Powered by ProofFactor - Social Proof Notifications

Penyelamatan Pesisir Ogotua Toli-Toli Sulawesi Tengah Dari Abrasi (2022)

LindungiHutan mengambil langkah nyata untuk mengatasi abrasi dan banjir yang ada di Pesisir Ogotua. Bersama mitra petani sejak tahun 2019, penanaman pohon mangrove di wilayah ini rutin dilakukan. 
Penyelamatan Pesisir Ogotua Toli-Toli Sulawesi Tengah Dari Abrasi.

Pesisir Ogotua adalah salah satu wilayah terluar di Indonesia tepatnya berada di Desa Ogotua, Kecamatan Dampal Utara, Kabupaten Toli-Toli, Sulawesi Tengah. Desa Ogotua berbatasan dengan Selat Sunda di sebelah utara, sebelah timur berbatasan dengan Desa Bambapula, sebelah selatan berbatasan dengan Desa Kabinuang, dan sebelah barat berbatasan dengan Laut Sulawesi.

Desa Ogotua merupakan Ibu Kota Kecamatan Dampal Utara yang terdiri dari 7 dusun di daratan dan 1 dusun di Pulau Lingayan. Jumlah penduduknya hanya 3.826 jiwa mendiami tanah seluas 25,27 km. Terdapat 26 suku dan suku paling banyak secara berurutan adalah suku Bugis, Mandar dan Selayar. 

Desa Ogotua dahulu kala merupakan perkampungan kumuh yang masih dikelilingi oleh hutan bakau, hutan belantara dan penduduk yang masih sedikit. Awal mula nama Ogotua berasal dari nelayan yang sedang kehabisan air dan bekal, lalu mereka menepi di sebuah pulau yang mana pribumi pulau itu mengatakan ada air hidup yang sudah tua (mousan ogo tua). 

Namun, nelayan tersebut tidak terlalu mengerti bahasa yang digunakan dan akhirnya pulang dan mengabarkan pada teman-temanya tentang adanya Kampung Ogotua. Setelah kejadian itu, banyak orang berdatangan ke Kampung Ogotua untuk membuka lahan dan berkebun di sana. Maka, jadilah Kampung Ogotua yang sekarang. 

Karena letaknya yang berada di pesisir, hasil bumi di daerah ini adalah kelapa dan perikanan. Sementara mata pencaharian masyarakatnya adalah tani, buruh tani, serta nelayan. Berbicara tentang mata pencaharian dan nelayan, potensi penangkapan ikan di perairan Sulawesi Tengah cukup besar khususnya di Selat Makassar, Teluk Tomin, dan Teluk Tolo. 

Di pesisir Ogotua terdapat Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) yang digunakan untuk menjual hasil tangkapan ikan dari wilayah perairan Selat Makassar. Salah satu jenis komoditas ikan yang mempunyai nilai ekonomis tinggi di PPP adalah Cakalang. 

Ancaman di Pesisir Ogotua

Abrasi yang terjadi di Pesisir Ogotua menyebabkan banjir rob dan mengancam hilangnya rumah penduduk. Banjir rob disebabkan oleh tinggi rendahnya pasang surut air laut, land subsidence, dan juga climate change–meskipun tidak berdampak langsung. 

Baca juga: Menilik Bukit Puntong Sumiak, Kabupaten Landak, Kalimantan Barat (2022)

Banjir rob akan menyebabkan daratan menjadi makin sempit karena pasir akan terbawa arus air menuju laut sehingga menyebabkan penyusutan lebar pantai. Banjir rob juga menghilangkan keanekaragaman hayati hutan bakau seperti ikan,burung, danmangrove. 

Lalu, adanya perubahan bentang lahan di kawasan pesisir akibat penebangan hutan mangrove untuk dijadikan tempat budidaya dan permukiman juga menyumbang terjadinya banjir dan abrasi di daerah pesisir.

Pelestarian Hutan Mangrove di Pesisir Ogotua

Proses penanaman pohon mangrove rhizophora oleh Kasua bersama LindungiHutan di Pesisir Ogotua.
Proses penanaman pohon mangrove rhizophora oleh Kasua bersama LindungiHutan di Pesisir Ogotua. (Dok: Business Development/LindungiHutan).

Hutan mangrove adalah ekosistem yang unik yang menjadikan jembatan antara laut dan daratan. Tumbuhan mangrove mampu tumbuh di wilayah salinitas tinggi pertemuan antara air tawar, asin, maupun berlumpur. Hutan mangrove juga mempunyai kapasitas besar untuk dimanfaatkan sebagai barrier pencegah abrasi dan juga menyimpan keanekaragaman hayati yang khas. 

Selain fungsi ekologis, hutan mangrove juga mempunyai nilai budaya, pendidikan, dan ekonomi yang tinggi jika dimanfaatkan sebagai wahana wisata, pendidikan, konservasi, serta menjadi identitas budaya masyarakat pesisir. 

Berangkat dari kondisi lingkungan dan kesadaran akan pentingnya keberadaan hutan mangrove, LindungiHutan mengambil langkah nyata untuk mengatasi abrasi dan banjir yang ada di Pesisir Ogotua. Bersama mitra petani sejak tahun 2019, penanaman pohon mangrove di wilayah ini rutin dilakukan. 

Sitti Hajar Abd.Majid, lulusan Jursan Biologi selaku koordinator lingkungan karang taruna yang turut berkampanye dengan LindungiHutan dalam penanaman mangrove di sana. Sitti (23) mengembangkan lahan berupa hamparan lahan kosong yang dapat ditanami mangrove dan dikembangkan sebagai garis pantai. 

Namun, yang dilakukan sitti tidaklah mudah. Berbagai kendala seperti ombak pada pesisir yang kuat, hingga banjir yang bisa merusak hutan mangrove. Harapan besar yang dimiliki oleh Sitti adalah menjadikan mangrove sebagai ekowisata edukasi tentang pentingnya mangrove di pesisir Ogotua. Dengan bantuan LindungiHutan, warga masyarakat, dan komunitas masyarakat tertarik guna ikut serta membantu penanaman mangrove. 

Baca juga: Bukit Batu Bajak Kamang Hilir (2022)

Hingga Juni 2022 terdapat 23 kampanye alam, 5.454 pohon tertanam (0,5 ha) dan 646,02 kg CO2 ekv terserap. Fokus penanaman di pesisir Ogotua adalah mangrove Rhizophora sp untuk mencegah perluasan abrasi dan banjir rob, meningkatkan area tutupan hijau, membantu pengurangan emisi karbon, meningkatkan perekonomian petani dan warga sekitar, dan menyediakan jam kerja bagi warga sekitar. Mengingat, akar pohon mangrove berfungsi untuk menahan gelombang laut agar tidak mengikis daratan. 

Yuk kita bergabung dalam aksi penanaman mangrove di pesisir Ogotua. Menanam mangrove, Pulihkan kelestarian Lingkungan!

Penulis: Zahidah Mahroini

Muhamad Iqbal
Muhamad Iqbal adalah SEO content writer di LindungiHutan dengan fokus pada tulisan-tulisan lingkungan, kehutanan dan sosial.