Connect with us

Emisi Karbon

Lebih Besar Mana, Emisi Karbon Mobil atau KRL?

Published

on

Emisi karbon kendaraan.

Upaya melawan perubahan iklim nyatanya bukan hanya pekerjaan rumah satu dua orang saja. Akan tetapi, ini merupakan kerja kolektif yang membutuhkan peran banyak pihak. Artinya, semua bisa berkontribusi aktif untuk menjalani hidup yang lebih ramah lingkungan termasuk salah satunya dengan menekan emisi karbon.

Sebagaimana kita ketahui, benang merah perubahan iklim jika kita urai maka akan berpangkal pada perkara emisi karbon. Ada banyak aktivitas manusia yang ternyata menghasilkan jejak karbon secara masif dan dalam jangka panjang membuat suhu bumi menghangat. Sektor transportasi salah satunya.

Transportasi merupakan salah satu penyumbang emisi terbesar dalam fenomena perubahan iklim. Secara global, transportasi menyumbang 23% emisi karbon buatan manusia dan angkanya meningkat hingga 30% di negara maju.

Sementara di Jakarta, berdasarkan Laporan Inventarisasi Profil Emisi Gas Rumah Kaca DKI Jakarta yang dirilis Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Jakarta, selama periode 2010-2018 sektor transportasi di Ibu Kota menghasilkan emisi gas rumah kaca dengan kisaran 7,5 juta ton sampai 13,3 juta ton ekuivalen karbon dioksida per tahun.

Tentu, angka yang besar! Namun, jika kita lihat lebih dalam lagi apa sebenarnya akar masalah yang menyebabkan transportasi menjadi penyumbang besar emisi karbon? Apakah tingginya jumlah kendaraan pribadi? Minimnya akses dan ketersediaan transportasi publik?

Lantas, lebih besar mana emisi yang dihasilkan dari penggunaan kendaraan pribadi atau transportasi umum? Simak lebih lanjut artikel berikut!

Transportasi Publik Jadi Solusinya!

Emisi karbon
Ternyata jumlah kendaraan pribadi sebegitu banyaknya ya!

Ajakan menggunakan transportasi umum seharusnya bukan lagi jadi satu hal yang klise saat ini. Penolakan penggunaan transportasi publik oleh masyarakat umumnya terjadi antara buruknya fasilitas yang tersedia ataupun cakupan rute yang tidak terlalu memadai. 

Padahal, transportasi umum bisa menjadi solusi banyak hal atas masalah yang kerap terjadi di kota besar. Selain mengurai kemacetan dan menyediakan lebih banyak Ruang Terbuka Hijau, transportasi publik juga lebih ramah lingkungan. Paling tidak emisi yang dihasilkan bisa lebih minim.

Baca juga: Mending Belanja Online atau Belanja Langsung? Besar Mana Emisinya?

Seperti yang sudah disinggung di awal, bahwa transportasi merupakan sektor paling banyak menyumbang emisi karbon. Bukan tanpa alasan, sebab kontribusi emisi dari sektor transportasi adalah tingginya kepemilikan kendaraan pribadi.

DKI Jakarta adalah aglomerasi urban tertinggi kedua di dunia (Martinez dan Masron, 2020) dengan jumlah penduduk pada tahun 2020 mencapai kurang lebih 10 juta jiwa.  Kondisi tersebut menuntun kepada kepemilikan kendaraan pribadi yang mencapai dua kali lipat jumlah penduduk yakni 20,2 juta unit (3,3 juta mobil dan 16, 1 motor) (BPS, 2020).

Saatnya beralih ke moda transportasi umum dan saatnya pemerintah berbenah terhadap fasilitas yang tersedia. Kita tekan emisi untuk masa depan bumi lebih baik!

Berapa Besar Emisi Karbon yang Dihasilkan Mobil dan Kereta rel Listrik/KRL?

Kalau sebelumnya bicara tentang data, sebenarnya lebih besar mana sih jejak karbon yang dihasilkan dari penggunaan mobil atau Kereta Rel Listrik/KRL. Berikut perhitungannya menggunakan kalkulator jejak karbon Imbangi!

Anggap saja kamu seorang karyawan perusahaan yang bekerja di bilangan Sudirman dan tinggal di Kota Bogor. Kamu punya dua pilihan moda kendaraan untuk berangkat dan pulang kerja, yaitu KRL dan mobil pribadi.

Jika kamu menggunakan KRL, jarak dari Stasiun Bogor Kota ke Stasiun Sudirman terbentang sepanjang 58,7 Km. Satu gerbong KRL berisikan maksimal 250 orang, dan dalam satu rangkaian kereta terdapat 8 gerbong. Artinya ada 2.000 penumpang yang diangkut sekali jalan oleh KRL. Maka, besaran emisi yang dihasilkan per orangnya adalah 0,10 Kg CO2eq.

Emisi karbon KRL
Hasil perhitungan emisi karbon menggunakan Imbangi.

Sementara jika kamu mengendarai mobil pribadi, dengan jarak tempuh yang sama, jejak karbon yang dihasilkan sekali jalan sebesar 2.05 Kg CO2eq.

Emisi karbon mobil pribadi.
Hasil perhitungan emisi karbon menggunakan Imbangi.

Jadi, hasil menunjukkan kalau penggunaan KRL lebih minim emisi dibanding mobil pribadi. 

Pun, berdasarkan laporan Greenpeace, Transformasi Transportasi Jakarta: Mengkaji ulang target emisi nol sektor transportasi tahun 2050 (2022), kendaraan pribadi seperti motor dan mobil, merupakan penyumbang emisi terbesar (43,1% dari sepeda motor dan 24,68% dari mobil). Sementara, transportasi publik (transportasi rel dan Transjakarta) berkontribusi paling sedikit terhadap total emisi langsung/operasional sektor transportasi di Jakarta yaitu sekitar 0,90%.

Baca juga: 5 Kelebihan Kalkulator Jejak Karbon Imbangi

Coba Kalkulator Jejak Karbon Imbangi GRATIS

Kalkulator jejak karbon Imbangi.
Coba GRATIS kalkulator jejak karbon.

Oh iya, kalau kamu penasaran dengan berapa besar emisi karbon versimu, langsung aja coba kalkulator jejak karbon Imbangi!

Dengan Imbangi, kamu bisa menghitung besar emisi karbon dari berbagai aktivitas seperti penggunaan peralatan listrik, kendaraan, bahan bakar industri, dan lain sebagainya. Cukup ikuti beberapa langkahnya, lantas besaran emisi yang kamu hitung dapat diketahui. Segera coba kalkulator jejak karbon Imbangi GRATIS di sini!

Gambar kalkulator jejak karbon.

Sudahkah Kamu Menghitung Jejak Karbonmu Hari Ini?

Hitung jejak karbonmu sekarang juga dengan menggunakan kalkulator jejak karbon Imbangi. Melalui kalkulator karbon Imbangi, kamu bisa menghitung besar emisi karbon dari penggunaan kendaraan, listrik, dan peralatan elektronik lainnya.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Rawat Bumi LindungiHutan