Connect with us

Lingkungan

Mengurai Perubahan Iklim: Pengertian, Tanda-tanda dan Penyebab yang Harus Diketahui!

Published

on

apa itu perubahan iklim

Dalam beberapa dekade terakhir perubahan iklim menjadi topik hangat yang ramai diperbincangkan. Komunitas internasional berupaya dalam mengurangi dampak perubahan iklim dengan mengambil langkah kolaboratif bersama negara-negara di dunia. 

Berbagai perjanjian internasional membahas perubahan iklim mulai dari Konvensi Kerangka Kerja Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Perubahan Iklim (UNFCCC) tahun 1992, Protokol Kyoto tahun 1997, dan Perjanjian Paris (Konferensi Perubahan Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa – COP21) tahun 2015.

Dwikorita (Kepala Badan Meteorologi dan Geofisika) memaparkan bahwa pada tahun 2016 menjadi tahun terpanas untuk Indonesia, nilai anomali suhu tercatat sebesar 0,8 °C dari periode pengamatan tahun 1981-2020.

Apa itu Perubahan Iklim?

Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) mendefinisikan perubahan iklim sebagai perubahan keadaan iklim yang dapat terjadi diidentifikasi, dengan perubahan rata-rata dan / atau variabilitas propertinya, dan itu bertahan untuk waktu yang lama, biasanya puluhan tahun atau lebih lama.

Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional atau LAPAN (2002), mengartikan perubahan iklim adalah perubahan rata-rata salah satu atau lebih elemen cuaca pada suatu daerah tertentu. Sedangkan istilah perubahan iklim skala global adalah dengan acuan wilayah bumi secara keseluruhan.

Penjelasan lainnya, menurut Dwikorita (2020) perubahan iklim merupakan perubahan jangka panjang dalam distribusi pola cuaca secara statistik sepanjang periode waktu mulai dasawarsa hingga jutaan tahun. 

Bisa diartikan perubahan iklim adalah perubahan keadaan cuaca rata-rata atau perubahan distribusi peristiwa cuaca rata-rata. Contohnya, jumlah peristiwa cuaca ekstrem yang semakin banyak atau sedikit. Perubahan iklim dapat terjadi dapat terjadi di lingkup regional tertentu atau seluruh dunia.

Secara garis besar, perubahan iklim juga mengacu pada perubahan jangka panjang cuaca dan suhu di dunia. Fenomena ini tidak terjadi secara tiba-tiba, namun telah diamati selama puluhan hingga ratusan tahun kebelakang.

Baca juga: Iklim: Memahami Perbedaannya dengan Cuaca, Macam-macam, dan Unsur Pembentuknya

Tanda-tanda Perubahan Iklim

Tanda-tanda perubahan iklim semakin terasa baik secara global maupun regional. Melalui pengamatan yang dilakukan oleh lembaga nasional dan internasional, menunjukkan bahwa keadaan bumi mengalami krisis iklim dan tidak terelakkan. Berikut, tanda-tanda perubahan iklim yang telah terjadi secara global:

1. Peningkatan Suhu Secara Global

Kenaikan suhu karena perubahan iklim
Gambar 1. Peningkatan suhu global tahun 1880-2002. (Sumber: https://www.ncei.noaa.gov/access/monitoring/monthly-report/global/202213)

Pengamatan yang dilakukan oleh NOAA (2023) pada Gambar 1, adanya peningkatan suhu rata-rata tahunan sekitar 2 °F (1°C) yang terjadi sejak 1880-1990. Tahun 2022, menjadi rekor tahun terhangat keenam dengan suhu 1,55 °F (0,86 °C).

Sebuah perbandingan, data yang dirilis oleh World Meteorological Organization (WMO) (2022), tahun 2016 merupakan peringkat pertama peningkatan suhu global terpanas sepanjang sejarah. Hal tersebut sesuai dengan data pada Gambar 1, tahun 2016 telah terjadi peningkatan suhu secara global hampir mencapai 1 °C .

Perubahan iklim Peta Sebaran Panas
Gambar 2. Peta sebaran panas di dunia tahun 1993-2022). (Sumber: https://www.climate.gov/news-features/understanding-climate/ )

Kenaikan suhu secara global karena perubahan iklim, juga ditunjukkan oleh peta sebaran panas di bumi yang terdapat pada Gambar 2. Sebaran warna merah, oranye, dan kuning menyelimuti hampir keseluruhan muka bumi. Panas yang cukup ekstrim mengakibatkan penurunan tutupan salju yang ada di wilayah kutub utara dan selatan.

Sementara itu, sebagian wilayah daratan lebih hangat dibanding wilayah lautan dan kondisi yang berdekatan di kutub utara menghangat lebih cepat dibanding wilayah lainnya. 

2. Naiknya Suhu di Lautan

Penelitian yang dilakukan NASA, salah satu contoh perubahan iklim yaitu suhu di lautan mengalami peningkatan. Lautan juga menyerap panas yang terperangkap di atmosfer. Dalam kurun waktu 30 tahun terakhir, suhu di lautan meningkat sekitar 0,2 °C. Akibatnya, es di kutub mencair sehingga meningkatkan ketinggian muka air laut.

