya, Kecamatan Negara, Kecamatan Mendoyo dan Kecamatan Pekutatan. Namun, berdasarkan data dinas kehutanan Kabupaten Jembrana mengalami kerusakan akibat perambahan. 

Perambahan terjadi di empat Kecamatan itu dan jumlah Perambahan yang terjadi di Kecamatan Negara adalah seluas 302,00 ha (5,65%). Tentu masalah di atas tidak bisa disepelekan, kita bisa apa tanpa dukungan sumber daya alam? 

Menghidupkan Lagi Ekosistem Hutan di Sungai Ijo Gading 

foto bersama  LindungiHutan dalam acara penanaman pohon di Jembrana Balli.
foto bersama LindungiHutan dalam acara penanaman pohon di Jembrana Balli. (Dok: Business Development/LindungiHutan).

Adapun keberagaman flora dan fauna yang wajib diketahui di hutan Sungai Gading Ijo di antaranya: ular piton, burung, biawak, pohon tangi (endemik untuk landasan rumah panggung), tabebuya, bambu, sirsak, mangga, boni, bayur, kutat, kwanitan, cempaga, bendo, udu, genitri, tanjung gunung, kejimas, trembesi, pule, bambu betung, bambu tali, dan buluh. Jika Ekosistem di tepi Sungai Ijo Gading tidak stabil maka mereka juga akan terancam punah. 

LindungiHutan melakukan usaha penanaman pohon agar fungsi hutan di sisi sungai Ijo Gading dapat kembali berfungsi efekti. 

Hutan tersebut nantinya dapat mencegah banjir, degradasi lahan akibat abrasi, meningkatkan area tutupan hijau, membantu pengurangan emisi karbon, meningkatkan perekonomian petani dan warga sekitar, serta menyediakan jam kerja bagi warga sekitar. 

LindungiHutan bekerja sama dengan warga untuk kegiatan penanaman pohon sejak tahun 2020. Pohon Tabebuya dipilih mengingat fungsinya sebagai pohon penghijauan, mempercantik kota, dan mampu membersihkan udara dari polutan yang berbahaya. 

Baca juga: Penyelamatan Pesisir Ogotua Tol-Toli Sulawesi Tengah dari Abrasi (2022)

Hingga Juni 2022, terdapat 8 kampanye alam dan sebanyak 8.129 pohon dengan luasan tertanam 0,3 ha dan 429,42 kg CO2 ekv terserap. Mari kita hijaukan tepi Sungai Ijo Gading! 

Muhamad Iqbal adalah SEO content writer di LindungiHutan dengan fokus pada tulisan-tulisan lingkungan, kehutanan dan sosial.

Sedekah Pohon LindungiHutan