Connect with us

Hutanpedia

Pohon Jelutung: Ciri-ciri, Jenis, Manfaat dan Cara Budidaya (Update 2022)

Logo LindungiHutan - Green - Square - 1280 x 1280 pixels - PNG

Published

on

Penjelasan lengkap tanaman jelutung, ciri-ciri, jenis, manfaat dan cara budidayanya.

Pohon jelutung merupakan tanaman berkayu dan dapat tumbuh besar, ketinggiannya mencapai 75 meter. Tanaman ini mempunyai manfaat dari segi ekonomi dan ekologi. 

Jelutung mempunyai nama latin Dyera costulata bermanfaat dalam memulihkan ekosistem hutan rawa gambut yang mengalami kerusakan atau kemunduran fungsi. Pohon jelutung juga mudah menyesuaikan diri pada tanah gambut.

Tumbuhan ini tumbuh secara alami di kawasan Sumatra dan Kalimantan. Jelutung sering dimanfaatkan sebagai bahan baku industri. Tetapi dalam proses pemanfaatannya, banyak masyarakat mengambil dari pohon jelutung yang tumbuh secara alami.

Sehingga, perlu dilakukan pengawasan dan pembudidayaan agar populasi pohon jelutung tidak mengalami penurunan dan punah.

Pohon jelutung darat yang telah berusia tua.

Jelutung dapat dibudidayakan menggunakan sistem agroforestri, yaitu penanaman bercampur dengan tanaman lain, contohnya kelapa sawit, pinang, kopi, tanaman buah-buahan dan masih banyak lagi.

Baca juga: 10+ Tumbuhan yang Hidup di Lahan Gambut

Klasifikasi Pohon Jelutung

Menurut taksonominya, tanaman jelutung diklasifikasikan sebagai berikut:

KingdomPlantae
SubkingdomTracheobionta
SuperdivisiSpermatophyta
DivisiMagnoliophyta
KelasMagnoliopsida
SubkelasAsteridae
OrdoGentianales
FamiliApocynaceae
GenusDyera
SpesiesDyera costulata (Miq.) Hook. f.
Tabel klasifikasi taksonomi pohon jelutung (Dyera costulata).

Jenis, Habitat dan Penyebaran Jelutung

Genus Dyera mempunyai beberapa jenis, salah satunya adalah jelutung darat atau jelutung bukit dengan nama latin Dyera costulata (jenis yang tumbuh di dataran tanah laterir dan aluvial).

Selain itu, terdapat spesies jelutung rawa (Dyera lowii) yaitu jenis yang tumbuh di tanah organosol dan kawasan rawa gambut.

Pohon jelutung rawa merupakan pohon lokal yang tumbuh secara alami pada hutan rawa dan sangat sesuai untuk hutan tanaman berproduktivitas tinggi dan ramah lingkungan karena:

  • Kemampuan menyesuaikan diri pohon jelutung rawa cukup baik dan teruji pada lahan rawa gambut,
  • Jelutung rawa dapat tumbuh dengan cepat (pertahun, pertumbuhan diameternya 2 – 2,5 cm, dan tinggi 1,6 – 1,8 cm per tahun),
  • Pohon jelutung rawa dapat dikembangkan melalui manipulasi lahan, minimal tanpa pembuatan kanal untuk saluran drainasenya,
  • Menghasilkan getah (dimanfaatkan untuk permen karet, kosmetik, isolator) dan kayu (dimanfaatkan untuk pencil slate, vinir dan moulding),
  • Tanaman ini sudah dikenal masyarakat dari lama dan dapat hidup di daerah bergambut,
  • Jelutung rawa sering dibudidayakan seperti pohon karet, ketika masa produktif disadap getahnya, pada akhir daur dimanfaatkan kayunya..

Pohon jelutung rawa yang tumbuh secara alami di hutan Sumatra dan Kalimantan. Jelutung rawa tumbuh secara sporadis pada hutan dataran rendah dan hutan dataran tinggi dengan ketinggian antara 300–400 meter di atas permukaan laut.

Kawasan Asia Tenggara merupakan habitat alami terbesar dari tanaman jelutung terutama di Malaysia, Thailand, Singapura, dan Indonesia.

Di Indonesia, pohon jelutung dapat dijumpai di daerah Sumatra, Bangka Belitung, Riau, Kalimantan dan juga kemungkinan di Sulawesi.

Tanaman ini termasuk jenis pohon yang cepat berkembang dan dalam proses perkembangannya membutuhkan pencahayaan yang cukup kuat. Pohon jelutung berusia muda sangat rentan dan mudah terluka, namun dengan segera dapat menyembuhkan dirinya sendiri.

Baca juga: Apa itu Pohon Bakau? Kenali 3 Jenis Bakau Terpopuler di Indonesia

Ciri-ciri Pohon Jelutung

Pohon jelutung tergolong dalam keluarga Apocynaceae. Jelutung mempunyai ciri-ciri morfologi yang dapat diamati seperti:

A. Batang

Batang tumbuh lurus, dengan ketinggiannya sekitar 30 meter dan tidak berbanir. Batang bebas cabangnya mempunyai tinggi kisaran 15–30 meter dan diameternya kurang lebih 100 cm.