Baca juga: Anomali Iklim: Penyebab dan Pengaruhnya bagi Kehidupan Kita

3. Kenaikan Muka Air Laut

Panas ekstrim yang melanda bumi mengakibatkan mencairnya lapisan es dan gletser di bagian kutub. Dilansir dari laman NOAA 2022 terkait peningkatan muka air laut, sejak tahun 1880, permukaan laut secara global selalu meningkat sekitar 8-9 inci (24-25 cm). Kenaikan ini disebabkan oleh pencairan gletser dan lapisan es di wilayah kutub.

Dari data yang tercatat pada tahun 1993-2022, tahun 2021 menjadi tahun dengan kenaikan muka air laut rata-rata tahun tertinggi dari tahun 1993 hingga tahun 2022, sebab peningkatan yang terjadi sebesar 3,8 inci atau 97 mm diatas permukaan tahun 1993.

Penyusutan Es di Belahan Dunia
Gambar 3. Kenaikan muka air laut pada tahun 1880-2022. (Sumber: https://www.climate.gov/news-features/understanding-climate/ )

Faktor lokal lain yang menyebabkan naiknya permukaan air laut antara lain penurunan permukaan tanah, erosi, banjir di hulu, dan arus laut regional.

Wilayah pesisir merupakan wilayah penting di berbagai belahan dunia. Banyak penduduk yang menempati wilayah pesisir sebagai daerah tempat tinggal seperti di Amerika Serikat. Hampir 30% penduduknya bertempat tinggal di pesisir dan melangsungkan kehidupan disana.

Menurut United Nation Atlas of the Oceans, sebanyak 8 dari 10 kota besar di dunia berlokasi di dekat pantai.

4. Penyusutan Es di Belahan Dunia

Samudra Arktik, sebuah wilayah yang mencakup sekitar 6 juta mil persegi di sekitar Kutub Utara Bumi, telah mengalami sejarah panjang yang mayoritas permukaannya tertutup es sepanjang tahun. 

Di sekitar inti es yang tetap beku sepanjang tahun tersebut, terdapat pinggiran es musiman yang membeku setiap musim dingin dan mencair setiap musim panas. Sepanjang masa itu, area es Arktik mencapai titik maksimum pada bulan Maret dan titik minimum pada bulan September setiap tahunnya.

Penyusutan Es di Belahan Dunia
Gambar 4. Data penyusutan es di Laut Arktik. (Sumber: https://www.climate.gov/news-features/understanding-climate/)

Menurut Gambar 4, pada bulan September 2022 luas wilayah yang tertutup es setidaknya 15 persen adalah sekitar 4,87 juta kilometer persegi (1,88 juta mil persegi), hampir menyamai kondisi pada tahun 2010 (tahun terendah urutan 11 sepanjang catatan). 

Dikutip dari CLIMATE.gov, menurut National Snow, es volume es di Laut Arktik menyusut sebesar 13% per dekade dibandingkan dengan rata-rata tahunan dari 1981-2010. 

Para ahli melaporkan luas rata-rata yang menurun secara berturut-turut sebesar 6,85 juta kilometer persegi (2,64 juta mil persegi) untuk 1979-1992; 6,13 juta kilometer persegi (2,37 juta mil persegi) untuk 1993-2006; dan 4,44 juta kilometer persegi (1,71 juta mil persegi) untuk 2007-2020.

Di Indonesia, BMKG memprediksi es di Puncak Jaya Wijaya akan hilang pada tahun 2025. Kini, luasan es di puncak tersebut menyisakan 1% yakni 2 km persegi dari yang sebelumnya seluas 200 km persegi. Ketebalan es yang menyusur per Februari 2021 mencapai 23,46 meter.

5. Cuaca Ekstrem di Asia

perubahan iklim menyebabkan cuaca panas
Gambar 5. Cuaca panas di Asia pada 17-19 April 2023. (Sumber: https://www.kompas.id/baca/humaniora/2023/04/19/)

Pada bulan April 2023 terdapat fenomena pemanasan global yang mengakibatkan kenaikan suhu di beberapa wilayah di negara-negara Asia.

Dilansir dari laman Kompas.com, suhu terpanas di Asia pada bulan April 2023 terjadi di Bangladesh, India sebesar 51 °C. Sementara itu, di Asia Tenggara dilaporkan mengalami kenaikan suhu seperti di Kota Tak (Thailand) berada pada angka 45,4 °C, di Kota Chauk (Myanmar) sebesar 45,3 °C, di Luang Prabang (Laos) mencapai 42,7 °C, dan di Banten (Indonesia) titik terpanas sebesar 37,2 °C.

Penyebab Perubahan Iklim

Perubahan iklim merupakan fenomena yang kompleks dipengaruhi oleh beberapa faktor. Manusia menyumbang terjadinya perubahan iklim selama beberapa dekade terakhir. Berikut penjelasan selengkapnya!

1. Sampah

Manusia begitu banyak menghasilkan sampah setiap konsumsinya. Lebih dari itu, sampah memberikan kontribusi besar adanya perubahan iklim. 

