Powered by ProofFactor - Social Proof Notifications

Lahan Kritis: Pengertian, Ciri-ciri, Penyebab, Sebaran, dan Cara Mengatasinya

Lahan kristis justru akan berbahaya bagi produksi pertanian, memangnya apa itu lahan kritis? Simak penjelasan dalam artikel berikut!
Lahan Kritis Pengertian, Ciri-ciri, Penyebab, Sebaran, dan Cara Mengatasinya.

Lahan kritis merupakan istilah yang dipakai untuk menyebut suatu wilayah yang sudah mengalami degradasi, sehingga lahan tersebut tidak dapat menjalankan fungsi sebagaimana mestinya. Namun, apa sih secara spesifik lahan kritis itu? dan apa saja penyebab terjadinya lahan kritis.

Pengertian Lahan Kritis

Pengertian Lahan Kritis.
Lahan kritis adalah lahan yang tidak dapat berfungsi dengan baik karena telah atau mengalami proses kerusakan fisik, kimia, dan biologi.

Lahan kritis didefinisikan sebagai lahan yang tidak sesuai dengan penggunaan dan kemampuannya telah atau sedang mengalami proses kerusakan fisik, kimia, dan biologi. Pada akhirnya akan membahayakan fungsi hidrologis, orologis, produksi pertanian, pemukiman, dan kehidupan sosial ekonomi dari daerah lingkungan pengaruhnya (Mulyadi dan Soepraptohardjo, 1975).

Di sisi lain, Departemen Kehutanan (1985) mendefinisikan lahan kritis sebagai lahan yang tidak dapat difungsikan sebagai media pengatur tata air dan unsur produksi pertanian yang baik, dengan beberapa ciri yang menjadi ketentuan

Munculnya lahan ini di Indonesia sebagian besar disebabkan oleh degradasi lahan. Degradasi lahan adalah proses dimana kondisi lingkungan fisik yang berubah akibat kegiatan manusia ketika melakukan pengolahan lahan. Aktivitas tersebut menjadi penyebab kondisi lahan berubah dan merusak kesehatan  lahan.

Ciri-Ciri Lahan Kritis

1. Kandungan Humus Rendah

Tanah humus merupakan jenis tanah yang subur karena ia mengandung bahan organik misalnya daun-daun yang telah membusuk. Pada lahan yang memiliki tanah humus, makan tanaman yang tumbuh di lahan tersebut akan lebih subur.

Sedangkan tanah yang kandungan humusnya rendah atau bahkan miskin humus, tidak  akan cocok jika digunakan sebagai lahan perkebunan dan pertanian.

2. Tidak Subur

Lahan ini memiliki tanah yang tidak subur karena rendahnya kandungan mineral yang diperlukan untuk pertumbuhan tanaman.

3. Daya Dukung Tanah Rendah

Lahan ini tidak mampu menahan beban dalam hitungan ton tiap satu meter kubik.

4. Fluktuasi Air Tidak Baik

Air tanah yang terlalu dangkal atau terlalu dalam,

Penyebab Lahan Kritis

Memangnya, apa penyebab lahan kristis?
Ada berbagai macam faktor penyebab lahan kritis.

Terdapat beberapa pembagian dari penyebab terjadinya lahan kritis, yaitu:

1. Faktor Alam

  • Kekeringan

Kondisi kekeringan biasanya terjadi di daerah dengan curah hujan rendah. Beberapa daerah di Indonesia yang tak jarang mengalami kekeringan berada di wilayah bagian timur seperti Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, dan beberapa daerah lainnya yang ada di berbagai wilayah Indonesia.

Kondisi lahan di wilayah yang sering dilanda kekeringan cenderung kritis karena tanah yang berada di wilayah tersebut kekurangan kadar air, sehingga tumbuhan sulit untuk hidup dan beradaptasi.

  • Tergenang Air

Daerah yang sering tergenang air biasanya dataran rendah. Di daerah ini umumnya terjadi lahan kritis disebabkan banjir/air yang menggenang, proses sedimentasi/pengendapan bahan tertentu, dan genangan air ini menutupi lapisan tanah subur.