Kulit batang pohon jelutung berwarna kelabu kehitam-hitaman, permukaan rata dan kasar. Apabila ditoreh (digores) akan mengeluarkan getah. Getah jelutung berwarna putih mirip susu kental. 

Percabangan tanaman ini tumbuh beraturan mengelilingi batangnya. Jumlah batang pohon jelutung kisaran 6 hingga 8 cabang. Ketika masih muda muda, warna cabangnya merah kecoklatan.

B. Daun

Daun pohon jelutung tumbuh bertumpu di satu tempat dalam bentuk lingkaran. Di setiap lingkaran tersusun enam hingga delapan helai. Setiap lingkaran daun dipisahkan dengan ruas yang cukup panjang dan tumbuh melengkung ke atas. 

Terdapat perbedaan bentuk daun antara jelutung rawa dan jelutung darat. Daun jelutung darat daunnya lebar, lebih tipis dan ujung daun meruncing. Sedangkan daun jelutung rawa lebih kecil, lebih tebal dan ujung daun melengkung ke dalam (ke bawah).

Postur pohon jelutung rawa asal Sumatra dan Kalimantan berbeda. Jelutung rawa asal Sumatra lebih besar dan daunnya lebih lebar apabila dibandingkan dengan jelutung asal Kalimantan.

C. Bunga dan Buah Jelutung

Bunga pohon jelutung berwarna putih dan harum aromanya. Sedangkan buah jelutung termasuk jenis buah polong-polongan, dengan bentuk panjang dan lonjong, dengan posisi buah yang berpasangan dan tiap buah membentuk sudut yang lebar.

Ketika buah jelutung telah matang, buah secara alami akan melengkung ke atas dan bagian ujung buah perlahan-lahan akan pecah dengan sendirinya. 

D. Biji

Di dalam buah terdapat biji. Biji jelutung sangat kecil, bersayap tipis dan halus. Di dalam setiap buah jelutung terdapat 12–24 biji.

Pembibitan dan Budidaya Pohon Jelutung

1. Bibit atau benih

Bibit atau benih tanaman ini dapat didapatkan melalui anakan yang dicabut langsung dari hutan alam atau dengan persemaian dari biji jelutung.

Cara mendapatkan bibit dari anakan pohon jelutung yaitu dengan mengumpulkan anakan yang hidup di hutan alam atau wilayah sekitarnya. 

Sebelum anakan dimasukkan ke dalam plastik atau polybag, akar tunggangnya dipotong terlebih dahulu. Kemudian disimpan selama 1 bulan atau lebih.

Bibit pohon jelutung disimpan di tempat yang teduh, disiram dua kali sehari pagi dan sore. Apabila akar anakan bibit jelutung dilihat sudah cukup kuat dan mengeluarkan pucuk-pucuk daun yang baru, itu berarti sudah siap dipindahkan di lahan atau tempat penanaman.

Langkah untuk melakukan penanaman melalui biji jelutung yaitu:

  • Petik buah jelutung yang sudah matang dari pohon yang sehat dan segar. Standar buah jelutung yang baik yaitu ukurannya besar, ketika dipetik dari pohon tangkainya mengeluarkan getah dan buah belum pecah.
  • Buah jelutung yang sudah matang ditandai dengan polong yang menjadi pipih dan berkurangnya jumlah getah di kulit luar. 
  • Buah yang matang dan sudah dipetik itu kemudian disimpan selama dua hari, nantinya buah akan pecah dengan alami.
  • Lalu, dikumpulkan dan dikeringkan. Biji yang kering bisa disimpan dalam kantong plastik dan dijaga supaya tidak lembab.
  • Cara penyimpanan biji yang baik di suhu udara, sekitar 20–40℃ dan kelembaban kisaran 60%. 
  • Sebelum biji jelutung ditaburkan di tempat persemaian, rendam terlebih dahulu di air dingin selama kurang lebih 2 jam.
  • Persemaian biji menggunakan tanah berhumus dan berpasir. Biji akan mengeluarkan kecambah di hari ke enam atau tujuh. 
  • Ketika sudah berkecambah, biji pohon jelutung dapat dipindahkan di polybag yang sudah diisi tanah berhumus dan agak berpasir.

2. Penanaman Bibit Jelutung

Penanaman melalui bibit anakan harus dilakukan dengan hati-hati supaya akar bibit tidak rusak, terganggu atau patah. 

Kegiatan penanaman jelutung melalui biji buah jelutung, yaitu ketika tinggi bibit sudah mencapai 30 cm atau lebih dan bisa dipindahkan ke lahan penanaman.

Jarak antara bibit yaitu 4-5 meter untuk memberikan ruang tumbuh. Apabila luas lahan sekitar satu hektar, dibutuhkan 400–500 bibit jelutung. Kondisi ini juga sudah tergolong keperluan dalam penyulaman (apabila ada tanaman yang mati, dapat diganti).

Ketinggian tanaman jelutung ini rata-rata sekitar lima meter di umur lima tahun dan diameter batang kisaran 5,2–5,5 cm. Ketika umur pohon jelutung sudah mencapai 10 tahun, tinggi pohon sekitar 10 meter dan diameternya 13 cm.