Menurut Dwikorita, Ia menjelaskan bahwa sampah memberikan dampak dan kontribusi besar terhadap emisi gas rumah kaca. Menghasilkan bentuk gas metana (CH4) dan karbondioksida (CO2). 

Komposisi sampah berdasarkan jenisnya
Gambar 6. Komposisi sampah berdasarkan jenisnya pada tahun 2022. (Sumber: https://sipsn.menlhk.go.id/sipsn/public/data/komposisi)

Berdasarkan data dari Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional 2022, timbulan sampah yang dihasilkan sepanjang tahun 2022 mencapai 31.909.956,68 ton. Peringkat 3 teratas komposisi komposisi sampah pada tahun 2022 sebesar 39,49% dari sisa makanan, 18,72% sampah plastik, 13,3% dari kayu/ranting, dan lainnya.

Komposisi sampah berdasarkan sumbernya
Gambar 7. Data komposisi sampah berdasarkan sumbernya pada tahun 2022. (Sumber: https://sipsn.menlhk.go.id/sipsn/public/data/sumber)

Berdasarkan Gambar 7, rumah tangga menjadi nomor 1 penghasil sampah terbanyak sepanjang tahun 2022 sebesar 35,23%. Dilanjutkan dengan pasar menghasilkan 31,2%, perniagaan 15,75%, dan lain-lain.

Kontribusi yang dapat kita lakukan adalah dengan tidak membuang sampah sembarangan, menerapkan prinsip 3R (reduce, reuse, dan recycle), penggunaan barang ramah lingkungan, mengonsumsi makanan sehari-hari dengan cukup, dan membuat pupuk kompos dari sisa makanan yang terbuang.

2. Penggunaan Transportasi

Emisi gas rumah kaca adalah penyebab nomor satu perubahan iklim secara global. Gas rumah kaca seperti karbon dioksida, gas metana, dan nitrous oksida banyak menangkap panas matahari yang menyebabkan pemanasan global terjadi.

Penggunaan transportasi bermotor milik pribadi menghasilkan emisi gas karbon dioksida akibat dari pembakaran bahan bakar fosil seperti minyak bumi, gas alam, dan batu bara.

Konsentrasi CO2 akibat perubahan iklim
Gambar 8. Konsentrasi CO2 di atmosfer. (Sumber: https://ourworldindata.org/co2-and-greenhouse-gas-emissions)

Mengatasi perubahan iklim memang menjadi tujuan utama, namun jika dilihat dari grafik di atas konsentrasi CO2 di dunia, meningkat setiap tahunnya. Fluktuasi terus terjadi secara konsisten. Oleh sebab itu, langkah utama yang harus kita lakukan dengan menstabilkan konsentrasi CO2 yang terus meningkat.

3. Deforestasi

Deforestasi merupakan fenomena mengubah area hutan menjadi tidak berhutan akibat dari aktivitas manusia. Deforestasi hutan primer dunia sepanjang tahun 2020 sebesar 4,21 juta ha yang lebih banyak dari tahun sebelumnya sebesar 3,75 juta ha.

Pada tahun 2020,Brazil menjadi peringkat pertama dengan laju deforestasi sebesar 1.704 ribu ha, diikuti oleh Kongo sebesar 491 ha,, Bolivia 277 ha, dan Indonesia menduduki peringkat keempat di dunia mencapai 270 ribu ha.

Tutupan lahan yang hilang mengakibatkan perubahan iklim semakin meningkat sebab berkurangnya serapan karbon dioksida di atmosfer, hilangnya keanekaragaman hayati, peningkatan bencana banjir dan tanah longsor, serta pengurangan kualitas udara yang mengakibatkan menurunnya kesehatan manusia.

4. Penggunaan Energi Berlebihan

Penggunaan energi listrik di rumah juga memiliki andil dalam perubahan iklim. Dengan meningkatnya pemakaian barang-barang elektronik, sejalan dengan meningkatnya permintaan energi listrik untuk kebutuhan sehari-hari. Seperti yang kita tahu, energi listrik dihasilkan dari pembakaran batu bara atau bahan bakar fosil lainnya.

Mengkonsumsi AC (Air Conditioner) bertujuan untuk mendinginkan ruangan, namun dapat meningkatkan suhu bumi. Mendinginkan ruangan dalam waktu yang lama, memerlukan energi yang begitu besar. 

Penggunaan AC menghasilkan 3 jenis gas rumah kaca seperti klorofluorokarbon (CFC), hydrofluorocarbon (HFC), dan karbondioksida (CO2). CFC atau freon adalah jenis gas buatan yang berperan dalam proses pendinginan udara dan kemudian dilepaskan ke atmosfer. Sayangnya, satu molekul CFC memiliki kemampuan untuk merusak hingga 100.000 molekul ozon.

Baca juga: Melawan Krisis Iklim! Cerita Malian Nasiha dan Renita Putri Yulianti Rutin Donasi Online

Ana Salsabila adalah Junior SEO Content Writer di LindungiHutan yang berpengalaman dalam penulisan artikel tentang lingkungan dan kehutanan.

Rawat Bumi LindungiHutan