Posisi tanah yang subur biasanya berada lebih rendah dari daerah di sekelilingnya, sehingga apabila hujan tiba, air tidak dapat mengalir dengan baik dan menggenang di daerah tanah subur tersebut.

  • Erosi tanah

Terjadinya lahan kritis di daerah pegunungan disebabkan oleh peristiwa/ bencana alam seperti tanah longsor, erosi, atau tanah rayap. Apabila erosi tidak ditangani dengan tepat, maka tanah akan terus bergerak turun dan mengikis lapisan tanah yang subur di bawahnya.

Lahan kritis yang dapat di identifikasi pada daerah pegunungan dengan kondisi lapisan tanah  paling atas hampir habis, sehingga yang tersisa berupa tanah tandus bahkan bisa dalam bentuk tanah cadas/keras.

Lahan Kritis banyak dijumpai di lereng yang terjal dengan kondisi tanah terbuka dan tandus, atau di daerah pegunungan dengan kondisi hutan yang tidak baik atau rusak.

  • Pembekuan Air

Kawasan yang menjadi lahan kritis akibat pembekuan air jarang ditemukan di Indonesia. Kawasan yang biasanya terjadi pembekuan air berada di wilayah kutub dan pegunungan yang memiliki cuaca  dingin.

2. Faktor Non-Alam

  • Terjadinya Alih Fungsi Lahan

Alih Fungsi lahan biasanya terjadi karena terdapat kepentingan Industri, pemukiman warga, dan tanah perkebunan. Lahan yang dialihfungsikan biasanya wilayah daerah aliran sungai yang seharusnya berfungsi menjadi pengalir air hujan secara alami.

Selain menjadi penyebab lahan menjadi kritis, alih fungsi lahan dapat meningkatkan polusi air dan gangguan siklus hidrologi.

  • Kesalahan Pengelolaan Lahan

Untuk mengelola suatu lahan pastinya terdapat berbagai macam aturan yang harus dipenuhi sehingga lahan tetap menjadi produktif dan bermanfaat. Salah satu cara yang tepat dengan melakukan pergantian tanaman tiap beberapa periode.

Selain pergantian tanaman, kita juga harus memperhatikan pemilihan pupuk, pestisida, metode pembajakan sawah, panen, dsb.

  • Tercemar Bahan Kimia

Penggunaan pestisida dan pupuk kimia pada lahan pertanian dalam jumlah besar dan dilakukan secara terus menerus dapat menjadi penyebab lahan jenuh. Pestisida mampu bertahan di dalam tanah dalam kurun waktu bertahun-tahun, dan berdampak pada kesuburan tanah.

Pencemaran limbah juga dapat merusak lahan. Kandungan kimia pada limbah yang terbawa bersamaan aliran sungai, kemudian air tersebut digunakan untuk mengaliri lahan. Maka lahan tersebut berpotensi menjadi lahan kritis.

  • Sampah Anorganik

Lahan yang terdapat banyak sampah anorganik atau jenis sampah yang sulit terurai/anorganik seperti misalnya plastik, styrofoam, dan kandungan logam. Sampah jenis ini memerlukan waktu yang lama bisa dalam puluhan bahkan ratusan tahun untuk hancur.

Dengan mengetahui resiko tersebut, pengelolaan sampah anorganik harus dilakukan dengan tepat. Sehingga dapat mengurangi resiko yang ditimbulkan.

Baca juga: 10+ Penyebab Degradasi Lahan di Indonesia

Sebaran Lahan Kritis

Luas lahan kritis di Indonesia setiap tahunnya semakin meningkat. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, terutama faktor alam dan manusia. Persebaran kali ini berdasarkan letak geografisnya, berikut merupakan penjelasan lebih lanjut ;

1. Lahan Kritis di Pegunungan

Siapa sangka, lahan di pegunungan yang identik dengan kawasan hijau, subur, dan terdapat banyak hutan di dalamnya tetap berpotensi memiliki lahan kritis. Penyebab nya antara lain terjadinya longsor, erosi tanah, kandungan tanah berupa kapur. Lahan ini sebarannya terdapat di wilayah pegunungan Kendeng( (Jawa Tengah-Jawa Timur) dan pegunungan Ciremai (jawa Barat), berupa hutan kerangan/ hutan yang memiliki lahan ekstrim dan rawan terjadinya gangguan contohnya seperti kebakaran.