Beberapa pakar mengemukakan bahwa tanaman jelutung akan berbunga pada bulan Februari-November. Ketika sudah 2-3 minggu, proses berbunga pohon jelutung akan berakhir.

Setelah 2-3 bulan kemudian, buah-buah jelutung mulai bermunculan dan berkembang.

Umur pohon jelutung dapat mencapai 40 tahun dan diameter batangnya mencapai 30-35 cm. Apabila tumbuh di daerah yang baik (cocok dan subur), diameter tanaman jelutung dapat mencapai 60 cm.

3. Pemeliharaan dan Penyulaman 

Penyulaman dilaksanakan setelah penanaman dan pada awal tahun kedua dan dilakukan sebanyak dua kali, yaitu 2–3 bulan.

Penyiangan dilaksanakan 3–4 kali per tahunnya sampai tanaman berusia 2 tahun. Setelah pohon jelutung berusia lebih dari 2 tahun, penyiangan dapat dilakukan setahun sekali sampai tanaman berumur 4 tahun.

Pemupukan pertama kali dilakukan ketika bibit jelutung berusia 2– bulan setelah penanaman, lalu 1–2 kali setahun. Pupuk yang dipakai yaitu NPK dengan takaran sekitar 50 gram per tanaman.

Lambat laun, tumbuhan peneduh dihilangkan setelah jelutung berumur 2–3 tahun. Setelah diameter tanaman jelutung mencapai 15 cm, kita dapat melakukan upaya penjarangan.

Kemudian berlanjut dengan diameter 22 cm, 30 cm dan seterusnya, hingga kerapatan tegakan menjadi 80 pohon/ha.

4. Pemanenan

Umur 30–40 tahun, merupakan daur ekonomi pohon jelutung. Pada umur tersebut, diameter batang jelutung sekitar 40–60 cm.

Sifat kayu pohon jelutung rentan diserang jamur biru (blue stain) sehingga harus di atasi sangat cepat. Ketika mengupas kulit batang, pohon jelutung harus segera disemprot dengan fungisida agar mengurangi perluasan jamur baru.

Balok kayu jelutung juga harus cepat dibawa ke tempat pengolahan, untuk menghindari serangan jamur lainnya. Kayu jelutung yang sudah kering juga rentan terhadap serangan serangga bubuk kayu. Untuk menghindari serangan bubuk kayu, kayu jelutung bisa dilakukan dengan penyemprotan menggunakan larutan Gamma BHC 0,5% dengan merata.

Dengan direndam menggunakan larutan CCA (Copper Cromme Arsenate) sekitar 1–1,6 kg per meter kubik kayu akan mengamankan kayu dari kerusakan akibat serangan rayap.

Pohon-pohon jelutung yang sudah berumur 6 tahun ke atas dapat diperoleh getahnya. Siklus sadapnya yaitu 3-4 tahun sekali.

Getah jelutung yang telah dikumpulkan, kemudian digumpalkan menggunakan campuran tawas atau asam asetat. Kemudian, getah tersebut diproses membentuk bongkahan dengan cara direbus. Pemrosesan akan mempermudah pengangkutan serta penjualan.

Baca juga: 10+ Manfaat Reboisasi dan Penghijauan Hutan Kembali untuk Manusia dan Alam

Manfaat Pohon Jelutung

Kayu pohon jelutung dalam pengolahannya mudah untuk dikeringkan dan mudah untuk digergaji, potong, di paku atau diskrup, mudah juga diberi warna. Sesudah dipernis atau dipol, kayu ini memberikan hasil yang sangat baik.

Dengan sifat di atas, kayu tanaman jelutung bisa dimanfaatkan sebagai bahan baku kayu lapis, pembuatan pulp and paper, industry potlot (pencil slate), bahan pengepakan atau pembungkus, moulding, perabotan rumah tangga, patung, ukiran dan masih banyak lagi.

Getah pohon jelutung yang sudah lama disadap oleh masyarakat sekitar tanaman tumbuh, dimanfaatkan sebagai komoditas perdagangan, baik untuk bahan baku pembuatan permen karet (gum base) atau digunakan dalam pembuatan kerajinan tangan seperti yang dilakukan oleh penduduk Kalimantan.

FAQ

Apa itu Pohon Jelutung?

Pohon jelutung merupakan tanaman berkayu dan tumbuh besar mencapai ketinggian rata-rata 15-30 meter dengan usia 30-40 tahun. Jelutung terbagi menjadi 2 jenis yaitu pohon jelutung darat/bukit (Dyera costulata) dan jelutung rawa (Dyera lowii).

Apa Saja Manfaat Jelutung?

Kayu pohon jelutung bisa dimanfaatkan sebagai bahan baku kayu lapis, pembuatan pulp and paper, industri pensil (pencil slate), bahan pengepakan atau pembungkus, moulding, perabotan rumah tangga, patung, ukiran dan masih banyak lagi.

Penulis: Marchyta Putri Prabowo

Editor: Rionaldo Andira Lesmono

Survey LindungiHutan