Connect with us

Wilayah

Kawasan Hutan Mangrove di Pesisir Pengarengan Kabupaten Cirebon dan Mengapa Kita Perlu Menjaganya?

Published

on

mengenal kawasan hutan mangrove pesisir pengarengan.

Selain dikenal sebagai kota udang dan empal gentongnya yang enak, Kabupaten Cirebon juga memiliki kawasan hutan mangrove yang potensial. Adapun, potensi yang dimaksud bisa dari sisi wisata maupun keanekaragaman hayati yang tinggi.

Kalau kita berkaca pada data Badan Pusat Statistik tahun 2016, hutan mangrove Kabupaten Cirebon memiliki luas 1.780 ha dengan rincian kondisi baik sebanyak 1.100 ha, kondisi sedang 200 ha, kondisi rusak 480 ha, rehabilitasi 100 ha, dan berubah fungsi sebanyak 100 ha. Mangrove ditemukan mendominasi kawasan Losari, Pengenan, dan Gebang.

Nah, salah satu daerah pesisir yang memiliki kawasan hutan mangrove potensial adalah Pesisir Pengerangan yang berada di Kecamatan Pengenan. Seperti apa kondisinya?

Pengarengan: Desa Penghasil Garam dan Kawasan Mangrove Tertuanya

Pengarengan merupakan sebuah desa pesisir utara yang terletak di Kecamatan Pangenan, Kabupaten Cirebon, Provinsi Jawa Barat. Mayoritas mata pencaharian penduduknya adalah nelayan, petani garam, dan petani tambak perikanan. Desa Pengarengan juga menjadi salah satu produsen garam di Kecamatan Pangenan dengan 20 KUGAR dan total produksi sebesar 5.247 ton, menurut data DKP Cirebon 2014 dalam Jason Trikobery, dkk (2017).

Sementara itu, kawasan mangrove Pengarengan termasuk salah satu dari kawasan mangrove tertua di Kabupaten Cirebon. Kondisinya menyimpan potensi yang besar untuk dikembangkan menjadi Kawasan Ekowisata Mangrove berbasis konservasi keanekaragaman hayati karena memiliki mangrove dengan jenis-jenis yang beragam berdasarkan pada zonasinya serta kekayaan biodiversitas yang dimilikinya.

Baca juga: Potensi Tersembunyi Gunung Sawur Kabupaten Lumajang yang Perlu Kita Jaga Bersama

Kondisi Biodiversitas Kawasan Mangrove Pengarengan

Keanekaragaman hayati menjadi salah satu barometer kondisi suatu ekosistem, termasuk dalam hal ini mangrove. Mengutip dari buku Keanekaragaman Hayati Kawasan Mangrove Pengarengan (2021), vegetasi mangrove di kawasan tersebut terdiri dari vegetasi hutan mangrove yang tumbuh secara alami serta vegetasi mangrove yang ditanam,

Jenis-jenis mangrove yang ditemukan di Sungai Pengarengan terdiri dari kelompok mangrove sejati serta kelompok mangrove ikutan. Kelompok mangrove sejati terdiri dari api-api hitam (Avicennia alba), api-api putih (Avicennia marina), jeruju hitam (Acanthus ilicifolius), nipah (Nypa fruticans), bakau bandu                 (Rhizophora mucronata), serta pidada merah (Sonneratia caseolaris).

Sementara kelompok mangrove ikutan yang ditemukan terdiri dari tuba laut (Derris trifoliata), widuri (Calotropis gigantea), beluntas (Pluchea indica), krokot laut (Sesuvium portulacastrum), ketul (Bidens pilosa), seruni (Wedelia bioflora), rambusa (Passiflora foetida), ketapang (Terminalia catappa), kirinyuh (Chromolaena adorata), rumput (Chloris barbata), serta rumput tepi-telaga (Schoenoplectus lacustris).

Nah, berdasarkan penelitian Afni Atika Marpaung, dkk (2021) di kawasan hutan mangrove Pengarengan Kabupaten Cirebon ditemukan sebanyak 24 spesies tumbuhan. Tumbuhan yang ditemukan dalam penelitian ini semuanya berasal dari kelas yang sama yaitu Magnoliopsida, dan terdiri atas 10 ordo, 15 famili, 23 Genus.

Selain kaya akan jenis mangrove, burung air juga menjadi fauna yang mendominasi kawasan hutan mangrove pengarengan. Dalam penelitian Ris Hadi Purwanto, dkk (2021), mengidentifikasi enam spesies burung, tiga spesies reptile, satu spesies mamalia, tiga spesies malacostraca, satu spesies Actinopterygii, dan satu gastropoda. Selama penelitian, keberadaan burung dapat diamati lebih mudah daripada spesies lain. Burung-burung ditemukan di cabang, di kolam, atau di nekromassa.

Bersama LindungiHutan, Mari Kita Jaga Hutan Mangrove Pengarengan!

Kendati potensi dan keanekaragaman hayati suatu kawasan hutan mangrove tinggi, tetapi jika tidak dijaga kelestariannya maka akan sia-sia. Apalagi, salah satu persoalan yang cukup sering terjadi menyangkut dengan hutan mangrove yaitu alih fungsi lahan,

Menurut Sri Wahyuningsih dan Feti Fatimatuzzahroh (2019), penggunaan lahan di pesisir Kabupaten Cirebon umumnya didominasi oleh tambak, seperti di Kecamatan Gebang di mana 35% tata guna lahan digunakan untuk pertambakan dan 30% persawahan.

Fakta lebih lanjut menunjukkan bahwa perbandingan sebaran hutan mangrove pada tahun 2013 dengan tahun 2004 di Pesisir Kabupaten Cirebon menunjukkan degradasi luas lahan. Hasilnya, panjang sebaran hutan mangrove berkutang di enam kecamatan meliputi Kecamatan Losari menjadi ± 2,9 Km, Kecamatan Pangenan ± 3,8 km, Kecamatan Astanjapura ± 2,9 Km, Kecamatan Mundu ± 2,4 km, dan Kecamatan Suranenggela ± 0,9 km.

Kekhawatiran akan luas hutan mangrove yang makin berkurang membuat Zaenudin Marjuki dan masyarakat setempat mengambil aksi nyata pelestarian lingkungan. Bersama LindungiHutan inisiasi kampanye penanaman mangrove digalakan untuk mendukung program penghijauan di Pesisir Pengarengan.

Dengan ditanamnya mangrove, biota laut terlindungi karena memiliki habitat untuk tempat berlindung dan juga mendapatkan banyak sumber makanan. Langkah ini diharapkan dapat membantu keberlangsungan Pesisir Pengarengan sekaligus membantu pertumbuhan ekonomi warga sekitar.

Baca juga: Pesisir Pabean Ilir Indramayu: Hamparan Mangrove yang Mesti Kita Jaga

Jadi, ayo dukung aksi-aksi penghijauan yang lain di Pesisir Pengarengan, Kabupaten Cirebon bersama LindungiHutan. Kami percaya kita bisa #BersamaMenghijaukanIndonesia!

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Unduh Annual Report LindungiHutan