2. Lahan Kritis di Dataran

Lahan kritis di daerah ini biasanya disebabkan oleh genangan air secara terus menerus sehingga mineral dan unsur hara di dalam tanah lama kelamaan akan menghilang. Genangan air umumnya berasal dari genangan air hujan. Kita dapat menemui lahan kritis ini di daerah Demak (Jawa Tengah), Bojonegoro, Tuban, Gresik, dan Lamongan.

3. Lahan Kritis di Daerah Pantai

Gelombang air laut yang mengikis wilayah pantai menjadi salah satu penyebab lahan kritis. Peristiwa yang dimaksud abrasi tersebut akan mengikis lapisan sedimen tanah.

Lahan kritis pada daerah pantai dapat kita temui misalnya di  muara sungai Cimanuk (Jawa Barat) dan muara sungai Kulon Progo (DI Yogyakarta).

Cara Mengatasi

Cara Mengatasi Lahan kritis bisa dengan pupuk kompos.
Pupuk organik dapat memberikan unsur hara yang diperlukan tanaman sekaligus memperbaiki sifat kimia, fisik, dan biologi tanah

1. Kolaborasi antar Berbagai Pihak

Salah satu upaya yang bisa dilakukan untuk mencegah terjadinya lahan kritis dengan kolaborasi/keterlibatan pemerintah, masyarakat, dan korporat.

2. Mengembangkan Keanekaragaman Hayati

Teknik tumpang sari menjadi pilihan teknik yang tepat untuk mengembangkan keanekaragaman hayati. Karena dengan menanami lahan dengan teknik ini mampu meningkatkan produktivitas lahan dan menanggulangi terjadinya lahan kritis.

3. Reboisasi

Melakukan reboisasi dengan memilih jenis tanaman yang cocok untuk merehabilitasi lahan kritis. Pemilihan tanaman yang tepat dapat mempertimbangkan beberapa hal seperti: tanaman dengan akar tunjang yang kuat dan dalam, tidak terlalu membutuhkan unsur hara dalam tanah, tanaman endemik, dan membutuhkan sedikit air.

4. Membuat Terasering

Membuat terasering/ teras-teras pada lereng yang bertujuan untuk mengurangi laju air dari permukaan yang lebih tinggi agar memperbesar peluang penyerapan air oleh tanah. Sehingga unsur-unsur hara di tanah tidak mudah longsor dan tertimbun dengan lapisan tanah yang lain.

5. Pemilihan Pupuk Organik

Bahan kimia yang terkandung dalam pupuk kimia menjadi salah satu faktor yang menjadi penyebab lahan kritis. Karena, unsur kimia yang ada mampu bertahan hingga bertahun-tahun di dalam tanah.

Pupuk organik dari bahan alami  berasal dari tanaman dan hewan dapat berfungsi untuk menggemburkan tanah dan menjadikan tanah tetap produktif dengan baik. Pupuk organik dapat memberikan unsur hara yang diperlukan tanaman sekaligus memperbaiki sifat kimia, fisik, dan biologi tanah. 

Baca juga: Lahan Basah: Pengertian, Jenis, dan Manfaatnya

FAQ

Apa pengertian dari lahan kritis?

Lahan kritis didefinisikan sebagai lahan yang tidak sesuai dengan penggunaan dan kemampuannya telah atau sedang mengalami proses kerusakan fisik, kimia, dan biologi.

Bagaimana cara mengatasi lahan kritis?

Terdapat beberapa cara yang dapat dilakukan yaitu: 1) Kolaborasi dengan Berbagai pihak; 2) Mengembangkan keanekaragaman hayati; 3) Reboisasi. Untuk penjelasan cara mengatasi lain nya baca pada artikel ini.

Penulis: Tasqiya Ratnasari

Editor: Rionaldo Andira Lesmono